Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Dua puluh tujuh_ Memiliki Anak Haram


__ADS_3

Setelah puas bermain dengan Putra, Adam membawa sang mama pulang ke kediamannya yang bersebelahan dengan rumah yang ditempati oleh Melati dan bu Nilam.


Kehadiran mama Rida disambut hangat oleh bu Nilam yang sengaja menutup kedainya lebih awal, setelah tadi diberi tahu oleh Melati melalui telepon bahwa mamanya Adam datang berkunjung.


"Selamat datang, Bu," sambut bu Nilam dengan hangat, yang diikuti oleh bi Mar dan bi Pur yang memang sudah mengenal mama Rida.


"Terimakasih sambutannya, Jeng," balas mama Rida yang langsung memeluk bu Nilam dengan hangat.


"Mari, silahkan masuk," ajak bu Nilam pada mamanya Adam. Mereka semua kemudian masuk dan duduk di ruang keluarga.


Bi Mar segera membawa Putra masuk kedalam kamar untuk di mandikan karena hari telah petang, sementara bi Pur buru-buru kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam spesial seperti yang diminta oleh bu Nilam untuk menyambut kedatangan mamanya Adam.


Obrolan hangat antara Adam, Melati dan kedua orang tuanya pun tercipta. Mama Rida yang berasal dari kelas atas dan pandai membawa diri, serta pembawaan bu Nilam yang ramah, langsung mengakrabkan kedua ibu tersebut.


Mama Rida terdengar menanyakan banyak hal pada bu Nilam tentang masa kecil Melati, wanita anggun itu terlihat antusias mendengarkan kisah bu Nilam yang menceritakan kehidupan keluarganya yang memprihatinkan semenjak ditinggal pergi oleh sang suami.


"Maaf, Mbak Rida. Kami ini hanya orang kecil dan masa lalu putri saya .... " bu Nilam menjeda ucapannya dan kemudian menunduk.


Berhadapan dengan mama Rida yang nampak berkelas, membuat bu Nilam merasa minder. Meskipun sejak awal kedatangannya, mama Rida selalu menampilkan senyuman hangat.


Mama Rida menggeleng, "tidak ada yang namanya orang kecil atau orang besar, Jeng Nilam. Harta dan Jabatan, itu hanyalah titipan semata. Bagi orang yang mengerti, justru mereka akan sangat berhati-hati dalam menggunakan harta dan kekuasaan tersebut, sebab semua akan dimintai pertanggungjawabannya." Mama Rida menggenggam tangan bu Nilam dengan erat dan menatap wanita kurus yang usianya lebih muda dari mama Rida itu dengan hangat.


"Sejatinya, kita semua ini sama di mata Sang Pencipta, bukan? Hidup kita akan dihargai jika kita bisa menghargai, begitu juga sebaliknya?" Mama Rida tersenyum lembut, senyuman yang bisa membuat orang lain merasa dihargai dan disayangi.


Netra lelah bu Nilam berkaca-kaca mendengar penuturan yang menyejukkan dari mamanya Adam tersebut. Bu Nilam kemudian mengangguk-angguk, membenarkan ucapan mama Rida.


"Kalau saja semua orang memiliki pemikiran sama seperti Mbak Rida, dunia ini pasti akan tentram dan damai," lirih bu Nilam.


Adam tersenyum bangga pada sang mama, Ia tahu betul siapa mamanya dan karena itu Adam tak ragu untuk menceritakan kisah pahit Melati pada sang mama. Adam juga mengatakan tentang perasaan cintanya untuk Melati, pada mama yang sangat Ia sayangi.


Terdengar kumandangkan adzan maghrib dari layar kaca yang menyala di ruangan tersebut, Adam segera mengajak sang mama untuk membersihkan diri di kediamannya.


#####

__ADS_1


Keesokan harinya, seperti biasa Adam mengantarkan Melati untuk pergi ke kampus. Kali ini, mereka tidak hanya berdua karena mama Rida juga turut serta.


Mama Rida hendak ikut putranya ke restoran dan kemudian akan pulang ke kediaman Adam di pusat kota Denpasar, untuk mempersiapkan acara keluarga besarnya nanti malam.


"Mela nanti malam datang, ya? Kalau ibumu tidak bisa, kamu sendiri juga tidak apa-apa?" pinta mama Rida sesaat sebelum Melati turun dari mobil.


"Maaf, Ma. Tapi itukan acara keluarga besar Mama dan Melati 'kan .... "


"Saat ini kamu memang belum menjadi bagian dari keluarga besar kami, Dik. Tapi akan segera," sahut Adam cepat.


