
Hari-hari berikutnya dilalui Melati dengan tanpa beban, tak ada lagi gejolak rindu untuk seseorang yang biasanya sangat mengganggu dan menyiksa batin Melati. Tidak ada pula rasa jenuh karena menanti kapan datangnya sang pujaan hati karena kini, semua telah sirna terbawa ombak di lautan yang tak bertepi.
Lega, itulah yang dirasakan Melati saat ini. Fokus ibu muda itu sekarang adalah bagaimana Ia membesarkan sang Putra dengan limpahan kasih sayang, agar anaknya tidak merasa 𝘪𝘯𝘴𝘦𝘤𝘶𝘳𝘦 jika nanti bergaul dengan anak-anak yang memiliki kehidupan dalam keluarga yang normal.
Meski Adam telah menawarkan kehidupan layak sebagaimana keluarga pada umumnya, namun Melati tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Masih banyak hal yang harus Ia pertimbangkan, minimal Ia harus bisa memantaskan diri untuk bersanding dengan Adam.
Karena Adam bukan hidup sendirian, pemuda tampan itu memiliki keluarga dan bahkan keluarga Adam tak dapat dipandang sebelah mata. Dari pihak Ibu, mamanya Adam adalah keturunan darah biru dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan sang papa, pengusaha kaya asal Den Haag - Belanda.
Tentu Melati tidak ingin merusak 𝘪𝘮𝘢𝘨𝘦 Adam, jika pemuda baik hati itu menikahi dirinya yang bukan siapa-siapa. Melati ingin menjadi seseorang yang bisa dibanggakan, baik oleh sang ibu maupun calon suami Melati nanti.
Mulai hari ini, ibu muda itu bertekad untuk melanjutkan studinya agar mendapatkan ijazah minimal SMU sebagai langkah awal untuk memajukan dirinya sendiri. Dan malam ini sembari menunggu Adam, Melati menyampaikan keinginan tersebut kepada sang ibu.
"Bu, Mela mau ikut kejar paket agar bisa mendapatkan ijazah SMU. Boleh 'kan, Bu?" ijin Melati sambil menatap sang Ibu yang sedang memangku baby Putra, anak pertama Melati yang saat ini sudah bisa diajak bercanda.
Bu Nilam mengernyitkan kening dan sesaat kemudian mengangguk seraya tersenyum, "tentu saja boleh, Nak. Ibu senang mendengarnya jika kamu mau terus berusaha untuk maju, do'a Ibu selalu menyertaimu, Mel," balas bu Nilam yang memberikan dukungan luar biasa untuk sang putri.
Bu Nilam nampak menepuk-nepuk pantat baby Putra, karena bayi montok itu tiba-tiba terbangun dan menggeliat serta mulai merengek. "Cucu Eyang Uti bangun ya, mau ikut mommy belajar, Nak?" bisik bu Nilam sambil mencoba menenangkan baby Putra yang rengekannya semakin kenceng.
"Sini, Bu. Dia haus dan sudah ngantuk lagi paling," pinta Melati sambil membuka kedua tangannya untuk menerima sang Putra dari tangan bu Nilam.
"Oh, cucu Eyang haus, ya? Nen yang banyak ya, Nak? Biar cepat besar," bu Nilam masih saja menimang sang cucu, padahal rengekan baby Putra semakin terdengar keras. Hingga seorang laki-laki yang baru saja masuk, langsung dibuat panik.
"Putra kenapa, Bu?" tanya Adam yang baru saja datang bburu-buru mendekat, wajah blasteran itu nampak sangat khawatir.
Bu Nilam terkekeh, "tidak apa-apa, Daddy. Eyang hanya iseng, pengin dengar jagoan Eyang nangis," balas bu Nilam yang semakin gemas pada sang cucu dan menciumi cucu pertamanya itu sebelum diberikan pada Melati untuk disusui.
"Eyang, sudah dong?" protes Melati, sementara Adam tersenyum lega.
"Sini, sama Daddy dulu. Daddy 'kan belum gendong anak Daddy dari siang?" pinta Adam dan bu Nilam kemudian memberikan baby Putra pada Adam.
__ADS_1
Melati cemberut, "Ibu, Putra sudah nangis begitu? Kenapa malah dikasih sama mas Adam, sih?" Melati kembali protes.
Bu Nilam tersenyum, "Tidak apa-apa, Mel. Biar digendong dulu sama Daddy-nya dulu," balas bu Nilam, "Daddy-nya pasti kangen karena sampai malam begini baru datang," lanjut bu Nilam seraya menatap Adam, menuntut penjelasan kenapa semalam ini Adam baru menampakkan batang hidungnya.
