
Semenjak hari itu, hubungan antara Adam, bu Nilam dan Melati semakin dekat. Adam tidak hanya memposisikan diri sebagai rekan kerja, tetapi sekaligus sebagai bagian dari keluarga bu Nilam.
Kebetulan karena Adam hidup jauh dari keluarga, sementara bu Nilam dan Melati hidup tanpa sosok laki-laki yang bisa mereka jadikan sandaran, hingga Adam dengan tulus menawarkan diri untuk menjadi malaikat penolong bagi kedua wanita berbeda generasi tersebut.
Bakso bu Nilam yang dijual di beberapa restoran milik Adam, disambut baik oleh pelanggan bos restoran tersebut meski baru beberapa hari berjalan. Apalagi, bakso bu Nilam juga di olah menjadi berbagai varian masakan oleh 𝘤𝘩𝘦𝘧 handal di restoran Adam. Sehingga setiap harinya, bu Nilam harus menambah produksi baksonya.
Di kedai bu Nilam sendiri, juga sudah mulai banyak melayani pembelian online. Karena kedai online yang Melati buat, sudah banyak dilihat dan diketahui oleh pengguna jasa layanan antar. Setiap harinya, Melati dan sang ibu dibuat semakin sibuk dan cukup keteteran.
Adam yang setiap hari datang, tidak segan membantu bu Nilam dan putrinya. Baik membantu pekerjaan di dapur pada setiap pagi hari ketika Adam datang sendiri untuk mengambil bakso, ataupun membantu hal lain seperti ikut merapikan kedai di sore hari ketika kedai milik bu Nilam tersebut hendak di tutup.
Awalnya bu Nilam menolak dan melarang Adam yang hendak membantu, namun pemuda itu kekeuh dengan pendiriannya. Seperti waktu pertama kali Adam membantu bu Nilam dan Melati di dapur, hingga kemudian bu Nilam mengalah dan membiarkan pemuda baik tersebut melakukan apa saja yang Ia mau.
Adam bahkan juga menawarkan diri untuk mengantarkan Ibu dan anak itu, ketika Melati hendak pergi ke klinik guna memeriksakan kandungannya yang sudah mendekati HPL atau Hari Perkiraan Lahir.
Sepulangnya dari klinik, pemuda berwajah blasteran tersebut juga ikut sibuk memilihkan keperluan untuk calon bayi Melati, ketika mereka mampir di 𝘣𝘢𝘣𝘺 𝘴𝘩𝘰𝘱 karena Melati sama sekali belum mempersiapkan popok untuk calon buah hatinya.
"Yang warna biru saja, Dik. Feeling mas, 𝘣𝘢𝘣𝘺 cowok deh," ucap Adam yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang Melati, sambil menunjuk tempat tidur bayi ketika Melati sedang memilih-milih.
"Mas Adam? Ngagetin saja?" Melati menoleh kearah Adam, "Mel pikir, mas Adam tidak ikut masuk?"
"Mas tadi ke sana dulu," balas Adam sambil menunjuk ke arah pintu masuk, "gimana, Dik? Mau, yang warna biru?" tanya Adam memastikan.
Melati mengangguk setuju dan kemudian penjaga toko mengambilkan tempat tidur bayi yang ditunjuk oleh Adam tadi.
"Jadikan satu sama yang tadi ya, Mas," ucap Melati pada penjaga toko.
"Siap nyonya muda," balas penjaga toko tersebut seraya tersenyum, laki-laki dewasa penjaga toko itu berpikir bahwa Melati dan Adam adalah sepasang suami istri.
__ADS_1
Melati masih berjalan menyusuri toko untuk mencari keperluan bayinya, yang diikuti oleh bu Nilam dan Adam. Setelah tadi mendapatkan popok dan tempat tidur bayi, kini Melati memilih keperluan mandi untuk calon 𝘣𝘢𝘣𝘺 yang menurut Adam berjenis kelamin laki-laki itu.
Pemuda berdarah campuran tersebut sangat sigap membantu Melati, Adam juga terlihat sangat perhatian, layaknya suami yang sedang menemani sang istri berbelanja untuk keperluan calon buah cinta mereka berdua.
Ketika Melati hendak memilih 𝘣𝘰𝘶𝘯𝘤𝘦𝘳 atau kursi ayun untuk bayi, Adam mencegah. "Tidak perlu, Dik. Aku sudah membelinya tadi, sama 𝘴𝘵𝘳𝘰𝘭𝘭𝘦𝘳," ucap Adam, yang membuat Melati mengernyit.
"Kapan?" tanya Melati.
"Begitu masuk ke toko ini," balas Adam, "tadi mas lihat ada bapak-bapak sedang mendorong anaknya yang duduk di atas 𝘴𝘵𝘳𝘰𝘭𝘭𝘦𝘳, terlihat keren lho, Dik. Makanya mas langsung beli," lanjut Adam seraya tersenyum penuh arti.
"Terus mbak-mbak penjaga toko menawarkan 𝘣𝘰𝘶𝘯𝘤𝘦𝘳, katanya bagus untuk membantu menidurkan anak. Ya sudah, sekalian saja mas beli," terang Adam
Bu Nilam dan Melati geleng-geleng kepala, "𝘴𝘵𝘳𝘰𝘭𝘭𝘦𝘳 'kan mahal, Mas? Lagipula untuk apa, membeli kereta dorong segala? Itu 'kan dipakai kalau untuk pergi jalan-jalan? Lah kami, mau jalan-jalan kemana?" protes Melati, yang tidak suka Adam menghambur-hamburkan uang untuk dirinya.
