
Aku terbangun dengan luka yang masih sangat dalam, pagi sekali ibu datang ke kamarku dan mencoba menguatkan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami patah hati. Sepertinya Diar menceritakan segalanya kemarin malam karena ibu pasti akan sangat khawatir melihat putri kesayangannya pulang dengan mata bengkak khas orang habis menangis.
Hari ini aku akan kembali ke asrama tak sanggup rasanya harus kembali ke sekolah dan bertemu lagi dengan Kamal. Dari bawah ibu memanggilku katanya ada temanku datang, aku pergi kebawah dengan langkah gontai ternyata ada Bunga, Zidan, dan... Kamal.
Aku berusaha terlihat seperti baru bangun tidur supaya sembab di mataku seperti orang bangun tidur bukan seperti orang yang banyak menangis.
"Eh kok belum pada siap-siap balik ke asrama? Aku juga malah baru bangun tidur nih haha" Aku berusaha bersikap ceria walaupun yang terlihat aku malah seperti orang aneh.
"Ya, ada waktu? Aku mau ngobrol sebentar" Kamal berkata sambil menunduk seolah tak ada keberanian untuk menatap langsung ke arahku.
"Ngobrol apa Mal? Disini aja ngobrolnya kan waktunya udah mepet kita kan mau balik ke asrama kenapa gak nanti aja di sekolah? "
"Lagian udah gak ada lagi yang harus diobrolin kan udah jelas semua kemarin, iya kan?"
Bunga dan Zidan hanya terdiam tak ada yang bicara, Kamal mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke arahku.
"Sekali lagi aku mau minta maaf sama kamu Ya, aku tau semua ini pasti nyakitin banget buat kamu. Maafin aku yang malah khianatin kamu padahal kamu baik banget sama aku. Tapi selama ini aku gak bohong pas aku bilang sayang sama kamu itu aku bener-bener sayang sama kamu Ya!"
"Makasih Mal udah peduli sama perasaan aku, mau kamu bohong atau jujur selama ini aku udah gak peduli Mal itu kan hak kamu. Aku cuman kecewa kenapa kamu harus bohong soal Rania padahal kalau kamu jujur mungkin aku bisa lebih better Mal... Mungkin gak bakal sesakit ini" Aku menelan ludah saat mengatakan kalimat terakhir.
"Maafin aku Nia"
Setelah kejadian kemarin aku mencoba bersikap biasa pada Kamal saat di sekolah aku masih ngobrol dengannya tentu saja Kamal yang memulai obrolan dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Apa benar dia memikirkan perasaanku? Bahkan sesekali dia tak sengaja memanggilku dengan sebutan sayang yang sontak membuat keributan di kelasku biasanya teman-temanku akan berteriak "balikan..balikan" dan setelah itu aku pasti akan pergi dari kelas.
Satu Minggu sudah berlalu setelah putusnya aku dengan Kamal, banyak yang menyayangkan hubungan kami yang kandas karena orang ketiga tapi sepertinya Kamal biasa-biasa saja menanggapinya. Sampai pagi ini aku sangat terkejut melihat Rania yang kembali bersekolah disini, kabarnya ayah Rania mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk kembali memasukkan Rania ke sekolah ini karena harusnya Rania tidak bisa kembali masuk setelah mengundurkan diri.
Dan saat yang tak mau aku lihat pun terjadi, ketika Rania dan Kamal ngobrol berdua sebagai sepasang kekasih banyak temanku yang menguatkanku tapi aku benar-benar tak mau dianggap perempuan yang lemah apalagi hanya urusan cinta aku berusaha sekuat tenaga bersikap biasa saja kadang Kamal seperti memberi isyarat pada Rania kalau aku tak sengaja melihat mereka sedang berdua. Hah! Apaan sih Mal? orang gue biasa aja sok iyeh lu! Batinku.
Tapi ada beberapa momen saat aku sendiri di asrama aku merasa sesak dan patah hati tapi beruntungnya aku punya sahabat seperti Bunga yang selalu menguatkan ku. Saat sedih seperti ini aku jadi ingat Diar, dari awal masuk sekolah aku tak pernah melihatnya. Aku gengsi bila harus menanyakan Diar pada teman-temanku, aku juga tak mau mereka berpikiran kalau Diar adalah pelarianku karena sakit hati oleh Kamal apalagi mereka tau Diar dulu pernah membuat aku dicap perempuan murahan atau bahkan sampai sekarang anggapan mereka tak berubah padaku. Entahlah.
