Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Dua puluh enam_ Mama Akan Lakukan yang Terbaik untuk Kalian


__ADS_3

Dari jauh, Melati melihat seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang anggun melambaikan tangan pada Adam. Wanita yang masih terlihat ayu itupun melihat kearah Melati dan tersenyum pada mommy-nya Putra tersebut.


"Siapa, Mas?" bisik Melati ketika Adam menoleh kearahnya.


"Mama mertua kamu, Dik," balas Adam seraya tersenyum.


Melati pun tersenyum tersipu, Adam memang selalu pandai membuat angan Melati terbang melayang. Namun itu hanya sekejap karena Melati harus segera menyadari, siapa dirinya?


Melati harus kembali membangun benteng yang tinggi, agar jika apa yang Ia harapkan tidak sesuai kenyataan seperti kala dirinya bersama Arjuna, Melati tak kembali tumbang.


Wanita itu semakin dekat, jantung Melati pun semakin berdebar kencang. Antara harapan dan siap menerima kenyataan sepahit apapun itu, kini menyatu dan membuat mommy-nya Putra tersebut menjadi sedikit grogi.


Melati menarik napas panjang untuk menetralisir rasa gugupnya dan Adam yang melihat hal itu mengernyitkan dahi, "kenapa, Sayang?" tanya Adam penuh perhatian.


Melati menggeleng dan mencoba untuk tersenyum, "tidak apa-apa, Mas," balas Melati.


"Kamu gugup?" selidik Adam dan Melati akhirnya mengangguk, mengakui kegugupannya.


"Jangan khawatir, Dik. Mamaku baik, kok?" Adam mencoba untuk menenangkan Melati, seraya mengambil tangan ibu muda itu untuk kemudian Adam genggam.


"Tanganmu dingin, Dik. Maaf ya, harusnya aku jujur dari awal. Jadi 'kan kamu punya persiapan," sesal Adam.


Melati menggeleng, "tidak mengapa, Mas. Enggak perlu ada persiapan juga, hadapi saja apa yang ada di depan mata," balas Melati.


"Oh, 𝘮𝘺 Adam ... Mama kangen banget, Sayang?" Wanita paruh baya yang merupakan mamanya Adam itu langsung memeluk Adam yang tengah menggendong Putra dengan erat. Hingga membuat bocah berusia dua tahun itu merengek dan meronta.


Mamanya Adam segera melerai pelukan, "hai anak pintar, siapa nama kamu, Nak?" tanya sang mama seraya mencubit pelan pipi gembul Putra.


"Tata," balas Putra dengan gayanya yang menggemaskan.


Mamanya Adam kemudian menoleh kearah Melati dan tersenyum hangat pada ibu muda tersebut. "Kamu pasti yang bernama, Melati?" tebak mamanya Adam seraya tersenyum dan kemudian segera memeluk mommy-nya Putra tersebut.


Sejenak Melati terkejut, tapi kemudian segera membalas pelukan mamanya Adam. "Iya, Tante. Saya Melati," balas Melati sambil melerai pelukan.

__ADS_1


"Panggil Mama saja, Sayang. Seperti Adam memanggil Mama," pinta mama Rida, "Adam sudah banyak bercerita tentang kamu, Sayang." lanjut mamanya Adam tersebut.


Melati menatap Adam meminta penjelasan, "cerita apa saja sama Mama?" bisik Melati.


Adam tersenyum menggoda, "mau tahu, aja? Mommy, kepo?" canda Adam, yang membuat Melati mencubit lengan pemuda berdarah campuran tersebut.


"Sudah, sudah. Kalau mau mesra-mesraan nanti saja, di rumah. Ayo, kita pulang! Mama lelah, Dam," ajak sang mama.


Mereka semua segera menuju mobil, dengan mama Rida menggandeng tangan Melati seolah mereka sudah sangat lama saling mengenal.


"Mela, duduk di depan saja temani Adam," titah mama Rida.


"Mel di belakang saja, Ma. Menemani Mama," kekeuh Melati.


Akhirnya kedua wanita cantik itupun duduk di bangku belakang, bersama Putra dan membiarkan Adam duduk seorang diri di depan layaknya sopir yang mengantarkan pergi keluarga majikan.