"Nanti, mas yang akan mengajak 𝘣𝘢𝘣𝘺 jalan-jalan. Mommy-nya boleh kok, kalau mau ikut?" pancing Adam.
"𝘠𝘦𝘴, Mommy. 𝘉𝘢𝘣𝘺 akan memanggil kamu Mommy, Dik. Dan mas ...." Adam menggantung ucapannya.
"Bu, kira-kira, masih ada yang kurang tidak?" tanya Melati pada ibunya, sengaja mengalihkan pembicaraan Adam.
"Sepertinya sudah cukup, Nak. Ini juga sudah malam, tidak enak sama tetangga kalau kita pulang kemalaman," balas bu Nilam.
"Ya, sudah. Adam ke kasir dulu, Dik. Ini kontaknya, ajak Ibu k mobil dulu." titah Adam.
Kembali Melati mengernyitkan kening, Ibu hamil itu tidak mengerti jalan pikiran Adam. Laki-laki di depannya ini bukan siapa-siapa Melati, Ia juga bukan ayah dari bayi yang saat ini dikandungnya tetapi perlakuan Adam seolah pemuda blasteran itu adalah ayah dari si bayi. Begitu peduli, penuh perhatian dan bertanggung jawab.
"Jangan, Mas. Mas Adam sudah membelikan 𝘣𝘰𝘶𝘯𝘤𝘦𝘳 dan kereta dorong, untuk yang lain biar kami sendiri yang membayar," tolak Melati tegas.
__ADS_1
Adam mengangguk, pemuda itu pun tidak ingin memaksakan kehendak dan tak mau membuat ibu dan anak itu merasa tersinggung. "Baiklah, Dik. Maaf, mas tidak punya maksud apa-apa kok," ucap Adam mengklarifikasi.
Melati tersenyum, "iya, Mas. Mel tahu, Mas Adam tulus. Tapi untuk keperluan anak ini, biarkan Mel sendiri yang bayar. Makasih karena Mas Adam sudah sangat baik selama ini pada kami," balas Melati.
"Ya sudah, ayo kita ke kasir," ajak bu Nilam dan mereka bertiga kemudian menuju kasir untuk membayar barang belanjaan Melati.
Adam yang dibantu oleh penjaga toko, memasukkan semua barang belanjaan Melati untuk menyambut kelahiran anaknya, ke dalam bagasi mobil. Bagasi itu sampai terlihat penuh.
Setelah semua masuk kedalam mobil, Adam segera melajukan kendaraannya membelah jalanan beraspal. Bulan purnama yang bersinar dan libur di hari minggu, membuat jalanan ramai oleh lalu-lalang muda-mudi yang mengendarai sepeda motor.
Malam minggu memang cocok untuk dijadikan malam melepas rindu bersama sang kekasih, namun Adam justru melewatkannya dengan menemani wanita hamil yang belum lama Ia kenal untuk berbelanja keperluan calon bayinya.
Adam tersenyum seorang diri, "𝘐 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘦𝘷𝘦, 𝘚𝘩𝘦 𝘪𝘴 𝘮𝘺 𝘧𝘶𝘵𝘶𝘳𝘦 𝘸𝘪𝘧𝘦." do'anya dalam hati.
Adam bukanlah tipe orang yang mempertimbangkan bibit, bebet ataupun bobot dalam mencari pasangan hidup. Ia yang tumbuh dan besar dalam lingkungan yang bebas, lebih menilai seseorang dari diri pribadi orang tersebut.
Karena nyatanya, orang yang berasal dari keluarga baik-baik dan punya pengaruh di lingkungannya, belum tentu memiliki kepribadian yang baik. Contohnya adalah Sisca, sepupu Adam dari pihak ibu.
Meski Sisca masih keturunan Keraton, sama seperti Adam dan ayah Sisca adalah salah seorang guru besar di Universitas ternama di kota pelajar Yogyakarta. Nyatanya, sikap Sisca tidak lebih baik dari gadis bar-bar yang suka memaksakan kehendak dan sangat egois.
Sisca terus mengejar Adam, hingga ibunya Adam, tantenya Sisca mengijinkan asal gadis itu bisa menaklukkan sendiri hati Adam. Dan Sisca memaknai ijin dari tantenya tersebut, sebagai restu bahwa mereka berdua dijodohkan.
Selama ini, Adam bersabar menghadapi Sisca karena tidak mungkin Ia berperilaku kasar pada adik sepupunya sendiri. Sembari Adam memberi pengertian pada Sisca, bahwa cinta tidak dapat dipaksakan.
"Mas Adam, terimakasih banyak karena sudah mengantarkan kami," ucap bu Nilam yang membuyarkan lamunan Adam, "Mas Adam juga pakai repot-repot segala, membelikan calon bayinya Mela macam-macam," lanjutnya dengan tulus.
Adam hanya menggeleng seraya tersenyum, sambil netra kebiruan-nya melirik Melati melalui pantulan 𝘳𝘦𝘢𝘳 𝘷𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯 𝘮𝘪𝘳𝘳𝘰𝘳. "Karena saya 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺-nya," lirih Adam nyaris tak terdengar bahkan oleh indera pendengarannya sendiri. ---
__ADS_1
TBC,,,