Dia HANYA Anakku

Dia HANYA Anakku
Tiga puluh satu_ Nyosor Terus


__ADS_3

Antara percaya dan tidak, Melati hanya bisa menurut ketika dituntun oleh mama Rida dan bu Nilam menuju kamar yang ditempati ibunya Melati. Sang MUA yang sudah menunggu, ikut berjalan mengekor di belakang mereka.


Melati didudukkan di depan meja rias dengan kaca yang lebar, "nah, duduklah dengan nyaman, Sayang. Bu Nimas akan melakukan tugasnya," bisik mama Rida sambil tersenyum.


Melati hanya mampu mengangguk, wanita muda itu masih belum percaya sepenuhnya bahwa malam ini Ia akan resmi menjadi istri Adam. Laki-laki yang selama ini memang sudah mengisi hati Melati.


'Ya, Allah ... semoga ini adalah awal yang baik untuk kami, untukku dan putraku,' do'a Melati dalam hati.


"Kami tinggal dulu ya, Bu. Masih banyak yang harus kami siapkan," pamit mama Rida pada bu Nimas.


Sang MUA mengangguk dan tersenyum.


"Mela, ibu keluar ya, Nak. Mau lihat Putra," pamit bu Nilam pada Melati.


"Iya, Bu. Tolong jagain Putra ya, Bu," pinta Melati yang kini tiba-tiba menjadi sendu.


Bu Nilam menepuk lembut punggung sang putri, seolah mengerti apa yang membuat putrinya itu menjadi risau.


Bu Nilam dan mama Rida kemudian segera meninggalkan kamar, untuk memberikan kesempatan pada bu Nimas untuk merias wajah Melati.


'Semoga Mas Adam benar-benar bisa menjadi ayah yang baik untuk Putra, hanya itu yang aku minta dari-Mu, Ya Robb. Aku tak ingin meminta untuk kebahagiaan ku sendiri karena aku tak pantas memintanya, aku hanya memohon ampuni semua dosa-dosa yang telah aku lakukan dulu. Aamiin." do'a Melati dalam hati.


Sementara di ruang tamu, kesibukan nampak jelas terlihat. Anggota keluarga laki-laki ikut sibuk membantu mendekorasi ruangan tersebut untuk dijadikan tempat akad nikah antara Adam dan Melati, yang akan dilangsungkan kurang dari setengah jam ke depan.


Para wanita sibuk mempersiapkan diri mereka masing-masing, untuk menghadiri acara sakral nanti. Sedangkan mama Rida dan dua orang asisten Adam, tengah mendekorasi kamar pengantin sesuai permintaan calon mempelai pria.


"Gimana, Dam? Sudah sesuai keinginan, belum?" tanya sang Mama, kala melihat wajah tampan sang putra nampak tengah serius memindai kamarnya.


"Ma, di tengah ranjang, memangnya harus dikasih angsa seperti itu?" tanya Adam sambil menunjuk hiasan berbentuk sepasang angsa.


Mama Rida tersenyum, "tidak harus, Sayang. Tetapi, selain untuk memperindah ranjang pengantin, angsa juga memiliki nilai simbolis untuk sebuah pernikahan," balas mama Rida.


Adam mengernyitkan kening, "nilai simbolis?"


"Angsa identik dengan makna keindahan yang dijadikan sebagai simbol cinta dan kesetiaan, karena perilaku kawin mereka yang monogami dan biasanya bertahan seumur hidup." terang mama Rida.


"Kamu pasti mau 'kan, menjadikan Melati satu-satunya dalam hidup kamu?" lanjut mama Rida menegaskan.


Adam mengangguk pasti, "iya, Ma. Cukup satu seumur hidup Adam," balas Adam yakin.


"Mama bangga padamu, Dam. Mama akan selalu mendo'akan untuk kebahagiaan kalian," tutur sang mama sambil menepuk-nepuk punggung sang putra.


"Sudah beres semua, sekarang cepat kamu ganti pakaian!" titah mama Rida, setelah dua asisten Adam keluar dari kamar pengantin.

__ADS_1


"Mama juga belum bersiap? Biasanya, wanita 'kan lama?" protes Adam.


"Tidak semua, Dam, dan mama bukan termasuk kategori itu!" kilah mama Rida, "sudah ah, mama mau lihat Melati dulu. Habis itu langsung bersiap," pungkas mama Rida yang langsung keluar dari kamar sang putra.


Di dalam kamar bu Nilam, nampak sang MUA sedang membantu Melati memakaikan kebaya dan kain jarik yang sudah dipersiapkan oleh mama Rida.


Kain jarik motif Sido Asih yang menjadi pilihan mama Rida, motif yang memiliki simbol sebagai cinta yang agung. Warna yang dalam pada kain jarik tersebut dilambangkan sebagai perasaan yang harus dimiliki dua orang yang akan menikah sebelum mantap melanjutkan ke sesi yang lebih serius.


Ya, seharian tadi, setelah diberitahu oleh sang putra bahwa Melati bersedia dinikahi oleh Adam jika semua anggota keluarga besar mama Rida bisa menerima kehadiran Melati dan anaknya, mama Rida langsung meyakinkan saudara-saudaranya termasuk Sisca tentang wanita istimewa pilihan Adam.


Mama Rida juga sibuk menyiapkan semuanya, mulai dari membeli mas kawin, baju pengantin, baju untuk bu Nilam dan juga baju untuk dirinya sendiri yang kembaran dengan calon besan.


Mama Rida juga menghubungi MUA terbaik dan berbelanja aneka bunga untuk mendekorasi ruang tamu dan kamar pengantin, selain itu mamanya Adam tersebut juga menghubungi penghulu dan ustadz setempat untuk menikahkan Adam dan Melati.


