
Akhirnya aku masuk sekolah lagi, saat pergi ke sekolah tadi aku berpapasan dengan Diar di gerbang sekolah. Diar tersenyum padaku kubalas senyumnya sedikit 'ih kenapa aku senyumin dia sih masa cuman gara-gara dikasih bunga aku tiba-tiba luluh' batinku.
Aku juga bertemu Rian ingin sekali aku memukul mukanya sampai mimisan tapi aku lebih baik menahannya, aku hanya cukup menjauh daro orang jahat sepertinya, dia mendekatiku tapi aku langsung berjalan seolah tak melihatnya.
"Syukur kamu udah sembuh Ya, maaf kemaren aku gak nengokin kamu orangtua ku kemaren dateng jadi aku nemenin mereka" ucap Kamal
"Gapapa kok, makasih udah perhatian banget pas kemaren aku sakit"
"Udah tugas aku atuh Ya, oh iya... " ucapnya menggantung.
"Ada apa? " tanyaku sambil menatapnya, tapi dia mengalihkan pandangan. Kamal kenapa? "Kemarin sebenernya Rania dateng kesini dia ngobrol sama orang tua aku karena mereka emang deket aku juga ikutan ngobrol tapi gak aneh-aneh kok Ya, sumpah! Aku takut kamu denger beritanya dari orang lain dan akhirnya nanti kamu salah paham sama aku"
"Iya gak papa atuh Mal kamu cuman temenan kan sama Rania? masa aku ngelarang kamu temenan sih" jawabku tersenyum. Didalam hati ada sedikit cemburu pada Rania yang ternyata dekat dengan orang tua Kamal, aku bertemu pun belum.
"Tuh kan ngelamun, kamu marah ya? "
"Ngapain marah sih aku percaya kok sama kamu, kamu gak akan mungkin khianatin aku kan Mal? "
"Kamu baik Ya, aku gak akan pernah tega buat nyakitin kamu"
Semoga aja kata-kata kamu bisa dipercaya, aku gak tau bakal sesakit apa kalau sampai kamu khianatin aku.
Hari ini semuanya berjalan seperti biasanya, sorenya aku ada les vokal sama Bunga dan Indah. Menyanyi adalah salah satu hobi ku dari kecil, berkali-kali aku mengikuti lomba menyanyi disekolah walaupun hanya memperoleh juara kedua atau ketiga aku tetap terus mengasah kemampuanku. Saat pergi ke sana ada seseorang yang memanggil Putri dan aku pun ikut menoleh, aku sedikit menelan ludah. Itu Rania yang kemudian berpelukan erat dengan Putri yang ku tau mereka memang berteman dekat.
"Kemaren aku kesini tapi gak sempet ketemu kamu, karena ada orangtuanya Kamal aku ngobrol-ngobrol sampai lupa waktu" ucap Rania, Bunga langsung menoleh ke arahku Putri juga keliatan salah tingkah aku hanya melihat ke arah lain tak tau harus merespon apa.
"Eh sorry Nia, aku gak maksud. Kamu tenang aja ya aku udah gak ada hubungan apa-apa sama Kamal" ucapnya padaku.
"Gak papa Ran santai aja, aku juga gak pernah ngebatasin Kamal buat temenan sama siapapun. Aku percaya kok Ran sama Kamal"
"Kamal juga keliatan sayang banget kok sama Nia jadi gak mungkin kalau dia selingkuh, kecuali kalau ada cewek yang kegatelan sih gak tau yaa. Hahaha" ucapan Bunga membuat mataku membulat dan tak berani memandangnya.
__ADS_1
"Yuk ah Ya, Put kita duluan ya" ajak Bunga dan langsung menarikku. Aku tersenyum pada Rania dan Putri lalu pergi ke tempat les yang berada di gedung sekolah.
"Gila lu Nga!!! Hahaha" Aku tak bisa menahan tawa mengingat kejadian tadi.
"Kesel gue sama dia, kayanya dia sengaja ngomong begitu buat manas-manasin kamu tau"
"Suudzon dosa loh Nga"
"Kamu yang terlalu naif Ya! kamu sayang gak sih sama Kamal? "
"Masih harus ditanya? "
"Makannya jagain dong Niaaaa, jangan sampai dia direbut sama orang"
"Ya udah sih orang Kamal juga udah bilang duluan kok kalau kemarin Rania ketemu orangtuanya"
"Jadi kamu udah tau? "
"Moga aja Rania gak ngelakuin macem-macem sama Kamal. Karena aku yakin Kamal tuh udah sayang banget sama kamu. Aku gak mau ya kalau sampai hubungan sahabat aku jadi ancur gara-gara orang ketiga"
"Udah ah gak usah mikir macem-macem, tapi kenapa Rania sering kesini ya Nga? Bukannya dia udah pindah ke Jakarta? Kalau buat pindah lagi ke sekolah ini kan gak akan bisa" peraturan sekolahku memang kalau sudah keluar dari sekolah ini tidak bisa masuk lagi.
