Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Dua puluh satu_ Dia Adik Sepupuku


__ADS_3

Tubuh Melati jatuh menimpa tubuh kekar Adam, ketika pemuda berwajah blasteran itu berhasil menarik tubuh ramping ibu muda tersebut dari gulungan ombak yang datang menerjang.


Sejenak keduanya saling terdiam dan hanya saling memandang, setelah terguling di atas pasir putih nan bersih.


"Dik, kamu tidak apa-apa?" tanya Adam sesaat kemudian dengan tatapan yang masih tertuju pada netra bulat Melati, wajah tampan itu nampak sangat khawatir.


Melati menggeleng, tatapan ibu muda itu masih tertuju pada netra kebiruan milik Adam.


Jarak wajah keduanya begitu dekat, bahkan Adam dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Melati.


"Dik, apa kamu masih betah menindih tubuh Mas?" tanya Adam sambil tersenyum menggoda, setelah beberapa saat menunggu tetapi Melati belum bergeming.


Melati segera tersadar dan buru-buru beringsut, "maaf," ucap Melati seraya membenahi roknya yang tersingkap dan kemudian duduk di atas pasir putih.


Adam terkekeh pelan sambil geleng-geleng kepala, pemuda berkulit putih bersih itu kemudian bangun dan ikut duduk di samping Melati.


"Kenapa kamu senekat tadi, Dik?" tanya Adam pelan tetapi mengandung kemarahan dan kekhawatiran, sesaat setelah keduanya duduk menghadap kearah laut lepas. Menyaksikan debur ombak yang berkejaran di pantai lepas.


Melati menoleh kearah pemuda yang baru saja menolongnya, "apa maksud, Mas Adam?" Kening Melati mengernyit dalam, karena ibu muda itu tidak tahu kemana arah pembicaraan Adam.


"Kalau Dik Mela ada masalah, bisa 'kan dibicarakan baik-baik sama Ibu atau sama .... " Adam menjeda ucapannya sejenak, pemuda gagah itu menghela nafas panjang.


"Dibicarakan sama Mas, bisa 'kan?" Adam menatap dalam netra Melati.


Melati menggeleng, "Mas Adam salah sangka. Mel memang sedang kalut, Mas, tapi Mel bukan mau bunuh diri?" balas Melati dengan sendu, foto-foto yang dikirimkan Arjuna terlintas kembali di pelupuk matanya.


"Mel hanya ingin berteriak, Mas. Berteriak sepuas hati Mel!" lanjutnya berseru dan kembali terisak. Melati menyembunyikan wajahnya pada kedua lutut yang Ia tekuk dan menangis tersedu-sedu.


Adam mengernyit, "kenapa? Ada apa, hem?" tanya Adam lembut seraya merengkuh tubuh ibu muda itu kedalam dekapannya yang hangat.


Melati hanya menurut, tangis putri semata wayang bu Nilam tersebut semakin pecah dalam pelukan Adam, tubuh putri tunggal bu Nilam itu sampai bergetar hebat. Tanpa sadar, Melati memeluk tubuh Adam dengan erat seolah mencari kedamaian di sana.


Untuk beberapa saat, Adam membiarkan Melati menumpahkan segala rasa yang ada didalam hati. Pemuda itu mengusap lembut surai hitam nan panjang milik Melati, yang sesekali beterbangan tertiup angin pantai di senja hari dengan penuh kasih.


Setelah puas menangis, Melati beringsut sambil menyeka sisa air matanya dengan ibu jari. "Maaf, su-sudah merepotkan Mas Adam," ucap Melati terbata


Adam menggeleng, "kamu bukan orang lain bagi Mas, Dik. Jangan berkata seperti itu!" protes Adam.


Hening sejenak menyapa, hanya suara deburan ombak yang terdengar menderu disertai dengan desau angin yang berhembus menerbangkan surai hitam Melati.


Ibu muda itu membenahi kucir rambutnya yang terlepas dan kemudian menggulung keatas, membuat tengkuk Melati yang putih bersih terekspos sempurna ketika tanpa sengaja Adam menoleh kearah Melati.


Buru-buru Adam membuang pandangan kearah laut lepas, bagaimanapun Ia adalah laki-laki normal yang bisa saja tergoda. Apalagi tadi, Adam sudah merasakan pelukan Melati yang sempat membuat ritme jantungnya tak terkendali.

