Dia Kebahagiaanku

Dia Kebahagiaanku
Prolog


__ADS_3

"Ampun pa Vero gak salah,mama yg


jahatin Vero".


Vero kecil terus meminta pertolongan dan ampunan kepada Alno-papa Vero saat Alno terus mencambuki anak umur 10 thn itu.


Padahal Tata(mama tiri),Raina(kakak tiri)dan Rendo(abang tiri) yg menjebak Vero.Namun apa daya,Alno tampak tidak memperdulikan penjelasan bocoh tersebut.Padahal banyak sekali bekas luka diseluruh tubuh Vero tapi tidak akan ada yg peduli.Anak itu masih terus menangis dan menangis sambil memohon mohon.


"Jujur Vero kamu yg menghilangkannya bukan?".


Sudah sedaritadi Vero menjelaskan namun sang papa seperti menganggapnya angin lalu.


"Gak pa,Vero gak ngilangin,Mama Tata yg ngambil".


Bahkan setiap kali Vero menjelaskan,cambukan yg diberikan semakin lama semakin keras.Vero sudah menangis histeris sedari tadi namun tidak meluluhkan hati sang papa.


"Kamu jangan berbohong Vero,jujur kamu yg menghilangkannya bukan?".


"Bukan Ver-".


Selalu saja seperti ini,sebelum Vero pingsan,maka penyiksaan tidak akan berhenti.Tidak ada raut merasa bersalah dari Alno,bahkan Alno merasa sangatlah puas bisa menyiksa anak sialannya.


***


Alvero Alfiansyah Putra,bisa dipanggil Vero.Anak yang memiliki hidup yg kelam,yg semuanya berawal dari mami Fani,dia adalah ibu kandung Vero yg meninggal akibat ulah papanya.


Dulu Vero anak yg ceria.


Tapi...


semua hilang...


Vero ceria sudah menghilang dari muka bumi ini.Sifatnya semakin lama semakin dingin terhadap orang lain.


Bahkan diumur nya yg masih 8 thn dia harus menerima siksaan yg kejam.Dan dari situlah pertama kalinya Vero mengenal 'rokok'.


Prilaku Vero semakin lama semakin menjadi-jadi saat siksaan yg dirinya dapat semakin kejam.


Dari yg dirinya dipukul,ditampar,dijemur dimatahari yg terik,dikunci dikamar atau kamar mandi,ada saat juga kepala Vero dicelupkan ke dalam wastefel berulang bahkan sampai Vero harus terpaksa tidur diluar rumah karena dipaksa.


***


Terlihat Vero kecil sudah terbangun dari pingsannya,dia lantas melihat sekelilingnya,kosong?.Tempat itu masilah tempat yg sama dengan dirinya dihukum tadi sebelum pingsan,yaitu kamar.


Tentu saja Vero tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!.Dia membuka jendela kamarnya,memastikan apakah ada orang yg melihatnya atau tidak.Vero yg sudah terbiasa menuruni pohon besar didekat jendela kamarnya.


HUP!


Dan dia berhasil,memanjat dan menuruni pohon adalah makanan sehari-harinya.


Tujuan pertama Vero adalah taman didekat komplek perumahannya.Taman yg selalu menjadi tempat curhat dan tempat dimana banyak menyimpan kenangan indah.Vero selalu mengingat Fani sang mami bila berada ditaman ini.Selalu Vero mengenang masa lalu nya dengan Fani,dari dia bermain,menangis,mengadu bahkan meminta kasih sayang.Hanya taman ini lah yg mempunyai banyak warna bagi Vero yg kesepian.


"Mami Vero kangen sama mami,mami kapan pulang?Vero udah capek dipukuli sama papa sama mama Tata.Bang Rendo sama kak Raina pun jahat sama Vero...


Mami bawa Vero juga pergi dari rumah.Vero mau bebas,gak mau dipukulin lagi,mamiii...hiks".


Selalu saja begini.Jika Vero sudah duduk dibawah pohon besar yg rindang,dia akan berbicara sendiri bermaksud mengadu kepada maminya yg sudah tiada berharap maminya mendengar setiap keluh kesahnya.Padahal sudah hampir sore hari namun Vero masih sangat betah ditaman ini.

__ADS_1


"Hai".


Vero yg menenggelamkan wajahnya dilipatan tangan dengan kedua kaki sebagai tumpuan langsung menegakkan kepalanya untuk melihat siapa yg menyapanya.


"Hai juga".


Vero memasang muka datar saat melihat anak perempuan seumuran dengannya menyapa dengan ramah.


"Kamu kenapa nagis?".


Anak perempuan itu tersenyum dengan ramah dan duduk di sebelah Vero tanpa izin.


"Kepo".


Jawab Vero dingin,anak perempuan tersebut tidak menyerah sama sekali untuk mendekati Vero.


"Haha kenapa memangnya kalau aku mau tau?".


Anak perempuan itu terus tersenyum kepada Vero dengan manisnya tanpa ada rasa beban sedikitpun.Tanpa disadari,Vero membalas senyumnya yg membuat anak perempuan itu senang karena merasa perjuangannya berhasil.


"Kenali namaku Alrata Voura Fran,panggil aja alra".


alra memperkenalkan dirinya dengan tangan yg menggantung diudara.


"Vero ".


Vero membalas tangan alra tanpa sungkan.Tampak Vero tengah berpikir yg membuat Alra bingung.


"Kalau aku panggil arta boleh gak?".


