
Setelah check sound aku dan Kamal mulai tampil dengan lagu dari D'cinnamons - Selamanya Cinta.
'Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku, hingga membuat kau percaya Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku, selamanya... Selamanya'
Selesai tampil aku kembali duduk bersama dengan kelompokku. Kamal ijin dulu untuk pergi ke toilet.
"Keren Niaaaa!!!" Ucap Bunga dan yang lainnya mengacungkan jempol.
"Hehe makasih".Aku duduk ditempat yang kosong pas nengok ternyata Diar disebelah ku, mau pindah juga gak enak akhirnya aku mencoba untuk biasa aja.
"Suara kamu bagus" Diar berbicara tanpa menengok ke arahku.
"Makasih" jawabku.
Sampai akhir acara Kamal belum kembali, saking menikmati acara aku sampai tak ingat bahwa Kamal belum kembali dari terakhir dia ijin untuk ke toilet. Setelah acara ditutup masing-masing kembali ke tenda aku masih mencari keberadaan Kamal, dia kemana sih?
Aku sempat bertanya pada beberapa teman, tapi tak ada yang melihat Kamal dimana.
"Bunga, Kamal kemana ya? Kok gak ada dimana-mana. Aku jadi khawatir deh"
"Kan tadi bareng kamu"
"Pas beres tampil dia ijin ke toilet tapi gak balik lagi, aduh kemana ya"
Aku berlari kesana-kemari mencari Kamal, tapi tak ada satupun yang tau Kamal dimana.
"Aryo, Kamal kemana ya? Coba bikin pengumuman siapa tau ada yang lihat dia"
"Lah emang pergi kemana? biasanya nempel terus sama kamu"
"Udah deh jangan banyak ngomong cepet bikin pengumuman!! " Aku benar-benar panik takut sesuatu terjadi pada Kamal. Ketika pengumuman selesai aku kaget karena Kamal keluar dari sebuah tenda.
"Kamaaaal! "
Aku berlari dan memeluknya, tapi apa yang terjadi setelah itu membuat aku melepaskan pelukanku, dari sana dari tenda yang sama keluar seorang perempuan yang sangat aku benci, Rania.
"Kamal! Kamu ngapain di dalem sama Rania?! " Aku benar-benar kaget sampai berbicara setengah berteriak. Semua orang berkumpul di sana menanti penjelasan dari dua manusia itu, Bunga berdiri di sebelahku.
"Astaga Ya! Ini gak sejelek yang kamu pikirin, tadi asma Rania kambuh terus pingsan aku bantu bawa dia ke tenda itu aja Nia"
"Lebay banget jadi cewek, pake teriak-teriak dikira kita lagi zinah apa" itu Rania yang ngomong dan membuat semua temanku kesal.
__ADS_1
"Heh cewek gatel! Siapa yang gak jadi negatif thinking kalian berdua di dalem tenda malem-malem gini disaat semua orang lagi sibuk bikin acara" ucap Indah
Aku benar-benar tak tau harus percaya pada Kamal atau tidak, aku pergi dari kerumunan entah akan kemana aku hanya ingin menjauh sebentar dari kedua orang itu. Kudengar Kamal memanggilku tapi aku terus menjauh dari sana. Aku duduk di dekat tenda kelompokku, sepertinya orang-orang sedang menginterogasi Kamal dan Rania setelah kupikir betul juga ucapan Indah, sepasang perempuan dan lelaki dalam satu tempat dan keadaan sedang sepi. Sudah tak ada lagi ruang di otakku untuk percaya pada Kamal, aku menangis sendirian hingga aku merasa ada yang duduk di sampingku aku kenal wangi parfumnya karena beberapa kali berinteraksi dengannya. Aku menoleh padanya, Diar menatap tanah di depannya.
"Ngapain kamu kesini? " tanyaku
"Perasan ini tempat umum deh"
Iya juga sih, batinku. Hatiku sedang tidak baik-baik saja aku tak mau menambah beban dengan berdebat bersama orang menyebalkan ini.
"Terusin aja nangisnya biar lega"
Awalnya malu tapi akhirnya tangisku pecah Diar tetap di sana sampai aku lelah menangis dan mengantuk.
"Aku masuk ke dalem ya ngantuk"
"Iya sana aku jagain disini, aku janji bakal jagain kamu. Karena gara-gara aku kamu dicap jelek sama banyak laki-laki"
"Baguslah kalau sadar! "
Aku masuk tanpa melihat respon Diar.
Ketika bangun di tenda sudah ada Bunga, dan Indah. Kulihat jam tangan menunjukan pukul 06.00 pagi, aku melihat keluar dan kaget melihat Kamal sudah ada di sana sedang duduk membelakangi ku. Aku belum mau bicara dengannya, aku putuskan kembali meringkuk di tenda. Tak berapa lama Bunga dan Indah bangun mereka langsung memelukku.
Aku hanya tersenyum, dan kembali memeluk mereka para sahabat terbaikku.
"Jadi semalem akhirnya gimana? " tanyaku pada mereka.
