
Waktu terus bergulir, hari berganti dan minggu pun berlalu. Tanpa terasa lima bulan sudah Melati dan Adam menikah dan hidup berbahagia dengan sang putra.
Satu persatu mimpi Melati mulai tercapai, meski kuliah Diploma tiga yang Ia ambil belum selesai namun cita-cita Melati untuk memasarkan bakso sang Ibu dengan membuka banyak cabang mulai terealisasi.
Beberapa kafe & resto yang khusus menjual bakso bu Nilam, yang diolah menjadi berbagai macam masakan sudah mulai berjalan dan terlihat ramai pengunjung.
Pedagang bakso keliling dengan gerobak kekinian, yang menjual bakso bu Nilam pun semakin banyak. Pemasaran ala 𝘧𝘳𝘢𝘯𝘤𝘩𝘪𝘴𝘦 yang modalnya sangat terjangkau bagi pedagang kecil, membuat para pedagang tersebut merasa sangat terbantu karena bisa memiliki usaha dan dapat menaikkan taraf ekonomi mereka.
Ya, itulah cita-cita Melati sejak dulu yang ingin bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang kecil seperti dirinya dan sang ibu di masa lalu.
Meski kini kehidupan Melati sudah berlimpah dengan segala kemewahan yang diberikan oleh sang suami, namun Melati tetaplah sosok yang rendah hati dan ingat akan masa lalunya.
Ya, semenjak hari itu, Adam memboyong Melati beserta sang putra dan juga bu Nilam, ke kediamannya yang luas di kota Denpasar.
Pagi ini, Matahari masih enggan menampakkan sinarnya tetapi Putra sudah bangun dan langsung bermain sepeda di halaman belakang bersama bi Mar. Putra baru saja bisa mengayuh sepeda roda tiga dengan benar, sehingga anak kecil itu sangat antusias dan ingin terus bermain.
Sementara bu Nilam tengah mengawasi tiga orang juru masak yang sedang membuat bakso dalam jumlah besar, yang sebentar lagi akan diambil oleh para pelanggan.
Semenjak memiliki banyak rekanan, bu Nilam harus membuat bakso dalam jumlah besar setiap harinya. Karena tidak mau bu Nilam kecapekan, Adam pun mempekerjakan tiga orang khusus untuk membantu sang ibu mertua.
Di dalam kamar utama, nampak Adam masih bergelung dengan selimut tebal nan halus. "Mom, kuliah libur 'kan?" tanya Adam kala Melati buru-buru hendak bangun.
"Iya, kenapa Dad?" tanya Melati seraya menatap sang suami yang masih terlihat enggan membuka mata. Semenjak sah menjadi istri Adam, Melati memilih memanggil Adam dengan sebutan daddy dan Adam memanggil Melati dengan mommy.
"Tidur lagi saja, Mom. Daddy masih ingin meluk Mommy," pinta Adam seraya menarik tubuh sang istri, hingga Melati kembali terbaring di sisi sang suami.
"Dad, sudah terang ini? Matahari sebentar lagi juga muncul?" protes Melati seraya ingin melepaskan diri dari jerat tangan sang suami.
"Bentar saja, Sayang. Daddy masih kangen," gumam Adam sambil menyembunyikan wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar ke ceruk leher Melati, hingga membuat ibu satu anak itu merinding.
"Daddy, ih ... geli tau?" Kembali Melati protes, namun Adam tak menghiraukannya.
Suami Melati itu malah semakin nakal dan ingin kembali bermain-main dengan sang istri, "Mom, sekali lagi yuk?" ajak Adam.
__ADS_1
"Dad, nanti saja, ya? Mommy mau lihat Putra dulu?" tolak Melati dengan halus, seraya beringsut.
"Putra 'kan sudah ada bi Mar, Mom?" balas Adam, "enggak baik loh, nolak keinginan suami," lanjut Adam yang pura-pura merajuk dan langsung tengkurap.
"Ish, Daddy? Enggak mau kalah sama Putra, sukanya merajuk?" protes Melati, tetapi mommy-nya Putra itu menuruti juga permintaan sang suami.
Melati kembali masuk kedalam selimut yang masih membungkus tubuh Adam, untuk menutupi tubuhnya yang hanya terbungkus gaun tidur transparan. Melati kemudian mulai mencumbui punggung sang suami, membuat Adam yang menyembunyikan wajahnya tersenyum senang.
'Istri yang pengertian,' bisik Adam dalam hati.
Adam Hanafi kemudian membalikkan badannya dan menindih sang istri, Ia tatap netra hitam sang istri dengan penuh kasih. "𝘐 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘺𝘰𝘶, 𝘮𝘺 𝘸𝘪𝘧𝘦,"
bisik Adam di telinga sang istri dan kemudian menggigit kecil telinga Melati.
Melati menggelinjang kegelian, Adam pun semakin nakal dan semakin liar mencumbui sang istri tercinta. Kembali pagi ini, kedua insan yang telah halal tersebut berbagi peluh dan bersama-sama menggapai puncak kenikmatan surgawi.
