
Tepat bakda isya', keluarga besar mama Rida berkumpul di ruang keluarga. Adam menggandeng Melati menuju ke ruangan yang sangat luas tersebut dan memperkenalkan Melati pada semua keluarga yang hadir.
Yang pertama di dekati Adam tentunya sang papa, yang tadi belum ditemui Adam karena papanya itu baru beristirahat.
"Pa, ini Melati, calon istri Adam," terang Adam sambil tersenyum kearah Melati.
Melati kemudian menyalami laki-laki bule tersebut dan memperkenalkan dirinya, "Om, kenalkan, saya Melati," ucap Melati dengan sopan.
"Hem, cantik. Pantes saja kamu tidak bisa berpaling dari dia, Son," puji sang papa sambil melirik putranya.
Adam tersenyum bangga.
Adam kemudian mengenalkan Melati pada keluarganya yang lain, termasuk pada om dan tantenya, orang tua dari Sisca. Mereka nampak menyambut hangat kehadiran Melati dan bu Nilam, yang juga turut bergabung dengan didampingi mama Rida.
Setelah menyalami semua keluarga besar mama Rida, Adam mengajak Melati untuk duduk lesehan di samping sang papa.
"Mas, kok Sisca tidak kelihatan?" tanya Melati sesaat setelah mereka duduk.
Adam menghela napas panjang, pemuda itu teringat ketika tadi setelah berhasil menenangkan Melati, Adam menyempatkan diri untuk pulang ke kediamannya di Denpasar dan menceritakan semua pada mama Rida.
Adam juga membawa bukti brosur yang telah disebarkan oleh Sisca di kampus Melati.
Saat itu juga, Sisca yang sedang bersantai di dalam kamar langsung dipanggil oleh mama Rida, ayah serta ibunya Sisca untuk dimintai keterangan.
Dihadapan Adam, mama Rida dan kedua orang tuanya, Sisca mengakui perbuatannya. Sepupu Adam itu juga berjanji tidak akan mengulangi lagi karena sang ayah terlihat sangat marah dengan apa yang telah Sisca lakukan.
"Keterlaluan kamu, Sisca! Apa yang sudah kamu lakukan sama sekali tidak mencerminkan bahwa kamu adalah seseorang yang berpendidikan tinggi!" bentak sang ayah.
"Kamu sadar, tidak? Bahwa berita yang kamu sebarkan itu, dapat membuat mental seseorang menjadi π₯π°πΈπ―? Apa yang kamu perbuat itu juga lebih kejam dari membunuh, Sisca?" Sang ayah menatap Sisca dengan tatapan tajam.
"Kalau kamu bunuh Melati, itu hanya satu korbannya! Tapi jika kamu menyebarkan aibnya dan membuat Melati tak lagi bersemangat menjalani hidup, maka bukan hanya Melati yang menjadi korban, tetapi anak dan juga keluarganya akan ikut menanggung malu!" lanjut sang ayah, masih dengan suara yang meninggi.
Sisca hanya terdiam dan menunduk takut.
"Ayah tidak mau tahu, Sisca! Kamu harus mengklarifikasi berita yang telah kamu sebarkan dan kamu juga harus meminta maaf pada Melati!" titah sang ayah.
Sisca mendongak, "tidak, Yah. Sisca tidak mau meminta maaf pada orang yang telah merebut Adam dari Sisca!" tolak Sisca.
"Mas! Panggil Adam, Mas karena dia kakak sepupu kamu!" hardik sang ibu.
"Tapi 'kan kami seusia, Bu?" protes Sisca yang merasa lebih nyaman memanggil nama Adam tanpa embel-embel mas.
"Melati tidak merebut siapapun dari kamu, Sis! Karena hubungan kita hanyalah sebatas hubungan saudara!" tegas Adam.
"Tidak, Dam? Kita sudah dijodohkan? Benar 'kan, Budhe?" Sisca menatap mama Rida meminta dukungan.
__ADS_1
Mama Rida menggeleng, "tidak pernah ada kesepakatan perjodohan untuk kalian, Sisca!" balas mama Rida dengan tegas.
"Sudah, sudah. Jika kamu tidak mau meminta maaf pada Melati, maka semua fasilitas untuk kamu akan ayah cabut!" ancam sang ayah, yang langsung membuat Sisca mengkerut.
"Terserah kamu mau meminta maaf atau tidak, keputusan ayah sudah bulat, Sisca!" pungkas sang ayah dan kemudian beranjak menuju ke kamarnya, pria berusia sekitar enam puluh tahun itu nampak kecewa dengan perbuatan sang putri yang tercela.
Ibunya Sisca pun turut beranjak dan segera menyusul sang suami, sementara Sisca langsung berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya di lantai atas.
Kini hanya tinggal Adam dan sang mama, pemuda tampan itu kemudian menceritakan obrolannya dengan Melati tadi.
"Jadi, Mela bersedia menjadi istri kamu jika semua keluarga bisa menerima kehadirannya dan Putra?" tanya sang mama dengan mata berbinar.
Adam mengangguk pasti, "benar, Ma. Bahkan, Dik Mela juga bersedia jika malam ini juga Adam menikahinya," balas Adam dengan senyumnya yang mengembang lebar.
"Baguslah kalau begitu, kamu kembalilah ke sana. Biar mama yang urus semua disini," titah mama Rida dengan penuh semangat.
"Mama yakin, mama sendiri yang akan urus semuanya?" tanya Adam, "Adam bantuin saja ya, Ma? Sekalian, Adam mau menunggu papa. Sebentar lagi 'kan, papa datang?" tawar Adam kemudian.