Setelah beberapa saat mobil Adam melandas di jalan raya, di bangku belakang mulai terdengar ramai oleh canda tawa mama Rida dan Melati, serta celoteh Putra.


"Mama nih, mentang-mentang sudah ketemu sama anak perempuan, anak sendiri dicuekin!" protes Adam seraya melirik bangku belakang melalui kaca spion di depannya.


Melati tersenyum bahagia mendengar ucapan mama Rida barusan, Ia bagai menemukan telaga di tengah padang yang tandus dan gersang.


"Kenapa Mela belum juga mau menerima lamaran Adam?" tanya mama Rida kemudian.


Melati nampak terkejut mendengar pertanyaan mama Rida, ibu muda itupun bingung harus menjawab bagaimana?


"Mela masih ragu sama Adam, Ma," sahut Adam.


"Kenapa ragu? Memangnya Adam tidak menunjukkan keseriusannya, ya?" kejar mama Rida.


Melati menggeleng, "bukan itu, Ma. Mas Adam perhatian banget kok sama kami," balas Melati jujur, "hanya saja, Mela .... " sejenak Melati menjeda ucapannya dan menatap Adam melalui pantulan kaca spion di depan Adam, disaat yang sama pemuda tampan itu juga tengah menatap Melati.


"Hanya ... kenapa, Nak? Katakanlah," pinta mama Rida.

__ADS_1


"Mela masih ragu, sebab Sisca masih ngejar-ngejar Adam, Ma," balas Adam mewakili Melati.


Mama Rida menghela napas panjang, "keras kepala memang anak itu," gerutu mama Rida, "padahal sudah berulang kali mama dan juga kedua orang tuanya menasehati, tapi Sisca seolah sudah dibutakan oleh cinta," lanjutnya yang menyayangkan sikap sang keponakan.


Kamu jangan khawatir, Mela. Besok keluarga kami akan berkumpul di sini dan kami pasti akan membicarakan hal ini pada Sisca, semoga dia bisa mengerti," ucap mama Rida penuh harap.


Melati mengangguk dan ikut berharap, semoga segera ada cahaya terang untuk hubungannya dengan Adam yang memang sudah sangat lama Melati angankan. Hanya saja selama ini Melati harus memendam asa tersebut, sebab Ia tak ingin terluka untuk yang kedua kali.


Kini, asa itu mulai ada. Hadirnya mama Rida yang menyambut baik Melati dan sang Putra, cukup menguatkan hati Melati untuk mulai membuka lembaran baru bersama laki-laki yang tepat. Laki-laki yang bisa menerima Melati berikut sang putra apa adanya, laki-laki yang selama ini sudah selalu ada untuk keluarganya.


"Tata, mau ngeng, Dad?" suara Putra mengejutkan Melati dari lamunan.


"Iya, nanti sore ya, Nak? Sekarang kita pulang dulu, kasihan omanya capek tuh?" bujuk Melati pada sang putra.


"Tata ngeng Dad, Daddy dandi mau ngeng?" tagih Putra pada janji Adam tadi sewaktu berangkat ke Bandara.


"Iya, kita naik mobil-mobilan habis ngantar Oma, ya? Kita ngantar Oma pulang sebentar, terus Tata sama Daddy naik mobil, oke Boy?" bujuk Adam.


"Mas? Kenapa dijanjikan lagi, sih? Kasihan Mas 'kan capek, bolak-balik?" protes Melati yang tidak tega melihat Adam kecapekan.


Mama Rida tersenyum, melihat Melati begitu perhatian pada putranya.


"Kita langsung ke Mall saja, Dam. Mama ikut tidak apa-apa, kok."


"Jangan, Ma. Mama 'kan capek?" tolak Melati.


"Tidak apa-apa, Mel? Demi cucunya Oma, ya 'kan, Sayang?" mama Rida memeluk Putra dengan gemas.


"Hole, Tata ke Mall naik ngeng!" seru Putra dengan riang.


"Terimakasih ya, Ma," ucap Melati dengan tulus.


"Tidak perlu berterimakasih, Mela. Mama pasti akan melakukan apapun yang terbaik untuk kalian," balas mama Rida dengan bijak, seraya mengusap punggung tangan Melati.

__ADS_1


Adam tersenyum senang, melihat sang mama langsung akrab dengan Melati dan juga putranya.


TBC,,,


__ADS_2