
Semenjak kedatangan Sisca di rumahnya pagi itu, Melati sedikit menjaga jarak dengan Adam. Hubungan mereka berdua tidak se-intim sebelumnya. Dimana Adam bebas mencuri pelukan dan ciuman di pipi ibu muda tersebut dan Melati akan membiarkan saja Adam melakukannya, selagi masih dalam batas kewajaran.
Kini, Melati seakan menghindar meski mereka tetap dekat. Paling Melati hanya akan mencium punggung tangan Adam, kala pemuda tampan itu mengantar mommy-nya Putra tersebut pergi untuk menimba ilmu dan Adam hanya akan mencium atau mengusap puncak kepala Melati.
Adam bukan tidak mengerti dengan perubahan sikap Melati yang seakan membangun benteng kembali dengan dirinya, namun Adam belum memiliki kesempatan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, Sisca dan juga kedua orang tua Sisca yang merupakan adik dari sang mama untuk menjelaskan semua.
Pemuda itu belum bisa memberikan bukti pada ibu muda yang telah mampu merebut hati Adam, bahwa antara dirinya dengan Sisca memang tidak ada hubungan apa-apa dan memastikan bahwa Sisca tidak akan menggangu kehidupan Melati kembali.
Waktu terus bergulir, hubungan mereka berdua masih belum ada perkembangan yang berarti. Meski Sisca tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di depan Melati, ibu muda itu masih tetap menjaga jarak dengan Adam. Walau berkali-kali juga Adam mencoba meyakinkan, namun Melati masih saja membentengi diri.
Trauma di masa lalu, nampaknya sangat membekas di hati dan memori ibu muda tersebut. Meski hampir tiga tahun berlalu dan Melati juga sudah menyibukkan diri dengan berbagai macam aktifitas belajar, hinaan dan caci maki dari bu Sonia juga dari Arjuna sendiri, nampaknya masih terpatri di hati Melati.
Siang ini, sengaja Adam menjemput Melati dengan mengajak Putra. Adam ingin mengajak ibu dan anak itu untuk menemui seseorang yang masih Ia rahasiakan dari Melati, Adam ingin memberikan kejutan untuk wanita pujaan hatinya itu.
Ya, setelah mendapatkan ijazah SMU melalui Kejar Paket C, atas saran Adam, Melati kemudian melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan Bisnis. Sesuai dengan keinginan Melati yang ingin mengembangkan usaha bakso sang ibu, menjadi kedai bakso yang bisa menggaet rekanan sehingga memiliki banyak cabang namun dengan modal yang minim.
Seperti biasa, Adam menunggu Melati di tempat parkiran. Sambil menunggu mommy-nya Putra, Adam mengajak bocah laki-laki yang sedang aktif-aktifnya itu untuk bermain-main di bawah pohon rindang di tempat tersebut.
Keakraban Adam dan Putra, serta pesona pemuda blasteran tersebut mengundang perhatian dari banyak mahasiswa yang berlalu-lalang di sana, terutama para gadis.
"Eh, lihat deh di sana. Sweet banget ya, laki-laki itu?" ucap salah satu mahasiswi pada teman-temannya.
Nampaknya, mereka baru saja selesai kelas dan hendak pulang bersama.
"Iya, benar. Benar-benar suami idaman ya? Di saat istrinya sedang mengajar, sang suami mau momong anak?" timpal gadis berambut blonde, yang menyangka Adam adalah suami dari salah satu dosen di kampus tersebut.
"Itu tuh kayak gambaran nyata dari 𝘏𝘰𝘵 𝘋𝘢𝘥𝘥𝘺, benar enggak sih?" timpal gadis yang berkulit hitam manis, dengan tatapan kagum pada Adam.
"Iya, iya benar. Kayak cerita-cerita dalam novel gitu ya? Ah, aku juga mau punya suami seperti dia? Udah tampan, penyayang pula?" celoteh gadis yang paling tinggi.
Mereka berempat masih memandangi Adam dan Putra dengan penuh kekaguman serta dengan khayalan mereka masing-masing, ketika Melati menghampiri Adam dan sang Putra hingga mengagetkan mereka semua.
__ADS_1
"Eh, itu 'kan si Melati, anak bisnis?" Gadis yang paling tinggi mengernyitkan kening.
Ya, selama ini jika mengantar jemput Melati ke kampus, Adam tidak pernah turun dari mobil sehingga teman-teman Melati tidak ada yang pernah melihat siapa gerangan yang mengantarkan ibu muda tersebut.