__ADS_1


Beberapa kali tanpa sengaja Adam bersentuhan dengan Melati, seperti ketika menolong ibu muda itu dan membopong tubuhnya. Adam juga sempat melihat area pribadi Melati, ketika mommy Putra tersebut menyusui bayinya.


Tetapi Adam tidak mau memanfaatkan kesempatan, Ia ingin jika suatu saat bisa mendapatkan Melati, tentu dengan cara yang benar.


"Mau berbagi dengan Mas?" tanya Adam, setelah beberapa saat keduanya terdiam.


Sekilas Melati menoleh kearah Adam dan kemudian segera mengalihkan tatapannya pada ombak yang menggulung tinggi di lautan, tak lama kemudian ombak tersebut terhempas di pantai yang berpasir putih.


"Ombak itu seperti angan-angan ku yang sempat terbang tinggi, namun kemudian dihempaskan begitu saja. Bukan ke pantai dengan pasirnya yang lembut yang menyambut ku, tetapi batu karang yang terjal." lirih Melati hampir tak terdengar, namun karena Adam duduknya berdempetan dengan ibu muda tersebut maka Ia masih bisa mendengar dengan baik.


Melati menghela nafas panjang untuk mengusir batu besar yang menghimpit dadanya, sementara Adam masih terdiam dan setia menanti kelanjutan cerita dari Melati.


"Tadi ayahnya Putra telepon," ucap Melati kemudian. Mommy nya Putra itu menarik nafas panjang berkali-kali dan menghembuskan dengan kuat, sebelum melanjutkan bercerita.


"Arjuna tidak percaya kalau Putra adalah benih darinya, dia menuduhku selingkuh," lanjut Melati dengan nada penuh kekecewaan. Rasa sakit di hati atas tuduhan tersebut masih terasa nyeri dan menusuk hingga ke ulu hati.


Ibu muda itu menghela nafas kasar, seolah ingin membuang semua rasa yang masih mengganjal didalam hati. Melati buru-buru menyeka air mata, yang kembali menggenang di pelupuk mata mengingat pedasnya perkataan Arjuna.


"Ayah Putra telepon?" tanya Adam menatap dalam netra Melati.


Melati mengangguk lemah.


Adam kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku baju, beruntung benda itu tidak terjatuh dan basah ketika Ia menolong Melati barusan. "Apa ini ponselmu, Dik? Mas menemukannya di lantai kamar, saat tadi kamu menabrak Mas." Adam menyodorkan ponsel jadul kepada Melati.


Melati menatap ponsel tersebut dan menerimanya dengan air mata yang kembali berlinang, tangan ibu muda itu sampai bergetar memegang ponsel tersebut. "Mel akan membuang ponsel itu ke laut!" seru Melati yang kembali tergugu.


Adam mengernyit, "kenapa?"


"Mel difitnah oleh mamanya Arjuna, kalau Mel selingkuh." jawab Melati seraya menunjukkan kepada Adam, foto-foto wanita muda yang wajahnya mirip dengan Melati tengah bercinta dengan seorang laki-laki dewasa.


Adam mengamati foto-foto tersebut, sambil sesekali menatap Melati.


"Mas Adam juga percaya, ka-kalau wanita dalam foto itu adalah aku?" tanya Melati terbata.


Adam menggeleng, "kita bisa selidiki ini semua, Dik. Dan orang yang telah memfitnah Dik Melati, bisa kita tuntut," ucap Adam yang tidak percaya bahwa wanita dalam foto tersebut adalah Melati, meski wajah keduanya sangatlah mirip.


Melati menggeleng, "tidak perlu, Mas. Mel sudah bertekad untuk melupakan masa lalu kelam Mel! Biarlah, Putra tidak pernah tahu dan juga tidak perlu tahu siapa ayah kandungnya!" tekad Melati dengan yakin.


"Arjuna sudah menganggap Mel mati, begitupun sebaliknya! Mel juga anggap, dia telah mati!" Kembali air mata wanita muda itu mengucur deras, meski tekad Melati sudah bulat tapi tetap saja masih terbersit kekhawatiran, jika suatu saat sang putra menanyakan keberadaan ayahnya.


Adam menepuk punggung Melati dengan lembut, "Putra tidak akan kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua yang utuh, Putra memiliki kamu, mommy yang baik dan dia juga memiliki Mas, daddy nya," ucap Adam yang bisa mengerti kekhawatiran wanita muda di sampingnya.


