
"Alfi lo mau kekantin gak?".
"Gak".
"Jadi lo mau kemana?".
"Keperpus".
"Gue ikuut".
"Ck lu bisa diam gak sih?".
"Please".
Aku melihat langsung bagaiman mata alra berkaca-kaca.Seperti kucing kecil yg imut.Ah jadi gak tega...eh tadi aku ngomong apaan?astaga.
"Terserah".
Sudah cukup aku menahan tatapannya yg imut itu.Dan itu terganti dengan senyum yg menghiasi wajahnya.Dan dia semakin imut.
"Yey alfi baik".
Gak mau mendengarkan ocehannya lagi,aku bergegas keperpus untuk mendapat ketenangan.Dan tentu dia mengikuti kemanapun aku pergi.Dasar penguntit.
"Alfi".
"...".
"al".
Aku menatapnya tajam karena memanggil sebutan dari teman masa kecilku,oh ayolah bagiku itu panggilan khusus.Dia tersenyum puas ntahlah kenapa mungkin otaknya udah konslet.
"Lo baca apa?".
"Liat sendiri".
"Mana tau orang sampulnya aja polos kayak gitu".
"Ck".
Sekali lagi aku harus sabar dengan cewe cerewet satu ini.Aku menyerahkan buku itu saat sudah menandai sampai mana aku membaca.Merepotkan!.
"Owh".
__ADS_1
Dia memberikan buku nya ke aku kembali setelah mengetahui buku yg ku baca.Dan lagi dia mengganggu setelah keheningan yg menyenangkan ni.
"Alfi lo mau tau gak nama kepanjangan gue?".
Dan sekali lagi aku berusaha mengacuhkan perkataannya.Sedangkan dia,masih setia menunggu jawabanku.Hu dasar keras kepala.
"Gak penting".
Satu kalimat itu bisa buat dia terdiam?waah hebat.Tapi pakah dia sakit hati?.
"Yah alfi gak seru".
Sedikit aku bernapas lega walau dalam hati aku merutuki dirinya yg teramat cerewet dan menyiksa telingaku apalagi dengan sikapnya yg sksd.
Namun,keberuntungan ada ditanganku.Penyelamatku tiba yaitu...
Bel masuk.
Tanpa pamit aku pergi setelah meletakkan buku ketempatnya.Emang dia siapa aku harus pamit dulu sama dia?.
"Alfi lo mau kemana?ini kan bel masuk,lo kok malah jalan kesini sih?".
"Ck bisa gak sih diem.Gue mau bolos sana lu masuk sendiri".
Dan sekali lagi aku mengabaikan bocah bising satu ini.Dan untunglah dia gak ngikuti lagi.
Aku langsung mengambil salah satu rokokku saat sudah duduk dibawah pohon rindang agar menutupi sinar matahari yg terik.
"Coba hidup bisa setenang ini mungkin gak akan lagi ada beban".
Aku terus menangis dalam diam dan merenungi hidupku sendiri.Kebiasaanku adalah jika sudah merokok atau melakukan hal lazim menurutku namun juga yg gak masuk akal bagi kalian,dan aku gak akan tenang kalau aku masih belum lega apalagi belum menghabiskan apa yg ku pakai.
Dan sekali lagi aku kaget dengan alra yg berada dipintu masuk taman.Tak peduli aku masih terus menghisap rokokku dengan menangis dalam diam.
Alra berjalan kearahku dengan ragu tentu aku gak akan peduli namun masih memperhatikan gerak geriknya.Bahkan tanpa izin dia seenaknya duduk disebelahku.
"Lo ternyara ngerokok".
"Lu liat sendiri kan?gak usah nanya".
Ntahlah apa yg akan dipikirkan oleh dia aku gak akan peduli.Namun wajahnya mengisyaratkan bahwa dia mengasihani ku.Ha?maaf aku gak perlu dikasihani.
"Gak usah lu kasihan sama gue".