Semua dilakukan mama Rida dengan senang hati demi melihat kebahagiaan sang putra, yang baru kali ini dilihatnya sangat mencintai seorang wanita. Mama Rida tak mempermasalahkan jika pilihan Adam jatuh pada Melati, wanita yang telah memiliki anak diluar pernikahan.


Setiap orang pasti memiliki masa lalu, entah itu baik ataupun buruk. Yang terpenting bagi mama Rida adalah, bahwa orang tersebut mau berubah menjadi lebih baik. Karena sang putra juga memiliki masa lalu yang kurang baik, di masa sekolah dulu di negaranya.


Adam terjebak pada pergaulan bebas, minuman beralkohol dan diskotik adalah teman setia Adam kala itu. Hingga mama Rida memutuskan untuk menitipkan Adam pada saudaranya di Yogya dan Adam akhirnya kuliah di kota pelajar tersebut.


Mama Rida masuk kedalam kamar bu Nilam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, "sudah siap?" tanya mama Rida.


"Tinggal merapikan rambutnya, Bu," balas sang MUA.


"Iya, Bu. Pas banget di badan pengantin yang seksi, bagus dan warnanya juga serasi sama kulit Mbak Mela yang kuning," puji sang MUA.


Melati tersenyum malu.


Melati kemudian didudukkan kembali untuk disanggul.


"Mama juga mau siap-siap," pamit mama Rida sambil menepuk pelan lengan Melati.


"Iya, Ma," balas Melati singkat.


Mama Rida segera keluar, tepat di saat yang sama, Adam hendak masuk ke kamar bu Nilam.


"Dam, kamu mau ngapain?" tanya sang mama.


"Mau lihat calon istri Adam lah, Ma? Mau ngapain lagi?" balas Adam.


"Eit, belum boleh. Tunggu saja diluar sana!" usir mama Rida sambil mendorong tubuh sang putra yang sudah berbalut jas pengantin.


"Mama pelit, ah?" rajuk Adam, " mau lihat dikit saja, masak tidak boleh?"

__ADS_1


"Bentar lagi Mela juga sudah sah jadi milikmu, Dam. Jangankan dikit, semua kamu lihat juga boleh. Boleh banget malah," goda mama Rida.


"Sana-sana, mama juga mau siap-siap ini!" Kembali mama Rida mengusir Adam dengan isyarat tangan.


Adam hanya bisa menurut patuh dan segera berlalu menuju ruang keluarga, berkumpul bersama anggota keluarga lain yang sudah siap.


"Adam, ayo keluar! Pak penghulunya sudah datang," ajak sang papa.


Adam mengekor langkah sang papa untuk menuju ruang tamu, yang diikuti oleh anggota keluarga laki-laki.


Sementara Melati nampak keluar dari kamar dengan dituntun oleh mama Rida dan bu Nilam, yang keduanya memakai kebaya warna senada.


Melati langsung dibawa ke ruang tamu, yang diikuti oleh saudara-saudara perempuan mama Rida, termasuk Sisca dan kedua putri mama Rida.


Melati kemudian di dudukkan di samping Adam, putra mama Rida yang tak berkedip menatap sang calon istri sejak pertama kali Melati menginjakkan kaki di ruang tamu.


"Kamu cantik sekali bidadari ku," bisik Adam lembut.


Melati sekilas menoleh kearah Adam dan tersenyum malu. "terimakasih," balas Melati lirih.


"Silahkan, Pak Penghulu. Sepertinya pengantin sudah tidak sabar," ucap ayahnya Sisca seraya terkekeh pelan, melihat bisik-bisik kedua mempelai.


Keluarga yang lain pun ikut tersenyum bahagia, melihat binar bahagia di wajah Adam.


Pak Ustadz mulai membacakan ayat suci Al-Qur'an, yang kemudian dilanjutkan dengan khutbah nikah.


Usai khutbah nikah, acara dikembalikan pada ayahnya Sisca yang kemudian memberikan sambutan mewakili keluarga Melati, sementara dari pihak keluarga Adam disampaikan oleh sang papa.


Kini giliran Pak Penghulu yang akan menikahkan Adam dan Melati, yang sekaligus akan menjadi wali nikah bagi Melati karena sang mempelai wanita sudah tidak memiliki wali.


Adam menjabat erat tangan Pak Penghulu, dan kemudian menjawab qobul dengan jelas dan tegas hanya dalam satu kali tarikan napas.


Kedua saksi, yaitu Pak Ustadz dan kakak ipar Adam berbarengan mengucapkan kata sah, yang diikuti oleh seluruh anggota keluarga.


Bulir bening jatuh menetes dari sudut mata Melati, seiring do'a yang dipanjatkan oleh Pak Ustadz. Air mata bahagia karena kini Ia memiliki seseorang yang akan menjadi teman hidup dan tempat berbagi.


Usai menandatangani blangko pernikahan, Adam menyematkan cincin pernikahan di jari manis Melati. Melati kemudian mencium punggung tangan sang suami dengan takdzim dan Adam membalas dengan mencium kening sang istri dengan dalam.


"Setelah ini, jangan pernah menangis lagi, Sayang. Karena ada aku yang akan selalu menjagamu," bisik Adam, seraya mencuri kecupan di bibir Melati.


"Adam!" protes mama Rida, "sudah sana, bawa ke kamar. Nyosor terus dari tadi!" gerutu sang mama yang mengundang gelak tawa semua yang hadir.


TBC,,,

__ADS_1


__ADS_2