
Setelah membaca message di handphone ku, aku langsung bersiap-siap pergi.
"Nga hari ini mau pergi?"
"Mau nonton sama Nia, kenapa?"
Itu isi SMS ku dengan Bunga sahabat baik Nia. Sejak kejadian saat kemping aku mulai lebih intens mendekati Nia karena aku tau Kamal belum bisa lepas dari masa lalunya terlihat ketika kemping kemarin bagaimana Kamal masih sangat perhatian pada Rania bahkan sampai ada momen mereka kepergok berdua saja didalam tenda bersama Rania, walaupun aku tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi diantara Kamal dan Rania tapi aku seperti menemukan celah untuk bisa merebut hati Nia. Jahat memang pikiranku karena akan menghancurkan sebuah hubungan tapi entah kenapa aku yakin kalau Kamal akan kembali pada Rania walaupun tak tau kapan.
Beberapa kali aku bertemu Kamal sedang mengantarkan Rania pulang kerumahnya, tapi aku tak mau mengadukan semua pada Nia karena yakin Kamal akan mengelak kalau hanya mengantar Rania atau alasan lainnya. Aku ingin Nia melihat sendiri kebersamaan Kamal dan Rania.
Sepertinya aku terlambat, Nia dan Bunga sudah masuk studio. Rencananya aku akan tiba-tiba duduk disebelah Nia di bioskop pasti Nia akan marah dan memukulku berkali-kali tapi karena macet aku kehilangan momen itu. Berkali-kali aku meyakinkan diri untuk mundur dan menjauh dari Nia tapi aku tak bisa, aku sudah benar-benar jatuh hati padanya. Walaupun seharusnya aku malu dan mundur karena akulah orang yang membuat Nia mempunyai nilai yang buruk di mata banyak orang, tapi hal itu malah membuatku ingin terus menjaganya karena takut ada lelaki yang sama sepertiku mempunyai niat jahat padanya. Mungkin dulu aku memang punya sedikit niat jahat pada Nia tapi seiring berjalannya waktu aku tak bisa Nia terlalu baik, terlalu lugu, bahkan kadang bodoh.
Karena terlambat nonton bareng Nia aku akan makan saja sambil menunggu Nia dan Bunga selesai menonton. Terbayang respon Nia saat melihatku ada disini, sebenarnya aku tak mau datang hanya untuk mengganggu tapi kalau tak seperti itu Nia sangat sulit untuk didekati. Saat berjalan mencari makanan yang ingin ku beli aku terkejut melihat Kamal dan Rania ada disini juga, aku yakin mereka pasti memiliki hubungan lebih, terlihat dari gestur mereka saat mengobrol.
Kamal. Sebenarnya aku ingin memberi perhitungan padanya karena melanggar janji untuk melindungi dan tak akan menyakiti Nia. Tapi aku tak boleh gegabah bisa saja dia membalikkan fakta bahwa akulah yang sebenarnya ingin membuat hubungan mereka kandas, biarlah Nia saja yang membereskan masalah ini walau aku belum tentu kuat melihat orang yang aku cintai terluka. Entah apa respon Nia nanti. Aku terus membuntuti Kamal sampai mereka duduk di sebuah restaurant aku sampai rela membayar pelayan di sana agar mengulur waktu untuk menghidangkan makanan pesanan Kamal agar Nia bisa melihat bagaimana Kamal yang begitu dicintainya telah berkhianat.
Aku terus melihat ke arah pintu keluar studio setelah beberapa lama akhirnya Nia terlihat dia sedang memandang ke sekeliling seperti mencari seseorang, apa sebenarnya dia sudah melihat Kamal? Matanya terlihat sembab apa dia menangis? apa dia sudah tau? Tapi aku melihat Bunga juga menangis oh mungkin hanya efek film yang mereka tonton saja. Aku mendekatinya dan menarik tangannya, dia coba melepaskan tanganku tapi kesulitan karena aku benar-benar erat memegangnya aku harus cepat sebelum Kamal dan Rania pergi, tapi di tengah perjalanan Nia malah jatuh ketika ku bantu dia berdiri, Nia marah dan ngomel panjang lebar aku sudah tak sabar aku arahkan tubuhnya agar bisa jelas melihat Kamal dan Rania. Dia diam dan berkata
"Gue udah liat mereka tadi" What!! Nia udah liat dan masih sesantai itu? perkiraan ku tentang responnya ternyata salah. Ku kira Nia gadis yang lemah ternyata tidak.
__ADS_1
"Kalian tunggu disini ya aku mau ngobrol dulu sama mereka"
"Gue temenin ya" pintaku.
"Gak usah, gue sendiri aja aman kok"
Dan Nia datang mendatangi Kamal ku lihat Nia sangat santai tak terlihat ada emosi dalam setiap perkataan dan tindakannya, Nia sungguh hebat bisa menahan segala amarah yang bisa saja dia keluarkan seperti saat beberapa kali dia marah kepadaku. Apa sedalam itu rasa yang Nia punya untuk Kamal hingga untuk marah pun Nia tak bisa, ada sedikit rasa cemburu yang bergemuruh di hatiku. Aku meminta waktu pada Bunga untuk mengantarkan Nia pulang, Bunga setuju dia menelpon pacarnya untuk menjemput.
