Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Tiga puluh lima_Laki-laki Berhati Malaikat


__ADS_3

Melati tengah mempersiapkan segala sesuatu yang akan Ia bawa untuk terbang ke Negeri Kincir Angin, Negara tempat sang suami lahir dan dibesarkan. Sementara Adam sedang sibuk mengurus visa untuk sang istri, Putra dan juga ibu mertuanya.


Ya, mama Rida memutuskan untuk menggelar resepsi pernikahan Adam dan Melati di Negara tempat tinggal keluarganya karena keluarga besar sang suami yang semua berada di Negara yang terkenal dengan bunga Tulip itu, tidak dapat hadir di acara akad nikah Adam di Bali.


Mama Rida memilih waktu saat ini karena bertepatan dengan musim semi, dimana bunga Tulip yang cantik sedang bermekaran dengan indah. Seperti itulah harapan mama Rida untuk Adam dan Melati, agar cinta keduanya terus mekar dan penuh dengan keindahan sepanjang masa.


Melati masih sibuk memasukkan beberapa pakaian kedalam koper, ketika terdengar suara pintu kamar di ketuk dari luar. Melati menghentikan aktifitasnya dan kemudian bergegas menuju pintu.


"Ada apa, Bi?" tanya Melati pada salah satu asisten rumah tangga.


"Maaf, Mbak Mela. Di luar, ada tamu yang nyari Mbak Mela," ucap asisten tersebut.


Melati mengernyitkan kening, "Bibi tahu, siapa?" tanya Melati kembali.


Asisten tersebut menggeleng, "saya belum pernah melihat sebelumnya, Mbak. Laki-laki, tinggi dan kurus." terang bibi asisten.


'Siapa, ya?' batin Melati.


"Ya sudah, Bi. Mela akan temui dia," ucap Melati, yang kemudian segera berlalu untuk menemui orang yang mencarinya.


Bu Nilam yang sempat mendengar, mengikuti Melati dari belakang dengan berjalan perlahan, ingin tahu siapa gerangan yang mencari putrinya.


Melati tertegun, kala melihat siapa yang datang ke rumahnya. "Kamu?" gumam Melati tak percaya.


Sementara laki-laki kurus yang disebutkan bibi asisten tadi langsung mendekati Melati dan bersujud di kaki ibu satu anak itu, "Mel, maafkan aku, Mel. Maaf .... " mohon Arjuna dengan netra berkaca-kaca.


"A-ku tahu aku salah, Mel, tapi itu semua karena aku tidak tahu kebenarannya. Mama telah memfitnah kamu, Mel dan bodohnya aku yang percaya begitu saja!" lanjut Arjuna terbata dan dengan bibir bergetar.


Melati masih mematung, istri Adam itu masih tidak percaya dengan apa yang Ia lihat. Laki-laki yang dulu begitu gagah dan berkulit bersih, kini sangat kurus dan wajahnya begitu kuyu.


Bu Nilam mendengar deru kendaraan memasuki halaman, buru-buru ibunya Melati itu keluar melalui pintu samping.


Bu Nilam langsung menyambut kedatangan menantunya, "Mas Adam, mari lewat sini," titah bu Nilam, menuntun sang menantu masuk kedalam rumah melalui pintu samping


Adam mengernyitkan dahi, namun tetap menuruti titah sang ibu mertua.


Sesampainya di ruang keluarga, dimana mereka berdua bisa melihat dengan jelas kearah ruang tamu, bu Nilam kemudian menjelaskan bahwa ada Arjuna yang mencari Melati.


"Dia Arjuna, sebaiknya kita dengarkan dahulu pembicaraan mereka, Mas Adam," pinta bu Nilam.


Adam mengangguk, mengerti. "Baik, bu," balas Adam.


Bu Nilam dan Adam sedikit mendekat, dengan langkah yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh penghuni ruang tamu.

__ADS_1


"Aku datang kemari hanya untuk mengharap maaf darimu, Mela. Tolong maafkan aku?" mohon Arjuna kembali.


