
Setelah lewat beberapa waktu akhirnya semua ujian dan kesibukan telah selesai, sekarang kita hanya tinggal menunggu hasil kelulusan yang akan diumumkan besok. Hari ini beberapa temanku memilih berjalan-jalan untuk sekedar menghilangkan ketegangan menanti hasil kelulusan besok. Aku dan Bunga juga berjalan-jalan sambil belanja beberapa barang di sebuah mall, aku dapat uang saku lebih dari ayah katanya untuk refreshing setelah stres menghadapi ujian.
"Eh Nga kalau kasih kado buat cowok apa ya? Bingung" Tanyaku.
"Buat Diar? Dia jadi pergi ke Jerman?"
"Jadi, bulan depan berangkat. Makannya pengen kasih kenang-kenangan buat dia"
"Berapa lama di Jerman?"
"Mau menetap disana, tapi katanya beberapa kali bakal pulang ke Indonesia"
"Sanggup kamu Ya jauh dari Diar?"
"Kalau mau jujur gak sanggup sih Nga, secara aku sama Diar hampir tiap hari bareng-bareng juga banyak banget momen yang udah kita lalui pernah benci, marah, jadi musuh, jadi temen, jadi pacar, sedih, cinta, sayang, ah udah campur aduk deh pokoknya. Tapi aku bisa apa?"
"Bisa nikah kan Ya. Jadi gak perlu LDR, rencana Diar kan begitu?"
"Gak segampang itu Bunga! Semuanya butuh pertimbangan yang matang, lagian apa salahnya LDR sih? Aku yakin kok aku bisa"
"Untung sih kamu dewasa cara berpikirnya, kalau aku jadi kamu milih nikah lah udah buta karena cinta atuh da jadi gak mikirin yang lain-lain hahahaha.."
"Hahaha dasar ah kamu mah, kasih ide atuh Nga beliin barang buat Diar"
"Apa ya? Bingung aku juga, jam tangan? Kan pasti selalu diliat sama Diar selalu dipake juga"
"Boleh juga sih, sama gunting kuku juga ah nyari yang lucu ada kali yaa"
"Kok gunting kuku?"
"Diar tuh sampai sebesar itu yang potongin kuku tetep emaknya, aku juga beberapa kali disuruh buat motongin kukunya. Dia gak berani potong kuku sendiri karena pernah potong kuku terus potongan kukunya masuk ke mata sampai matanya luka. Makannya suka minta tolong orang itupun dia selalu tutup mata haha"
"Dih lebay banget ih"
"Namanya manusia kan beda-beda Nga, moga aja kalau aku beliin dia mau belajar potong kuku sendiri"
"Ya udah ayo kita cari"
Tak terasa waktu berjalan, setelah selesai belanja aku dan Bunga makan bakso di depan Mall yang terkenal enak dan tak pernah sepi pengunjung agak kaget waktu masuk ada yang manggil namaku, dan ternyata itu Diar dan Zidan pacarnya Bunga. Tak lama 4 mangkok bakso sudah tersaji dimeja kami.
"Eh udah dipesenin ternyata" Ucapku sambil tersenyum entah kenapa kurasa hari ini mood ku benar-benar dalam kondisi yang sangat baik.
"Udah dong sayang kan biar gak lama nunggu" jawab Diar sambil menyendok beberapa sendok sambal ke dalam mangkoknya.
"Jangan banyak-banyak Di nanti sakit perut" Ucapku mengingatkan.
"Iya sayang" Diar tersenyum, aku membalasnya dan lanjut makan karena memang sudah lapar.
__ADS_1
"Besok setelah kelulusan ke Lembang yuuk kita ngadem disana" Ajak Diar.
"Berempat aja?" Tanya Bunga.
"Terserah kalian mau banyakan ayok mau berempat ayok"
"Udah lah double date aja kan nanti yang rame-rame mah kita juga ada acaranya" Ucap Zidan yang disetujui oleh kita semua.
"Udah pada PD banget ya kalian bakalan lulus" Ucapku menggoda mereka.
"Wah jadi tegang lagi nih otak" Bunga berkata sambil melotot seolah otaknya memang benar menjadi tegang.