Akhirnya Nia mau ku ajak pulang, tapi sebelum itu dia ku ajak untuk makan sempat beberapa kali aku melontarkan candaan untuk menghiburnya tapi Nia tetap diam. Aku rasa Nia butuh waktu untuk menenangkan diri. Aku mengajaknya ke suatu tempat, salah satu tempat wisata malam yang lumayan ramai karena ini malam Minggu. Dari sana kita bisa melihat bintang dengan jelas semoga saja bisa menghibur hati Nia yang sedang tak baik, tapi ternyata Nia menangis sejadinya aku memeluknya erat, tak akan kubiarkan Nia hancur kupeluk tubuhnya ku elus kepalanya aku tak tau lagi harus melakukan apa, aku hanya diam mungkin hanya pelukan ini yang bisa aku berikan padanya sekarang.
Diperjalanan pulang aku sama sekali tak sanggup bicara apapun melihatnya sangat hancur hatiku sangat sakit, ku genggam tangannya mencoba menguatkan Nia. Sampai di rumah Nia langsung naik kelantai atas yang mungkin kamarnya, ibunya sempat bertanya beberapa hal yang ku jawab apa adanya sesuai dengan kejadian yang aku lihat dan kami alami.
"Iya Bu saya akan berusaha jagain Nia"
Pulang dari rumah Nia, aku berniat memberi pelajaran pada Si brengsek Kamal. Aku lajukan mobil dengan kecepatan penuh, aku benar-benar tak peduli lagi dengan apapun yang terjadi tubuhku panas karena dipenuhi dengan amarah. Teringat lagi tangisan Nia yang memilukan, aku sadar aku juga sering membuatnya menangis tapi itu dulu sebelum rasa yang ku punya sebesar ini padanya. Karena pikiran yang kacau konsentrasi ku terganggu mobil yang ku kendarai tak stabil aku membelokkan mobilku untuk menghindari kecelakaan dengan pengendara lain dan akhirnya menabrak sebuah pohon besar, setelah itu semuanya gelap dan aku terbangun dengan bau obat-obatan yang menyengat dan terdengar suara tangisan dari mama dan juga kakak ku. Aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku apalagi di bagian tanganku yang kulihat berbalut perban.
"Jangan nangis ma, Diar gapapa"
"Gapapa gimana sih Di! Liat badan kamu luka semua tuh"
__ADS_1
Lah! mau nenangin malah dimarahin. Batinku
Disaat seperti ini aku malah mengingat Nia, apa kabar Nia sekarang? Apa hatinya sudah membaik? Atau dia masih sering menangis? Ah! maaf sementara aku gak bisa ada di samping kamu Nia.
Satu Minggu berlalu aku sudah dibolehkan keluar dari Rumah Sakit, sebenarnya aku disarankan untuk istirahat dulu di rumah tapi aku terus memaksa mama mengantarku ke asrama. Akhirnya mama mengalah dan mengantarku ke asrama dengan catatan aku harus banyak istirahat disana. Ketika baru saja sampai gerbang sekolah aku melihat Nia sedang berjalan keluar dari gedung sekolah "Lagi apa dia sepagi ini? Dan kok malah balik ke asrama? apa ada yang ketinggalan? wajahnya kok sedih ya? Apa ada sesuatu?"
Aku buru-buru keluar mobil dan berpamitan pada mama setelah mobil berlalu, Nia menatapku dan tersenyum.
"Kok baru dateng?" tanya Nia.
"Kecelakaan, nih" Jawabku sebisa mungkin, aku tak mau terlihat lemah di depannya.
"Haduh kok bisa sih? kecelakaan dimana? elu sih suka ngebut-ngebut! terus gimana tangannya? pasti sakit ya? Diar, makannya bawa kendaraan biasa aja dong gak usah ngebut-ngebut kan jadi kaya gini" Nia cerewet! Tapi aku suka.
"Berisik lu, dah ah gue mau siap-siap sekolah. Lu ngapain balik lagi? Ada yang ketinggalan?"
Nia diam, terlihat dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Gapapa. Masih sepi gak ada temen mau ajakin Bunga ya udah gue ke asrama dulu, bye" Saat Nia berbalik ternyata ada Rania dan teman-temannya akan pergi ke sekolah. Aku kaget melihat Rania ada disini dan sepertinya akan pergi ke sekolah. Saat kebingungan sedang melanda aku melihat Nia mengedipkan matanya, Apaan sih Ya? Apa dia sedang memberi kode padaku? Reflek aku menganggukkan kepala. Haha, sekarang bahkan aku sudah bisa kontak batin dengan Nia. Ya sudahlah, nanti pulang sekolah akan ku ajak dia makan siang diluar untuk membahas kode-kode yang tadi dia berikan.
__ADS_1
Sebelum itu aku bertemu Kamal tiba-tiba emosi ku muncul kembali, tapi aku mencoba untuk tenang setelah kecelakaan kemarin aku harus belajar untuk tidak gegabah dalam melakukan hal apapun, karena itu akan merugikan diriku sendiri. Akhirnya aku melupakan semua rasa marah ku pada Kamal, sekarang aku akan fokus menyembuhkan luka hati yang Kamal buat pada Nia.