Dianggap Wanita Murahan

Dianggap Wanita Murahan
Kamal, Diar, dan Rian?


__ADS_3

Pagi ini aku ada ujian setelah semalaman belajar aku hanya berharap semua yang kubaca masih tersimpan dimemori otakku yang kadang-kadang memang lemot.


Aku berangkat sekolah bersama Bunga dan beberapa teman yang lain. Cuaca hari ini sangat cerah hatiku juga sedang amat sangat cerah, pasalnya Kamal mulai menunjukan ketertarikannya padaku. Haha aku geli karena merasa menjadi manusia yang yang paling GR. Kemarin sore salah satu adik kelasku datang ke kamarku, dia memberikan secarik kertas yang terlipat.


"Kak Nia, nih ada titipan surat"


"Hah? dari siapa ya?"


Aku menerima suratnya dan kaget saat melihat tulisan tangan yang tak begitu rapih tapi aku hafal betul tulisan tangan siapa itu. Hampir saja aku berteriak kegirangan, kalo tak sadar ada Sari adik kelasku.


"Makasih ya Sari"


"Sama-sama kak. Cieee udah jadian nih ye" Godanya.


Aku hanya tersenyum, kurasa pipiku mulai panas. Sari pun pergi setelah berpamitan. Tak sabar aku membuka surat dari Kamal


Hai Nia aku cuman mau ingetin kalo besok ulangan, jangan lupa belajar ya. Semangat.


Good luck buat besok.


-Kamal Al-Faqih


Aaaaaaaaargh! cuman begitu saja bisa membuatku terbang ke langit ke delapan kalo ada. Aku benar-benar bahagia, akhirnya Kamal mau membuka hatinya setelah bertahun-tahun tak merespon sama sekali. Aku benar-benar menjadi sangat semangat untuk belajar, sampai teman-temanku heran karena aku memang sesantai itu bila sedang ujian.


Saat melewati gerbang ada Kak Rian di sana, karena merasa udah kenal aku menyapanya


"Hai kak, good luck ya buat ujiannya" Kataku basa-basi.


"Eh Nia, makasih ya kamu juga semangat ngisi ulangannya jangan ngantuk". Ucapnya sambil tersenyum. Kita sempet ngobrol beberapa menit karena waktu masuk masih lima belas menitan lagi. Dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku dengan kasar.


"Aw.." Aku meringis karena memang tanganku sakit, kupegang pergelanganku dan melihat manusia macam apa yang menarik tanganku sampai seperti ini. Dan itu Diar!


"Kamu kenapa sih? belum puas udah bikin namaku jelek? mau apalagi? mau nyium didepan umum kaya gini? ayo cepet sekalian aja biar kamu puas". Aku benar-benar emosi aku tak terkendali berkali-kali kupukul lelaki gila itu dengan keras sampai akhirnya aku berhenti dan menangis, aku terduduk sambil menutup muka untungnya Diar menarikku ke lorong yang sepi sehingga aku tak ada yang melihatku.

__ADS_1


"Kamu bisa gak tiap liat aku gak usah emosi. Aku pengen ngomong baik-baik sama kamu Nia"


"Ngomong baik-baik? dengan cara narik tangan aku sampai sakit kaya gini?" cecarku sambil memperlihatkan tanganku yang kemerahan, Diar melihat tanganku dan mengusapnya.


"Maaf, aku gak sengaja. Aku gak mau kamu deket sama Rian"


"Hei.. Apa urusan kamu larang-larang aku buat deket sama orang? ga jelas"


"Kamu gak tau siapa Rian, dia bukan orang baik"


"Terus menurut kamu, kamu orang baik? Ngaca!!". Hilanglah hari cerahku digantikan awan mendung dan petir, itu semua karena Diar laki-laki yang entah kenapa selalu menggangu hidupku yang semula aman tentram.


"Gak usah kecentilan, kamu pikir Rian tertarik sama kamu? Dia tu cuman..." Ucapannya menggantung dan aku menunggu kalimat selanjutnya tapi sepertinya Diar tak berniat meneruskan ucapannya.


