
Waktu terus bergulir bulan berganti bulan semuanya tampak cepat berlalu, aku pun terus mengikuti kemana arus kehidupan membawaku dan tiba lah ujian kenaikan kelas. Aku begitu fokus menyiapkan ujian kali ini karena ini penentuan akhir yang sangat menegangkan, penentuan kenaikan kelas ke kelas tiga SMA aku ingin sekali masuk universitas negeri impianku dan akan sangat sulit karena banyak juga murid yang ingin masuk universitas itu.
Sampailah pengumuman hasil ujian pun keluar kami semua sangat fokus melihat nama-nama yang tercatat di Mading sekolah. Bunga berkata kalau dia akan pindah jurusan ke kelas IPS mengejutkan memang tapi itu adalah pilihannya. Dan lebih terkejut karena nama Diar ada di satu jurusan denganku, karena dia kan pilih jurusan IPS. Ada sedikit rasa senang di hatiku walaupun aku berusaha menepisnya juga ada nama Kamal dan Rania. Karena taun ajaran baru kelas pasti dibagi lagi, aku berharap tidak satu kelas dengan Kamal ataupun Rania kalau Diar aku pengen sih, hehe.
Liburan kenaikan kelas kali ini aku lebih sering tidak berada di rumah. Bunga dan beberapa teman datang berkunjung kita juga beberapa kali pergi berlibur ke beberapa wisata di Bandung. Selebihnya aku memilih menekuni hobby ku rebahan sambil baca novel, hehe.
Soal Diar, aku sering bertemu dengannya kadang dia ke rumahku atau aku kerumahnya. Iya, beberapa kali aku pergi ke rumah Diar yang disambut sangat hangat oleh mama dan kakaknya.
"Di, udah resmi belom?" Tanya mama Diar yang membuatku menatap Diar dengan tatapan tajam.
"Belum nih ma bantuin dong ma" ucap Diar malah membuatku salah tingkah.
"Aduh Di, masa urusan begini mama juga yang harus urusin hahaha, gentle dong"
"Takut ditolak ah ma"
"Belum nyoba udah takut, payah" Itu aku yang ngomong karena gemas mendengar obrolan ibu dan anak ini seolah aku gak ada di antara mereka.
"Tuh kan Di, let's go" ucap mamanya sambil nyengir, cantik banget sih ma pantesan anaknya kaya begini, haha.
Dan Diar malah jadi pendiam dan salah tingkah gitu deh, lucu pokonya. Aku juga sama jadi salah tingkah dan gak tau harus apa. Diar menggenggam tangan dan mengacak-acak rambutku.
"Duuuh apaan sih Di!"
"Ya.."
"Apa Diaaaar?"
__ADS_1
"Aku boleh cium kamu...lagi"
Permintaan yang membuatku terkejut ku tatap matanya, tak ada lagi tatapan menakutkan yang aku lihat dulu saat pertama kali Diar mencium ku, aku tak tau harus berkata apa tapi saat dengan perlahan dan sangat lembut bibirnya menyentuh bibirku aku reflek menutup mata. Dan begitulah akhirnya, egoku kalah dengan semua perjuangan dan ketulusan yang Diar beri. Dari hari itu aku dan Diar resmi berpacaran, tapi aku memintanya untuk tak membicarakan hal ini pada siapapun biarkan teman-teman tau karena melihat kebersamaan kita bukan karena kita yang berkoar-koar tentang hubungan ini, dan Diar pun setuju.
"Mungkin kamu masih trauma ya sama Kamal?
"Enggak lah Di, masa begitu doang trauma ya pengen hubungan ini yang nikmatin cuman kita berdua aja dan gak jadi konsumsi banyak orang gak jadi omongan banyak orang, gapapa kan?"
"Gapapa sayang.." Setelah mengucap kata sayang Diar memalingkan muka dan kulihat ada senyum di bibirnya, kok gemes sih Di!
Setelah hari itu aku dan Diar lebih sering bertemu mamanya sudah tau tentang hubungan kita begitu pun dengan ibu, ibu senang karena mungkin Diar baik dan bisa menjagaku. Diar juga sangat dekat dengan ayah dan adik lelakiku, aku tak pernah menyangka malah memiliki hubungan dengan orang yang sangat ku benci yang pernah menghancurkan hidupku sehancur-hancurnya. Pernah beberapa kali Diar meneteskan air mata dan berkali-kali meminta maaf karena kesalahannya dulu, bahkan aku juga jadi ikut mellow dan nangis bareng Diar. Menggelikan.