"Aku sih denger waktu di Rumah Sakit katanya dia tuh korban broken home Ya, sekarang katanya dia ikut papanya di Bandung wakti di Jakarta dia kan ikut mamanya"
"Ooooh" aku tak tau lagi harus menanggapi apa.
Akhirnya latihan vokal ku selesai, ruang latihan berada di lantai dua dari jendela aku bisa melihat ke jalanan depan sekolah. Saat aku sedang melamun mata ku menangkap ada Kamal yang sedang berbicara dengan seseorang aku tidak dapat melihat dengan jelas lawan bicaranya karena terhalang pohon mangga di depan sekolah. Dan saat tiba dibawah ternyata Kamal sedang berbicara dengan Rania mereka tertawa bahkan sesekali Rani memukul pelan tangan Kamal, apa salah aku cemburu pada Kamal? Karena Rania pernah memiliki hubungan spesial dengan Kamal, bahkan hubungan itu belum sempat ada kata putus! Walaupun sudah setahun berlalu tapi perasaan tak akan semudah itu pergi. Entahlah aku bingung harus bagaimana. Bunga menyenggol tanganku aku menoleh dan dia memberi kode dengan matanya untuk melihat Kamal. Saat hampir mendekati Kamal, dia menoleh ke arahku kalau pandangan dan pikiranku tak salah Kamal terlihat sangat terkejut melihatku.
"Eh Ya, kamu darimana? "
"Abis les vokal, kan biasanya juga kamu yang nganterin aku Mal. Dari tadi aku tungguin kamu tapi gak ada, jadi aku ke kelas aja sama Bunga" jelasku. Benar kata Bunga aku tak boleh naif Rania memang sedang mencoba merebut kembali perhatian Kamal, terlihat dari pandangannya saat berbicara dengan Kamal.
__ADS_1
"Oh iya kok aku sampai lupa maaf ya, yuk aku anter kamu ke asrama". Sekilas aku melihat wajah Rania yang sangat terlihat jelas sedang tidak menyukai keadaan ini.
"Ya udah Ran aku mau nganterin Nia pulang" pamit Kamal
"Duluan ya Rania" kataku sambil tersenyum yang dibalas Rania dengan terpaksa. Jangan coba-coba kamu Rania!
"Mal, Rania kok kayanya lagi nyoba deketin kamu deh" ucap Bunga
"Masa sih? biasa aja ah kita cuman ngobrolin tentang pengalaman dia hidup di Jakarta"
"Kenapa harus cerita ke kamu Mal? temen dia kan banyak disini. Temen sekelasnya banyak kamu kan beda kelas sama dia walaupun pernah satu hati" aku tak berani bicara apapun biar Bunga saja yang mewakilkan semuanya, beruntung aku punya sahabat yang ceplas ceplos kaya Bunga.
"Ya gak tau Nga. Udah lah gak usah dibahas aku beneran udah gak punya rasa sama Rania Nga, kan udah ada dia" ucapnya sambil mengelus kepalaku. Aku hanya tersenyum, entahlah hatiku tak menentu rasanya.
Dear,
Hari ini lagi dan lagi Rania datang dan mengobrol dengan Kamal, walaupun berkali-kali Kamal bilang dia sayang dan tak akan berpaling aku sangsi bila melihat Rania yang seperti terus berusaha mendekati Kamal. Lama-lama Kamal bisa berubah, aku tak bisa terus diam saja Kamal sudah kudapatkan dengan usaha yang tak main-main masa aku mengalah pada Rania yang hanya masalalu nya?
Hatiku sedang tidak baik-baik saja sekarang. Aku sedang dibakar api cemburu. Setelah berbulan-bulan hubunganku dengan Kamal terasa indah kini harus terganggu dengan adanya Rania dan juga... Diar.
Bandung, 2011
Mengingat momen itu aku tertawa sekarang, teringat jelas gusarnya aku waktu itu melihat kedekatan kembali antara Kamal dan Rania. Tapi itu hanya baru sedikit batu kerikil yang menyerang hubunganku dengan Kamal didepan nanti akan lebih banyak batu kerikil bahkan batu-batu besar yang menyerang hubungan kami.
"Sayaaang.. " Panggil seseorang sambil membuka pintu ruang kerjaku.
"Kenapa sayang? "
"Belum beres kerjaannya? Ini malam minggu loh, jalan-jalan yuk kita berdua aja jangan bawa Embun. Kita nostalgia jaman pacaran dulu haha"
Itu dia suamiku, lima tahun sudah kami menikah dan mempunyai seorang anak bernama Embun Putri Al-faqih.
__ADS_1