Dianggap Wanita Murahan

Dianggap Wanita Murahan
Sekelas dengan Diar dan Rania


__ADS_3

Pembagian kelas akhirnya di umumkan aku bersama Bunga berlari ke Mading untuk melihat pengumumannya, aku dan Bunga sudah pasti akan pisah kelas karena dia memilih jurusan IPS tapi kami berjanji akan terus menjadi sahabat karena memang masih satu kamar jadi pasti tetap masih bertemu setiap hari.


Setelah melihat aku ada di daftar aku mencari nama pacarku Diar dan ternyata kami sekelas, dan juga satu nama lagi Rania dia sekelas denganku dan Diar. Memang sudah berlalu lama tapi bila melihat Rania aku masih bisa mengingat semua yang dia lakukan pada hubunganku dengan Kamal walaupun pada akhirnya aku sangat berterimakasih karena putus dari Kamal membuatku bisa menjalani hubungan dengan lelaki yang lebih tepat.


"Kamu sekelas sama Diar? cieeeee"


"Namanya juga jodoh" Hanya Bunga yang tau hubunganku dengan Diar.


Terdengar suara yang begitu ku kenal tepat di belakangku.


"Yaaaah kita gak sekelas" Suara Rania yang berbincang dengan seseorang dan sudah ketebak kalau itu adalah Kamal.


"Gapapa dong kan sebelahan masih bisa ketemu tiap hari"


Rasa sakit ku sudah berlalu mendengar kemesraan mereka tapi tetap saja ada rasa yang tidak enak di dadaku saat melihat mereka berdua apalagi sangat dekat denganku. Untungnya mereka tak menyadari aku ada disitu dan langsung berlalu.


"Udah lah Ya jangan di inget lagi Diar jauh lebih baik dari Kamal"


"Siapa juga yang inget lagi aku udah biasa aja kok Nga"


"Tapi agak jijik gitu kali ya?"


"Hahahaha"


Aku mencari Diar tapi belum ketemu mau nanya ke teman-temannya masih malu juga jadi cuman bisa mondar mandir sendirian karena Bunga lagi sama Zidan dan teman-temannya yang lain karena ada Kamal aku jadi malas untuk ikut. Diar kemana sih?


"Nyari siapa Bu?"


"Ibu ibu ! Anak gue juga bukan!"


"Hahaha nyariin siapa sih?"


"Nyari pawang ujan! ya nyari kamu lah"


"Hahaha udah dong jangan ngambek, tadi ada mama kesini bawain ini katanya buat kamu" Diar menyodorkan satu kantong kresek yang terlihat isinya beberapa Snack dan beberapa batang coklat.


"Jahat loh mama sama anak sendiri gak inget malah beliin anak orang" Ucap Diar pura-pura kesal.


"Oh jadi aku anak orang yaa, kaya gak penting gitu ya bahasanya"


"Kenapa sih sayang kamu PMS ya? sensi bener"


"Haha enggak ih bercanda Di, capek aku dari tadi nyari kamu"


"Ada apa emang?"

__ADS_1


"Kita satu kelas Di"


"Terus?"


"Ya ampun Di! Tau ah!" Aku beneran kesel dan Diar hanya ketawa-ketawa sambil berjalan di belakangku.


Besoknya aku pergi sekolah bareng Bunga dan berpisah saat tiba di gedung sekolah. Jarak kelas Bunga lumayan jauh dengan kelasku, aku berjalan sendiri sampai ada yang mengekor di belakangku dari wangi parfumnya aku sudah tau siapa dia tapi aku pura-pura gak tau karena masih mode ngambek.


"Cieee yang masih ngambek"


"Ngambek malah di cie cie in, sakit emang lu!"


"Hahaha udah dong sayang aku minta maaf yaa, please.." Diar berjalan melewati ku dan berdiri di depanku sambil merapatkan kedua tangan didepan khas orang meminta maaf.


"Jalan liat ke depan Di! nabrak tau rasa lu!"


"Ya udah kalau gak di maafin aku bakal..." Ucapannya tergantung.


"Bakal apa?" Dia membisikkan sesuatu di telingaku, dan membuat aku melotot juga pipiku yang terasa panas.


"Diaaaaaaaaar" Teriakku, dan Diar berlari seperti anak kecil meninggalkanku yang menahan malu karena diliatin banyak orang, awas lu Diar!


Ternyata disana ada Kamal, Rania dan beberapa temannya tak jelas memang tapi aku dapat mendengar kalau Rania berkata "Lebay" pada saat aku berteriak pada Diar. Mulai sekarang aku akan mencoba bodo amat pada Rania karena dia selalu seperti sengaja mengomporiku agar meledak, jangan harap aku terpancing Rania.


