Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Dua puluh sembilan_ Kamar Pengantin Kita


__ADS_3

Adam melajukan mobil dengan kecepatan penuh untuk menuju rumah Melati, sepanjang jalan tak henti Adam membunyikan klakson agar para pengendara lain memberinya jalan. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang dikendarai Adam berbelok ke halaman rumah yang ditempati Melati, Putra dan juga ibunya.


Pemuda berwajah blasteran nan rupawan itu segera turun dan bergegas masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam, Adam langsung menuju kamar Melati.


Pintu kamar tersebut tertutup rapat, Adam mengetuknya perlahan seraya memanggil nama wanita muda yang sangat Ia cintai. "Dik, Mela Sayang, buka pintunya," pinta Adam.


Adam mengulangnya beberapa kali, hingga terdengar suara langkah kaki dari balik pintu dan sesaat kemudian pintu dibuka dari dalam.


Melati menatap Adam sekilas dengan senyuman yang dipaksakan dan buru-buru membalikkan badan.


"Sayang, tunggu," kejar Adam dan pemuda itu langsung memeluk Melati dari belakang.


Melati seketika terpaku ditempat, isak tangis yang tadi telah terhenti, entah kenapa kini muncul kembali. Berada dalam dekapan Adam, membuat sifat manja ibu muda itu keluar dan Melati kembali menumpahkan segala rasa yang menyesakkan dada di pelukan pemuda yang selalu bisa membuat hatinya tenang.


Adam semakin erat memeluk wanita yang telah mencuri perhatiannya selama ini, "menangis lah Sayang, jika itu bisa membuatmu lega," bisik Adam di telinga Melati.


Melati semakin terisak, wanita itu membalikkan badan dan kemudian memeluk Adam. Melati menyembunyikan wajah di dada bidang Adam, pemuda baik hati yang selalu ada untuknya tersebut.


"Aku sudah tahu semuanya, Dik," lirih Adam sambil mengusap lembut punggung Melati.


"Apa seorang pendosa seperti Mel, tidak berhak untuk bahagia, Mas?" terisak Melati bertanya.


"Sst ... " Adam mencoba menenangkan Melati yang masih sesenggukan dalam dekapan.


"Kamu memang pernah melakukan kesalahan, Dik, tapi kamu bukan seorang pendosa? Kamu sudah mengakui kesalahan itu dan aku dengar dari ibu, kamu juga sudah bertaubat, bukan?"


Melati mengangguk pelan.


"Orang lain tidak berhak untuk menghakimi kamu, Dik? Mereka juga salah besar jika mengatakan, bahwa Putra adalah anak haram!" geram Adam.


"Yang salah itu perbuatan kamu dan laki-laki itu, Dik? Tetapi jika kamu sudah menyesalinya dan bertekad untuk menjalani hidup dengan lebih baik, maka kamu juga berhak untuk hidup dengan tenang dan bahagia, Sayang," ucap Adam dengan lembut.


"Jangan pernah kamu menyesal karena sudah melahirkan Putra, Putra punya daddy dan akulah daddy-nya, Dik?" imbuh Adam sungguh-sungguh, yang membuat Melati semakin mengeratkan pelukan.


"Mel tidak pernah menyesal mengandung dan melahirkan Putra, Mas. Karena Putra adalah penyemangat hidup kami," lirih Melati dengan isak kecil yang masih sesekali terdengar.

__ADS_1


"Terimakasih juga untuk Mas Adam, yang sudah selalu ada untuk Mel, Ibu dan juga Putra. Mas Adam bagai malaikat yang dikirim Tuhan untuk menolong dan mengangkat derajat kami," lanjut Melati seraya mendongak menatap netra kebiruan Adam.


Adam menggeleng, "jangan berlebihan, Sayang. Aku hanya seorang laki-laki yang mencintai kamu dengan tulus, benar-benar mencintaimu, Dik," ucap Adam.


Pemuda tampan itu kemudian mencium puncak kepala Melati dengan dalam, aroma wangi shampoo menguar dan masuk kedalam indera penciuman Adam. Menimbulkan sensasi yang berbeda pada diri pemuda berdarah campuran tersebut.


"Mel," panggil Adam dengan lembut.


Kembali Melati mendongak, menatap Adam.


Adam mendekatkan wajahnya dan menyatukan dengan wajah Melati, membuat Melati sejenak terhenyak tetapi kemudian menikmati sentuhan lembut Adam.


Jantung keduanya berdebar kencang, aliran darah mereka bagai teraliri arus listrik bertegangan tinggi dan menuntut lebih dari sekadar berciuman.


Adam dan Melati sama-sama tersadar dan segera melerai pelukan, "maaf, Dik. Aku terbawa perasaan," sesal Adam setelah cukup lama terlena dengan manisnya bibir Melati.


Melati menundukkan kepala, "maafkan Mel juga, Mas." lirih Melati.


Adam menggenggam tangan Melati, "Dik, entah ini untuk yang ke berapa kalinya aku meminta. Maukah kamu menikah denganku, Dik?" pinta Adam seraya menatap dalam netra hitam Melati.


