
Melati mulai sibuk dengan aktifitas belajar, selain mengambil kejar paket C untuk bisa mendapatkan ijazah SMU, putri bu Nilam tersebut juga mengikuti berbagai macam kursus.
Mulai dari kursus komputer, kursus memasak karena Melati kelak juga ingin mengembangkan kedai bakso sang ibu menjadi bisnis waralaba atau 𝘧𝘳𝘢𝘯𝘤𝘩𝘪𝘴𝘦, juga kursus bahasa asing.
Meski untuk kursus yang terakhir, Adam siap menjadi guru privat tapi Melati menolak sebab Melati tidak yakin jika pemuda berwajah blasteran itu akan bisa serius mengajarinya.
Adam pasti akan iseng dan menjahili Melati jika mereka berdua berdekatan dan 𝘦𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨-nya, mereka bukannya belajar tetapi malah akan bercanda.
Bu Nilam dan Adam memberikan dukungan yang luar biasa besar pada Melati, bahkan Adam sendiri yang mengantar jemput Melati kemanapun ibu muda itu pergi belajar.
Seperti pagi ini, Melati ada jadwal kursus bahasa asing dan dengan kesiagaan penuh Adam mengantarkan wanita pujaan hatinya itu terlebih dahulu sebelum dirinya ke resto. Adam setiap pagi memang selalu berkunjung ke beberapa restonya, untuk mengecek kesiapan para pegawai dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung.
"Nanti pulang seperti biasa 'kan, Dik?" tanya Adam sambil menoleh kearah Melati sekilas dan kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.
Melati menggeleng, "tidak Mas, barusan ada pemberitahuan di group 𝘤𝘩𝘢𝘵, katanya nanti ada ujian tambahan langsung dengan 𝘯𝘢𝘵𝘪𝘷𝘦 𝘴𝘱𝘦𝘢𝘬𝘦𝘳," balas Melati.
Adam mengangguk, "terus, pulang jam berapa? Enggak sampai siang, 'kan?" tanya Adam kembali.
"Jam sebelas sudah pulang kok, Mas." balas Melati, "Mel nanti pulang naik angkot saja ya, Mas. Kasihan Mas Adam kalau bolak-balik jemput Mel," lanjutnya.
"Jangan, biar Mas yang jemput," kekeuh Adam yang tidak ingin mommy-nya Putra itu kerepotan karena harus berganti angkot dua kali.
"Ya, terserah Mas Adam saja deh," balas Melati akhirnya mengalah.
Hening, sejenak menyapa kabin mobil tersebut.
"Udah sampai mana belajarnya, Dik?" tanya Adam penuh perhatian.
"Hari ini ujian terakhir kelas 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘮𝘦𝘥𝘪𝘢𝘵𝘦, jadi minggu depan naik ke kelas 𝘶𝘱𝘱𝘦𝘳 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘳𝘮𝘦𝘥𝘪𝘢𝘵𝘦," balas Melati.
"Berarti bulan depan sudah bisa naik pelaminan, dong?" Adam menoleh dan menatap Melati seraya tersenyum menggoda.
Melati tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Adam berbelok menuju sebuah bangunan tempat dimana Melati belajar bahasa asing.
"Yang semangat belajarnya, Mommy. Biar cepat selesai dan kita bisa cepat .... "
"Cepat pulang karena Putra sudah menunggu," serobot Melati dengan cepat sambil mencium tangan Adam seperti biasanya sebelum Melati turun.
"Bukan itu maksud Mas, Dik?" protes Adam.
__ADS_1
Melati menanggapinya hanya dengan senyuman dan kemudian segera turun, ibu satu anak yang masih sangat muda itu kemudian melambaikan tangan pada Adam.
Melati bukannya tidak tahu arah pembicaraan Adam tadi karena pemuda berdarah campuran itu selalu mengungkapkan keinginan untuk segera naik ke pelaminan, namun hingga saat ini Melati belum mengatakan kesediaannya secara lisan.
Melati masih ingat bagaimana Sisca yang hari itu tiba-tiba datang ke rumah dan memarahi Melati habis-habisan.
#####
Melati mengantarkan Adam hingga ke teras depan, "hati-hati di jalan, Dad," ucap Melati setelah mencium punggung tangan Adam, layaknya seorang istri yang melepas kepergian sang suami yang hendak berangkat mencari nafkah.
Adam mengusap lembut puncak kepala Melati seperti biasanya dan kemudian menciumi baby Putra yang berada dalam gendongan sang mommy, "anak Daddy jangan rewel, ya? Kasihan Mommy, kalau Putra nakal?" pesan Adam, seolah baby Putra tahu yang Ia katakan.
Puas menciumi pipi gembul baby Putra, Adam yang biasanya hanya mencuri kecupan di pipi atau di kening Melati, tiba-tiba saja Adam mencium bibir mommy-nya baby Putra hingga membuat Melati terkejut.
"Manis," bisik Adam seraya tersenyum.
Sementara Melati mengerucutkan bibir pura-pura marah, padahal dalam hati wanita muda itu sangat senang. Melihat keseriusan Adam selama ini, Melati sudah memantapkan diri untuk mengatakan kesediaannya untuk menjadi istri Adam pada saat yang tepat nanti.
"Mas, berangkat ya, Dik?" pamit Adam kemudian masih dengan mengulas senyum, ciumannya pada Melati tadi Ia rasakan bagai vitamin yang menambah semangat untuk bekerja.
Melati melambaikan tangan sambil menuntun tangan sang Putra, mengiringi kepergian pemuda yang selalu ada untuknya itu.