Rabu, hari ini aku berangkat lebih pagi karena piket kelas. Saat menaiki tangga ke kelasku yang berada di lantai tiga, tak sengaja aku mendengar beberapa orang mengobrol "Mal, kenapa sih lebih milih Rania? padahal lebih cantik si Nia. Apa karena susah di apa-apain? hahahaha"
"Hahaha padahal udah kesebar di apa-apain Diar mau kok sama kamu yang pacar nya kaga dikasih"
"Haha udah ah gak baik ngomongin orang, hati gak bisa bohong saya masih sayang sama Rania" Itu suara Kamal.
Aku terdiam ditempat itu pasti Kamal dan teman-temannya aku memang satu jadwal piket dengan Kamal malah dulu dia yang minta waktu awal-awal kita pacaran biar bisa berduaan katanya. Kenapa Kamal sama sekali tak mengatakan apapun saat teman-temannya membicarakan tentangku dan Diar? padahal dia tau cerita sebenarnya. Apa karena aku bukan pacarnya lagi jadi dia tak mau lagi capek-capek membelaku? Padahal aku ingat betul bagaimana marahnya Kamal saat ada yang mengungkit tentang aku dan Diar, apa itu hanya untuk menjaga nama baiknya karena aku ini pacarnya? Aku berbalik arah tak jadi menuju kelas kepalaku tiba-tiba sangat sakit begitu juga hatiku. Saat akan pulang ke asrama tak sengaja aku melihat mobil berhenti dan aku sangat mengenali mobil itu, itu mobil Diar dan benar saja Diar keluar dari dalam setelah berbincang dengan entah siapa yang didalam mobil Diar pun melambaikan tangan dan mobil itu pergi keluar gerbang sekolah. Aku terus berjalan, tak seharusnya aku bertemu Diar disaat keadaanku lagi-lagi sedang hancur. Tapi tak mungkin Diar tak melihat keberadaan ku, setelah dekat dengan Diar aku menatapnya dan berusaha tersenyum.
"Kok baru dateng?" tanyaku
"Kecelakaan, nih" dia membuka tangannya yang tergantung sebelah ditutupi perban, aku tak melihatnya tadi karena tertutup jaket yang menggantung di badannya.
__ADS_1
"Haduh kok bisa sih? kecelakaan dimana? elu sih suka ngebut-ngebut! terus gimana tangannya? pasti sakit ya? Diar, makannya bawa kendaraan biasa aja dong gak usah ngebut-ngebut kan jadi kaya gini"
"Berisik lu, dah ah gue mau siap-siap sekolah. Lu ngapain balik lagi? Ada yang ketinggalan?"
Aku pun teringat kembali pada obrolan Kamal dan temannya membuat dadaku sesak karena rasa sakit.
"Gapapa. Masih sepi gak ada temen mau ajakin Bunga ya udah gue ke asrama dulu, bye" Saat akan berbalik ternyata ada Rania dan teman-temannya akan pergi ke sekolah. Aku coba bersikap ramah dengan tersenyum pada mereka dan berlalu. Diar masih bingung, mungkin karena melihat Rania ada disekolah ini lagi aku memandang Diar dan mengedipkan mata sambil berkata dalam hati, nanti gue ceritain. Diar mengangguk. Loh! Apa dia bisi denger isi hati aku? Dih. Membayangkannya aku jadi geli sendiri.
Tadinya aku tidak akan masuk sekolah hari ini tapi setelah melihat Diar aku putuskan untuk masuk sekolah aku juga tak tau kenapa, tapi ada dorongan di hatiku untuk harus bertemu lagi dengan Diar. Apa aku mulai menyimpan perasaan padanya? Ah itu tidak mungkin! Aku tak boleh mencintai Diar apalagi secepat ini aku baru putus dengan Kamal bila secepat ini aku berpaling aku seperti membenarkan pendapat orang-orang kalau aku murahan yang mudah jatuh cinta pada lelaki. Aku tak mau mereka menganggap ku serendah itu.
Seharian ini aku menghindar dari Kamal, dia seperti menyadari hal itu tapi tak bisa berbuat apa-apa karena bila terlalu dekat denganku dia tau kalau Rania pasti akan marah-marah lagi, itu yang aku dengar dari Bunga kalau dia gak sengaja mendengar obrolan Rania dan Putri kalau Rania habis ngambek karena Kamal masih dekat denganku. Terserah aku sudah benar-benar masa bodo dengan urusan mereka.