Esok harinya, semua siswa kelas dua belas disekolah ku berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pengumuman hasil kelulusan. Semua wajah begitu tegang termasuk diriku tak terbayang bila aku sampai tidak lulus akan bagaimana masa depanku, aku terus melafalkan segala doa baik di dalam hati semuanya sangat fokus dan tegang hanya beberapa orang yang masih bisa mengobrol dengan santai. Setelah beberapa sambutan tiba saatnya pengumuman kelulusan, karena murid yang cukup banyak akhirnya kita diminta untuk masuk kelas masing-masing saja dan wali kelas yang akan memberikan pengumumannya.
"Udah siap semuaaaa" Ucap Bu Dewi wali kelasku.
"Siaaaaap" Jawab kami serentak.
"Meuni taregang gini atuh ini teh saya juga jadi ikut tegang nih ngasih taunya" Bu Dewi mencoba mencairkan suasana.
"Jadi anak-anak, setelah semua usaha yang kalian lakukan baik itu usaha yang mati-matian atau yang asal-asalan pasti akan terlihat yaa sekarang. Kalau lulus Alhamdulillah berarti perjuangan kalian akan terus lanjut di Universitas nanti tapi kalau memang belum lulus kalian juga tetap harus berjuang untuk ujian tahun depan" Kalimat Bu Dewi membuat kami semakin tegang.
"Dikelas ini 82% dinyatakan lulus dan sisanya....."
Semuanya mulai dilanda ke khawatiran bahkan beberapa anak perempuan ada yang menangis. Bu Dewi memandang ke arah kami, satu persatu wajah kami ditatapnya, aku menunduk sambil terus mengatur nafas rasanya sangat sesak.
"Lulus jugaaaaaaaaa"
"Aaaaaaaaaaaaargh" Semua berteriak bahagia atmosfer ruangan ini begitu menyenangkan sekaligus mengharukan. Kami maju satu persatu mengambil surat kelulusan, tidak lupa menyalami tangan Bu Dewi dan dibalas dengan pelukan oleh Bu Dewi. Bu Dewi guru yang sangat baik dan begitu perhatian pada semua muridnya, beliau adalah salah satu guru favorit di sekolahku. Terimakasih Bu Dewi.
Setelah acara kelulusan aku dan teman-teman sibuk mengabadikan momen termasuk aku dan Diar kita berfoto di manapun tempat yang dianggap bagus. Saat sudah lelah aku ijin pada Diar untuk membeli minum dan pergi ke kantin, saat memilih minuman ada seseorang di sebelahku saat kutengok ternyata itu Kamal dia tersenyum aku membalasnya singkat, kata ibu aku gak boleh jutek!
"Selamat yaa Ya" Ucap Kamal yang membuatku terkejut karena sudah lama aku dan Kamal saling bertegur sapa.
"Makasih, selamat juga ya" Jawabku dan bergegas hendak pergi.
"Nia"
"Iya?"
"Sekali lagi aku minta maaf buat semua kesalahan aku dulu"
"Santai aja Mal aku udah lupa kok, kita juga udah bahagia sama pasangan masing-masing kan? Jadi buat apa ngungkit masa lalu. Yaudah aku duluan yaa, bye" Aku segera meninggalkan kantin dengan pikiran penuh tanya. Ngapain Kamal ngajak ngbrol lagi? Padahal dia kayanya lebih nyaman saat kita gak saling bicara. Apa penyesalan baru datang sekarang? Atau karena udah kelulusan dan sebentar lagi juga akan ada perpisahan makannya dia minta maaf takut gak ketemu lagi deh kayanya, batinku yang tak menemukan satupun jawaban.
"Jadi kan ke Lembang?" Pertanyaan Diar membuyarkan lamunanku.
"Eh, aku mah hayu aja gak tau Bunga sama Zidan belum ketemu"
__ADS_1
"Kamu ngelamun?" Tanya Diar.
"Enggak kok cuman agak capek aja dari tadi kesana kesini terus kan hehe"
"Oh kirain kenapa, kalau ada apa-apa jangan dipendem ya sayang mumpung masih ada wujudnya nih jadi masih bisa dipeluk kalau nanti udah susah cuman bisa denger suaranya aja"
"Cuman tinggal beberapa Minggu lagi ya Di, nanti aku ke mana-mana pasti sendiri gak ada temennya" Ucapku sambil tersenyum padahal hatiku sangat sedih.
"Kan ada Bunga aku bakal titipin kamu ke dia, takut ada yang nyulik kamu kan lagi lucu-lucunya" Diar mencubit pipiku.
"Ih sakit! lagian di titip-titip, emang aku barang" Kataku pura-pura ngambek.