"Sudah, kamu kembali ke sana saja dan temani Melati. Takutnya, dia masih sedih, Dam?" bujuk sang mama, "percayakan yang disini semua sama mama, untuk anak mama yang paling tampan mama pasti akan lakukan yang terbaik," lanjut mama Rida meyakinkan sang putra.
Adam hanya bisa mengangguk patuh, "baik, Ma. Terimakasih banyak atas dukungan mama untuk Adam, Adam akan temani dik Mela," pamit Adam seraya memeluk sang mama dengan hangat.
"Semoga ini adalah yang terbaik untuk kalian," harap mama Rida, sambil menepuk lembut punggung sang putra.
"Mas, kok malah bengong?" Suara Melati membuyarkan lamunan Adam.
"Sisca, kemana dia? Kok tidak kelihatan dari tadi?" ulang Melati bertanya.
"Selamat malam semua, maaf Sisca terlambat," ucap Sisca yang baru datang dari luar dan langsung bergabung bersama saudara-saudaranya.
Melati langsung memegang tangan Adam, tangan ibu muda itupun terasa dingin.
"Jangan khawatir, Dik. Semua akan baik-baik saja," bisik Adam, mencoba menenangkan wanita sang pujaan hati.
Sejenak keheningan menyapa ruangan luas tersebut.
"Ehm,,," Papanya Adam terdengar berdeham, mengurai keheningan.
"Mari, kita mulai makan malamnya. Karena nanti setelah makan, akan ada pengumuman dari istri saya," ucap papanya Adam.
Mereka semua pun mulai mengambil makanan yang telah disediakan di tengah-tengah mereka, oleh juru masak terbaik di restoran Adam. Semua nampak tertib, dimulai dari yang paling tua dan berlanjut ke yang lebih muda.
Anak-anak mendapatkan makanan yang paling akhir dan dilayani oleh dua orang pengasuh, setelah mendapatkan makanannya mereka mulai menikmati makan malam dengan tenang.
Usai makan malam dan setelah bekas makan mereka di bereskan oleh asisten rumah tangga Adam, mama Rida nampak tidak ingin membuang waktu dan mulai angkat suara.
__ADS_1
"Selamat malam semuanya, malam ini ada yang ingin menyampaikan sesuatu kepada tamu kita, Melati." Mama Rida menatap Sisca dan memberikan isyarat pada keponakannya itu untuk segera berbicara.
"Baik, Budhe." ucap Sisca dengan penuh rasa malu, "Sis- Sisca mau minta maaf sa-sama Melati dan Mas Adam karena se-selama ini Sisca telah mengganggu mereka," lanjutnya dengan suara terbata.
"Melati, kamu mau 'kan me-memaafkan aku?" pinta Sisca dengan tulus.
Ya, setelah diancam oleh sang ayah dan kemudian diberi pengertian oleh sang ibu dan juga mama Rida di kamarnya, Sisca akhirnya bisa menerima bahwa Adam tidak pernah menyambut cinta Sisca. Gadis itu pun bersedia meminta maaf pada Melati dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Melati mengangguk dan tersenyum ramah pada Sisca. Ibu muda itu merasa sangat lega, mendengar penuturan Sisca barusan. Ia tatap netra kebiruan Adam, yang juga tengah menatapnya dengan tersenyum penuh arti.
"Masih ingat dengan janji kamu tadi pagi 'kan, Dik?" tagih Adam berbisik.
Melati mengernyit, "yang mana?"
"Kamu bersedia menikah denganku malam ini juga, kalau semua keluargaku bisa menerima kehadiran kamu?"
Melati nampak terkejut, "Mas, tadi itu 'kan aku tidak serius? Aku pikir keluarga Mas Adam tidak akan semudah ini menerima, Mel?"
"Lantas, kalau kenyataannya mereka bisa menerima kamu, apa kamu akan mengingkari janji?" desak Adam.
Sejenak Melati terdiam, "Melati pasti akan tepati janji, Mas," balas Melati, yang membuat Adam tersenyum lega. Sesaat keduanya saling pandang dengan tangan yang masih saling menggenggam erat.
"Adam." Suara mama Rida membuat kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu terkejut.
"I-iya, Ma," jawab Adam tergagap.
"Sekarang giliran kamu untuk menyampaikan pada semua keluarga kita," titah mama Rida.
Adam mengangguk pasti, "siap, Ma," balas Adam antusias.
"Selamat malam semuanya, saya akan mengumumkan bahwa malam ini, tepatnya pukul setengah sembilan malam, saya akan menikahi wanita yang sangat saya cintai," ucap Adam dengan jelas dan tegas.
Melati menatap Adam tak percaya, "Mas, jangan bercanda, ah?" protes Melati, "pernikahan itu bukan main-main?" lanjutnya dengan kening mengerut dalam.
"Siapa yang bilang main-main? Kami sudah menyiapkan semuanya, Dik? MUA-nya juga sudah menunggu tuh, di luar," terang Adam sambil menunjuk arah ruang tamu.
Melati membulatkan mata, Ia masih tak percaya dengan pendengarannya. "Benarkah? Atau, ini cuma mimpiku di siang bolong?" gumam Melati sambil mencubit pipinya sendiri.
"Jangan di cubit, kalau kamu masih menganggap ini mimpi, coba rasakan ciumanku." Adam langsung melabuhkan ciuman di pipi Melati.
"Adam!" seru mama Rida dan semua saudara-saudaranya.
Sementara sang papa terkekeh menyaksikan ulah putranya, "like father like son dia, Ma."
Mama Rida langsung mencubit paha sang suami, "kebiasaan buruk jangan diturun-turunkan! Suka nyosor sembarangan!" gerutu mama Rida.
__ADS_1
"Angsa kali, Ma. Nyosor .... " sahut Adam yang mengundang gelak tawa saudara-saudaranya.