
Setiap hari hubunganku dengan Kamal semakin dekat dan seru, Kamal bisa dibilang satu frekuensi denganku. Kita sama-sama suka bercanda, suka musik, suka baca novel, suka nonton film dan masih banyak kesamaan yang membuatku nyaman dan semoga Kamal juga nyaman denganku.
Ini hari Minggu, aku ada rencana joging pagi-pagi sama Bunga dan beberapa teman yang lain. Kamal juga ikut dia juga bawa beberapa teman jadinya kita joging lumayan rame-rame udah kayak demo.
"Mau pada sarapan dimana? " tanya Hasan.
"Nasi uduk yang di ujung jalan sana aja gimana guys? " usulku
"Ya udah yu disitu aja kasian nih istri lagi ngidam". Aku melotot ke arah Kamal yang dibalas dengan cengengesan.
"Awas ah jangan kaya si Diar, udah merasakan malam pertama sebelum jadi manten" Bunga menunjuk aku dan Kamal bergantian.
"Ih, amit-amit dah Nga" jawabku sambil ngegetok-getok kepala, tak tau apa efeknya tapi gerakan itu selalu reflek aku lakukan saat berkata 'amit-amit'.
"Bercanda kali ah, saya bukan Diar. Saya sayang sama Nia, Nga. Gak mungkin saya rusak dia"
"Tapi Diar udah pernah nyoba Mal" ucap Gofar yang membuat Kamal tersinggung dan mendekatinya.
"Maksud kamu apa? "
"Kan kamu juga tau beritanya, yang si Rian bilang Diar udah pernah nyobain si Nia"
"Itu gak kaya apa yang kamu bayangin! jaga omongan kamu"
"Udah lah Mal, malu ini dijalan. Far aku lurusin ya semua yang kamu denger itu gak bener" akhirnya Bunga melerai karena kelihatannya Kamal terpancing emosi. Sedangkan aku hanya bisa diam, entahlah aku seperti kehilangan kata-kata dan aku lebih syok saat Gofar mengatakan tau beritanya dari Rian, apa itu Kak Rian? Atau Rian yang lain. Entahlah, tapi aku harus cari tau nanti kalau ada waktu aku harus ngobrol sama Gofar.
Sarapan pun selesai Kamal terlihat masih badmood dengan kejadian tadi sementara Gofar sudah berkali-kali minta maaf padaku dan pada Kamal.
"Yu ah kita pulang ke asrama udah mulai siang nih panas" ajak Indah
"Saya sama Nia mau disini dulu" sahut Kamal.
Aku yang tadinya mau bersiap pergi kembali duduk dan teman-temanku yang lain akhirnya pulang duluan.
"Maaf tadi aku emosi" kata Kamal tanpa menatapku.
__ADS_1
"Gak papa aku ngerti kok, tapi aku boleh nanya? " akan aku tanyakan pada Kamal saja tentang nama Rian yang tadi sempat disebut Gofar.
"Bayar goceng"
"Hahaha, bayarnya pake cinta aja ya mang"
Kamal tertawa, akhirnya muka badmoodnya hilang. Aku senang.
"Mau nanya apa cantik? "
"Tadi si Gofar bilang kalau Rian yang bilang hal-hal yang gak baik tentang aku. Rian siapa sih Mal? " tanyaku hati-hati, takut merusak lagi mood pacarku.
"Si Rian yang kelas tiga IPS itu loh kakak kelas kita"
"Hah? serius dia yang bilang? Aku sama dia tuh lumayan deket loh Mal. Aku kira dia orang baik ternyata..."
"Kemaren Diar juga sempet jelasin kalo orang yang udah nyebarin berita kamu ciuman itu bukan dia tapi seseorang yang nguping pembicaraan dia sama Sadam, dan aku bilang aja kalo itu Rian. Makannya awal-awal denger aku kecewa sama kamu, gak nyangka kamu kaya gitu tapi lama-lama aku buka pikiran gak mau menilai buruk seseorang hanya karena 'katanya' akhirnya aku tanya-tanya lah ke Bunga gimana yang sebenernya. Dan kamu tau setelah itu ternyata Diar ribut sama Rian, aku takut Rian deketin kamu juga karena punya niat yang buruk Ya jadi kamu harus lebih hati-hati" penjelasan Kamal yang panjang membuat aku terdiam dan mencoba mencerna semuanya. Serendah itu kah aku dimata mereka, ya Tuhan sakit sekali rasanya di pandang rendah oleh manusia rendahan seperti Diar dan Rian. Tak terasa air mataku menetes buru-buru aku menghapusnya karena malu ini ditempat umum, nanti orang-orang nyangkanya Kamal yang ngapa-ngapain aku. Kamal menggenggam tanganku
"Maaf kalau aku terkesan banyak ngatur membatasi kamu buat dekat sama yang lain, tapi itu buat kebaikan kamu Ya. Aku sayang sama kamu aku gak rela kamu dipandang buruk sama siapapun"
"Jangan nangis lagi ya, aku janji bakal selalu jaga kamu"
Setelah pulang dari tempat nasi uduk bersama Kamal aku langsung mandi dan bermalas-malasan di kasur sambil membaca novel yang aku pinjam dari Indah. Mataku membaca tapi fikiranku melayang ke kejadian tadi pagi, aku jadi ingat saat terakhir chat di Facebook dengan si Rian sialan itu.