Tiba dikelas aku cari keberadaan Diar, karena bisikkan nya sampai sekarang pipiku masih terasa panas.


"Nia duduk sama aku sini" Ajak Indah, dia juga salah satu teman sekamarku. Aku pun duduk bersama Indah dan tetap menatap keliling mencari Diar, dan aku menemukannya di kursi paling belakang lagi ngumpet dibawah meja, ngapain sih dia? heran deh. Tadinya aku ingin sekali mendekati Diar dan ngomel panjang lebar tapi ku urungkan niatku mengingat aku sudah berkomitmen untuk tidak mengumbar hubunganku dengan Diar dan juga karena tadi dibilang lebay oleh Rania harga diriku jadi tersentil. Rania datang dan duduk tepat di depanku aku duduk di baris ketiga di ujung kiri dekat dengan jendela.


"Ih pas liburan Kamal tuh ngajakin aku ke tempat yang romantis gitu tau aaaah pokonya gemes banget"


Aku tak tau kenapa dia harus membicarakan hal seperti itu dengan suara seperti memberi pengumuman padahal dia kan sama temen ngobrolnya cuman berjarak kurang dari semeter, apa dia sengaja mau membuat aku panas dan cemburu? Sungguh dia pasti kecewa karena itu tak akan berhasil. Semua isi kelas mencuri tatap ke arahku mereka semua tau tentang hubunganku dengan Kamal juga tentang Rania. Aku cuek saja dan mengobrol dengan Indah yang sesekali melirik Rania, kalau aku sampai pindah tempat duduk disangkanya aku cemburu kalau gak pindah bisa-bisa aku pergi ke dokter THT karena mendengar suara Rania yang keras dengan segala penekanan, bingung.


Guru pelajaran pertama masuk dan semua murid fokus untuk belajar kecuali Diar yang malah terus memandangku sambil mengedipkan mata, posisi duduknya paling belakang di ujung kanan jadi bila menengok Diar akan terlihat jelas. Jadi yang curi pandang itu aku atau Diar ya sebenarnya, haha.


Kelas hari ini akhirnya selesai, ketika membereskan barang untuk pulang kulihat Kamal masuk kelas dan mendatangi meja Rania.


"Ih Kamal pake acara ngejemput aku segala, udah kangen ya?" Ucap Rania centil.


"Tau aja kamu" Jawab Kamal. Ada apa sih sama kedua makhluk ini, jijik banget aku.


Tiba-tiba Diar mendekat dan merangkulku


"Yuk pulang"


"Apaan sih lu sok asyik!"

__ADS_1


"Hahaha sensi nya kagak ilang-ilang"


Aku menahan senyum dan berlalu bersama Diar diikuti pandangan Kamal Rania dan teman-teman sekelas ku yang lain.


"Ya, kayanya orang-orang harus tau deh tentang hubungan kita"


"Kenapa emang?"


"Biar mereka gak ngira kamu belum move on dari Kamal"


"Kamu cemburu?"


"Ya lu pikir lah sendiri!"


"Dih malah ngegas hahaha"


"Lagian pake nanya"


"Tapi gak mungkin juga kita bikin pengumuman kan Di?"


"Emang gak harus gitu sayang"


"Terus gimana dong? Ya udah kaya gini aja Di tunjukin dengan hubungan kita yang deket aja gak perlu ngomong pun nanti orang-orang pada tau"


"Ya udah kaya gitu aja berarti kalau aku mau cium kamu juga boleh dong ya? buat negasin hubungan kita ke orang-orang" Dia mengucapkan itu sambil berlari kabur. Diar sukses membuat pipiku merah seperti kepiting rebus.


"Gimana hari pertama sekolahnya Ya?" Tanya Bunga saat kami sudah sama-sama berada di kamar.


"Biasa aja sih Nga, aku duduk sama Indah sekarang ya kan Ndah?"


"Betuuul. Dan di depan kita ada nenek lampir yang berisik mulu hahaha"


"Siapa?" Tanya Bunga penasaran.


"Ih jahat si Indah mah ke temen kaya begitu hahaha tapi emang bener sih"


"Ngomongin siapa sih kalian?"


"Tebak?" ucap Indah. Bunga mengerutkan dahi seperti sedang berpikir keras, lalu dia tertawa.


"Si masa lalu yang belum usai?"


Aku dan Indah tertawa keras mendengarnya.


Dear diary,

__ADS_1


Semakin lama aku jadi semakin beruntung berpisah dengan Kamal, dan sumpah deh rasa yang aku punya bertahun tahun lamanya sekarang hilang begitu saja. Apalagi semenjak ada Diar aku bahkan lupa pernah berhubungan dengan Kamal. Makasih Diar.


Bandung, 2012


__ADS_2