#####
Sementara nun jauh di sana, di kota tempat kelahiran Melati. Arjuna yang hari itu dijemput pulang oleh keluarga, menangis mendapati kenyataan pahit yang menimpa keluarganya.
Penggelapan pajak dan suap dari pengangkatan sejumlah ASN baru, yang nilainya mencapai milyaran rupiah. Di duga, pejabat tinggi di pemerintahan tersebut melakukan korupsi sebab tuntutan berlebihan yang diminta oleh sang istri.
Sementara sang mama harus dibawa ke rumah sakit jiwa, sebab nyonya besar yang angkuh itu mengalami gangguan kejiwaan setelah mengetahui sang suami yang memiliki jabatan tinggi dan selalu Ia elu-elu kan itu di jebloskan kedalam penjara.
Bu Sonia sangat tertekan dan merasa malu, hingga menyebabkan Ia mengalami stress yang berkepanjangan. Wanita sombong itu juga mengamuk dan selalu berteriak-teriak, terkadang Ia juga menangis sambil menyebutkan sebuh nama yang terus diulang-ulang.
Keluarga bu Sonia yang tidak mengerti apa-apa dan tidak sanggup lagi mengatasi mamanya Arjuna tersebut, kemudian membawa bu Sonia ke rumah sakit jiwa untuk ditangani.
Sedangkan kedua kakak Arjuna, nampak tidak perduli dengan kondisi kedua orang tuanya. Semenjak ramai berita sang papa tertangkap tangan dan dimasukkan kedalam Bui, sedangkan sang mama yang juga diberitakan gila dan harus menjalani perawatan di RSJ, kedua kakak Arjuna malu untuk pulang ke kampung halaman.
Kini hanya ada Arjuna yang wara-wiri mengurus kedua orang tuanya, hingga calon Praja itu dengan sangat terpaksa harus merelakan mundur dari pendidikan sebab tak ada lagi biaya.
Semua aset milik keluarga Arjuna disita oleh pemerintah, semua orang kepercayaan pun menghilang dan tak mau lagi mengenal keluarga Arjuna, begitu pula dengan sanak saudara yang mulai menjauh satu persatu.
__ADS_1
Arjuna hidup seorang diri, menempati rumah kecil milik sang nenek dari pihak papa, yang memang berasal dari keluarga sederhana.
Tak ada lagi yang perduli dengan bu Sonia dan sang suami, tak ada lagi kebanggaan yang tersisa. Kini hanya ada penyesalan, yang takkan lagi mampu merubah keadaan.
Di balik jeruji besi, papanya Arjuna mulai sakit-sakitan. Beruntung, untuk pengobatan masih ditanggung oleh pemerintah sehingga Arjuna hanya memikirkan pengobatan sang mama.
Arjuna harus bekerja keras membanting tulang, untuk menutupi biaya perawatan bu Sonia yang cukup besar. Bekal ijazah SMU yang Ia miliki, hanya bisa membuat Arjuna bekerja di tempat kasar. Mau tidak mau, pemuda itu harus tetap mengambilnya demi untuk menyambung hidup.
Jika malam hari, Arjuna bekerja di pompa bensin. Sedangkan siang hari, pemuda itu ikut membantu di sebuah warung bakso yang cukup ramai.
Arjuna terlihat sedang bersantai sambil menunggu pelanggan, setelah warung selesai dibersihkan dan dagangan bakso juga sudah siap di etalase.
Pemilik warung nampak memberikan semangkuk bakso kepada Arjuna dan dua orang temannya, untuk sekadar mengganjal perut karena jatah makan siang masih sekitar dua jam lagi.
Entah karena lapar atau memang rasa baksonya yang enak, dalam sekejap satu mangkuk bakso tandas di lahap Arjuna. "Enak apa lapar, Jun?" ledek temannya.
Arjuna tersenyum, 'rasanya sih, biasa saja tapi kok warung selalu ramai, ya?' batin Arjuna.
'Lebih enak bakso buatan ibunya Melati, deh,' lanjut Arjuna dalam hati, yang tiba-tiba mengingat nama seseorang.
Pemuda itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, 'tidak, aku tak boleh lagi mengingatnya. Bagiku, dia sudah mati!' Rahang Arjuna mengeras dan kedua tangannya terkepal sempurna.
Masih terekam jelas di memori Arjuna, kala Ia melihat foto Melati yang ditunjukkan oleh sang mama. Gadis yang dicintainya itu ternyata selingkuh dan tidur dengan seorang pria dewasa dengan berbagai pose yang menantang.
Arjuna menghela napas kasar, 'sebaiknya aku minta ijin untuk besuk mama ke rumah sakit. Dokter bilang, mama sudah mulai bisa diajak komunikasi,' gumam Arjuna masih dalam hati, seraya beranjak untuk meminta ijin pada pemilik warung.
TBC,,,
🌷🌷🌷🌷🌷
Yang nunggu karma bu Sonia dan Arjuna, lunas ya.... 😄
Yuk, vote -nya buat Adam dan Melati.
__ADS_1
Plus bunga mawar setaman yah 🥰🥰