Alra mengangguk membolehkan nama panggilannya diganti,atau bisa saja nama itu adalah nama sebutan khusus dari vero.Arta,menurut Vero nama Arta bila ditambah H didepannya akan menjadi 'Harta'.Harta yg langkah hingga mampu membuat Vero ceria kembali.


Tanya Alra yg membuat Vero tersenyum dan mengangguk antusias.Ini pertama kalinya Vero punya teman.


"Kalau kita teman boleh gak kamu kasih tau kenapa nangis?".


Awalnya Vero tampak ragu,tapi akhirnya dia cerita walau tak seluruhnya.Apa yg kini tengah Vero rasakan?beban dihatinya seakan terangkat sedikit.Dirinya tidak perlu menyimpannya sendiri 'lagi'.


"Maaf aku gak bisa bantu apa apa.Kamu sabar ya Vero walau aku juga tau pasti berat.Kamu pasti kesakitan kan?tapi sesekali kamu juga boleh jelasin semuanya ke papa kamu.".


Alra terus memperhatikan tubuh Vero dari atas hingga kebawah,sontak Vero menutup bagian dadanya dengan tangan.


"Hehe...kamu tinggal dimana?".


"Dikomplek sana,belokkan ke 3 nomor rumah 24".


Alra mengangguk,Seperkian detik kemudian Alra diam saja yg membuat Vero juga terdiam.Keduanya sama-sama menikmati udara sore ditaman.


"Oh ya Arta aku pulang dulu ya udah sore.Oh ya kamu mau gak gelang ini?".


Vero memberikan gelang yg sama dengannya.Arla mengambil gelang itu dan mengucapkan terima kasih.


Buru-buru Vero pulang kerumah dengan kecepatan yg dia bisa.Namun dewi durga tidak ada disampingnya.Alno ada didepan teras rumah dengan koran dan kopi kesukaannya.


Dengan menunduk dalam Vero mendekati papanya dengan perasaan was-was.Sedangkan Alno yg melihat menatap benci Vero.


"Dari mana kamu?".

__ADS_1


"Dari taman p-pa".


"Masuk".


Vero masuk dengan wajah tertunduk kebawah,dan sekali lagi dewi durga tidak memberikan keberuntungan pada Vero.Tata dan Raina berada disofa ruang keluarga dan melihat Vero memasuki rumah.


"Anak sial".


Panggilan tersebut sudah sangat dihapal oleh Vero lantas dia berhenti dan menatap keduanya dengan mata redup.Dalam benak Vero dia sangat membenci Tata dan Raina.


"Gak usah kau kasih muka kasihan gak cocok sama kau.Lagian gak akan ada yg mau ngasihani kau".


Raina terus memaki Vero.Kali ini dirinya sudah lelah,Vero melanjutkan tujuannya yaitu kamar tanpa izin dari Tata dan Raina.


"Dasar kamu anak kurang ajar.Vero kembali!".


Tata dan raina bingung sendiri dengan Vero yg saat ini.Biasanya jika seperti ini Vero akan menuruti perintah Tata ataupun Raina,namun tidak dengan sekarang.


Saat memasuki kamar,Vero langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu menuju tempat tidur.Vero mencari kunci laci yg selalu dia simpan dan setelah di dapat langsung diambil dan membuka laci tua disebelah tempat tidur miliknya.


Vero bingung sendiri,kenapa?rokok yg biasa dia hisap menghilang entah kemana bahkan dengan pemantik apinya!tidak ada jejak sedikit pun akan keberadaan kedua barang haram itu bagi anak kecil.


"Cari ini?".


Vero dikagetkan oleh Alno yg berada dikamarnya,tepatnya diambang pintu.Vero langsung gemetar dan menunggu penyiksaan selanjutnya.


"i-iya".


"Siapa yg ngajarin?".


"G-gak a-ada".


"Gak ada?jadi,dari mana kamu tau tentang rokok?".


"l-lihat o-orang pa".


"Papa kecewa sama kamu.Selama ini apa yg papa ajarkan sama kamu.Ngerokok?".


Alno terus membentak Vero yg membuatnya muak.Dengan keberanian sepenuh hati Vero menatap Alno menantang.Alno yg melihat mata itu langsung bingung terhadap vero.


"Boleh saya menanyakan sesuatu kepada anda?".


"saya-anda?".


"Apa yg anda ajarkan kepada saya?mengajarkan kekerasan atau mengajari membentak?anda juga mengajari saya bagaimana bersikap tidak adil dan semena-mena?.


Seharusnya saya yang kecewa atas sikap anda kepada saya.Dimana kasih sayang seorang papa?apakah dengan cara memaki dan memukul?itu kasih sayang?bahkan mami pergi pun karena anda!anda adalah papa terburuk didunia ini.ANDA TIDAK PANTAS MENJADI SEORANG PAPA.SAYA SANGAT MEMBENCI ANDA".


PLAK.


Tanpa segan Alno menampar pipi Vero dengan keras.Dia bingung sendiri,darimana keberanian Vero berasal hingga bisa membentak dirinya.Tanpa sekata pata pun Alno melempar rokok tersebut dan bergegas keluar dari kamar Vero.


Vero dengan tangisannya mengambil rokok tersebut,membakar ujungnya dan menghisap.Namun hatinya masih belum merasa lega.Dia mengambil ponselya dan tanpa sengaja melihat seseorang yg tengah menggoreskan lengannya sendiri.


Awalnya vero tampak ragu namun dia mencobanya dibawah shower.


Menyenangkan!

__ADS_1


Itu yg dirasakan vero.Setelah tubuhnya merasa lemas dia mengakhiri permainan gila nya itu.


__ADS_2