
Tanpa basa-basi, Adam langsung menuruti titah sang mama dan mengajak Melati untuk menuju ke kamarnya. Baru saja mereka berdua sampai di ruang keluarga, Sisca menyusul dan langsung memeluk Adam dari belakang.
"Sisca, apa-apaan ini?" protes Adam dan berusaha untuk melepaskan jerat tangan Sisca.
Melati mengernyitkan keningnya, tak mengerti dengan sikap Sisca.
"Dam, please ... jangan tidur sama Melati dulu, ya?" pinta Sisca terisak, "aku masih belum rela, Dam?" lanjutnya sembari memohon.
Setelah berhasil lepas dari pelukan Sisca, Adam menghela napas panjang.
"Kamu ini kenapa lagi, Sisca? Bukannya kamu tadi sudah meminta maaf dan berjanji akan berubah?" tanya Adam tak mengerti.
"Iya, Dam. Tapi ternyata itu sulit! Aku belum rela, Dam!" tegas Sisca.
"Lantas, apa mau kamu sekarang?" tanya Adam penuh penekanan.
"Tiduri aku dulu, setelah itu aku akan benar-benar pergi dari hidupmu!" Sisca menatap Adam dengan tatapan memohon.
Sementara Melati hanya diam dan menghela napas panjang berkali-kali, nampaknya kebahagiaan yang Ia impikan setelah menikah dengan Adam masih harus melewati jalan yang terjal dan berliku
"Mas, Mel ke kamar dulu, ya?" bisik nya yang malas melihat drama dari Sisca.
Melati hendak berlalu tetapi Adam menahan dengan memeluk pinggangnya erat, "masalah apapun yang hadir diantara kita, mari kita hadapi sama-sama. Mas mencintaimu dan hanya mencintaimu," bisik Adam lembut di telinga Melati.
Pemuda tampan itu tiba-tiba mencium bibir sang istri tepat di hadapan Sisca, ciuman yang lembut dan dalam.
Melati yang awalnya terkejut, kemudian mulai menikmati sentuhan lembut dan hangat bibir sang suami. Ibu muda itu bahkan mulai berani membalas dengan memainkan lidahnya, membuat Adam terlena dan lupa jika mereka ada di hadapan seseorang.
Cukup lama Adam bermain-main dengan istrinya hingga membuat Sisca meradang.
"Adam! Keterlaluan, Kamu!" teriak Sisca, membuat Adam tersadar dan kemudian menghentikan kegiatannya.
"Manis sekali, Sayang. Aku tidak sabar untuk menikmati yang lain," bisik Adam pada sang istri, tanpa menghiraukan kemarahan Sisca.
Sisca masih ngomel-ngomel tak jelas, ketika mama Rida dan bu Nilam menghampiri mereka bertiga.
"Ada apa, ini?" tanya mama Rida yang menyusul masuk, begitu melihat Sisca ikut masuk kedalam menyusul Adam dan Melati.
__ADS_1
Adam kemudian menceritakan pada sang mama, apa yang diminta oleh Sisca.
"Astaghfirullah ... Sisca, ingat, Nak?" Mama Rida menatap Sisca dengan tatapan tak mengerti.
"Hal itu tidak pantas kamu katakan pada siapapun, Sisca? Apalagi pada laki-laki yang sudah beristri?" nasehat mama Rida dengan lembut.
Mama Rida kemudian merengkuh sang keponakan dan mendekap Sisca dengan penuh kasih, bagaimanapun Sisca adalah keponakannya yang sudah Ia anggap seperti anak sendiri.
Mama Rida memberikan isyarat pada putranya, agar segera meninggalkan tempat tersebut. Tentu dengan senang hati, Adam langsung mengajak sang istri untuk melanjutkan tujuannya yaitu menuju ke kamar pengantin.
Bu Nilam pun ikut meninggalkan ruang keluarga, untuk melihat sang cucu yang tadi sudah tidur dengan ditemani oleh bi Mar.
Sementara mama Rida masih mencoba menenangkan Sisca, "kamu itu cantik, Sayang. Percayalah, pasti akan ada laki-laki yang pantas untukmu jika kamu mau membuka hati," bisik mama Rida.
Sisca yang awalnya dikuasai amarah dan kecemburuan terhadap Adam, kini mulai terisak. "Sakit, Budhe," balas Sisca merintih, "melihat orang yang kita cintai, bersanding dengan wanita lain?" lanjutnya masih dengan terisak.
"Iya, Sayang. Budhe bisa mengerti, apa yang kamu rasakan?" Mama Rida membelai lembut punggung sang keponakan, "ayo, kita ngobrol di kamar kamu!" ajak mama Rida seraya melerai pelukan.
