
"Yah, ijinin teteh kemping kan? " tanyaku pada Ayah. Sudah 2 hari aku ada di rumah karena sedang liburan akhir tahun. Hari ini Bunga dan Indah datang ke rumahku dan akan menginap disini, rencananya kita akan berangkat bareng dari rumahku.
"Boleh sayang, bawa HandPhone ayah yang satu lagi ya kalau ada apa-apa ngabarinnya kan gampang" Aku memang belum punya Handphone sendiri, ayah bilang aku boleh pegang Handphone sendiri nanti saat lulus SMA.
"Siap laksanakan! " ucapku sambil hormat pada ayah.
Besoknya Kamal menjemput ku dengan menggunakan mobil. Aku sempat takut karena dia kan belum cukup umur untuk mengendarai mobil, tapi dia sepertinya sudah lihai.
"Kamu bawa obat-obatan kan sayang? " Tanya Kamal.
"Bawa kok" jawabku
"Nanti di sana jangan jauh-jauh dari aku ya, aku takut kamu hilang. Susah cari lagi cewek kaya kamu"
"Gombal pisan ih kamu hahaha"
"Nasib jadi nyamuk ya Tuhan" itu Indah yang ngomong di belakang. Bunga jadinya pergi dengan pacarnya menggunakan motor.
Kita janjian di satu titik tak jauh dari sekolahan. Terlihat ada beberapa mobil dan motor di sana, aku turun untuk menyapa teman-temanku Kamal menggenggam tanganku dan mengajakku duduk di bangku. Aku lihat Diar ada di sana, sedang menghisap sebatang rokok di tangannya, karena diluar lingkungan sekolah banyak teman lelakiku yang merokok termasuk Kamal.
"Kamu ngerokok? " tanyaku pada Kamal.
"Sesekali hehe, boleh kan? "
"Asal jangan berlebihan, gak baik buat jantung kamu! "
"Tapi untung hati aku selalu baik, kamu tau kenapa? "
"Soalnya ada aku kan? "
Dan serempak teman-teman di dekatku muntah berjama'ah. Haha.
Sedang asyik mengobrol tak sengaja aku melihat Diar yang sedang memperhatikanku pandangan kami bertemu, tiba-tiba dia mengedipkan sebelah matanya padaku, dih!!!
Setelah semua berkumpul kita berdoa bersama dan bersiap-siap untuk pergi, lalu ada satu motor yang baru parkir orang itu membuka helmnya dan berlari ke arah kami.
"Huft, untung belum telat. Hehe"
"Loh kok kamu ikut? kamu kan udah gak satu sekolah sama kita? " Tanya Anwar mewakili pertanyaan kami semua.
"Aku yang ngajak dia, gapapa atuh biar rame" jawab Putri tanpa rasa bersalah. Ya, Rania tiba-tiba datang dan ingin ikut untuk kemping. Aku mendekatkan diriku pada kamal dan menyender di lengannya saat aku sadar bahwa Rania seperti sedang mencari seseorang.
Aku menuju mobil Kamal sambil bergandengan. Beberapa teman ada yang ikut ke mobil Kamal, dan salah satunya Putri lalu Rania dengan santainya juga ikut masuk dan bilang ingin duduk di sebelah Putri. Semuanya saling pandang, karena mereka semua tau kalau Rania itu mantan Kamal.
"Kamu teh bukannya bawa motor? " tanya Indah.
"Dipake Andri sama Bagas". Kamal terlihat tak ambil pusing dan mulai melajukan mobilnya. Diperjalanan aku sengaja sering mengajak Kamal mengobrol dan melempar gombal satu sama lain, aku melihat dari kaca tengah mobil bagaimana ekspresi tak suka sangat terlihat di wajah Rania, rasain kamu! suruh siapa gangguin singa betina.
"Pasangan ter the best lah Kamal Nia mah" seru Indah saat kita saling lempar gombalan.
Makasih Indah, aku padamu.
Ketika sampai kita langsung dibagi kelompok karena akan ada beberapa kegiatan selama di sana. Satu kelompok berisi tujuh orang aku satu kelompok dengan Kamal karena dia yang minta pada ketua panitianya, katanya dia ketitipan aku sama ayah jadi gak boleh jauh-jauh. Aaah Kamal selalu bisa aja bikin aku merasa spesial. Di kelompokku juga ada Bunga dan Zidan pacarnya', Putri, Diar dan Rania. Iya, Rania memaksa untuk masuk kelompokku karena katanya pengen sama Putri padahal sebenernya karena ada Kamal kan?
Dan Diar juga ada di kelompokku, Kamal terlihat kurang senang melihat Diar ada di kelompokku sama halnya denganku yang sangat tidak senang ada Rania di sini.
