Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
End_Adam Tercipta Hanya Untuk Melati


__ADS_3

Keluarga kecil Adam beserta bu Nilam sudah berada di kediaman orang tua Adam, begitu pula dengan keluarga besar mama Rida dari Yogyakarta juga sudah hadir semuanya. Termasuk satu-satunya kakak sepupu mama Rida yang masih sehat, mama Sekar, beliau juga hadir beserta seluruh keluarga besar Alamsyah.


Kediaman mama Rida yang luas, yang biasanya terlihat sepi, pagi ini bagai pasar malam saking banyaknya anggota keluarga yang hadir.


Mulai dari anak-anak yang berlari-larian di taman bunga Tulip belakang rumah, hingga para remaja yang bercengkrama sambil bercanda ria di teras samping.


Sementara para orang dewasa dan orang tua, termasuk pasangan Adam dan Melati, duduk santai sambil ngobrol dengan hangat di ruang keluarga yang luas.


"Si Kevin, aku susul ke Bali malah bikin usaha baru di Jakarta?" protes Adam pada keponakannya.


"Terlanjur nyaman di sana, Om. Semua sahabat juga di sana soalnya," balas Kevin.


"Yang di Bali, masih mertuanya si Icha?" tanya Adam.


Kevin mengangguk.


"Kenapa nyebut-nyebut nama Icha?" Malika yang baru turun, langsung bergabung bersama abang dan om-nya tersebut.


"Ish, masih centil saja Nyonya Rahman," goda Adam, "sudah isi, belum?" tanya Adam kemudian, sambil menunjuk perut Malika.


"Sudah, dong?" balas Malika dengan mata berbinar, sedangkan Rahman yang duduk di samping Kevin tersenyum bahagia.


"Eh, Icha masih marah ya, sama Om!" seru Malika kemudian.


"Marah kenapa?" tanya Adam tak mengerti.


"Waktu Icha nikah 'kan, Om Adam enggak datang?" protes Malika, "tadinya, Icha juga enggak mau datang ke pernikahan, Om. Gara-gara Oma Rida, tuh, yang pamer tiket 𝘣𝘢𝘣𝘺𝘮𝘰𝘰𝘯 buat Icha. Ya udah, Icha berangkat. Sayang 'kan, ada gratisan enggak diambil?" lanjut Malika panjang lebar dan kemudian terkekeh.


"Kamu, Cha. Duit daddy kamu udah banyak, masih saja suka yang gratisan?" olok Adam seraya menjitak pelan kening sang keponakan.


"Eh, bukan cuma Icha ya, yang suka gratisan. Tuh, Kak Fira juga? Padahal 'kan, butiknya selalu ramai?"


"Fira isi, juga?" tanya Adam mengernyitkan kening.


Fira yang tadinya asyik ngobrol dengan sang kakak ipar, seraya menggoda 𝘣𝘢𝘣𝘺-nya Zaki, mengangguk, "iya, Om," balasnya singkat.


"Kok, belum pada kelihatan?" tanya Adam.


Melati tersenyum, "kalau baru trimester awal 'kan, belum kelihatan, Dad," terang Melati seraya menatap sang suami.


"Iya, ya," balas Adam tersenyum, "kalau gitu, selamat ya, buat kalian berdua," ucap Adam yang turut berbahagia, "berarti, nanti anak kita barengan dong, gedenya," lanjut Adam seraya mengelus perut sang istri yang masih rata.


"Eh, si Tante udah isi juga?" tanya Malika.


Adam mengangguk dengan senyumnya yang mengulas lebar.


"Wah, tokcer si Om. Baru juga enam bulan, sudah langsung isi aja? Pasti ngebut, ya? Enggak dikasih jeda, ya, si Tante?" goda Malika dengan senyum jahilnya.


"Lah, suami kamu juga gitu, 'kan?" Adam melirik Rahman.


"Ya 'kan, Bro?" Adam menatap Zaki, Kevin dan Dion bergantian, membuat keponakan-keponakannya itu tersenyum dikulum.


Begitu pula dengan para istri, Salma, Laila, Fira dan Malika, mereka tersenyum simpul seraya menatap suami masing-masing dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Dam, resto, lancar?" tanya daddy Rehan, yang kemudian mengalihkan perhatian Adam.


"Alhamdulillah, lancar, Bang," balas Adam.


"Rencana pengin buka kedai di Jakarta, kira-kira prospeknya bagus tidak ya, Bang?" tanya Adam.


"Kamu 'kan bisa lihat, yang di Bali seperti apa? Aku pikir, enggak jauh beda-lah Bali dan Jakarta," balas daddy Rehan.


"Memangnya, kamu bisa wara-wiri gitu, Dam?" tanya bunda Fatima.


Adam menggeleng, "untuk sementara belum bisa, Kak. Istri masih butuh perhatian ekstra," balas Adam, seraya melirik mesra sang istri.


"Halah, bukan istrimu yang butuh perhatian ekstra, Dam. Tetapi kamu?" olok ayah Yusuf, yang mengundang gelak tawa semuanya.


"Rencananya, akan Adam percayakan pada Arjuna," ucap Adam kemudian setelah tawanya reda.


"Kamu yakin, Nak?" tanya mama Sekar memastikan.


"Iya, Budhe," balas Adam, "bagaimanapun, dia bagian dari Putra," lanjut Adam dengan yakin, seraya menggenggam tangan sang istri.


Semua anggota keluarga yang sudah mendengar kisah Melati dan Arjuna mengangguk-angguk.


"Pakdhe setuju sama kamu, Nak Adam." Tutur papa Sultan.


"Tidak perlu menyimpan kebencian dan dendam dalam hati, ya, Nak Melati," lanjut papa Sultan seraya menatap Melati dengan tatapan hangat.