"Hei Nia, lagi apa nih? "
"Eh kak Rian. Lagi gini aja haha"
"Aku lagi dirumah nih lagi sakit sini dong main kerumah"
"Oh pantesan gak pernah keliatan. Sakit apa kak? Cepet sembuh ya :)"
"Biasa lah demam rindu"
"Cieee, rindu ka Vanes ya hihi"
__ADS_1
"Bukan, rindu kamu. Sini main ke rumah kakak gak ada orang kok"
"Kapan-kapan deh ya kak hehe"
"Ih padahal udah gak tahan nih"
"Hah? gak tahan apa kak? "
"Enggak ah"
Aku mengakhiri kegiatan online ku waktu itu dan menyibukkan diri dengan membaca novel, aku tidak terlalu memikirkan obrolanku dengan Rian waktu itu. Tapi setelah ngobrol dengan Kamal tadi aku jadi kepikiran pasalnya Kamal bilang kalo Rian sempat bilang kalau aku seksi dan menginginkan tubuhku walaupun bekas Diar tapi tak apa katanya, aku marah dan sedih air mata tak kuasa aku tahan akhirnya aku menangis di bahu Kamal sambil diperhatikan beberapa orang di warung nasi uduk tadi.
"Pokoknya aku harus bisa dapetin si Nia, udah dapet nih nama FB nya" itu yang Rian katakan pada temannya yang tak sengaja terdengar oleh Kamal. Kamal juga pernah disuruh untuk menerimaku saja katanya karena Rian tau aku suka Kamal dari dulu "Lumayan atuh Mal, gak suka juga gak papa yang penting bisa nyicipin haha" yang dibalas Kamal dengan tatapan marah "Kalem atuh Mal, canda hungkul".
Bahkan saat tau aku dan Kamal jadian Rian sempat bicara hal yang tak enak pada Kamal
"Alah munafik maneh mah Mal, siga nu heeuh teu hayang akhirna mah digares oge" (Alah munafik kamu mah Mal, kaya yang iya gak mau akhirnya diembat juga).
Untung waktu itu ada Hasan yang menahannya untuk tidak membalas perlakuan Rian.
Aku sungguh syok benar-benar kaget dengan semua yang aku dengar tentang Rian. Aku kira dia baik walaupun ketika terakhir chat aku memang merasa sedikit kurang nyaman tapi aku tak menyangka kalau Rian seburuk itu.
Benar kata Kamal aku harus lebih hati-hati lagi memilih teman apalagi setelah gosip itu beredar. Pikiranku beralih pada Diar, berarti dia tak bohong kalau memang benar bukan dia yang menyebarkan aib itu tapi tetap dia salah karena membuat aku terjebak pada hal gila ini. Apa sebenarnya Diar itu ada penyakit mental ya? atau ada trauma? Yang membuat dia begitu mudahnya dikendalikan oleh nafsu. Aaaaah, aku jadi ngeri dekat dengan laki-laki semoga Kamal benar-benar bisa menjagaku dan tidak akan berbuat yang macam-macam yang dapat merugikan ku juga merugikan dirinya sendiri.
Bunga masuk ke kamar dan mendekatiku,
"Ya, gak nyangka ya kak Rian kaya gitu aku kira dia orang baik tapi ternyata mengerikan, tukang gosip! tukang fitnah juga" Bunga bergidik ngeri.
"Iya Nga aku juga kaget banget denger semuanya, kayanya aku harus blok pertemanan FB sama dia deh ngeri juga sih temenan sama orang kaya begitu"
"Emang harus Ya aku mendukungmu! Udah gak usah deket-deket sama orang kaya begitu ih sieun" *sieun : takut
Dear diary,
Hari ini sebuah kebenaran terungkap, bahwa sebenernya dalang dari berita ciumanku tersebar adalah Rian orang yang aku percaya dia baik. Yang bikin aku syok dia berani nambah-nambahin hal yang sebenernya gak terjadi yang membuat semua orang jadi berpikiran negatif tentang aku. Jahat emang si Rian itu bersyukur aku tau sekarang, sebelum terjebak di keadaan yang gak aku harapkan nantinya karena aku yakin dia pasti punya niat gak baik untuk mendekatiku.
__ADS_1
Bandung, 2011.