Melati menggeleng, "beda, Mas. Mas Adam hanya daddy pura-pura nya saja karena nanti setelah Mas Adam menikah, pasti Mas Adam akan pergi jauh dan meninggalkan kami," balas Melati yang mulai risau, jika suatu saat pemuda yang sudah banyak membantu Melati dan sang ibu itu pergi menjauh.

__ADS_1


Melati kembali tergugu, Ia tidak dapat membayangkan kehidupan berat apalagi yang akan dihadapinya nanti jika sudah tidak ada lagi sosok Adam yang selama ini menjadi sandaran baginya dan juga sang Ibu


Adam kemudian memeluk Melati, mencoba menenangkan ibu muda tersebut. "Mas bukan daddy pura-pura nya, Dik. Karena sejak awal mengenal dan mengetahui kisah mu dari ibu, Mas sudah menyimpan harapan untuk menjadikan kalian bagian dari hidup Mas," ucap Adam sungguh-sungguh.


Melati menggeleng dalam pelukan Adam, "tidak, Mas. Mel tidak mau menjadi orang jahat," lirih Melati.


Adam melepaskan pelukan, menangkup kedua sisi pundak Melati dan menatap wanita bermata sembab di depannya dengan intens. "Apa maksudmu berkata seperti itu, Dik? Siapa yang mengatakan kalau kamu jahat?" tanya Adam tak mengerti.


"Bukannya mas Adam sudah memiliki tunangan? Lantas, apa namanya jika Melati tiba-tiba datang dan merusak pertunangan Mas Adam? Wanita yang jahat, bukan?" Melati balik bertanya.


Adam menghela nafas kasar sambil melepaskan tangan dari pundak Melati, pemuda berdarah campuran Jawa Belanda itu kemudian mengarahkan pandangannya kelaut lepas.


Tatapan Adam tertuju pada sepasang anak kecil yang berlarian di tepi pantai, yang dikejar oleh kedua orang tuanya. Wajah-wajah mereka nampak sangat ceria, bahkan canda tawa mereka terdengar hingga ke telinga Adam.


Adam tersenyum melihat kebersamaan yang hangat keluarga kecil tersebut, terlihat sangat harmonis. Pemuda berwajah blasteran itu membayangkan, seandainya Ia dan Melati bisa bersama, mereka pasti juga akan sangat bahagia.


Sementara Melati masih disibukkan dengan pikirannya sendiri, ponsel jadul pemberian Arjuna masih berada dalam genggaman tangannya.


Adam tiba-tiba membaringkan tubuh lelahnya di atas pasir putih, pemuda tampan itu menatap hamparan langit biru yang bersih di atas sana.


Pemuda itu menghela napas panjang, "berbaringlah, Dik. Ada yang akan aku sampaikan," pinta Adam.


Melati menurut dan kemudian membaringkan tubuhnya di sisi Adam.


Tidak ada percakapan diantara keduanya untuk beberapa saat, hanya keheningan yang tercipta. Masing-masing menatap birunya langit.


"Gadis itu bernama Sisca, dia adik sepupuku," terang Adam, memecah keheningan.


Melati menoleh untuk mencari tahu kejujuran di netra kebiruan milik Adam.


Adam tersenyum dan mengangguk. "Mas kuliah di Jogja dan tinggal sama tante, mamanya Sisca. Dari situlah Sisca mulai menunjukkan perhatiannya pada Mas." Adam kemudian menceritakan semuanya pada Melati, bahwa Ia tidak pernah menanggapi perasaan Sisca terhadap dirinya.


"Dia salah mengartikan ucapan mama, dia juga bebal meski sudah seringkali orang tuanya menasehati agar melupakan Mas dan mencari cowok lain yang tidak ada hubungan kekeluargaan." Adam menatap dalam netra Melati.


"Jadi, Sisca itu bukan tunangan Mas. Kamu mengerti 'kan, sekarang?" Tatapan Adam semakin dalam, bahkan Ia juga memiringkan tubuhnya menghadap kearah Melati.


Entah apa yang mendorong Adam, pemuda itu kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang ramping Melati hingga membuat ibu muda itu merinding.


"Dik, hadap sini," titahnya.


Lagi-lagi Melati hanya bisa menurut, mommy nya Putra tersebut kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Adam. Kedua netra mereka saling bertaut, dengan bibir yang saling mengulas senyum.


"Mulai sekarang, maukah kamu berbagi segala hal denganku, Dik?" tanya Adam.

__ADS_1


Melati mengernyit, belum mengerti bahasa Adam yang menurutnya ambigu.


TBC,,,


__ADS_2