Sebelum memulai kegiatan kita disuruh istirahat dulu karena perjalanannya memang lumayan jauh, kita dibagi nasi kotak oleh panitia dan diharuskan untuk duduk sesuai kelompok. Aku mendapati beberapa kali Rania cari perhatian pada Kamal dan selalu gagal karena aku terus membuat Kamal memperhatikanku, Bunga hanya ketawa-ketawa melihat kelakuanku yang berubah super manja pada Kamal. Kamal yang sepertinya sadar kalau aku cemburu semakin berbuat romantis padaku, dia benar-benar tidak pernah jauh dariku yang membuat Rania terlihat bad mood. Diar tak menunjukan hal yang macam-macam dia ikut ngobrol dengan kami bahkan dengan Kamal pun obrolannya nyambung, aku merasa sedikit lega karena kukira dia akan mengganggu dan akan membuat aku kesal. Selesai makan kita lanjut membuat tenda, setiap kelompok membuat dua tenda satu untuk perempuan dan satu untuk laki-laki aku tak menyangka kalau Rania sangat mahir membuat tenda bahkan hampir satu tenda dia sendiri yang buat kita cuman bantu-bantu sedikit karena memang kurang paham. Yang ku tau dia memang anak alam sama seperti Kamal.
"Udah nih beres, aku mah udah biasa bikin tenda kan dulu sering pergi naik gunung sama Kamal, ya kan Mal? "
Kamal hanya mengangguk karena masih sibuk membuat tenda, pandanganku tak sengaja melihat Diar yang sepertinya sedang menertawakan ku.
Hari sudah malam, dan kita bersiap untuk menyalakan api unggun udara di sini sangat dingin sampai aku menggunakan 2 lapis jaket sarung tangan juga syal dan tutup kepala. Kamal membantu panitia untuk mempersiapkan api unggun ketika Kamal sibuk aku duduk sendiri entah kemana perginya orang-orang di kelompokku. Aku menghubungi ayah agar beliau tak khawatir setelah selesai aku melihat Kamal yang masih sibuk menyiapkana api unggun, lalu ada Diar, dia duduk tepat di belakangku.
"Kamu cantik" ucapnya. Aku diam saja, karena aku tak tau dia bicara dengan siapa aku juga tak mau menengok ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu cantik apalagi pas lagi cemburu"
Aku sama sekali tak mau menanggapinya. Untungnya Bunga datang dan duduk di sebelahku.
"Darimana sih Nga? "
"Abis bikinin kopi buat calon suami, Haha"
"Dih, hahaha"
"Kamal mana? "
"Tuh lagi bantu bikin api unggun"
"Rania kemana? " Ucap Bunga celingak celinguk.
"Gak tau, ngapain nanyain dia? "
"Mau ghibahin dia lah, haha. Gak tau malu banget ih dia keliatan masih ngarep ke si Kamal"
"Haha cinta lama belum kelar Nga"
Obrolan kita kepotong karena Rania dateng bawa dua gelas plastik ditangannya yang masih mengepul dari aromanya itu kayanya coklat panas.
"Nia, Kamal mana? " tanyanya padaku.
"Ngapain nanyain Kamal? " itu Bunga yang jawab.
"Mau kasih coklat panas kesukaan dia nih"
"Rania kamu sadar gak sih kalau kamal tuh udah punya pacar" lagi-lagi Bunga yang menanggapi
"Apaan sih cuman kasih coklat panas aja gak boleh, liat Nianya aja biasa aja" dia berkata itu sambil pandangannya menyapu sekitar untuk mencari Kamal.
"Heh, harusnya bersyukur gak gue ambil tuh si Kamal! Kalian tau kan kalau gue sama dia tuh belum ada kata putus! Dan sekarang gue ikhlasin Kamal berhubungan sama elu! " Tunjuknya ke arahku "masih kurang baik apa lagi gue hah? "
Aku terpancing kata-kata Rania aku berdiri dan mendekatinya.
"Heh elu emang biarin gue berhubungan sama Kamal tapi liat kelakuan elu ke dia! Cari perhatian! Kegatelan! sadar gak lu! "
Rania terlihat kaget dengan responku, bukannya mundur karena dia memang diposisi yang salah dia malah semakin berani.
"Elu yang ngerebut Kamal dari gue! harusnya gua yang marah! "
"Lu tuh bego apa gimana sih, elu ninggalin Kamal setahun terus dateng-dateng kaya gak terjadi apa-apa dan nyalahin gue ngerebut Kamal, mikir dong! Udah salah masih gak tau malu dateng lagi ke kehidupan Kamal yang jelas-jelas udah punya gue! "
Rania maju meletakkan dua gelasnya dibawah dan menampar pipiku dengan keras, semua yang ada disitu kaget melihatnya emosi gue udah gak tertahan. Siapa dia berani menamparku! Aku maju dan menjambak rambutnya dengan keras, dia membalasnya Bunga dan teman yang lain berusaha melerai tapi emosiku sudah terlampau tinggi sampai akhirnya ada yang memeluk tubuhku dan menarikku menjauh dari orang yang berkumpul ketempat yang kosong dia membalikkan badanku ke arahnya, dia memelukku erat emosiku yang masih meledak kini berganti tangis karena malam hari dan semua gelap aku tak sadar siapa yang aku peluk. Sampai suara Kamal menyadarkan ku.