Tak ku sangka Diar yang kukira kaku, menyebalkan, dan hal-hal negatif lainnya ternyata orang yang sangat humoris jiwa sosialnya pun tinggi. Aku pernah ikut dengan teman-temannya konvoi sambil membagi-bagikan makanan pada orang kurang mampu, juga mengunjungi beberapa rumah yatim piatu.
"Di kenapa sih kebanyakan temennya diluar sekolah? yang disekolah cuman Sadam doang deh kayanya yang deket sama kamu"
"Haha gak tau juga mungkin image aku disekolah udah jelek kali Ya, aku kan terkenal playboy, tukang rusak cewek, dan yang lain-lain lah pokonya, nah kalau diluar sekolah kebanyakan yang real kenal aku bukan dari katanya dan mungkin mereka nyaman berteman sama aku, kaya kamu gini kalo kenalnya disekolah doang kan kamu mana mau deket sama aku, iya kan?"
"Udah dong sayang, mau nangis bareng lagi nih?"
"Hahahaha... Tapi jujur ya Di, kamu masih playboy gak sih? masih suka rusak cewek gak sih?"
"Nia, padahal kita tiap hari bareng terus loh kok masih nanya? Apa harus 24 jam bareng terus? Kalau iya aku telepon ayah kamu nih mau minta ijin nikahin anaknya"
"What!!! Gak gitu juga Bambang kita masih anak sekolah dua SMA belum cukup waktu tuk begitu begini..." Itu aku nyanyi. Dan Diar tertawa sampai semua orang ngeliatin dia karena posisi kita lagi dipinggir jalan raya, haha.
"Tapi aku nanya serius loh tadi Di" Ucapku lagi setelah kita sampai di rumahku.
__ADS_1
"Enggak Ya aku playboy pensiun sekarang mah"
"Dih haha"
"Makasih ya sayang udah bikin aku bisa berubah jadi lebih baik"
"Padahal aku gak ngapa-ngapain loh Di?"
"Kamu tuh ngapa-ngapain tanpa kamu sadar Nia!" Setelah ngomong gitu Diar dan aku saling tatap dan tertawa bersama, makasih Di kamu asyik!
Tak terasa liburan sudah berakhir besok aku harus kembali lagi ke asrama dan menyibukkan diri lagi dengan tugas-tugas sekolah, liburan kali ini aku rasa yang paling menyenangkan mungkin karena ada Diar yang menurutku satu frekuensi denganku kita punya beberapa makanan favorit, lagu favorit, band favorit, dan hobby yang sama. Sebenarnya ada juga kekhawatiran akan gagal lagi, akan patah hati lagi tapi bila terus mengingat hal yang menyakitkan itu artinya aku belum move on dong, oh tentu aku tidak mau ada di posisi itu.
Hari ini aku pergi ke asrama bersama Diar karena ayah ada tugas diluar kota dan mamanya Diar meminta ijin pada ibuku untuk boleh mengantarkan ku ke asrama.
"Di, rencananya Minggu depan papa pulang ke Indonesia" ucap mamanya Diar.
"Gak peduli aku ma"
"Jangan gitu dong Di dia kan tetap papa kamu, kamu harus sayang sama dia"
"Setelah apa yang dia lakukan ke mama yang tanpa perasaan aku disuruh sayang sama dia ma? Haha mama lucu deh"
"Ya udah deh mama gak maksa kamu udah gede sekarang, udah bisa menentukan sikap apa yang akan kamu ambil"
Setelah itu semua hening, aku tak mau ikut campur pada masalah keluarga Diar, aku rasa bukan ranahku mencampuri urusannya walaupun aku memang pacarnya. Sampai di asrama ternyata mobil Diar persis disebelah mobil Kamal, saat keluar dari mobil aku mencoba tersenyum pada Kamal sekilas. Kamal seperti terkejut saat melihat Diar juga ada bersamaku, Diar tersenyum pada Kamal dan mulai membawa barang-barang kami yang ada di mobil.
"Yuk, aku bawain dulu barang kamu deh berat nih kasian nanti kurus" Ucap Diar
__ADS_1
"Lebay lu! Udah gapapa kamu ke asrama aja aku bisa sendiri lagian cuman satu koper bukan satu kecamatan"
"Enggak ah yuk aku anterin aja" Akhirnya aku mengalah dan Diar mengantarkan ku ke asrama di ikuti tatapan dari Kamal, kenapa sih Mal?