
Di Rumah Sakit Jiwa, bu Sonia terlihat terus menangis dengan didampingi oleh seorang perawat. Wanita yang telah kehilangan wibawanya tersebut, kini terlihat sangat mengenaskan.
Wajahnya tirus, dengan lingkaran mata menghitam dan rambut yang memutih sebagian. Tak tersisa pesona kecantikan di wajahnya, yang dulu selalu di poles make-up dan perawatan mahal di klinik kecantikan.
Wanita paruh baya itu merintih sambil menyebutkan sebuah nama yang terus Ia ulang, rintihannya terdengar sangat memilukan hati siapa saja yang mendengar.
"Melati ... maaf, maafkan saya, Melati."
Arjuna yang baru akan masuk kedalam ruang perawatan sang mama terpaku ditempatnya, mendengar sang mama merintih meminta maaf pada gadis yang telah tega menyelingkuhi Arjuna.
'Mama minta maaf sama Melati? Ada apa sebenarnya? Apa mama menyembunyikan sesuatu?' batin Arjuna.
"Mas Arjuna, silahkan masuk?" Perawat yang menoleh dan melihat Arjuna masih berdiri di ambang pintu, mempersilahkan putra dari pasiennya untuk masuk.
Dengan langkah gontai, Arjuna masuk kedalam ruang perawatan sang mama. Arjuna kemudian duduk di kursi yang tadi ditempati oleh perawat tersebut.
"Saya tinggal dulu ya, Mas Arjuna," pamit perawat, sambil membawa tempat makan yang telah kosong. Rupanya perawat tadi habis menyuapi bu Sonia.
Arjuna kemudian menggenggam tangan sang mama, "Mama apa kabar?" tanya Arjuna.
Bu Sonia mendongak, mengamati dengan seksama wajah Arjuna. "Kamu siapa?" tanya bu Sonia.
Ya, bu Sonia mengalami lupa ingatan pada semua orang kecuali pada satu nama yang terus Ia sebut. Melati, gadis yang pernah Ia usir dan Ia fitnah hingga Melati tidak mendapatkan hak pengakuan atas kehamilannya dengan Arjuna.
"Ini Juna, Ma. Anak bungsu Mama," terang Arjuna dengan penuh kesabaran.
Bu Sonia mengangguk-anggukkan kepala dan kemudian tersenyum, " iya, kamu anak mama," ucapnya dan kemudian menangis.
Tetapi sedetik kemudian, bu Sonia akan lupa kembali dengan apa yang telah dijelaskan oleh orang yang mengajaknya berbicara.
"Siapa tadi, nama kamu?" tanya bu Sonia kembali.
Arjuna menghela napas panjang, "Juna, Ma. Arjuna, kesayangan mama," balas Arjuna dengan air mata berlinang.
"Juna-Juna-Juna .... " Bu Sonia terdengar mengulang-ulang nama putranya sendiri.
"Melati, apa kamu kenal Melati?" tanya bu Sonia kemudian dengan tatapan penuh harap.
__ADS_1
Karena selama ini jika Ia bertanya pada semua orang yang mendekatinya, tak ada yang tahu siapa Melati.
Arjuna mengangguk, "iya, Ma. Juna mengenal Melati. Kenapa dengan Melati, Ma?" cecar Arjuna yang nampak tidak sabar.
"Benarkah kamu mengenalnya?" tanya bu Sonia dengan netra berbinar, seperti tatapan orang waras karena selama ini netra bu Sonia nampak kosong dan tidak ada tanda-tanda kehidupan.
"Iya, Ma, Juna kenal Melati. Katakan, Ma, ada apa dengan Melati?" kejar Arjuna kembali.
Bu Sonia menangis tersedu, hingga membuat Arjuna kebingungan. "Ma, Mama kenapa malah menangis? Kenapa dengan Melati, Ma? Apa dia menyakiti Mama?" Arjuna nampak panik.
Bu Sonia menggeleng, "mama yang sudah menyakiti Melati, mama yang mengusir dia dan ibunya." Tangis bu Sonia semakin pecah.
Arjuna mengerutkan kening dengan dalam, mencerna perkataan sang mama. 'Mama yang membuat Melati dan bu Nilam pergi dari kota? Untuk apa?' tanya Arjuna dalam hati.
Tiba-tiba bu Sonia tertawa terbahak, "bodoh, bodoh kamu Sonia! Kamu memiliki cucu, tapi kamu sia-siakan!" maki bu Sonia pada dirinya sendiri.
Arjuna semakin tak mengerti, 'cucu? Disia-siakan? Apa maksud mama?' batin Arjuna bertanya.
Setelah beberapa saat, bu Sonia kembali tenang. Arjuna bertanya kembali pada sang mama dengan hati-hati, "Ma, tolong katakan dengan jelas. Apa maksud mama dengan cucu yang mama sia-siakan?"
