
Melati yang langsung pulang ke kediamannya, masuk kedalam kamar dengan tergesa-gesa. Bi Mar yang mendapati Melati pulang dalam keadaan menangis, menyusul calon istri majikannya itu ke kamar Melati.
"Maaf, Mbak Mela. Jika bibi boleh tahu, kenapa Mbak Mela menangis?" tanya bi Mar.
Melati mendongak, menyeka sisa air matanya dengan kasar dan kemudian menggeleng. "Tidak ada apa-apa, Bi. Bibi tolong jangan bilang sama Ibu kalau Mel sudah pulang dan nangis, ya? Mel mau istirahat," pinta Melati.
Bi Mar mengangguk dan tak ingin bertanya lebih lanjut, meski bibi pengasuh Putra itu penasaran dengan apa yang terjadi pada Melati. "Baik, Mbak Mela. Bibi keluar, ya? Kalau ada apa-apa, tolong panggil Bibi." Bi Mar segera keluar dari kamar Melati.
Bi Mar langsung menuju ke kamarnya, asisten setia Adam itu memang tidak akan mengatakan pada bu Nilam seperti permintaan Melati. Tetapi bi Mar bermaksud memberi tahu Adam sesuai perintah majikannya itu, agar bi Mar segera menghubungi Adam jika ada apa-apa dengan Melati ataupun Putra.
Bi Mar segera mendial nomor Adam dan pada panggilan pertama, panggilan bi Mar diterima oleh Adam.
"Halo, Bi. Ada apa?" Suara Adam dari seberang telepon langsung terdengar di telinga bi Mar.
"Iya, Mas Adam. Maaf, jika bibi mengganggu," ucap bi Mar.
"Tidak apa-apa, Bi. Katakan ada apa?" cecar Adam yang mulai panik karena tak biasanya bibi sang asisten setia itu menelepon.
"Mbak Melati, Mas .... "
"Kenapa dengan Melati?" potong Adam cepat, "Melati masih di kampus, 'kan?" tegas Adam.
"Tidak, Mas. Mbak Mela sudah pulang dan dia nangis," balas bi Mar, "sewaktu bibi tanya, mbak Melati mengatakan bahwa tidak ada apa-apa, Mas," imbuhnya.
"Ya sudah, Bi, terimakasih informasinya. Biar Adam yang telepon Melati, Bibi tolong jaga Putra, ya? Dan jangan ganggu Melati dulu," titah Adam, yang langsung menutup teleponnya.
Bi Mar kemudian kembali ke kamar Putra untuk melihat, apakah bocah berusia dua tahun itu masih tidur ataukah sudah terbangun.
Ya, semenjak disapih dari ASI, Putra langsung di buatkan kamar sendiri oleh Adam atas persetujuan Melati dan bu Nilam, agar sedini mungkin Putra dilatih untuk mandiri.
Bi Mar lega, ketika melihat momongannya itu masih tidur dengan pulas.
Sementara di dalam kamarnya, Melati masih menangis menyesali perbuatannya dahulu yang akibatnya masih Ia rasakan hingga sekarang.
__ADS_1
'Aku tahu aku salah, tapi apa iya aku harus menerima hukuman ini seumur hidupku?' batin Melati dengan air mata yang terus mengucur deras.
Melati merintih dalam do'anya, memohon pengampunan atas semua kesalahan yang pernah Ia lakukan dulu bersama Arjuna. Begitu khusyuk mommy-nya Putra itu meminta, hingga dering ponsel yang masih berada dalam 𝘴𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘨 tak terdengar oleh indera pendengaran Melati.
&&&&&
Di restoran milik Adam, pemuda tampan itu langsung menghubungi Melati, namun panggilan Adam tidak di jawab.
"Ma, Mama pulang ke rumah biar diantar sama sopir, ya? Adam mau lihat keadaan Melati, Ma. Barusan bi Mar kasih kabar sama Adam, kalau Melati tiba-tiba pulang dari kampus dalam keadaan menangis," terang Adam pada sang mama.
"Ya sudah, buruan temui Melati!" titah mama Rida, "Mama gampang, minta di jemput om kamu juga bisa. Mereka sudah mau sampai," lanjut sang mama seraya mengekor langkah Adam menuju mobil.
"Terimakasih, Ma. Assalamu'alaikum," pamit Adam yang kemudian segera melajukan kuda besi membelah jalanan ibukota provinsi Bali.
Di dalam mobil, Adam kembali mencoba menghubungi nomor Melati. Namun hingga beberapa kali menelepon, panggilan Adam tidak juga diterima oleh Melati.
