
Netra keduanya masih saling bertaut untuk beberapa saat, ketika tiba-tiba Melati beringsut dan kemudian mencari ponsel yang Ia geletakkan sembarangan tadi.
"Mas, Mel 'kan mau buang ponsel ini ke laut sana," ucap Melati yang teringat keinginannya tadi, ibu muda itu hendak beranjak namun Adam menarik tangan Melati hingga Ia terjatuh dan menimpa tubuh Adam.
"Nanti saja, Dik. Kamu belum menjawab permintaanku," tagih Adam seraya menatap dalam netra bulat Melati yang berada di atas tubuhnya.
Keadaan yang sama seperti tadi dan dengan jarak sedekat ini dengan pemuda yang selalu ada ketika Ia membutuhkan pertolongan, membuat debaran jantung Melati berkali-kali lipat lebih cepat.
"Permintaan Mas Adam tidak jelas, Mel bingung harus menjawab apa?" balas Melati.
Sebenarnya, Melati sudah dapat menangkap arah pembicaraan Adam. Hanya saja untuk saat ini, Ia masih belum siap jika suatu saat harapannya harus kembali terhempas.
Apalagi masih ada wanita yang mengejar-ngejar Adam, meskipun pemuda itu sudah menjelaskan bahwa wanita itu sepupu Adam namun tetap saja Melati harus waspada karena segala kemungkinan bisa saja terjadi.
Melati lelah di hina, lelah direndahkan dan di injak-injak harga dirinya. Rupanya, luka yang ditancapkan Arjuna di hati Melati begitu dalam hingga ibu muda itu bertekad untuk menjadi orang yang sukses, agar kelak tidak ada lagi yang berani menghina Melati.
"Oke, Mas akan perjelas," ucap Adam.
"Jangan sekarang, Mas. Hari sudah semakin petang," tolak Melati dengan halus, Ia tidak mau membuat Adam kecewa jika mengatakan bahwa dirinya belum siap.
Adam membuang muka kesamping dan menghela napas kasar, dada pemuda itu bergemuruh dan itu dapat dirasakan dengan jelas oleh Melati yang masih berada di posisinya semula.
Pemuda itu kembali menatap Melati dan mengangguk, "iya, Mas bisa mengerti. Mas akan menunggu hingga saatnya kamu siap nanti," lirih Adam yang memendam sedikit kecewa, namun pemuda tampan itu mencoba untuk bisa memaklumi keadaan Melati.
__ADS_1
Melati tersenyum manis, "terimakasih, Mas. Mas Adam selalu bisa mengerti keadaan Mel," balas Melati, yang kemudian memberikan kecupan di pipi Adam hingga membuat pemuda berwajah blasteran itu terkesima.
"Katanya belum siap, kok malah nyium? Dasar anak labil," bisik Adam dalam hati, seulas senyuman manis terbit di bibir Adam. "Awas, ya. Aku akan balas cium kamu di bibir." lanjutnya masih dalam hati.
Belum sempat Adam membalas, Melati keburu beringsut dan segera beranjak menjauh. Tanpa memberikan kesempatan kepada Adam, Melati berlari kecil menuju laut.
"Mas, ayo kejar Mel! Mel mau buang ponsel ini!"
Adam yang masih belum kembali utuh kesadarannya terhenyak, pemuda berwajah blasteran itu buru-buru bangkit dan langsung mengambil langkah seribu mengejar Melati.
Kaki panjang Adam yang melangkah dengan lebar, membuat Ia tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam mengejar mommy-nya Putra tersebut.
Setelah Melati berhasil melempar ponselnya jauh ke tengah ombak yang menggulung tinggi, Adam dengan sigap menangkap tubuh Melati dan membawa wanita muda itu menuju ombak yang datang menerjang.
"Apa masih ada yang mengganjal?" tanya Adam penuh perhatian, "jika masih, berteriak lah sepuas-puasnya di sini." Adam menghentikan langkahnya dan menatap Melati, wanita muda yang telah berhasil mencuri hati Adam.
Melati mengangguk, putri semata wayang bu Nilam itu kemudian berteriak sepuas hatinya. Melati ingin melepaskan semua belenggu, yang selama ini menjerat dan membuatnya susah bernapas. Belenggu cinta Arjuna yang telah memperdaya dirinya tetapi kemudian menghempaskan Melati begitu saja.