Sementara Adam dan Melati, menyempatkan diri terlebih dahulu untuk melihat sang putra di kamar bu Nilam. Melati mencium kening putranya dengan penuh kasih sebelum menitipkan Putra pada bu Nilam dan bi Mar.
"Bu, Mel nitip Putra, ya?" pinta Melati pada sang ibu.
Ya, tidak sia-sia Adam memberikan ide pada Melati agar Putra sedini mungkin dilatih untuk mandiri. Kini Adam dan Melati bisa bebas menjalani malam pertamanya, tanpa drama gangguan sang putra.
"Baik, Bu. Kami permisi dulu," pamit Adam, yang segera mengajak sang istri untuk ke kamar pengantin mereka berdua. Pemuda berwajah blasteran itu nampak tidak sabar, ingin menikmati malam pertama yang sudah Ia nantikan sejak lama.
Begitu memasuki kamar pengantin, aroma terapi dari lilin yang menyala di atas nakas menguar dan masuk ke rongga penciuman. Aroma wanginya sungguh menenangkan, membuat siapa saja yang menghirupnya pasti akan terlena.
Di tambah temaramnya ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya lilin, membuat kamar pengantin tersebut terasa sangat romantis.
"Mas, siapa yang sudah menyiapkan semuanya?" tanya Melati dengan mata berbinar.
"Apa kamu menyukainya, Sayang?" tanya Adam balik dan mengabaikan pertanyaan Melati.
Melati mengangguk, "Iya, Mas. Melati suka," balas Melati.
Adam kemudian menuntun sang istri dan mendudukkan Melati di depan meja rias, Ia membantu istrinya melepas semua aksesoris yang melekat di rambut Melati.
__ADS_1
"Mas, Mel mau bersih-bersih dulu, ya?" pinta Melati ketika Adam mulai mencumbui tengkuknya.
Adam menghela napas panjang untuk meredam hasrat yang mulai muncul, pemuda itu kemudian mengangguk seraya tersenyum menatap sang istri dari pantulan cermin di depan Melati.
"Maaf, sebentar saja kok," ucap Melati yang merasa bersalah karena telah menjeda kesenangan sang suami.
"Tidak mengapa, Dik. Mas juga mau bersih-bersih," balas Adam seraya melepaskan jas yang masih melekat di tubuh atletisnya.
"Ayo, kita bareng!" ajak Adam yang langsung menggandeng tangan sang istri menuju kamar mandi.
Suara air yang mengucur dari shower di kamar mandi, terdengar gemericik dan menyamarkan suara ******* dari sepasang suami-istri yang sedang di mabuk cinta tersebut.
"Sayang, kita lanjut di kamar, yuk?" ajak Adam yang langsung menggendong tubuh polos sang istri.
Melati yang mengalungkan tangan di leher sang suami hanya bisa pasrah dan memandangi ketampanan sang suami dengan senyum yang mengembang, 'beruntung sekali diriku bisa menjadi istrimu, Mas. Aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu,' batin Melati.
"Kenapa, Sayang?" tanya Adam setelah menidurkan Melati di atas ranjang pengantin yang bertabur kelopak mawar, mendapati wajah sang istri yang terus tersenyum menatapnya.
Melati menggeleng, "bukan apa-apa, Mas. Mel hanya bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan kepada Mel," balas Melati jujur.
Adam menatap netra hitam sang istri dengan intens, bibir seksi pemuda itu pun mengulas senyuman kebahagiaan. "Mas juga bersyukur memilikimu, Sayang."
Adam semakin mendekatkan wajah dan kemudian menyatukannya dengan wajah sang istri. Adam ******* lembut bibir tipis Melati, yang membuat sang empunya mendesah manja.
Adam memperlakukan sang istri dengan sangat lembut, belaian, usapan dan remasan-remasan kecil Ia hadiahkan di setiap inci tubuh sang istri, hingga membuat Melati semakin mabuk kepayang dan menuntut lebih.
"Mas .... " desah Melati manja, seraya meremas rambut sang suami yang masih bermain-main di bawah sana.
Sejenak Adam menghentikan aktifitasnya, pemuda tampan itu kembali merangkak naik dan menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta. "Apakah kamu sudah siap untuk mengandung anak kita, Sayang?"
Melati mengangguk pasti.
TBC,,,
🌷🌷🌷
Ehm... tes,, tes,,
__ADS_1
karena aku up siang, jadi dibikin adem aja yah 🥰🥰
Yuk, gas... dukungannya, 1 atau 2 bab lagi END 😍