
Acara kemping akhirnya selesai dengan segala perasaan yang bercampur aduk. Ada senang, sedih, kecewa, dan berbagai macam emosi yang berkecamuk. Ayah sudah menungguku di mobil, aku berpamitan pada teman-teman untuk pulang duluan. Kamal terlihat kecewa saat aku bilang kalau akan pulang bersama ayah dan ibu, mau bagaimana lagi aku sudah terlanjur membuat janji dengan ayah.
Aku dan beberapa teman saling berpelukan, untuk beberapa hari ke depan kami akan pulang ke rumah masing-masing untuk melanjutkan sisa liburan.
"Ayaaaaaah"
"Teteh meni lama ih Rangga sampai bosen nunggunya" celoteh Rangga yang kini duduk dikelas 5 Sekolah Dasar.
"Maaf tadi pamitan dulu sama teman-teman hehe"
"Gimana acaranya teh? " tanya ibu
"Rame bu, makasih ya ayah sama ibu udah ijinin teteh pergi kemping"
"Iya, sama-sama. Kita mau kemana ini? "
"Makaaaaaaaan" jawabku dan Rangga dan kita tertawa bersama.
Tiga hari setelah pulang kemping aku jatuh sakit, badanku tak enak, makan pun tak berselera. Bunga bilang hari ini dia akan ke rumahku, tadinya kita akan pergi nonton di bioskop tapi karena aku sakit jadinya Bunga akan datang ke rumah sekalian menengokku. Kamal beberapa kali meneleponku lewat HP ayah kita selalu terlibat obrolan yang seru, aku menepikan ego dan berusaha melupakan kejadian Kamal dengan Rania, berusaha percaya sepenuhnya pada Kamal. Pernah satu waktu dia bilang terimakasih karena telah mempercayainya, padahal sampai saat ini masih ada sedikit ragu di hatiku.
"Makasih ya sayang kamu udah percaya sama aku" katanya waktu itu
"iya sama-sama tapi kalau ada kejadian kaya gitu sekali lagi aku gak akan percaya lagi sama kamu"
"Siap bu bos itu gak akan pernah terjadi lagi, aku jamin"
Pernah juga ada obrolan
"Ya, kamu mau gak sih nikah sama aku? "
"Lah, kita masih sekolah sayang. Masih jauh ngomongin nikah mah haha"
"Aku kan nanya sayang"
"Kalau kita jodoh mau aku bilang gak mau juga kita pasti nikah Mal, begitupun sebaliknya"
Lalu pernah juga kita ngomongin Diar
"Ya, Diar itu kayanya suka loh sama kamu"
"Apaaan sih Mal ngomongin hal yang gak penting"
"Kamu tau sebelum kita jadian aku pernah sampai harus janji ke dia buat jagain kamu dan gak nyakitin kamu. Padahal kalau dipikir nagapain juga ya aku janji sama dia, dia kan bukan siapa-siapa kamu"
"Hahaha, menurut aku Diar cuman merasa bersalah aja Mal sama aku bukan suka"
"Tapi enak ya jadi Diar"
"Enak apaan? "
"Dia pernah cium kamu aku mah gak pernah"
__ADS_1
Aku langsung mematikan sambungan dan ngambek seharian. Lalu besoknya dia datang ke rumah dan terpaksa aku sambut dengan baik takut kena omel ayah.
Bunga sampai di rumahku menjelang sore katanya dia jadi nonton sama Indah dan Hani tadinya Putri mau ikut tapi Bunga males karena teringat kelakuan Putri waktu kemping yang seperti mendukung Rania untuk selalu dekat dengan Kamal.
"Eh, coba tebak tadi aku ketemu siapa Ya"
"Emh, Rahmat? " Rahmat adalah kakak kelas yang naksir berat sama Bunga, tapi Bunganya enggak.
"Iiiiiiiih Niaaaaaaa!!! "
"Haha bercanda ih emang ketemu siapa? "
"Ketemu Diar, dia lagi jalan sama temen-temennya dia nanya kenapa kamu gak ikut, terus aku bilang kamu sakit dia nitip ini deh" Ucap Bunga sambil mengeluarkan jam tangan warna pink dengan bentuk hellokitty besar ditengahnya, seperti jam anak-anak Sekolah Dasar yang ada lampu warna-warninya.
"Ya Tuhan dia kira gue anak SD apa ya" Bunga hanya tertawa puas.
"Tapi lucu tau ih pake coba" Aku mencoba jam itu dengan perasaan geli tapi cukup cocok, aku dan Bunga tertawa sampai ada telepon yang masuk ke Handphone ku. Nomor baru? Siapa ya? angkat aja deh takutnya temen ayah karena itu kan emang Handphone ayah.
"Hallo, Assalamualaikum"
"Desnia? "
"Iya, dengan siapa ya? "
"Gimana jamnya? Suka? "
"Diar? Tau nomor ini dari siapa? "
"Kamu sakit? " tanyanya.
