Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Tujuh_ Merubah Jalan Hidup


__ADS_3

Waktu terus bergulir, hari berganti minggu. Kedai bakso milik bu Nilam, belum begitu dilirik oleh pembeli. Padahal, mereka butuh uang untuk terus bertahan hidup. Mereka juga harus mengumpulkan uang, untuk persalinan Melati nanti.


Melati memutar otak, bagaimana caranya agar dagangan sang ibu cepat diketahui oleh banyak orang dan mulai dilirik pembeli. "apa aku jual secara online saja, ya?" batin Melati.


Putri semata wayang bu Nilam itu pun teringat, kalau dia masih memiliki ponsel yang sudah cukup lama tidak disentuhnya. Bergegas Ia ambil ponselnya dari dalam tas dan kemudian Melati pergi ke counter terdekat untuk membeli data, agar ponselnya dapat digunakan kembali.


"Bu, Mela mau tidur siang sebentar, ya?" pamit Melati pada sang ibu, sepulangnya Ia dari counter.


Di dalam kamar, Melati bukannya tidur tetapi remaja yang harus putus sekolah itu mulai sibuk dengan ponselnya.


Begitu ponsel Melati aktif, pertama yang Ia buka adalah aplikasi percakapan dan dahi Melati berkerut dalam kala mendapati gambar profil Arjuna telah tiada. "Bukan hanya kami yang di usir dari kota, bahkan nomor ponselku pun telah di blokir. Rupanya, mama mas Arjuna begitu tidak menyukai aku karena aku dari keluarga miskin dan tidak sederajat dengan mereka." gumam Melati seorang diri.


Arjuna memang tidak diperbolehkan membawa ponsel di asrama dan ponselnya itu Ia tinggalkan di rumah dan bu Sonia sengaja memblokir nomor Melati bahkan telah menghapus nomor gadis dari keluarga miskin tersebut agar sang putra tidak dapat lagi menghubungi Melati.


Netra Melati kembali mengamati deretan huruf yang terangkai menjadi kata-kata indah, yang dikirimkan oleh Arjuna kepada dirinya beberapa saat sebelum pemuda yang telah mengakibatkan masa mudanya jadi berantakan itu berangkat ke asrama.


Arjuna mengirimkan pesan, "jaga hatimu untuk mas, sayang. Mas janji, akan datang pada ibu untuk melamar kamu. Tunggu mas ya, sayang. Lima tahun lagi, kita pasti akan bersama. Aku cinta kamu, Mel. Sungguh-sungguh mencintaimu."


Ketika pertama kali membaca pesan dari Arjuna itu, bibir Melati selalu menyunggingkan senyum bahkan hingga saat Ia berangkat ke sekolah, kekasih Arjuna tersebut masih saja mengulas senyum lebar karena saking gembiranya hati Melati membaca pesan yang berisi janji manis dari sang kekasih.


Kini, semuanya telah berbeda. Air mata Melati justru mengucur deras membaca kembali pesan dari Arjuna tersebut, hatinya terasa sakit karena semua yang terjadi ternyata tidak seindah impian mereka berdua kala itu.


Buru-buru Melati menghapus air matanya, "tidak, aku tidak boleh terus-terusan bersedih dan menangis. Semua telah terjadi dan itu karena salahku, maka siap tidak siap aku harus menanggung konsekuensinya." Melati menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kuat, berharap semua beban yang menghimpit dadanya bisa sedikit berkurang.

__ADS_1


"Aku harus bangkit, aku yakin pasti bisa melalui semua ini. Aku akan memanfaatkan ponsel ini untuk berjualan online, Bismillah...." tekat Melati dalam hati.


Putri tunggal bu Nilam itu pun mulai mengotak-atik ponsel miliknya, sebagai langkah awal Melati menginstal aplikasi yang menyediakan jasa layanan antar penjualan makanan online dan kemudian Ia ikut bergabung di dalamnya.


Melati mulai membuat kedai dan memasang banner di kedai online-nya, Ia juga membuat promosi semenarik mungkin. Untuk tiga hari pertama, Melati bahkan menawarkan diskon dua puluh persen agar menarik pembeli.


Ibu hamil muda itu tersenyum, kala melihat hasil kerjanya. "Sepertinya sudah sangat menarik, mudah-mudahan mulai banyak yang melirik kedai ini dan membeli bakso buatan ibu," harap Melati.