"Sumpah ya dari awal kamu dateng ke hidup aku semuanya gak jelas! aku benci banget sama kamu sampai kapanpun aku benci banget sama kamu!" Kalimat terakhir ku ucap dengan penuh penekanan. "Denger ya Diar aku gak pernah mau tau apapun penjelasan kamu, bahkan aku gak pernah mau kenal sama kamu. Jadi please jangan pernah ganggu aku lagi. Aku udah maafin semua kesalahan kamu, aku udah ikhlas, ridho dipandang murahan sama orang aku udah gak peduli! ngerti?". Aku segera pergi meninggalkan Diar yang terdiam dan tak sengaja menabrak seseorang dan dia adalah, Kamal.


Setelah sampai kelas dan duduk dikursiku Kamal mendatangiku.


"Jangan nangis lagi ya, nanti pulang sekolah aku mau ngobrol bisa?". Aku hanya tersenyum dan mengangguk, padahal dalam hati aku ingin melompat-lompat saking bahagianya.


"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Boleh, tanya aja"


"Sebenernya ada apa antara kamu sama


Diar?"


Aku menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi karena aku memang merasa tidak bersalah. Kulihat Kamal mengepal tangannya, rahangnya mengeras dia terlihat marah, jujur ada rasa senang dalam hatiku karena artinya Kamal peduli padaku.


"Aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?" Aku benar-benar berusaha keras mengendalikan degup jantungku yang tak normal.

__ADS_1


"Aku pengen kamu gak usah lagi berhubungan apapun sama Diar, dia bukan orang baik. Aku takut kamu kenapa-kenapa"


Aku senyum dan memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa kamu sekhawatir itu sama aku?"


"Awalnya aku juga bingung sama perasaanku. Aku sempet takut kalau rasa yang aku punya buat kamu itu cuman karena aku tau kalau kamu nyimpen rasa buat aku, berbelit ya? Haha" Haduh, dia yang ketawa aku yang meleleh lama-lama aku pingsan nih Mal!


"Terus?" Tanyaku.


"Kayanya aku suka sama kamu Ya, bukan cuman suka deh sayang juga" Jangan tanya bagaimana responku kalo bisa menghilang aku milih menghilang dulu sebentar buat ngilangin rasa salah tingkahku. Tapi aku harus tetap disini untuk menikmati setiap momen yang akan aku simpan selamanya dalam memoriku.


"Kalau soal itu aku gak usah jawab ya Mal. Kamu pasti tau gimana aku terKamal-Kamal udah bertahun-tahun" Dia tertawa lepas, membuatku semakin sesak nafas. Ini bukan mimpi kan tuhan? setelah banyak drama yang kulewati akhirnya Kamal di depanku, menyatakan perasaannya padaku. Perasaan yang kuharapkan sejak 4 tahun lalu. Terimakasih tuhan.


"Jadi kamu mau kan?" Tanya kamal memandangku sambil masih menyisakan tawa.


"Mau apa? seblak mah mau atuh udah laper kebetulan" Jawabku.


"Yaudah ah gak jadi"


"Dih ambekan kaya bocil deh ah"


"Dah ah mau pulang". Kamal berdiri hendak berjalan. Aku beranikan diri memegang tangannya, "Yang jelas dong, mau apa?"


"Desnia mau kan jadi pacar Kamal Al-faqih?"


"Ngapain nanya sih Mal emang kamu yakin aku bakal bisa nolak?"


"Takutnya kan kamu udah suka sama yang lain gara-gara lama aku anggurin"


"Iya aku mau jadi pacar kamu" Aku tersenyum, "dengan sepenuh hati malah"


Kamal memandangku, menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan rasa sayangnya hanya dari melihat mata Kamal. Terimakasih Tuhan telah hadirkan laki-laki ini dihidupku.


Sampai saat ini saat mengingat kenangan manis itu, hatiku masih merasakan bagaimana bahagianya aku saat itu.

__ADS_1


Ya Tuhan makasih untuk hari ini, aku bener-bener bahagia!! akhirnya aku dan Kamal pacaran setelah sekian lama nunggu sampr jamuran wkwkwk. 25-03-2011🖤🖤 Love you Kamal Al-Faqih.


Haha, aku tertawa setelah membaca diary lamaku, betapa lebay nya aku kala itu Kamal menjadi bagian yang indah waktu itu. Mengenangnya membuat sensasi yang aneh diperutku seperti ada kupu-kupu yang beterbangan disana. Aku beruntung punya kenangan yang begitu manis untuk dikenang, walaupum hidup tidak melulu soal manis. Tapi aku bersyukur atasa apapun yang pernah terjadi di masalaluku.


__ADS_2