Mama Rida mengangguk, "benar, Mel. Datang, ya? Sekalian biar mama kenalkan kamu, sama saudara-saudara Mama yang dari Yogya?" Mama Rida menggenggam erat tangan Melati serta menatap ibu muda itu dengan tulus.


Melati mengangguk pasrah, siap tidak siap suatu saat nanti Melati pasti akan bertemu juga dengan keluarga besar Adam yang kesemuanya berasal dari kalangan atas.


"Jangan berpikiran macam-macam, kamu harus percaya diri bahwa kamu pantas untuk mendampingi Adam," lirih mama Rida yang seolah tahu kegalauan hati Melati.


Melati tersenyum tipis, "InsyaAllah, Ma. Do'akan Melati bisa menjalankan peran itu ya, Ma?" pinta Melati sungguh-sungguh.


"Pasti, Nak. Semangat belajar, ya?" pungkas mama Rida ketika Melati mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkan Adam ke dunia.


"Mela tidak mungkin melirik laki-laki lain, ketika mata Mela telah puas hanya dengan membayangkan wajahmu, Mas. Apalagi jika menatapmu seperti ini," balas Melati seraya tersenyum dikulum.


"Pandai merayu juga rupanya kamu, Dik?" ucap Adam, seraya tersenyum lebar. Hati Adam berbunga-bunga karena baru kali ini meski secara tak langsung, Melati mengungkapkan perasaannya kepada Adam.


Sejenak mereka saling menatap dengan kedua tangan masih saling menggenggam, "aku tak sabar menunggu saat itu tiba, Dik," bisik Adam, "saat dimana kamu dan Putra menjadi bagian dari hidupku," lanjutnya dengan tatapan dalam.


Melati yang sudah berani membuka diri secara utuh setelah kedatangan mama Rida, membalas dengan anggukan kepala dan senyuman.


"Kok, cuma seperti itu?" protes Adam.


Melati mengernyit, "terus, Mela harus bagaimana?" tanya Melati.


"Cium, dong?" pinta Adam.

__ADS_1


"Jangan mau, Mel. Kebiasaan si Adam?" cegah mama Rida.


Melati tersenyum senang karena ada yang membela, sementara Adam cemberut. "Mama enggak asyik, ah!" gerutu Adam.


"Ayo, buruan!" titah mama Rida.


"Iya, Mama. 𝘑𝘶𝘴𝘵 𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘵𝘦," balas Adam.


Adam kemudian mendekatkan mulut ke telinga Melati, "nanti malam aku tagih ciuman kamu," bisik Adam.


"Eh, Mel enggak janji ya Mas? Kenapa ditagih?" protes Melati tak mengerti.


"Jika kamu tidak dapat mengungkapkan isi hatimu dengan kata-kata, maka ciuman dapat mewakili ungkapan perasaanmu pada orang yang kamu cinta," balas Adam seraya tersenyum menggoda.


"Tidak, tidak! Tidak benar itu, Mel! Jangan mau!" seru mama Rida yang ternyata sedari tadi menguping pembicaraan sang Putra, "ajaran sesat, itu!" imbuhnya.


Adam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "ah, mama? Sekali-kali 'kan enggak apa-apa, Ma?" rajuk Adam.


"Tidak!" tegas sang mama, "ayo, naik!" titah mama Rida pada sang putra.


"Ya sudah, Dik. Mas berangkat ke Restoran dulu, ya?" pamit Adam kemudian


Adam segera masuk kedalam mobil dan kemudian melajukan kendaraannya dengan pelan meninggalkan area parkir kampus.


Semetara Melati tersenyum dan melambaikan tangan mengiringi kepergian kendaraan yang membawa Adam dan mama Rida, yang semakin menjauh dan menghilang di tikungan jalan.


Terdengar suara tepuk tangan yang semakin lama semakin terdengar mendekat kearah Melati, ibu muda itu menoleh kearah sumber suara dan Melati terkejut mendapati seorang gadis yang tak asing baginya.


Kening Melati mengernyit dalam, melihat ada banyak poster yang beterbangan yang baru saja dihamburkan oleh gadis itu. Penasaran dengan isinya, Melati mengambil salah satu poster yang jatuh tepat di kaki Melati.


Tangan Melati bergetar membaca salah satu poster tersebut, "Sungguh memalukan! Salah satu Mahasiswi berprestasi selama ini telah menyembunyikan identitasnya, ternyata dia sudah memiliki anak HARAM dan saat ini MELATI menjadi simpanan Om-om!"


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia, Melati!" ancam gadis itu sambil berlalu meninggalkan Melati yang berlinang air mata dan dikerubuti oleh rekan-rekan di kampus, mereka semua menatap tajam pada Melati, menuntut penjelasan.

__ADS_1


TBC,,,


__ADS_2