
Hari yang dinanti Arjuna pun tiba, setelah melepas rindu pada kedua orang tua, dengan tidak sabar pemuda berbadan tegap itu segera pamit pada papa dan mamanya. Arjuna mengatakan bahwa Ia hendak bertemu dengan sahabat-sahabat lama sewaktu duduk di bangku SMU, padahal Ia ingin menemui Melati.
Ya, putra bu Sonia itu memang belum pernah menceritakan hubungannya dengan Melati kepada kedua orang tuanya. Karena sang papa dan sang mama melarang Arjuna untuk berpacaran, agar Ia bisa fokus untuk meraih cita-cita terlebih dahulu.
"Pa, Ma, Arjun mau ketemu sama temen-temen di kafe Bintang," pamit Arjuna sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya bergantian.
"Kenapa mereka tidak disuruh kesini saja, Nak?" tanya bu Sonia yang mulai curiga.
"Kalau ketemuannya di rumah kita, mereka pada sungkan, Ma? Lagian, kami jadi tidak bisa bebas bercanda nanti? Karena pasti Mama akan ikut ngobrol," balas Arjuna.
"Arjun pergi dulu ya, Pa, Ma," tanpa mendengarkan suara sang mama yang masih mencoba menahan agar sang putra tidak pergi, Arjun sudah berlalu dengan langkah kakinya yang panjang menuju garasi.
Arjuna memilih menaiki motor kesayangan yang sudah lama tidak Ia sentuh. Senyumnya mengembang lebar dan tangannya menepuk-nepuk boncengan motor sport berwarna hitam garang tersebut, "aku akan mengajak kamu jalan-jalan hari ini, Dik. Kamu pasti kaget melihat kedatangan ku," gumam Arjuna.
Pemuda berambut cepak itu segera menaiki motor sport kesayangan dan melajukan dengan kecepatan tinggi menuju kediaman bu Nilam. Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, Arjuna memasuki gang sempit yang menuju rumah Melati dengan kecepatan sedang.
Tepat tiba di depan pekarangan kosong yang Ia yakini sebagai tanah dimana rumah sang kekasih berdiri, Arjuna menghentikan motornya. Perasaan Arjuna tiba-tiba saja menjadi tidak enak, dada pemuda itu serasa bergemuruh.
Arjuna tidak mau menduga-duga, Ia mengedarkan pandangan untuk mencari warga yang bisa dimintai keterangan. Netra Arjuna tertuju pada sosok wanita paruh baya, yang merupakan tetangga bu Nilam.
Kekasih Melati itu segera turun dari motor dan menghampiri wanita tersebut, "selamat sore, Bu. Maaf, saya mau tanya. Bu Nilam dan Melati kemana ya, Bu? Kok rumahnya sudah tidak ada?" tanya Arjuna.
"Oh, mereka sudah pindah, Mas. Tanahnya sudah dibeli sama orang kaya dan rumah bu Nilam dirubuhkan, kami disini tidak ada yang tahu mereka pindah kemana?" balas ibu tersebut.
"Mas ini, teman nak Melati? Tapi kok, Mas baru mencarinya?" selidik wanita paruh baya tersebut, "teman dan guru nak Melati yang lain dulu juga pada datang kemari dan menanyakan, sepertinya nak Melati tidak pamit sama mereka? Kami semua yang disini juga tidak ada yang tahu, mereka seperti buru-buru gitu, Mas?" imbuhnya.
Arjuna mengernyitkan kening dengan dalam, "guru dan teman sekolah Melati juga mencari kemari, Bu?" tanya Arjuna memastikan.
Wanita itu mengangguk.
"Baik, Bu. Terimakasih atas informasinya. Permisi," pamit Arjuna yang langsung kembali ke motornya dengan langkah gontai.
Hati Arjuna menjadi kosong, seperti ada yang tiba-tiba hilang entah kemana. "Kamu kemana, Dik? Kenapa kamu tidak menunggu ku?" bisik Arjuna dalam hati.
Arjuna kembali melajukan sepeda motornya dengan kecepatan maksimal, untuk kembali ke rumah. Semenjak datang tadi, Arjuna lupa belum menyentuh ponselnya karena terburu-buru ingin memberikan kejutan pada Melati.
"Aku yakin, Melati pasti mengirimkan sesuatu ke nomorku. Aku harus segera sampai rumah dan mengeceknya," batin Arjuna.