Baru beberapa saat mobil Adam meninggalkan halaman, muncul sebuah mobil memasuki halaman rumah yang ditempati Melati tersebut.
"Oh, jadi benar 'kan dugaan ku waktu itu! Kamu itu wanita penggoda!" tuduh wanita yang baru datang tersebut sambil menunjuk wajah Melati dengan ibu jarinya.
"Mbak yang waktu itu sama mas Adam, 'kan? Silahkan duduk dulu, Mbak?" Meski tamunya baru saja memaki, Melati tetap menanggapi wanita yang ternyata adalah Sisca itu dengan baik dan mempersilahkan untuk duduk.
"Tidak perlu! Aku kesini cuma mau memperingatkan kamu, jauhi Adam!' ketus Sisca, " kamu itu harusnya ngaca! Orang miskin seperti kamu sama sekali tidak pantas untuk Adam!" hina Sisca dengan penuh emosi.
Melati menghela napas panjang, "bi Mar, tolong bawa Putra masuk!" panggil Melati pada bibi yang membantunya mengasuh Putra.
Bi Mar menghampiri Melati dengan tergopoh-gopoh, "sini Nak, sama Nenek," bi Mar mengambil baby Putra dari gendongan Melati dan segera membawanya masuk kedalam.
Bi Mar yang sempat melihat wajah Sisca yang nampak sangat emosional, begitu sampai di dalam langsung menghubungi Adam.
Sementara di teras depan, situasinya semakin memanas, Sisca terus saja menghina dan memaki Melati. Berkali-kali Melati menghela nafas panjang, untuk menenangkan hati agar tidak terpancing emosi.
Melati hanya diam dan tidak mau meladeni omongan Sisca yang sangat pedas, melebihi pedasnya cabai setan. Bagaimanapun Sisca adalah sepupu Adam dan Melati tetap menghormati Sisca sebagai tamu.
"Kamu dengar gak sih, dari tadi aku ngomong!" geram Sisca karena merasa usahanya untuk membuat Melati marah dan menyerangnya sia-sia belaka.
__ADS_1
Ya, Sisca telah merencanakan ini semua jauh-jauh hari. Sisca yang datang kembali ke Bali untuk berlibur, dikejutkan dengan pindahnya Adam ke rumah baru tanpa memberitahu Sisca.
Sisca kemudian menyelidiki dimana Adam tinggal dan begitu menemukan keberadaan Adam yang ternyata bersama Melati, Sisca sangat marah dan kemudian mencari waktu yang tepat untuk melabrak Melati.
Pagi ini, Sisca mendatangi rumah yang ditempati Melati dengan mengajak seseorang yang masih bersembunyi di dalam mobil. Sisca memerintahkan orang tersebut, untuk merekam semua yang akan terjadi.
Sisca akan memancing kemarahan Melati dan begitu Melati menyerang Sisca, maka Ia bisa menunjukkan bukti penyerangan Melati terhadap dirinya untuk menghasut Adam.
"Iya Mbak, saya dengar kok," balas Melati mencoba untuk tetap santai.
"Kalau memang kamu punya kuping, jauhi Adam detik ini juga! Jangan menggodanya karena Ia milikku!"
"Siapa yang milikmu?" Suara maskulin Adam mengejutkan Melati dan Sisca.
Ya, Adam yang tadi dihubungi oleh bi Mar dan kebetulan Ia belum pergi terlalu jauh, langsung memutar balik kendaraannya. Pemuda blasteran itu memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh.
Adam berhenti agak jauh dari rumah Melati dan memarkirkan mobil di sana, dengan mengendap Adam menghampiri Melati dan Sisca untuk mencuri dengar pembicaraan mereka terlebih dahulu.
"Dam, bukannya tadi kamu sudah .... " Ucapan Sisca menggantung di udara.
"Aku kembali karena sepertinya ada orang yang ingin berbuat jahat pada calon istriku!" sergah Adam cepat.
"Calon istri?" Sisca nampak sangat terkejut, "Dam, yang calon istrimu itu aku, Dam? Bukan dia!" Sisca terlihat sangat marah, jari telunjuknya menunjuk wajah Melati dengan bergetar karena kemarahan.
Sementara Melati hanya menghela napas panjang dan tidak ingin ikut berbicara.
"Sisca, berapa kali aku bilang padamu bahwa diantara kita tidak ada hubungan apa-apa selain persaudaraan? Jika selama ini aku masih bersikap baik padamu, itu karena kamu adalah saudaraku, Sisca? Bukan karena yang lain?" balas Adam penuh penekanan.
"Tapi, Dam. Orang tua kita 'kan .... "
"Ibuku hanya mengatakan, terserah jika aku bisa membuka hati. Tapi nyatanya cinta itu tidak bisa dipaksakan, Sisca! Aku sudah belajar membuka hati untukmu, tapi aku tidak pernah bisa!" tegas Adam.
"Tega kamu, Dam! Aku tidak terima penolakan! Aku akan pastikan, suatu saat nanti kamu pasti akan menerimaku, Dam!" Sisca segera berlalu.
Adam menghela napas kasar, "maafkan Sisca, Dik," ucap Adam seraya menatap Melati.
"Tidak perlu minta maaf, Mas. Saya bisa mengerti jika mbak Sisca bersikap seperti itu," balas Melati.
"Aku harap, apa yang dikatakan Sisca tadi tidak mempengaruhi hubungan kita," pinta Adam seraya menatap Melati dengan dalam.
Melati hanya tersenyum, 'tapi jika antara mas Adam dan mbak Sisca belum selesai, Mel tidak akan menjawab permintaan Mas yang meminta Mel untuk menjadi istri mas Adam,' batin Melati.
__ADS_1
TBC,,,