Melati mengangguk, "Iya, Pakdhe," balas Melati terharu. Ia merasa mendapatkan dukungan yang luar biasa di keluarga Adam dan membuat rasa cinta Melati kepada Adam, semakin besar.


"Dam, ajak istrimu ke hotel dulu, sana!" titah mama Rida, "sudah di tunggu sama orang salon," lanjutnya.


"Harus sekarang, Ma? Adam 'kan masih kangen sama mereka semua, Ma?" rajuk Adam.


"Nanti setelah makan siang, kita semua nyusul ke sana," balas mama Rida, "sudah, buruan!"


Adam dengan berat hati beranjak, bersama sang istri meninggalkan keluarga besarnya yang masih asyik bercengkrama.


&&&&&


Melati tengah dirias oleh MUA professional, ketika Adam masuk ke kamar pengantin tersebut. Adam kemudian duduk di tepi ranjang sambil menatap sang istri dari pantulan cermin besar di hadapan Melati. Pemuda berdarah campuran itu menatap sang istri sampai lupa caranya berkedip.


"Kenapa menatap mommy seperti itu, Dad?" tanya Melati yang membuat Adam tersadar dari lamunan.


Adam tersenyum dan kemudian mendekati sang istri, "Miss, apakah sudah selesai?" tanya Adam pada sang MUA.


"𝘑𝘶𝘴𝘵 𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘵𝘦," jawab sang MUA, sambil menyapukan kuas lembut ke wajah Melati sebagai akhir dari riasannya.


"Oke, Mrs. Adam. Anda sangat cantik," puji sang MUA pada Melati.


Melati tersenyum lebar, "makasih, Miss," ucap Melati tulus.


MUA tersebut kemudian meninggalkan kamar pengantin milik Adam dan Melati.


Adam yang sudah berada di samping sang istri, langsung memeluk Melati dari belakang. Dagunya bertumpu pada pundak Melati, Ia tatap sang istri melalui pantulan cermin.

__ADS_1


"Hai, Mrs. Adam. Apakah kamu bahagia?" bisik Adam bertanya.


Melati membalas tatapan sang suami melalui cermin yang sama, istri Adam itupun tersenyum manis dan mengangguk pasti. "Melati sangat bahagia," jawabnya, sambil membelai pipi Adam yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.


Terdengar suara pintu dibuka dari luar, Adam dan Melati sontak menoleh bersamaan kearah pintu.


"Ealah, ditunggu di ballroom malah asyik pacaran didalam kamar?" protes Mama Rida yang masuk kedalam kamar bersama bunda Fatima.


"Ayo, keluar!" ajak mama Rida.


"Padahal sudah pengantin lawas ya, Bulek? Bawaannya masih mau nempel melulu?" goda bunda Fatima.


Adam dan Melati beranjak dan kemudian mengikuti langkah mama Rida dan bunda Fatima keluar dari kamar.


"Bang Yusuf yang sudah punya cucu saja masih manja 'kan, sama Kak Fa?" balas Adam membela diri.


"Oh, kalau si Yusuf sama si Rehan itu memang kebangetan! Suka tidak ingat tempat kalau mesra-mesraan sama istri!" olok mama Rida sambil berjalan menuju ballroom.


"Eh, kok bawa-bawa nama Rey? Ada apa?" tanya daddy Rehan yang kebetulan juga akan menuju ballroom hotel. Daddy tampan itu berjalan sambil memeluk mesra pinggang sang istri.


"Tuh, 'kan. Apa mama bilang?" Mama Rida menunjuk daddy Rehan dengan dagunya.


Melati tersenyum melihat kemesraan saudara Adam tersebut, "semoga kita bisa menua bersama dan selalu mesra seperti mereka ya, Dad?" bisik Melati.


Adam menghentikan langkahnya dan menatap sang istri dengan tatapan dalam, "pasti, Mom. Cinta daddy akan selalu bertambah setiap harinya untuk Mommy, meski kita sudah memiliki banyak anak, atau bahkan memiliki cucu. Cinta kita akan abadi selamanya, Mom. Karena Adam tercipta, hanya untuk Melati."


Adam kemudian mencium bibir istri cantiknya dengan lembut dan dalam, ciuman yang menghanyutkan, sampai-sampai Adam dan Melati tidak sadar bahwa semua mata kini tertuju pada keduanya.


"Bukan hanya Rey dan bang Yusuf yang tidak tahu tempat jika bermesraan, Bulek? Putra Bulek juga, kan?" protes daddy Rehan, yang menghentikan aktivitas Adam dan sang istri.


Melati menunduk malu begitu mengetahui ada banyak pasang mata melihat kearah mereka berdua, sementara Adam tersenyum bangga dan kembali hendak mencium bibir sang istri.


"Adam! Sabar!" cegah mama Rida, yang disambut tawa semua keluarga yang berada di sana.


🌸🌸🌸🌸🌸 Happy End 🌸🌸🌸🌸🌸


Alhamdulillah,,, 😇


Melati sudah menemukan kebahagiaannya, buah dari kesabaran setelah Ia benar-benar bertaubat dari semua kesalahan yang pernah dilakukan.


Ini ceritanya masih sambung menyambung sama keluarga besar Alamsyah, yah ☺


Karena seperti itulah Indonesia, yang sambung menyambung menjadi satu 🤗


Kita dari berbagai suku dan kota ketemu dimari 🥰


Yuk, yang belum tahu kisah keluarga Alamsyah, mampir ke novel ;


* Ketulusan Cinta Nabila


* All About Kevin


Lanjut di cerita berikut yah,,,

__ADS_1


Pamer cover dulu, ceritanya belum rilis 🤭



__ADS_2