Melati masih mencoba mengotak-atik ponselnya, sebenarnya Ia juga ingin melayani pembelian dengan jasa layanan antar. Namun mengingat Ia tidak memiliki kendaraan sendiri dan juga belum hafal daerah tempat tinggalnya yang baru tersebut, maka Melati mengurungkan niatnya.


"Buka kedai online sudah, promosi dengan menyebar brosur kepada para wisatawan yang lewat juga sudah. Apalagi, ya?" Melati mengerutkan kening dan berfikir serius.


"Sepertinya aku harus menawarkan bakso ibu ke kafe dan restoran yang banyak terdapat di sekitar sini, aku bisa menjalin kerjasama dengan cara konsinyasi dengan mereka. Mudah-mudahan ada yang mau," do'a Melati dalam hati.


Malam harinya, Melati menyampaikan niat tersebut kepada sang ibu namun bu Nilam menolak usulan sang putri. "Tidak perlu, Nak. Usia kandungan kamu masih rentan, kamu tidak boleh kecapekan, Mel."


Melati menggeleng, "tidak, Bu. Mela tidak akan kecapekan karena hanya jalan di sekitar daerah sini saja kok, Bu," kekeuh Melati.


Karena sang putri terus memaksa, akhirnya bu Nilam pun menyetujui keinginan putrinya tersebut. "Ya sudah, tapi kamu jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Kita memang wajib berusaha, tetapi hanya semampu kita dan jangan sampai malah membuat diri kita menjadi celaka. Ingat pesan ibu, Mel," pesan bu Nilam pada sang putri.


Melati mengangguk patuh, "iya, ibuku sayang," balas Melati seraya memeluk sang ibu. Tak lama kemudian, kedua wanita berbeda generasi itu pun tertidur dengan saling memeluk karena lelah seharian mencari nafkah.


#####

__ADS_1


Keesokan harinya, setelah membantu sang ibu menyiapkan dagangan di kedai dan setelah memastikan bahwa semuanya telah siap agar sang ibu tidak kerepotan jika melayani pembeli yang datang, Melati bergegas meninggalkan kios sederhana tempat Ia tinggal dan juga membuka usaha.


Melati berjalan menyusuri jalan raya beraspal yang ramai lalu lalang kendaraan para wisatawan, yang akan berwisata ke pantai Sanur.


Remaja itu singgah ke sebuah kafe untuk menawarkan bakso buatan sang ibu, agar di pasarkan di kafe tersebut. Melati memberikan sampel bakso yang sengaja Ia bawa, agar pemilik kafe mencicipi bakso lezat buatan bu Nilam dan mengetahui serta menilai bagaimana rasanya.


"Bagaimana, Bli?" tanya Melati pada laki-laki muda yang merupakan pemilik kafe, setelah pemuda itu memakan bakso dari Melati.


Pemuda itu mengangguk, "enak, tapi maaf, Dik. Kafe kami kurang cocok untuk menu seperti ini," balas pemuda tersebut.


Melati tersenyum, "baik, Bli. Tidak mengapa, terimakasih sudah menilai bakso buatan ibu saya," ucap Melati dengan sopan.


Laki-laki muda pemilik kafe itu pun mengangguk dan membalas senyum Melati, "semangat ya, Dik. Mungkin di tempat lain, bakso Adik ada yang minat," pemuda itu memberikan semangat kepada gadis muda di depannya.


Melati mengangguk, "InsyaAllah..." ucap Melati, "mari, Bli." pamitnya dan kemudian segera berlalu meninggalkan kafe yang pertama.


Putri tunggal bu Nilam itu tidak patah semangat, Ia terus berjalan dan mencari kafe serta restoran lain untuk menawarkan bakso spesial buatan bu Nilam.


Kafe kedua yang Ia datangi pun menolak dengan alasan yang sama, tetapi wanita muda itu pantang menyerah. Meskipun kafe dan restoran yang selanjutnya Ia datangi juga menolak bahkan ada yang terang-terangan mengejek Melati dengan mengatakan bahwa rasa baksonya tidak berkelas, Ia tetap tak berputus asa.


Melati masih melangkahkan kaki jenjangnya menuju tempat lain, harapan selalu ada di hati dan pikiran wanita hamil itu bahwa tidak ada yang sia-sia jika Ia mau berusaha dan saat ini Melati tengah berusaha untuk merubah jalan hidupnya.


Melati ingin bisa hidup berkecukupan agar bisa membiayai buah hatinya nanti, Ia juga ingin membahagiakan sang ibu di masa tua satu-satunya orang tua yang dimilikinya itu.

__ADS_1


TBC,,,


__ADS_2