Dalam hati Melati merutuk, kiranya Arjuna dan ibunya akan menyesal suatu saat nanti karena telah menorehkan luka yang mendalam di hati Melati. "Kelak kamu akan bersujud di kakiku dan mengemis agar aku kembali, Arjuna! Aaa ...." teriakan Melati disambut oleh deburan ombak yang menggulung tinggi dan kemudian terhempas di pantai.
Adam tiba-tiba memeluk Melati dari belakang dan menumpukan dagu dengan manja di bahu Melati. "Kalau sudah puas, ayo kita pulang! Putra kita pasti sudah rindu sama mommy dan daddy-nya," bisik Adam.
Melati tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala, sementara tangan Melati mengeratkan pelukan Adam di perut rampingnya. Bagi Adam, itu sudah cukup menegaskan bahwa Melati mau menerimanya tetapi Adam harus bisa meyakinkan mommy-nya Putra tersebut.
__ADS_1
Meyakinkan bahwa tidak ada lagi penghalang diantara mereka berdua, baik restu orang tua maupun kehadiran wanita lain. Juga meyakinkan bahwa Adam benar-benar tulus menerima Melati apa adanya.
Mereka berdua masih berdiri menatap kearah laut lepas, dengan Adam memeluk mesra pinggang Melati. Sementara di ufuk barat, semburat warna jingga mulai menghiasi langit karena sang surya hampir tenggelam di batas cakrawala.
#####
Di kediaman Arjuna, pemuda berambut cepak putra dari bu Sonia itu uring-uringan sendiri setelah menutup panggilan teleponnya tadi. Foto-foto wanita yang wajahnya mirip Melati Ia robek dan dihambur ke sembarang arah, mengotori lantai marmer kamar Arjuna.
Pemuda itu berteriak sepuasnya dikamar luas yang kedap suara tersebut, memaki dan mengumpat Melati sesuka hati. Arjuna pun merasakan lara yang sama, seperti yang dirasakan Melati. Putra bungsu bu Sonia tersebut merasa dikhianati dan dipecundangi, oleh gadis yang selama setahun terakhir sangat Ia rindukan.
"Brengsek! Dasar wanita ja*lang! Sumpah demi apapun, kamu tidak akan pernah bahagia, Melati!" kecam Arjuna dengan napas memburu karena amarah yang tak terbendung.
Dada pemuda berbadan atletis karena sering latihan fisik itu naik turun, mengikuti ritme napasnya yang tak beraturan. "Mati-matian aku menahan rindu di sana, tapi ternyata kamu begitu tega selingkuh bahkan hanya beberapa hari saja setelah kepergian ku," rintih Arjuna menahan sesak di dada.
Ia lempar ponselnya ke sembarang arah dan ponsel tersebut membentur kaca lebar yang ada di belakang Arjuna, hingga menimbulkan bunyi yang begitu keras. Kaca rias itu pecah dan pecahannya berserak kemana-mana.
Arjuna tak peduli karena seperti itulah hatinya saat ini, patah dan tak mungkin bisa kembali utuh. Arjuna menyalahkan Melati atas apa yang menimpa dirinya saat ini, "semua ini karena kamu, Melati! Aku berjanji, begitu lulus aku akan mencari mu dan membuat perhitungan!" sumpah Arjuna dengan tangan terkepal sempurna, seraya meninju dinding di depannya.
Tangan Arjuna terluka, namun lagi-lagi pemuda itu tak mempedulikannya karena luka hati Arjuna bahkan lebih parah meski tak berdarah.
Melati adalah cinta pertamanya, gadis sederhana yang telah mampu membuat masa remaja Arjuna menjadi penuh warna. Berdua mereka merajut rencana indah, untuk membina masa depan bersama.
Kini, semua tinggal impian semata. Melati seolah menari di atas luka hatinya dan itu membuat luka Arjuna semakin menganga. "dia tidak boleh bahagia, tidak! Melati harus menderita seumur hidupnya!" rutuk Arjuna penuh kebencian.
__ADS_1
TBC,,,