Arjuna tiba di rumah lebih cepat dari waktu Ia berangkat tadi, dengan setengah berlari Arjuna menuju kamarnya di lantai dua. Pemuda itu membuka pintu kamar dengan kasar dan segera membuka laci meja untuk mengambil ponsel yang Ia simpan didalam sana.
__ADS_1
Setelah mendapatkan barang yang Ia maksud, Arjuna mencari kemudian menghidupkan ponselnya. Sedetik, dua detik berjalan terasa sangat lambat bagi Arjuna. Ketika ponselnya telah siap, jemari Arjuna langsung membuka aplikasi perpesanan dan berharap menemukan pesan dari Melati.
Arjuna terduduk lemas di kursi meja belajar miliknya yang telah lama tidak Ia gunakan tetapi nampak bersih dan terawat, karena sang mama menyuruh asisten rumah tangga untuk selalu merapikan kamar Arjuna.
"Kamu kemana, Mel? Kenapa kamu tidak meninggalkan pesan apa-apa untuk ku?" protes Arjuna sambil menatap nanar layar ponselnya.
Pemuda itu meletakkan begitu saja ponsel miliknya di atas meja dan kemudian menyandarkan tubuh pada sandaran kursi yang empuk. Sejenak Arjuna memejamkan mata untuk mengusir rasa pening di kepala, mendapati kenyataan bahwa sang kekasih telah menghilang tanpa jejak.
Arjuna tiba-tiba membuka mata dan langsung berlari kearah tempat tidur sambil menyambar ponselnya yang tadi Ia letakkan begitu saja di atas meja belajar, pemuda itu duduk bersila di atas kasur busa yang empuk.
Arjuna mengambil bantal dan meletakkan di atas pangkuan dan Ia kemudian kembali membuka layar ponselnya, "bo*doh! Kenapa aku tidak mencoba meneleponnya?" Arjuna merutuki kebodohannya sendiri.
Jemari Arjuna yang kekar, dengan cepat menggeser layar ponsel untuk mencari nama Melati.
Begitu menemukan nama My Jasmine, netra Arjuna membulat karena nama Melati nampak tidak jelas. "Siapa yang sudah memblokir nomor Melati?" tanya Arjuna yang entah Ia tujukan kepada siapa.
"Apakah mama? Apa alasannya?" Arjuna beranjak hendak bertanya pada sang mama, namun segera diurungkan dan Ia kembali duduk di tepi ranjang.
"Mama 'kan lagi arisan sama teman-temannya, kalau aku telepon juga percuma." Arjuna menghela nafas panjang.
"Iya, sosial media. Barangkali, aku bisa melacak keberadaan Melati di sana," gumam Arjuna. Putra bungsu bu Sonia itu kemudian membuka akun sosial media miliknya.
Arjuna menutup laman notifikasi dan kembali ke beranda, tatapannya kini tertuju pada gambar pertemanan. Dengan berdebar, Ia membuka laman tersebut dan senyum Arjuna mengembang kala menemukan permintaan pertemanan dari nama 'Jasmine Juna'.
"Akhirnya, aku menemukan mu Mela sayang." lirih Arjuna dengan hati berbunga-bunga, karena sang kekasih masih mengingat nama panggilan kesayangan dan menyematkan nama Arjuna di belakang nama Jasmine.
Arjuna segera menyetujui permintaan pertemanan tersebut dan muncullah foto profil dari akun bernama Jasmine Juna tadi. "foto bayi? Bayi siapa? Apa benar, ini Jasmine Melati ku? Kenapa profilnya pakai foto bayi?" Arjuna bertanya-tanya dalam hati.
Tidak ingin larut dalam prasangka, Arjuna membuka profil akun tersebut dan betapa terkejutnya Ia tatkala mendapati tulisan, 'Danu Putra, buah cinta kami yang bersemi di Danau Villa'.
"Tidak mungkin, tidak mungkin Melati hamil setelah kejadian itu! Kami hanya melakukan sekali dan tidak mungkin dia bisa langsung hamil! Tidak, ini tidak benar!"
"Ini pasti bukan akun Melati! Tapi, nama itu dan danau yang Ia sebutkan .... " Arjuna nampak sulit mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.
"Apa aku chat saja, ya? Untuk memastikan, apakah ini benar akun Melati apa bukan?" Baru saja Arjuna hendak mengirimkan pesan pada pemilik akun tersebut, pintu kamarnya dibuka dari luar.