__ADS_1
"Gak.Gue gak akan begitu.Lo pasti punya beban hidupkan?kalo punya ceritain biar beban lo hilang sedikit".
"Gak perlu lu ikut campur".
"Lo gak kasihan liat ortu lo yg kerja untuk biyayain lo".
He bodoh!aku tersenyum miring mendengar perkataannya.Aku bingung,bingung dengan anak satu ik ni.Padahal baru pertama kali ketemu tapi udah sok dekat,malah ceramah lagi.
"Cih,kalau lu gak tau kehidupan gue mending diam aja".
"Tapi mau gimana pun ortu lo pasti sedih lihat anak nya jadi kayak gini".
Sudah cukup aku menahan emosi,kenapa ini anak terus keras kepala sih padahal aku gak butuh dia saat ini.Aku berdiri dan melihatnya tajam.
"LO BISA GAK SIH GAK USAH BAWA ORANG TUA SIALAN ITU.GUE GAK PUNYA ORANG TUA.Gue gak punya orang tua yg kayak dia.Dia gak cocok dibilang ortu gue".
Dan airmata terus mengalir begitu saja tanpa izinku.Air mata sia**n!.Tentu jika aku sudah membentak seseorang kaki ku akan melemas dan rasa bersalahku kian membuncah.
"maaf".
"Gak usah minta maaf.Gue yg minta maaf udah bentak lu.Balik sana kekelas".
Padahal aku ingin sekali mengeringkan air mataku namun apa daya.Aku butuh sesuatu dan aku perlu pisau.
"Lu punya pisau atau...".
"L-lo m-mau ngapain.Gak,gue gak akan ngasih,lo harus sadar.Jangan nyiksa diri lo sendiri".
"Gue gak akan mati,badan gue udah kebal.Cepat mana pisau,kalau gak ada gak usah".
Alra tiba-tiba menarik kepalaku agar bersandar dibahunya.Nih anak kenapa sih?sakit kali ya.
"Gue tau lo pasti tersiksa.Tapi lo jangan nyakiti diri lo sendiri.Lo itu laki-laki,lo itu kuat.Ya memang gue gak tau kehidupan lo yg sebenarnya.Tapi gue yakin dibalik penderitaan hidup lo pasti ada sesuatu yg berharga yg setia menunggu lo suatu saat nanti.Ya memang gue terkesan sok tau atau kayak ustazah.Dan bahkan gue tau,gue gak akan sekuat diri lo kalau ada diposisi lo saat ini atau yg lebih parah gue ngelakuin apa yg lo lakukan juga,tapi setidaknya lo harus kuat lo harus buktikan keortu lo kalau lo bisa dan lo lebih baik daripada yg dia pikirkan".
Ujar arla dengan mengelus rambutku pelan dan menghayati,awalnya aku berpikir kalau dia hanya pandai berbicara saja namun dia juga gak terlalu buruk,dia juga punya sisi baik dan pengertian dibalik sifatnya yg cerewet dan sksd itu.Dan sungguh aku rindu dengan elusan ini,seperti elusan mami yg menenangkan ku ketika menangis dan membuatku tidak bersedih lagi.
Tanpa ragu aku memeluknya dan menangis disana.Menangis sepuasnya tanpa rasa malu dan bahkan tidak perduli dengan cewe yg ku peluk ini.Ntahlah seperti apa ekspresinya sekarang.
Dan tentu saja bahu dan tubuhku gemetar hebat,tapi seperti nya dia tak menghiraukan sama sekali.
"Udah dong jangan nangis lagi.Don't cry again,we must happy and forget it all a make you sad.You strong".
"Thanks so much".
__ADS_1
Mau bagaimana pun aku harus berterima kasih sama dia walaupun dia menyebalkan dan cerewet.
Dan ya ntah kenapa ucapannya bisa menenangkan hati yg terluka.Dan ini pertama kalinya ada hal lain yg bisa menghentikan tangisanku kecuali sesuatu yg ^tak lazim^ itu.