
"Lo vero?".
Reina lah yg membuka pintu dan sangat terkejut dengan kedatangan vero yg mendadak.
"Siapa sih rei kok gak di suruh masuk".
"I-ini ma".
"Siapa s...V-vero?".
"Udah gak usah kaget".
"Ngapain kamu kesini lagi?masih inget pulang ternyata".
Satu bentakan keluar dari mulut tata yg membuat vero jengah.
"Maaf saya gak ada waktu meladeni kalian.Boleh kan saya masuk kedalam?".
"Tentu tidak".
"Oh benarkah?".
TinTin
Tiba-tiba mobil yg sangat familiar diingatan vero memasuki halaman rumah yg mewah tersebut namun tidak semewah villa maupun rumah ortu angkatnya.
Alno lah si pelakunya.Alno juga terkejut saat mengetahui vero lah yg berada dihadapannya.
Plak
Satu tamparan telak dirasakan vero.Vero yg merasakan hanya tersenyum misterius.
"Beginikah cara anda menyambut anak anda sendiri yg baru saja pulang kembali?".
"Anak?hahaha...saat kamu kabur dari rumah saya tidak menganggap kamu sebagai anak saya lagi".
"Oh benarkah?".
Alra sudah takut sendiri melihat ayah dan anak didepannya tengah bertengkar.Tentu dia mengeratkan lebih kuat genggamannya dengan tangan vero yg sedaritadi terpaut.
"Jadi,apa tujuan kamu kembali kerumah saya".
"Haha bahkan anda mengakui bahwa ini bukan tempat tinggal saya.".
"Tentu saja".
"Sudah lah tidak perlu banyak basa basi.Saya disini ingin mengambil seluruh barang almarhum mami".
__ADS_1
"Silahkan".
"Yasudah terimakasih".
Vero membawa alra dan kedua bodyguard nya.Vero membawa jalan didepan dengan masih menggenggam alra.Tujuan pertama adalah kamarnya.
Tentu saja sudah usang dan lapuk.Saat meninggalkan kamar bersejarahnya ini saja perabotannya sudah hampir tidak bisa dipakai.
"I-ini k-kamar lo alfi?".
"Iya".
"Ha?".
"Udah gak usah alay".
Bahkan alra saja merasa kamarnya lebih layak daripada kamar vero.
Vero membuka lemari bawah dengan paksaan walau harus mengalami kerusakan.
Terdapat disana sebuah brankas besi yg sudah hampir berkarat.Vero berusaha membuka dan akhirnya berhasil.
Isi didalamnya adalah sebuah buku yg berisi foto-foto vero dan fani sang mami ketika masih kecil dan bahkan saat vero bayi masih tersimpan rapi disana.Dan ada baju-baju wanita yg ternyata baju fani yg sering dipakai.Juga ada satu baju coupel yg sangat indah.
"Iih lo imut banget waktu bayi.Iih gemes".
"***** lo masih narsis aja".
"Haha udah cepat ambil".
"Oh ya ini juga bagus.Yg satu gaun warna merah yg satu kemeja kecil mungil warna merah juga.Wih keren".
"Lo mau gaunnya?".
"Ha?".
"Lo mau gaunnya?".
"B-boleh?".
"Tentu".
"Ini kan punya-".
"Udah ambil aja muat ama lo juga".
"Makasih".
__ADS_1
"Hmm".
Keduanya masih mencari barang-barang berharga milik vero yg mungkin sudah rusak.
"Ini kok banyak bungkus rokok.***** bahkan 2 kaleng juga ada".
"Yadah gak usah lebay deh".
"Wih pisau buah ini udah bekarat dan bau nya sedikit amis.Atau lo dulu sering-".
Alra menatap tajam kearah vero.Vero hanya mengambaikan dan menggaruk tengkuknya pelan.
"K-kenapa?".
"Dasar".
"Eerr y-yaudah ayo cepetan".
"Hump".
Vero memberikan seluruh barangnya ke bodyguard nya.Vero menjentikkan jari dan salah satu bodyguard nya maju memberikan koper hitam.
Dibuka koper itu dan isinya adalah setumpuk kertas berwarna merah yg sangat banyak.Bahkan alra susah menelan salivanya sendiri saat melihat banyak uang disana.
"Berapa totalnya?".
"100 jt tuan".
"What?".
"Udah ayo cepetan".
Vero berjalan kedepan dengan masih setia menggenggam tangan alra.Namun dilepas saat melihat keluarga kejamnya berkumpul kecuali rendo yg memang masih ada dipenjara.
Polisi akan melepaskan rendo bila ditebus 70 jt.Sedangkan alno tengah kekurangan uang saat ini.
"Ehem tolong bawa barangnya ke bagasi mobil...kemari".
Vero menyuruh lelaki tinggi dan kekar dengan pakaian serba hitam yg membawa koper itu maju mendekatinya.
Vero mengambil koper itu lalu duduk disalah satu sofa.Dia membuka koper tersebut yg membuat keluarga alno terkejut.Tentu saja terkejut mereka mengira bahwa hidup vero semakin susah dan datang kerumah untuk memohon kepada mereka memelihara vero kembali.
♡
♡
♡
__ADS_1