Bu Sonia menatap dalam netra Arjuna, "dia anak Arjuna. Melati mengandung anak Arjuna," ucap bu Sonia dengan jelas, sedetik kemudian wanita paruh baya yang terlihat sangat tua itu kembali menangis.
"Ada apa, Mas Arjuna?" tanya perawat yang tadi menyuapi bu Sonia.
Arjuna menggeleng lemah, "saya tidak tahu, Sus. Tadi mama menyampaikan pesan dan setelah itu mama menangis," balas Arjuna jujur.
"Baik, Mas. Sebaiknya Mas Arjuna keluar dulu, kami akan tangani bu Sonia," titah perawat tersebut.
Arjuna segera keluar dari ruang perawatan sang mama, putra bungsu bu Sonia itu kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah sederhana yang Ia tempati.
Arjuna pulang dengan mengendarai motor butut, satu-satunya harta yang tidak disita oleh pemerintah, yang kemudian Ia gunakan sebagai sarana transportasi untuk memudahkan ke tempat Ia bekerja.
Di tengah jalan, perkataan sang mama barusan terus terngiang dan mengganggu pikiran Arjuna. 'Sebaiknya, aku ke rumah om Ricko. Siapa tahu om Ricko bisa memberikan aku penjelasan, mengenai perkataan mama tadi.' Arjuna bermonolog dalam hati.
#####
Arjuna memarkir motor bututnya di halaman sebuah rumah yang cukup besar, tepat di saat yang sama, seorang laki-laki berpenampilan preman terlihat keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
"Selamat siang, Om," sapa Arjuna.
"Hei Juna, siang," balas laki-laki tersebut dengan senyum yang dipaksakan.
"Maaf, Om Ricko. Apa kita bisa bicara sebentar?" mohon Arjuna.
"Iya, silahkan duduk," balas laki-laki yang ternyata adalah Ricko, orang kepercayaan bu Sonia, seraya menunjuk bangku kosong di teras rumahnya.
Arjuna mengikuti Ricko, yang sudah duduk terlebih dahulu.
"Bagaimana kabar bu Sonia?" tanya Ricko basa-basi.
Arjuna menghela napas panjang, "masih sama, Om. Barusan Juna dari sana dan mama kembali histeris," terang Arjuna.
Ricko mengusap kasar wajahnya, meski laki-laki bertato itu nampak tak perduli tapi tetap saja ada rasa iba menyelimuti hati Ricko. Bagaimanapun bu Sonia pernah menjadi pahlawan bagi keluarga Ricko.
Bu Sonia memberikan kesejahteraan lebih untuk Ricko dan keluarganya, meskipun imbal baliknya Ricko harus melakukan apapun yang diperintahkan oleh bu Sonia, termasuk pekerjaan yang merugikan orang lain bahkan membuat orang lain celaka sekalipun.
"Ada apa, kamu mencari Om?" tanya Ricko kemudian.
Arjuna kemudian menceritakan apa yang di dengarnya dari mulut sang mama, "apa Om Ricko, tahu tentang hal ini?" tanya Arjuna penuh harap.
Ricko menghela napas panjang, sedetik kemudian menganggukkan kepala. "Iya, Juna. Gadis itu mengandung anakmu," balas Ricko pelan tetapi bagi Arjuna, ucapan Ricko bagai petir yang menggelegar menyambar kesadarannya yang selama ini tertutup kecemburuan yang tak beralasan.
Melihat foto-foto mesra seorang gadis yang mirip dengan Melati, membuat darah muda Arjuna mendidih dan cemburu buta. Ia yang menjaga kesetiaan di tempat pendidikan, merasa dikhianati dan disakiti.
Akal sehat Arjuna menghilang karena dendam yang membara di hati, hingga permintaan Melati agar Arjuna melakukan tes DNA untuk membuktikan bahwa benih yang dikandung Melati adalah benih Arjuna, Ia abaikan bahkan Ia tertawa'kan.
Keterangan Ricko selanjutnya tak dapat Arjuna dengar dengan baik, karena pemuda itu hanyut dalam penyesalan yang mendalam. Arjuna sangat terkejut mendengar kenyataan, bahwa ternyata Melati adalah korban keegoisan sang mama.
"Om, benarkah yang Om Ricko katakan?" tanya Arjuna memastikan kembali pendengarannya.
Ricko mengangguk pasti, "Melati dan ibunya menetap di Bali." Ricko kemudian menyebutkan alamat Melati.
"Baik, Om. Terimakasih," ucap Arjuna yang langsung berlari menuju motornya.
Arjuna memacu motor bututnya dengan kecepatan maksimal, Ia ingin bisa segera sampai di rumah dan kemudian bersiap untuk menyusul Melati ke Bali.
__ADS_1
"Mela, maafkan aku," gumam Arjuna di sepanjang jalan. Bulir bening yang berjatuhan dari sudut netra Arjuna, membasahi wajahnya yang kini nampak kuyu.
TBC,,,