"Jadi, si Mela udah punya suami dan anak?" tanya gadis yang berkulit hitam, kala melihat Melati mencium punggung tangan Adam dan Adam membalas dengan mencium puncak kepala ibu muda tersebut.
Mereka juga melihat, Putra langsung nemplok sama mommy-nya tersebut.
"Beruntung sekali ya, Melati? Cantik-cantik banget juga enggak, tapi memiliki suami yang berwajah bule dan penuh perhatian seperti itu?" cibir gadis yang berambut blonde, nampak tidak suka.
"Cantikan dia kali, ketimbang kamu?" olok teman-temannya dan mereka kemudian tertawa bersama.
Mereka berempat masih memandangi Melati dan keluarga kecilnya, menurut mereka, hingga keluarga kecil tersebut menghilang masuk kedalam mobil Adam.
"Mom, kita ke suatu tempat dulu, ya?" Adam membuka suara, setelah beberapa saat mobil yang mereka tumpangi melandas di jalan raya ibukota provinsi Bali.
Melati mengernyitkan dahi, "mau kemana, Mas?" tanya Melati penasaran.
"Kemana, sih? Pakai rahasia-rahasiaan segala?" protes Melati.
"Sabar dong Mommy Sayang, bentar lagi juga kamu bakalan tahu." Adam masih belum ingin menjelaskan.
Melati tak lagi mengejar Adam untuk mengatakan kemana dirinya dan sang putra akan diajak pergi, ibu muda itu kemudian menyibukkan diri bercanda dengan sang putra.
"Mau cama, Daddy!" seru Putra yang tiba-tiba ingin ikut Adam yang sedang menyetir.
"Eh, enggak boleh, Sayang. Daddy lagi menyetir? Bahaya, Nak?" Melati mencoba membujuk sang Putra yang mulai menangis.
Putra terus meronta, tenaga bocah berusia dua tahun itu sangat kuat hingga Melati kewalahan menghadapi sang putra. Melati mendekap putranya dengan erat, sambil terus menenangkan bocah kecil tersebut. Namun hingga beberapa saat, Melati belum juga berhasil membuat sang putra kembali tenang.
Adam menepikan mobilnya dan kemudian mengambil Putra dari dekapan Melati, "sini, sini. Sama Daddy."
__ADS_1
Putra telah beralih kepangkuan Adam dan seketika bocah kecil itu pun terdiam, "Dad, Tata mau ngeng-ngeng," rajuk Putra seraya meraih setir mobil.
"Oh, Putra mau menyetir seperti Daddy, ya? Boleh, tapi nanti ya, Sayang? Sekarang Putra ikut Mommy dulu? Daddy janji, nanti pulangnya Putra naik ngeng sama Daddy di Mall, oke?" Adam membujuk Putra dengan mengiming-imingi bocah tersebut untuk menaiki bom-bom car sepulang dari tempat yang akan mereka tuju.
Setelah dibujuk oleh Adam, Putra pun menurut dan mau dipangku kembali oleh sang mommy. Melati tersenyum, "makasih ya, Mas. Mas Adam selalu bisa menenangkan Putra," ucapnya dengan tulus.
Adam membalas senyuman Melati seraya mengusap lembut surai hitam Melati yang kali ini dibiarkan terurai, "karena Mas, Daddy-nya. Ingat itu, Sayang," balas Adam penuh penekanan.
Melati hanya menggeleng dan kemudian mengangguk, entah apa maksudnya hanya Melati-lah yang tahu.
"Dik, setelah ini janji ya sama Mas?" pinta Adam tiba-tiba, setelah kendaraannya kembali melaju.
Melati mengernyit, "janji apa?"
"Janji setelah kamu bertemu dengan seseorang nanti, kamu mau menerima Mas untuk menjadi ayah dari anak-anak kita," balas Adam.
Melati semakin dalam mengernyitkan kening, "seseorang? Siapa sih, Mas? Kenapa Melati harus janji seperti itu?" cecar Melati.
Mobil yang dikendarai Adam berbelok menuju Bandara Ngurah Rai - Bali, "bentar lagi kamu akan tahu siapa orangnya, Dik," balas Adam yang sudah memarkirkan mobilnya, pemuda itu kemudian segera turun dari mobil.
"Ayo Sayang, turun!" ajak Adam seraya mengambil Putra dari pangkuan Melati. Melati hanya bisa menurut patuh, mengikuti langkah Adam menuju pintu kedatangan dengan menyimpan tanya dalam hati. Siapakah gerangan yang akan mereka temui?
TBC,,,
🌹🌹🌹🌹🌹
i'Lan 😍 only on f 1 zz 0
mampir yah 🥰🙏🙏
__ADS_1