"Kamal tetep kekeuh kalau mereka emang gak ngapa-ngapain, tapi orang-orang sulit percaya"
"Tapi akhirnya ya udah Rania disuruh pulang karena emang dia harusnya gak disini"
"Hah dia pulang sendiri? " tanyaku kaget karena waktu sudah malam dan Rania kan abis kena asma, kalau memang benar itu yang terjadi.
"Enggak, dijemput temennya katanya mah gak tau juga gak ngurusin"
Tiba-tiba terdengar keributan didepan tenda, aku keluar karena penasaran dan terkejut melihat Kamal yang terhuyung dan Diar yang sedang ditahan beberapa orang teman.
"Apa bedanya elu sama gue Mal? " ucap Diar sambil tersenyum merendahkan. "Gue udah bilang sama lu buat jangan sakitin Nia, gue tau gue brengsek udah pernah bikin Nia jadi omongan semua orang, tapi gue udah bilang sama elu gue mau tanggung jawab atas semua yang udah gue lakuin. Dan elu dateng minta gue buat jangan ganggu Nia, oke gue ngalah gue jauhin Nia karena gue kira elu bakal bisa jagain dia. Tapi apa yang lu lakuin?"
Kamal berdiri dan membalas pukulan Diar tepat dimuka nya, semua yang ada disitu berteriak termasuk aku dan mencoba melerai.
__ADS_1
"Maksud lu apa? Gue emang jagain Nia gue udah bilang gue gak macem-macem sama Rania! "
Kamal menatapku dan berjalan mendekatiku "Nia, kamu percaya kan sama aku? Aku gak mungkin macem-macem sama Rania"
"Gak tau Mal, aku bingung"
Semua bubar ketika ada pengumuman dari Aryo untuk berkumpul di lapangan. Kamal menarik tanganku yang langsung kulepaskan.
"Maaf Mal aku butuh waktu sendiri dulu" lalu pergi meninggalkan Kamal.
Acara hari ini sebenarnya seru kalau suasana hatiku sedang baik, tapi semuanya terasa hambar beberapa kali Kamal mencoba mendekatiku tapi aku menghindar. Aku benar-benar sedang tak ingin melihatnya padahal bisa saja apa yang diucapkannya benar, tapi entahlah aku belum bisa percaya semua yang dia ucapkan.
Telepon genggam yang ku bawa berdering menampilkan nama Ayah di layarnya. Ya Tuha n aku sampai lupa mengabari ayah segera aku tekan tombol berwarna hijau
"Assalamualaikum Yah, maaf teteh disini banyak acara sampai lupa ngabarin hehe"
"Iya gapapa yang penting teteh sehat kan? "
"Iya ayah teteh sehat kok"
"Teh mau dijemput atau bareng sama Kamal lagi? Takutnya ngerepotin Kamal terus gak enak" aku memang selalu diajarkan untuk tidak merepotkan orang lain. Ada baiknya aku dijemput ayah untuk bisa menjauh dulu dari Kamal.
"Gimana teh mau dijemput gak? "
"Boleh deh yah sekalian jalan-jalan kan udah lama kita gak jalan-jalan bareng, bawa ibu sama Rangga sekalian yah kita makan seafood yah teteh pengen banget nih"
"Ide bagus teh, besok siang kan pulangnya? "
"iya yah, yaudah ya yah aku masih ada acara nih, Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Acara ditutup dengan menyanyikan lagu peterpan 'mungkin nanti' . Sedih rasanya karena taun depan terakhir kita sekolah beberapa teman ada yang menangis aku memeluk Bunga dan Indah sambil sesekali menyeka air mata. Kamal tak tau berada dimana, aku tak peduli. Aku hanya ingin melewati waktu sekarang dengan para sahabatku dan ingin melupakan Kamal untuk sementara waktu, bagaimana tentang hubunganku nanti aku tak ingin memikirkannya sekarang.
Malam ini akan jadi puncak acara yaitu pergantian tahun, tadinya aku telah berkhayal untuk melewati pergantian tahun dengan Kamal ternyata aku malah bertengkar dengannya. Kamal mungkin lelah terus memaksaku hingga akhirnya dia mengalah dan menjauh dariku.
Tepat pukul 00.00 terompet bersahutan suasana ramai sekali aku tertawa riang bersama teman-temanku. Kamal juga di sana bersama teman-temannya sekilas aku melihat ke arahnya dia sedang menatapku, dan berjalan ke arahku. Dia tiba-tiba memelukku tanpa bisa aku hindari aku biarkan dia memelukku, dia menangis aku tak tau kenapa dia menangis apa rasa bersalah atau apa aku pun tak tau.
"Nia please percaya sama aku, aku bener-bener gak ngapa-ngapain sama Rania aku sayang sama kamu Nia! aku gak mungkin khianatin kamu"
"Oke, untuk kali ini aku percaya sama kamu. Walaupun kejadian kemarin sangat sulit untuk aku bisa percaya sama kamu. Semoga kamu beneran jujur"
__ADS_1
"Makasih sayang, makasih" dia berkata sambil berkaca-kaca. Dia memelukku lagi dan kulihat di depan sana ada Diar sedang menatapku tanpa ekspresi.
Kita melewati tahun baru dengan lembaran baru yang semoga bisa lebih baik.