Pulang sekolah aku melihat Diar seperti menunggu seseorang di gerbang asrama putri, lagi nungguin siapa dia? Batinku.
"Ya, ada Diar tuh" ucap Bunga.
"Aku juga liat Nga orang segede gitu masa iya aku gak liat"
"Kayanya nungguin kamu deh Ya"
"Dih ngapain. Paling juga mau ke temennya" padahal dalam hati aku membenarkan ucapan Bunga.
Setelah dekat dengan Diar, dia menatapku dan tersenyum aku membalasnya
"Mau ketemu yang tadi ngajak kode-kodean" Jawabnya sambil nahan ketawa. Seketika aku ingat pertemuan ku dengan Diar tadi pagi, aku langsung menatap Diar dengan tajam yang dibalasnya dengan tertawa puas.
"Yuk kita makan siang diluar sambil bahas kode-kode yang tadi elu kasih"
"Apaan sih Di GR lu orang gue tadi kelilipan" jawabku sambil nahan tawa juga.
"Yaudah yuk gue anterin beli obat mata"
"Hahaha.. Apaan sih kalian gak jelas banget Nia aku titip bakso dong sebungkus yayaya" Setelah bicara itu Bunga langsung berlalu, tapi baru beberapa langkah dia berhenti dan menengok ke arah Diar
"Di kenapa tangan kamu?"
"Kecelakaan" jawabku.
"Wih tau banget kamu Ya, jangan-jangan ada cinta dibalik luka nih" Aku melotot ke arah Bunga dan Diar hanya senyum-senyum saja membuatku merasa malu. Lagian kenapa harus aku yang jawab sih, cepet banget lagi ngejawabnya. Batinku.
Akhirnya aku dan Diar makan siang di luar tanpa mengganti seragam terlebih dahulu.
__ADS_1
"Tadi tuh kode apa sih Ya?"
"Apasih Di! Dibahas lagi males ah"
"Hahaha.. tapi gue serius nanya kok Rania bisa balik ke sekolah kita lagi sih?"
"Karena uang lah Di apalagi?"
"Tapi gila sih melakukan apapun demi cowok yang dicinta, keren tuh si Rania"
Aku hanya diam tak ingin menjawab ucapan Diar yang tak selaras dengan isi hatiku.
"Gue juga pernah tu kaya gitu, melakukan segala cara demi cewek yang gue cinta. Tapi gak pernah diliat, haha..." ucap Diar. Apaan sih curhat sendiri ketawa sendiri, aneh. Batinku.
"Pulang yuk ah udah abis nih" ucapku tak mau tenggelam ke dalam curhatan Diar.
"Tuh kan didengerin aja enggak"
"Emang siapa cewek yang lu cinta? ngomong langsung dong sama orangnya Di bukan sama gue"
"Setelah semua yang gue lakuin malah pernah gue utarain ke elu, lu masih gak sadar Ya?" Aku hanya terdiam dan mulai mengerti arah pembicaraannya.
"Gue cinta sama lu Desnia!"
"Udah lah Di gue tau lu cuman kasian liat keadaan gue yang sekarang kan? Gue gak butuh cinta dengan dasar kasian"
"Kenapa sih Ya di mata lu gue tau selalu buruk?"
"Enggak Di lu baik banget sama gue tapi untuk jatuh cinta lagi gue masih butuh waktu Di dan untuk percaya sama orang lagi gue juga masih butuh waktu Di"
"Oke gue bakal nunggu sampe lu siap dan percaya"
"Gak perlu Di, coba buka hati buat cewek lain siapa tau ada yang cocok dan lebih baik dari gue"
Diar hanya diam tak menjawab.
Dear diary,
Lagi-lagi Diar ngutarain perasaannya ke aku tapi entah kenapa rasa sakit yang Kamal kasih sangat dalam buat aku sulit percaya lagi tentang cinta. Padahal Diar baik, aku percaya Diar bahkan jauh lebih baik dari Kamal. Tapi untuk saat ini aku belum siap untuk jatuh cinta lagi.
*januari2012
__ADS_1
Diar, nama itu akan selalu ku kenang dengan segala kenangan baik. Meski awal pertemuan kami memang sangat membuatku marah dan membencinya, tapi dengan seiringnya waktu Diar benar-benar meminta maaf bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan segala caranya yang membuatku selalu merasa istimewa.