'Sebaiknya aku ke kampus dulu, untuk mencari tahu apa yang membuat Melati menangis,' batin Adam yang langsung mengarahkan laju kendaraan menuju kampus tempat Melati kuliah.
Setelah beberapa saat melaju di jalan raya, mobil Adam memasuki area kampus dan Adam langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang telah tersedia.
Netra kebiruan Adam menangkap segerombolan mahasiswa yang sedang berjalan melintas di ujung jalan, buru-buru Adam menghampiri mereka.
"Permisi," sapa Adam dengan sopan, "maaf, apakah diantara kalian ada yang kenal dengan Melati?" tanya Adam.
Mereka semua terdiam dan menatap Adam dengan tatapan menuduh, "jangan-jangan om-om ini yang dimaksudkan mbak tadi?" bisik salah satu dari mereka.
"Hush! Jangan sembarangan nuduh! Lagi pula, jangan mudah percaya begitu saja pada berita yang belum tentu valid. Sebaiknya kita tanya langsung sama dia, apa hubungan dia sama Mela," tegas mahasiswa yang paling tampan diantara mereka.
Yang lain mengangguk setuju dengan ucapan temannya barusan.
"Maaf, Mas. Mas ini, siapanya Melati, ya?" tanya mahasiswa itu kemudian.
"Saya suami Melati," ucap Adam dengan jelas, "boleh tahu, apa yang terjadi tadi disini?" tanya Adam menyelidik.
__ADS_1
Salah satu mahasiswa yang berambut keriting membuka tas dan kemudian mengambil setumpuk kertas, "ada yang menyebarkan berita ini, Mas." ucap pemuda tersebut seraya menyerahkan tumpukan brosur pada Adam.
Adam menerima tumpukan kertas dengan mengerutkan kening dan setelah membaca brosur tersebut, kerutan di kening Adam semakin dalam.
"Kalian tahu, siapa yang telah menyebarkan brosur ini?" tanya Adam menatap mereka satu-persatu.
Mereka menggeleng-geleng kan kepala, "kami kebetulan lewat saat Melati berlari meninggalkan kampus tadi dan kami menemukan banyak kertas bertebaran di sekitar sini, kemudian kami memunguti kertas-kertas tersebut," terang mahasiswa yang paling tampan, sambil menunjuk setumpuk kertas di tangan Adam.
"Eh, itu 'kan cowok yang kemarin sama Melati?" terdengar celoteh segerombolan gadis yang berjalan mendekat.
"Oh, jadi Melati itu simpanannya, Om?" tuduh mahasiswi berambut blonde yang kemarin melihat Adam bersama anak kecil saat menjemput Melati, ketika jarak mereka sudah sangat dekat.
"Saya juga mau dong, Om, jadi simpanan Om?" lanjutnya menawarkan diri, seraya bergaya genit.
"Melati bukan simpanan saya tapi istri saya!" tegas Adam, "dan asal kalian tahu, anak Melati adalah anak saya. Bukan anak Haram!" imbuh Adam mempertegas dan dengan tatapan tajam, menatap mereka semua yang termakan hasutan dari orang yang menyebarkan brosur tersebut.
Mereka semua terdiam.
"Apa kalian tahu, siapa yang menyebarkan brosur-brosur ini?" tanya Adam pada para mahasiswi yang baru datang tersebut.
"Kami tidak kenal, Mas. Dia tadi datang dan langsung cerita panjang lebar tentang Melati dan kemudian mengeluarkan brosur dari amplop." terang mahasiswi yang paling tinggi.
"Dia juga melihat tadi, saat Mas mengantarkan Melati. Dia sembunyi saat melihat Mas, kayak takut ketahuan, gitu?" timpal yang berambut blonde.
"Perempuan?" tanya Adam.
Mereka kompak mengangguk.
Adam mengeluarkan ponselnya dan membuka folder galeri, "apa perempuan ini?" Adam menunjukkan sebuah foto yang terpampang di layar ponsel pada mahasiswi-mahasiswi tersebut.
"Iya benar, ini dia orangnya, Mas," balas mereka kompak.
Adam geleng-geleng kepala, "baik, terimakasih informasinya," ucap Adam yang langsung hendak berlalu, namun mengurungkan langkahnya.
__ADS_1
"Saya tegaskan kembali pada kalian, bahwa Melati adalah istri saya! Dan perempuan gila yang menyebarkan fitnah terhadap Melati, dia adalah wanita yang terobsesi dengan saya tapi saya tidak menggubris nya!" pungkas Adam dan kemudian berlalu meninggalkan kampus, untuk segera menemui Melati.
TBC,,,