Adam memang selalu pulang di sore hari dan akan menghabiskan waktu untuk bermain bersama Melati dan putranya hingga malam, barulah jika anak dan ibu itu sudah tidur Adam akan kembali ke rumahnya sendiri yang berdempetan dengan rumah yang dihuni Melati, ibu dan sang Putra.
Pemuda berwajah blasteran itu tersenyum hangat, "maaf, Bu. Tadi di resto ada rombongan tamu dari luar kota, yang mengadakan rapat jam tujuh malam. Jadi Adam pulang terlambat," terang Adam, "tapi Adam sudah memberi tahu Dik Mela, kok. Memangnya, Dik Mela tidak mengatakan pada Ibu?" lanjut Adam bertanya, seraya menatap Melati dan bu Nilam bergantian.
Melati menggeleng tanpa rasa bersalah, sementara bu Nilam mengernyit.
"Bukan Putra berarti yang kangen sama Daddy Adam, tapi Eyang-nya Putra," goda Melati pada sang Ibu sebelum dirinya yang di goda.
"Oh, jadi mommy-nya Putra cemburu nih, kalau Daddy Adam digodain nenek-nenek?" Bu Nilam tetap saja memiliki cara untuk menggoda putrinya, hingga membuat Melati cemberut.
Bu Nilam terkekeh, begitu pula dengan Adam.
"Ibu mau bikin kopi dulu buat Mas Adam," ujar bu Nilam sambil berlalu dari ruang keluarga.
Melati menyaksikan itu semua, dengan perasaan yang tak dapat Ia lukis kan dengan kata-kata. Melati bisa merasakan bahwa Adam benar-benar tulus menyayangi putranya, hingga tanpa Ia sadari, bibir tipis Melati menyunggingkan senyuman manis.
"Dik, kenapa?" selidik Adam, melihat Melati senyum-senyum sendiri.
"Eh, em ... tidak apa-apa kok, Mas," balas Melati seraya tersipu malu, karena kedapatan tengah melamun kan Adam.
"Pasti sedang memikirkan Mas, ya?" tebak Adam.
"Ih, pede banget sih, Mas Adam?" Melati yang kadung malu, mengerucutkan bibir.
"Mas, sudah. Bawa sini si Adik?" pinta Melati.
__ADS_1
Adam mendekat dan kemudian memberikan baby Putra pada sang mommy untuk disusui.
Melati beranjak hendak menuju kamar, "mau kemana, Dik?" tanya Adam.
"Mau ke kamar, Mas. Putra 'kan mau nyusu?" Melati menatap bingung pada pemuda tampan di depannya itu.
"Sudah, di sini saja," pinta Adam.
Melati mengernyitkan dahi, "di kamar saja, Mas. Mel malu sama, Mas Adam," kekeuh Melati.
"Kenapa mesti malu? Mas sudah sering lihat, kali?" goda Adam.
"Ck .... " Melati berdecak, tetapi menuruti juga kemauan Adam. Ibu muda itu kemudian kembali duduk.
Melati kemudian mulai menyusui sang Putra dengan memunggungi Adam, sedangkan Adam fokus melihat layar kaca yang sedang menayangkan siaran langsung sepakbola Liga Inggris.
Ketika jeda iklan, Adam iseng godain Putra yang belum juga tertidur meski sudah cukup lama bayi berusia lima bulan itu menyusu sang mommy.
"Anak Daddy kenapa belum bobok? Mau bobok sambil dipeluk Daddy, ya?" Adam menggelitik kaki mungil Putra, hingga membuat Putra berhenti menyusu dan kemudian mencari-cari suara 𝘧𝘢𝘮𝘪𝘭𝘪𝘢𝘳 yang mengajaknya bercanda.
"Daddy, sudah dong. Putra tadi sudah mau tidur, gara-gara digodain Daddy jadi bangun lagi, 'kan?" protes Melati.
Adam tersenyum, "dari tadi kok, Mommy cemberut terus ya, Dik? Apa jangan-jangan, Mommy pengin dipeluk Daddy juga?" goda Adam, "kalau gitu, peluk barengan saja, ya?" Adam langsung memeluk Melati dari belakang, tangan Adam melingkari tubuh ramping Melati hingga ke tubuh montok sang Putra.
"Dad, jangan begini, ah? Nanti Ibu lihat?" Melati mencoba melepaskan diri.
"Biar saja, Daddy 'kan meluk Putra," balas Adam, "kalau Mommy tidak mau Ibu melihat, bagaimana kalau kita ke kamar?" goda Adam yang semakin menjadi, pemuda berdarah campuran itu terkekeh senang melihat Melati cemberut. Karena menurut Adam, jika cemberut Melati terlihat menggemaskan.
"Jangan cemberut terus, bikin gemes saja?" bisik Adam sambil mencuri kecupan di pipi chabi Melati.
__ADS_1
TBC,,,