"Iya, aku sudah maafkan." balas Melati datar, "sekarang pulanglah," usir nya pelan


"Mel, maksudku bukan hanya itu, Mela? Aku, aku juga ingin bertemu dengan anakku?" Mohon Arjuna sambil memegang kaki Melati yang hendak berlalu.


"Anakmu?" tanya Melati sinis, "Ingat Arjuna, kamu tidak mau mengakui anak yang aku kandung! Jadi, dia hanya anakku, hanya anakku! Camkan itu!" ucap Melati dengan penuh penekanan.


"Maaf, Mel. Maaf .... " Kembali Arjuna meminta maaf, "aku memang bersalah, Mela, dan itu karena mamaku? Sekarang mama sudah menerima hukuman, mama sekarang dirawat di Rumah Sakit Jiwa, Mel? Dan papa, papa di penjara karena korupsi," terang Arjuna sendu.


Kembali Melati tertegun, Ia tak menyangka dengan kabar yang Ia dengar dari mulut Arjuna. Melati menjadi tidak tega mendengar kenyataan pahit yang menimpa Arjuna.


"Berdirilah dan silahkan duduk," ucap Melati kemudian, sambil berlalu menuju sofa. Istri Adam itu kemudian duduk dengan anggun di sofa yang empuk.


Arjuna kemudian ikut duduk di sofa dan mengambil jarak agak jauh dari Melati, ada perasaan canggung meliputi hati Arjuna melihat Melati yang seperti sekarang. Melati yang cantik dan anggun, kulitnya bersih terawat dan pakaian Melati juga modis.


Melati yang dinikahi pemuda kaya, pengusaha restoran terkenal di Bali, membuat Arjuna tidak mengalami kesulitan mencari keberadaan Melati.


Ya, Arjuna yang mencari Melati di daerah pantai Sanur seperti yang dikatakan Ricko, mendapat informasi dari pegawai kedai bu Nilam bahwa Melati sudah menikah dan saat ini tinggal di kota Denpasar bersama sang suami.


Arjuna pun bergegas kembali ke Denpasar dan mencari alamat Adam, pemilik beberapa restoran di Bali. Tak butuh waktu lama, Arjuna bisa mendapatkan alamat rumah dimana Melati tinggal.


Hening, sejenak menyapa ruang tamu kediaman keluarga Adam.


"Andai saat itu aku tidak percaya begitu saja dengan mamaku, mungkin kita masih bersama, Mel," ucap Arjuna lirih, perasaan malu menyelimuti hati Arjuna.


Ia yang kini bukan siapa-siapa, dibanding Melati yang semakin mempesona. Arjuna kemudian menunduk, Ia tak berani menatap Melati.


"Lantas, setelah tahu semuanya, apa mau kamu?" tanya Melati, yang masih terdengar sinis di telinga Arjuna dan Arjuna bisa memaklumi hal itu.


Menurut yang Arjuna dengar dari Ricko, pasti tak mudah apa yang telah dilewati oleh Melati kala diusir dari rumahnya oleh sang mama layaknya binatang. Tak cukup sampai disitu, Melati dan bu Nilam juga diusir dari kota.


"Ijinkan aku bertemu dengan anak kita, Mel?" pinta Arjuna sambil memberanikan diri menatap Melati.


Melati menggeleng tegas, "tidak! Dia hanya anakku! Aku yang mengandungnya seorang diri, tanpa kehadiran kamu dan tanpa pengakuan dari siapapun!" seru Melati yang terlihat emosional. Bayangan masa lalu Melati yang sulit dan menyedihkan, kembali melintas dan itu membuat netra Melati berkaca-kaca.


"Sekarang, pergilah! Tak ada gunanya lagi kamu di sini!" usir Melati sambil beranjak, namun Arjuna masih tertunduk di tempatnya.


"Cepat, pergi!" bentak Melati.


Melihat sang istri dalam keadaan emosional, Adam pun keluar dan memeluk istrinya itu. "Tenang, Mom, tenang." bisik Adam lembut, "ayo, duduk!" titah Adam sambil mendudukkan sang istri di tempatnya semula.