"Aku tuh udah yakin Ya, kalau ini bakal berat banget buat aku ninggalin kamu tapi sialnya benar-benar gak ada pilihan lain"
Aku mengusap pundak Diar berusaha menegarkan hatinya padahal aku sendiri pun sudah pasti rapuh.
"Gapapa Di, emang udah jalannya harus kaya gini ikutin aja arus kehidupan jangan dilawan"
Diar tersenyum dan mencium keningku.
"Aku sayang kamu Desnia"
"Aku juga sayaaaaang banget sama kamu" Ucapku pada Diar yang membuat dia tersenyum menahan tawa.
"Kenapa?"
"Gak biasanya kamu sejujur itu, biasanya gengsi" Aku hanya tertawa, dan bersandar di bahu Diar. Waktu akan terus berjalan aku ingin memberi kesan yang indah disisa pertemuan kita yang tinggal beberapa Minggu lagi.
"Udah pada siap kan?" Tanya Diar dia tadi pamit pulang naik angkutan umum untuk mengambil mobilnya. Dan disinilah kita sekarang di dalam mobil Diar, dan akan menuju Lembang daerah yang banyak tempat wisatanya. Cuaca disana hampir selalu dingin tapi banyak sekali yang ingin kembali ke sana pesonanya begitu sulit untuk dilupakan, menghirup udara segar, melihat hamparan pepohonan hijau, tempat-tempat yang unik, makanan khas daerah dingin salah satunya mie instan spesial pake telur, kornet, sayuran dan tak lupa cabe rawit membayangkannya saja sudah membuatku menelan ludah. Perjalanan ke Lembang lumayan jauh dari sekolahku, dijalan kita berbincang kesana kemari, bernyanyi, tertawa, kami benar-benar menikmati perjalanan ini dan akhirnya kita sampai ditempat tujuan. Turun dari mobil aku langsung menuju pedagang jagung bakar dan memesan jagung bakar, Bunga mengikuti ku dibelakang.
"Ya, janji yaa nanti kalau udah kuliah kita bakal tetep sahabatan kaya gini"
"Iya Bunga.. Emangnya kita mau kemana sih orang masih sama-sama kuliah di Bandung"
"Aku takut kalau punya temen baru nanti aku dilupain" Ucapnya dengan wajah sedih.
"Yang ada aku kali yang terlupakan nanti mah"
"Enggak ih aku janji!"
Cukup lama kita berada disana membicarakan banyak hal yang rame sampai akhirnya aku tau kalau akhirnya Zidan milih kuliah diluar kota yaitu di Surabaya.
"Kenapa gak di Bandung aja?" Tanyaku heran.
"Bosen euy Ya. Pengen suasana baru apalagi kesempatannya juga ada yaa sayang kalau harus dilewatin gitu aja. Masih deket lah Ya, masih di Indonesia gak kaya yang itu" matanya menunjuk Diar yang dibalas dengan jitakan.
"Yaa tuhan berarti kita bakal jadi para pejuang LDR nih Ya" Ucap Bunga yang ku jawab dengan anggukan dan muka sedih.
__ADS_1
"Udah lah kita kan kesini buat have fun kok malah bahas tentang LDR sih" Diar mencoba menghibur kami padahal mungkin dia juga sedang kepikiran. Rencana terakhir kita akan berendam air panas di salah satu tempat di Lembang. Sayangnya baru sekitar 10 menit berendam turun hujan yang cukup deras kita bergegas ke toilet dan mengganti pakaian lalu memutuskan untuk pulang. Diperjalanan kita memutuskan untuk menginap di rumah Zidan yang tak jauh dari sekolah karena yakin asrama pasti kosong karena penghuninya pada memutuskan untuk pulang dan kembali seminggu hari lagi untuk acara perpisahan dan pembagian ijazah. Aku sudah ijin kepada ibu akan menginap dirumah teman bersama Bunga, dan di izinkan. Dirumah Zidan kita tak hentinya tertawa karena ibunya sangat sangat pandai membuat lelucon, aku sampai dibuat keram perut karena kebanyakan tertawa. Hari ini sungguh sangat menyenangkan untukku juga mungkin untuk Bunga, Zidan dan juga Diar. Kami mencoba melupakan kegalauan kami yang akan menjalani hubungan jarak jauh, kami mencoba menikmati segala momen yang ada sampai akhirnya nanti kami harus berpisah.