Melati tersenyum, "Mel yakin, Mas Adam sudah tahu isi hati Mel. Tetapi jika Mas Adam memaksa ingin mendengar jawaban Mel, maka Mel akan menjawabnya nanti malam." balas Melati.


Melati mengangguk, "itu salah satunya," jawab Melati, "selain itu, Mel juga ingin tahu dulu bagaimana reaksi saudara-saudara Mas Adam terhadap status Mel. Jika mereka pun bisa menerima Mel seperti mama Rida maka dengan senang hati Mel bersedia menjadi istri Mas Adam, bahkan jika kita harus menikah saat itu juga," tegas Melati, yang membuat Adam tersenyum lega.


"Janji?" Adam mengangkat jari kelingkingnya.


Melati pun melakukan hal yang sama dan kemudian mengaitkannya dengan jari kelingking Adam, "janji," jawab Melati dengan yakin.


Kembali Adam memeluk Melati dengan erat, "persiapkan dirimu, calon pengantinku," bisik Adam dengan senyuman yang terus mengembang di wajah tampannya.


#####


Adam dan Melati sepakat untuk mengajak serta bu Nilam, Putra dan juga bi Mar untuk ikut ke kediaman Adam di kota Denpasar. Menjelang maghrib mereka berangkat, agar tepat bakda isya' bisa ikut makan malam bersama keluarga besar mama Rida dari kota Yogyakarta.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba dikediaman Adam yang megah. Nampak beberapa mobil mewah telah berjajar di halaman kediaman Adam yang luas tersebut.

__ADS_1


Seorang 𝘴𝘦𝘀𝘢𝘳π˜ͺ𝘡𝘺 yang selama ini menjaga rumah Adam, mendekati mobil majikannya dan kemudian membukakan pintu untuk Adam, "selamat datang, Mas Adam. Semua keluarga bu Rida sudah hadir, papa dan saudara Mas Adam juga sudah tiba tadi siang," terang 𝘴𝘦𝘀𝘢𝘳π˜ͺ𝘡𝘺.


Adam yang sudah turun dari mobil mengangguk, "iya, terimakasih informasinya, Pak. Tolong parkir kan mobil saya," pinta Adam sambil memberikan kunci mobil pada laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun tersebut.


Adam bergegas menghampiri Melati dan ibunya yang juga sudah turun dan kemudian menuntun tamu istimewanya itu untuk masuk kedalam rumah, bi Mar mengekor langkah mereka dengan Putra yang berada dalam gendongannya.


Kedatangan mereka disambut oleh mama Rida dan kedua putrinya, kakak dan adiknya Adam.


Kedua wanita yang wajahnya mirip Adam itu menyalami bu Nilam dan juga Melati, sambutan kedua saudari Adam itu juga sangat baik dan hangat. Sikap mereka berdua tak jauh beda dengan sang mama, lembut dan ramah hingga membuat Melati merasa diterima dan dihargai di keluarga Adam.


"Ma, Mela sama ibu biar istirahat dulu di kamar, ya? Sekalian mau sholat maghrib, sudah adzan 'kan?" tanya Adam memastikan, pasalnya sewaktu di halaman tadi sayup-sayup Adam mendengar suara adzan dari Masjid di kejauhan.


Mama Rida mengangguk, "iya, silahkan istirahat dulu, Jeng," ucap mama Rida mempersilahkan.


"Putra biar sama mama ya, Mel?" pinta mama Rida sambil mendekati bi Mar yang masih menggendong anaknya Melati.


Melati tersenyum dan mengangguk, "iya, Ma," balas Melati singkat.


Kedua saudari Adam nampak berebut ingin ikut menggendong Putra, hal itu membuat bu Nilam tersenyum lega. Begitu pun dengan Melati, ibu muda itu merasa sangat bahagia.


Adam segera mengajak Melati dan ibunya menuju ke kamar yang masih berada di lantai satu, rupanya rumah Adam sangat luas yang terdiri dari tiga lantai dan memiliki banyak kamar.


Adam sengaja mendesain rumah layaknya penginapan karena keluarga besar mama Rida sering berkunjung ke Bali dan menginap di rumah Adam, yang tempatnya berada di pusat kota dan sangat strategis.


"Silahkan, Bu. Ini kamar ibu," ucap Adam sambil membukakan pintu kamar yang berukuran cukup luas tersebut.


Bu Nilam mengangguk dan kemudian segera masuk kedalam kamar yang telah disediakan untuknya itu, Melati hendak menyusul langkah sang ibu ketika tiba-tiba Adam menarik tangan Melati.


"Dik, kamu mau di kamar ini dulu, apa langsung ke kamar kita?" bisik Adam bertanya.


Melati mengerutkan kening, "kamar kita?"


"Iya, kamar kita, tuh, di sebelah sana," terang Adam sambil menunjuk ke pintu kamarnya yang tertutup rapat.


"Kamar Mas Adam kali, bukan kamar kita?"

__ADS_1


"Nanti malam, kamar itu akan menjadi kamar pengantin kita, Dik," kekeuh Adam sambil tersenyum penuh arti dan memainkan kedua alisnya menggoda Melati.


TBC,,,


__ADS_2