"Sedikit"
"Ya udah cepet sembuh ya, bentar lagi ada orang yang anter kue brownis diterima ya. Dimakan, biar cepet sembuh". Belum sempat aku menjawab apapun Diar sudah mematikan telponnya.
"Kamu ih ngapain kasih nomerku ke Diar?! "
"Kan dia minta hehe gak papa kali Ya, Diar baik kok walaupun pernah brengsek tapi kayanya dia uda berubah deh"
Saat akan menimpali Bunga, ibu memanggil aku dari pintu depan.
"Teh Yaya! Ini ada orang kirim apa nih gak tau ibu"
"Iya bu sebentar". Aku mendatangi ibu di ruang tamu dan melihat ada kresek dan sebuket bunga.
"Dari siapa teh meni so sweet, dari Kamal ya?"
"Bukan bun dari orang yang waktu itu ngirim bunga juga di Rumah Sakit"
"Ooh yang kamu bilang musuh itu? Kalau ngirim bunga terus mah bukan musuh atuh teh" Goda ibu sambil menjawil tanganku.
"Apa sih bu ah, nih ada brownis bu enak deh kayanya. Aku bawa beberapa ke kamar ya buat Bunga juga, ibu kalau mau ambil aja ya bu"
__ADS_1
"oke". Aku naik ke lantai atas ke kamarku dengan membawa kue brownis dan dua gelas jus jeruk, juga bucket bunga yang aku taruh di atas nampan.
"Nih Nga ayoo kita menggemuk bersama"
"Bikinan ibu Ya? "
"Bukan dikirimin Diar sama bunga ini"
"Aslinya Ya? Tuh kan Diar tuh baik kayanya dia suka deh Ya sama kamu"
"Bukan suka Bunga! Dia cuman ngerasa bersalah"
Dan masih banyak obrolanku dengan Bunga sampai tak terasa sudah malam, aku menyuruh Bunga untuk menginap di rumahku dan dia langsung ijin pada orangtuanya dan di ijinin.
Dan malam ini kita sama-sama sedang telponan dengan pacar kita masing-masing. Aku di atas kasur, Bunga di balkon.
"Bunga nginep disitu ya? "
"Kok kamu tau? "
"Si zidan juga lagi disini sayang di rumah aku"
"Hahaha bisa gitu ya"
Kita ngobrol seru sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Bunga pamit tidur duluan katanya ngantuk, aku juga disuruh tidur sama Kamal karena memang sudah larut malam. Tapi tiba-tiba ada pesan masuk dari Diar, saat memastikan Bunga sudah tidur aku membuka pesan dari Diar, aku juga tak mengerti mengapa aku harus umpet-umpetan dari Bunga padahal dia selalu tau segalanya tentangku. Aku hanya merasa tidak enak karena Kamal adalah salah satu sahabat dekatnya Bunga.
"Udah tidur? "
"Baru mau tidur, ada apa? "
"Gak papa yaudah sana tidur, udah malem kamu kan sakit"
"iyaa. Makasih buat kue sama bunganya, enak. Aku suka"
"Bunganya juga dimakan? Dasar rakus"
"Iya kali dimakan, udah ah ngantuk"
"Ya Udah have a nice dream"
"Too"
Dih, kenapa aku jawab 'too' ya. Yang ada nanti dia nyangka aku kasih dia harapan lagi. Jujur awalnya aku sama sekali tak punya rasa pada Diar, apalagi setelah perlakuan kurang ajarnya padaku tapi rasa benciku sudah hilang tak bersisa karena semua yang telah Diar lakukan memang terlalu sweet untuk bisa dibenci. Aku ambil diary ku sudah beberapa hari ini aku tak menulis
Dear diary,
Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan perasaanku. Setelah kejadian antara Kamal dan Rania hatiku tak seperti dulu lagi ada ruang di hati ini yang masih meragukan kata-kata Kamal yang membuat rasa sayangku sedikit terkikis apalagi setelah semua yang Diar lakukan padaku membuat ada sedikit rasa yang hadir untuk Diar, kenapa jadi seperti ini! Aku membenci Kamal yang berkhianat tapi aku sendiri mempunyai rasa pada Diar. Nanti waktu dan takdir juga lah yang akan menentukan semuanya.
Bandung, 2011.
Diar, Kamal laki-laki yang dulu pernah ada di hidupku. Mereka punya ceritanya masing-masing dalam mengisi hidupku, karena mereka lah hidupku menjadi lebih berwarna dan menjadi lebih seru. Walaupun tak pernah ada yang tau takdir apa yang ada di depan tapi saat itu aku cukup menjalani semuanya dengan baik, walaupun ada momen aku menangis, kecewa, tapi aku bersyukur bisa melewati semuanya dengan lapang dada.
__ADS_1