"Nia, Yaa. Ada apa Bunga? Aku denger Nia ribut sama Rania? Sekarang Nia mana? "
Astaga itu suara Kamal, lah ini aku meluk siapa ya? Ya Tuhan saking emosinya aku sampai gak sadar lagi peluk siapa kulepaskan pelukanku dan melihat siapa gerangan yang sudah bisa membuatku merasa sedikit lebih tenang.Walaupun gelan tapi samar aku dapat melihatnya, itu Diar dia tersenyum padaku.
"Udah tenang kan? Sana pacar lu nyariin"
Aku hanya diam dan perlahan bergerak ke arah Kamal lidahku kelu.
"Tuh Nia Mal! " Seru Bunga.
"Nia kamu gak papa? Maaf aku gak bisa jagain kamu" Kamal memelukku dan menciumi keningku, aku menangis di dadanya luka tamparan Rania masih terasa aku dibesarkan dengan penuh kasih sayang tak pernah ibu dan ayah melakukan hal yang kasar apalagi sampai memukul, dan sekarang perempuan gila itu berani menamparku didepan umum.
Dan tiba-tiba ada yang berlari ke arahku dan berteriak memanggil namaku, aku melepas pelukanku pada Kamal dan melihat siapa yang memanggilku.
"Nia maafin aku, aku gak sengaja" ucapnya sambil menangis, iya itu Rania.
"Kamu kenapa jadi kaya gini Rania! Aku gak suka ya, dari kamu datang lagi ke sini aku udah bilang kan kalau aku milih Nia dan kamu bilang gak papa karena semua yang terjadi emang salah kamu, tapi apa? kamu malah berani nampar Nia! " tak pernah aku melihat Kamal semarah ini.
__ADS_1
"Aku tau dari gelagat kamu yang sengaja deketin aku yang sengaja bikin Nia cemburu tapi aku masih diem Ran, aku gak mau berpikiran buruk sama kamu! "
"Tapi sekarang aku bener-bener kecewa sama kamu! "
Kamal menarik tanganku dan membawaku menjauh dari Rania, aku lihat dia menangis di bahu Putri, sahabatnya.
Setelah beberapa saat mengobrol dengan panitia akhirnya Putri dan Rania dipindahkan ke kelompok lain diganti oleh Indah dan Hasan. Setelah nangis tadi aku merasa kepalaku jadi sakit dan lemas, Bunga membawakan coklat panas untukku. Kami duduk berkelompok didepan api unggun.
"Nia, gak papa kan? " ucap Bunga khawatir.
"Gak tau nih lemes banget sama sakit kepala juga"
"Istirahat aja yuk di tenda"
"Tapi pengen lihat api unggun, lagian ngeri tau ditenda sendirian"
Kamal mendengar obrolan kami dan menarik badanku ke pelukannya.
"Yaudah disini aja" Aku tersenyum sambil mempererat pelukanku malam ini udaranya sangat dingin ketika melihat ke sebelah Kamal aku terkejut dan reflek melepas pelukanku, disebelah Kamal ternyata ada Diar. Kenapa aku harus salah tingkah ya di depannya?
"Kenapa sayang? "
"Gak papa pegel atuh kalau harus gitu terus, hehe"
"Ya udah kalau tetep gak enak badan aku anter ke tenda yaa, nanti aku temenin"
"Kayaknya udah lumayan enakan deh abis minum coklat panas dari Bunga"
"Kan aku jampe-jampe Ya coklatnya, hahaha"
Bunga juga tengah berada di pelukan Zidan.
"Ngenes dah ih disini, semuanya pelukan aku yang jomblo bisa apaaaa" itu Indah yang disusul tawa kami semua.
"Tu si Hasan nganggur Ndah, atau ini si Diar"
ucap Kamal menggoda Indah. Kami semua tertawa, Diar juga. Awalnya aku kira Diar orang yang kaku tapi setelah melihatnya disini, dia sangat ramah dan lumayan menyenangkan.
"Desnia, " Panggilan panitia melalui pengeras suara mengagetkanku.
"Desnia, Desnia harap mendekat ke sumber suara"
Aku berdiri dan mendatangi panitia ditemani Indah.
"Ada apa Aryo ngagetin aja ih" Aryo teman sekelas ku yang menjadi salah satu panitia.
"Ya, nyanyi ya ngisi acara biar gak bosen"
"Ih kok gak briefing-an dulu sih"
"Hehe dadakan nih, bisa lah Ya please!!! nanti Kamal yang main gitarnya"
"Oh siap kalau begitu" jawabanku membuat Aryo tertawa.
"Ya udah stand by disini panggil si Kamal"
Indah berjalan ke sana untuk memanggil Kamal, tak lama Kamal datang dan merangkulku.
"Ada apa sih Yang? "
"Tuh si Aryo nyuruh kita ngisi acara"
"Oke deh"
Aku dan Kamal langsung latihan sebentar karena dadakan kita cuman punya waktu latihan sepuluh menit di sana sudah ada yang mengisi acara, yaitu stand up comedy dari seorang siswa yang aku gak kenal.
__ADS_1