"Jangan kotori hatimu dengan dendam, Sayang. Jangan pula menyesali apa yang telah terjadi," ucap Adam lirih, "tanpa masa lalu yang Mommy alami, kita tidak akan pernah bersama, Mom. Ingat Mom, pasti akan ada hikmah di balik setiap kejadian yang menimpa kita," lanjut Adam dengan bijak.

__ADS_1


"Jika saat ini, Mommy belum bisa memberikan kesempatan pada dia untuk melihat Putra, setidaknya, Mommy harus tetap bersikap baik karena bagaimanapun dia ayah kandung Putra," tegas Adam, masih sambil memeluk pundak sang istri.


Adam bisa memahami keadaan Arjuna melalui percakapan Arjuna dan Melati tadi, Ia bisa menyimpulkan bahwa Arjuna tak sepenuhnya bersalah, Arjuna juga korban dari keegoisan orang tuanya.


Melati menatap Adam dengan tatapan tak mengerti.


"Putra anak kita, Mom dan selamanya akan menjadi anak kita. Tetapi kita tidak bisa menyembunyikan kebenaran, 'kan?" Adam membelai lembut surai hitam sang istri.


"Melati-nya Mas Adam yang cantik, biasanya selalu tersenyum," rayu Adam, hingga membuat Melati sedikit tersenyum.


"Nah, gitu dong. Jadi makin cantik, daddy juga makin cinta sama Mommy," lanjut Adam dengan gombalan mautnya.


Adam kemudian melabuhkan ciuman di kening sang istri, ciuman yang penuh kasih dan sayang. Membuat hati Arjuna sakit, tapi sekaligus bersyukur karena Melati menemukan laki-laki yang baik yang bisa membahagiakannya.


"Maaf, apa boleh saya bertemu dengan Putra?" tanya Arjuna kembali.


Adam menatap Melati, memberikan isyarat agar Melati menjawab permintaan Arjuna. Namun, Melati menggeleng tegas.


Adam menghela napas panjang, Ia bisa memahami perasaan istrinya.


"Maaf, Mas. Untuk saat ini, kami belum bisa mengijinkan Anda untuk bertemu dengan putra kami." ucap Adam seraya menatap Arjuna yang sedari tadi melihat Adam dan Melati dengan perasaan tak karuan.


Mungkin nanti, jika waktunya sudah tepat dan Putra sudah bisa memahami semua, kami pasti akan menceritakan kebenaran pada Putra, bahwa Anda adalah ayah kandungnya," lanjut Adam memohon pengertian Arjuna.


"Silahkan simpan nomor Mas, di sini," Adam menyodorkan ponsel miliknya agar Arjuna menyimpan nomor ponsel di sana.


Melati kembali menatap sang suami dengan tatapan tak mengerti.


"Dia sedang mengalami kesulitan, Mommy Sayang. Enggak ada salahnya 'kan, kalau kita bantu dia?" bujuk Adam.


"Daddy ingin, jika suatu saat nanti Putra sudah memahami semua, dia akan bangga pada ayah kandungnya," lanjut Adam seraya melirik Arjuna.


Ya, mendengar kesulitan yang dialami Arjuna, Adam berniat untuk membantu ayah biologis dari Putra tersebut.


Arjuna yang mendengar perkataan Adam, merasa sangat terharu dan menunduk malu. Ia telah menyakiti Melati, tetapi suami Melati malah ingin membantunya.


Sementara Melati berkaca-kaca, 'sungguh beruntung diriku, di pertemukan dengan laki-laki berhati Malaikat seperti Mas Adam.' batin Melati.


"Terimakasih, Dad. Terimakasih untuk semuanya," ucap Melati lirih, sambil memeluk sang suami.


"Sayang, tapi ini enggak gratis ya?" goda Adam seraya memainkan kedua alisnya.


Melati mencubit gemas perut rata sang suami, "selalu modus," ucap Melati seraya tersenyum manis.

__ADS_1


TBC,,,


__ADS_2