"Nak, kamu sudah pulang? Kok cuma sebentar?" tanya bu Sonia dengan lembut seraya menghampiri sang putra.
"Ma, apa mama yang memblokir nomor Melati?" Bukannya menjawab pertanyaan sang mama, Arjuna malah mengajukan pertanyaan pada sang mama dengan menuduh.
__ADS_1
Bu Sonia menggeleng dan hendak mengelak.
"Pasti mama 'kan yang melakukannya? Karena hanya mama dan bibi yang masuk ke kamar Arjun dan tahu kalau ponsel Arjun ada di laci meja belajar?" cecar Arjuna seraya menatap sang mama meminta penjelasan.
Mau tak mau bu Sonia mengangguk, wanita angkuh itu menghela nafas panjang.
"Nak, Melati itu gadis yang tidak baik, buat apa kamu berteman dengan dia?" ucapnya penuh emosional namun Ia tahan. Rupanya wanita itu masih mengingat ketika gadis sederhana yang bernama Melati datang ke kediamannya dan mengaku hamil anak Arjuna.
"Melati anak yang baik, Ma? Dia juga cerdas di sekolah?" bantah Arjuna, "Mama belum bertemu dengan Melati dan belum mengenalnya, lantas bagaimana Mama bisa menyimpulkan?" Arjuna tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang mama.
"Anak baik-baik tidak mungkin hamil di luar nikah, Arjun! Ingat itu!" geram bu Sonia yang mulai tersulut emosi, karena sang putra membela gadis miskin yang sangat Ia benci.
"Ha-hamil, Ma? Darimana Mama tahu, kalau Melati hamil? Apa Melati datang kesini, Ma?" cecar Arjuna yang mulai merangkai puzzle, mulai dari tulisan Jasmine Juna di akun sosial media sampai ucapan sang mama barusan.
"Jika benar Melati hamil, itu artinya .... " Arjuna tidak sanggup membayangkan jika semua itu benar.
"Bukan! Bayi itu bukan anakmu, Arjun!" potong bu Sonia dengan cepat.
"Kenapa Mama mengambil kesimpulan seperti itu, Ma? Katakan pada Arjun, Ma. Apa yang Mama ketahui? Apakah Melati datang mencari ku, Ma?" desak Arjuna, wajah pemuda itu terlihat sangat kacau. Arjuna benar-benar tidak bisa membayangkan, betapa hancurnya hati Melati.
"Tenanglah, Nak." Bu Sonia kemudian duduk di tepi ranjang di samping sang putra. Wanita yang memakai banyak perhiasan ditubuhnya itu menepuk-nepuk pundak Arjuna dengan lembut, mencoba mengambil hati sang putra.
"Iya, gadis itu datang kemari mencari mu," ucap bu Sonia yang akhirnya jujur. Mama Arjuna itu kemudian menceritakan sejak awal hingga akhir dengan memanipulasi cerita yang sesungguhnya.
Berulang kali Arjuna menggelengkan kepala dan menghela nafas kasar, mencoba untuk tidak mempercayai cerita sang mama. "Tidak mungkin Melati seperti itu, Ma? Itu pasti anaknya Arjun?" kekeuh Arjuna.
Bu Sonia beranjak, "Mama punya bukti, tunggu sebentar," bergegas bu Sonia meninggalkan kamar sang putra untuk mengambil bukti foto editan yang Ia dapatkan dari anak buahnya.
Hanya dua menit, bu Sonia telah kembali dengan beberapa lembar foto di tangan, "lihat ini! Buka matamu dan teliti dengan seksama, Nak! Jangan kamu buta akan cinta, hingga wanita asusila seperti dia kamu bela!" seru bu Sonia.
Mamanya Arjuna itu kemudian melempar foto-foto tersebut tepat di samping tempat duduk Arjuna, Arjuna mengambil salah satu foto yang paling dekat dan mata pemuda tampan itu membulat sempurna kala mendapati gambar sang kekasih tengah bercinta dengan seorang laki-laki dewasa tanpa busana.
"Mel ... ? Benarkah apa yang aku lihat ini?" Air mata Arjuna menetes, namun rahangnya mengeras dan tangannya terkepal sempurna. "Dasar, wanita asusila!"
TBC,,,
🌷🌷🌷
Dukung terus Melati yah, jangan lupa vote 😍😘😘
__ADS_1