
Sisa liburanku tinggal satu hari Bunga masih ada di rumahku, orangtuanya memang selalu sibuk dia jadi kesepian di rumah. Kita berencana akan nonton ke bioskop berdua saja, kita berdua naik angkutan umum. Butuh 10 menit saja untuk sampai ke sebuah Mall kami naik ke lantai atas untuk menonton bioskop. Bunga mengantri untuk membeli tiket, dan aku menunggu sambil melihat sekeliling ada sosok yang aku kenal tapi hanya terlihat sekilas aku berusaha mengabaikan penglihatan ku yang mungkin saja salah.
"Ngelamun ih" Tiba-tiba Bunga sudah ada di sampingku dengan membawa tiket. Aku tersenyum dan berjalan bersama menuju studio. Film romansa cinta yang Bunga pilih membuat aku penasaran, dengan aktor yang cukup terkenal semoga film ini bagus.
"Mau beli makanan?" tanyaku
"Traktir?" tanya Bunga sambil nyengir.
Aku pura-pura mengabaikan dan berjalan mendahuluinya, setelah membeli beberapa makanan kita lanjut masuk ke dalam studio sesaat sebelum masuk mataku melihat kedua sosok yang sangat aku kenal, kali ini aku tak mungkin salah mereka berdua sedang berjalan sambil berpegangan tangan sesekali mereka tertawa entah apa yang mereka bicarakan mungkin membicarakan ku yang begitu bodoh karena dengan mudah bisa ditipu?
"Hayuk ih malah diem terus" ajakan Bunga menyadarkanku. Sebaiknya aku tak perlu memberitahu Bunga terlebih dahulu aku tak mau merusak moodnya Hanya karena masalah pribadiku dan kulihat dua manusia itu pun sudah tak ada.
Beberapa jam lalu..
"Sayang ketemu yuk" Menunggu Bunga yang sedang mandi aku menelpon Kamal, aku tak memberitahunya bahwa aku akan pergi menonton dengan Bunga.
"Aku sebenernya pengen banget sayang, tapi ini badan gak enak banget lemes gitu bawaanya"
"Oh yaudah kamu istirahat aja nanti kan bisa ketemu disekolah"
"Iya maaf yaa sayang"
Mengingat obrolanku tadi dengan Kamal membuatku seperti orang bodoh, kali ini alasan apalagi yang akan dikatakan Kamal untuk membela diri. Aku jadi ingat saat kemping, apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan?
Film pun berakhir dengan Bunga yang sampai nangis karena filmnya yang mengharukan, mataku juga sembab tapi bukan karena menonton film.
"Sedih banget filmnya huhuuu" Ucap Bunga yang masih terbawa perasaan.
"Tuh kan kamu juga nangis Ya! Emang the best sih ni film" Katanya lagi masih sambil sesenggukan. Aku hanya tersenyum dan fokus melihat sekeliling, aku sangat berharap mereka masih disini. Aku sudah membulatkan tekad untuk memutuskan Kamal bila perlu sekarang juga didepan perempuan gila itu biar dia puas.
"Kamu nyari apa sih Ya?"
"Enggak kok, makan yuk aku laper" Sebenarnya aku tak selera, tapi feeling ku mereka masih disini. Sengaja aku tak memberi tahu Bunga, aku ingin dia melihatnya sendiri.
__ADS_1
Saat aku sedang sangat fokus mencari Kamal ada yang menggenggam tanganku dan menarik ku tiba-tiba.
"Iiiiih siapa sih?!" Aku hanya melihat bagian belakang badannya, dia seorang laki-laki dengan jaket army dan celana hitam. Hah, apa aku diculik? Ku coba melepaskan genggamannya tapi tak bisa disini sedang ramai sekali orang apa aku berteriak saja? karena tidak fokus aku tersandung dan jatuh dengan satu tangan menggantung karena dipegang laki-laki itu dia pun berbalik
"Ya ampun Nia pake jatoh segala malu-maluin"
Ternyata itu Diar! Dia membantu aku berdiri, dan aku langsung malu karena ada beberapa orang yang melihat saat aku jatuh tadi.
"Ih Diar ngapain sih narik-narik tangan gue gak jelas banget lu! "
"Kenapa? Lu kira mau diculik? Siapa juga yang mau nyulik orang bego kaya elu!"
"Apaan sih kok jadi elu yang nyolot!"
Untungnya Bunga datang, dengan nafas yang tersengal dia jongkok diantara kami.
"Ku...rang ajar emang kalian tu hu hu hu" ucapnya terbata-bata.
"Gak tau nih si Diar gak jelas banget narik-narik tangan aku...bla...bla...bla"
Saat aku sedang marah-marah Diar hanya memegang tubuhku dan memutarnya untuk melihat ke satu titik. Di Sana disebuah restaurant ada Kamal dan Rania yang sedang makan bareng, aku hanya diam mematung sejak tadi aku memang mencari kedua orang itu. Bunga ikut melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Diar, dan terlihat dia sangat terkejut melebarkan mata dan menutup mulutnya.
"Itu yang mau gue tunjukin ke elu"
"Gue udah liat mereka tadi" jawabku yang membuat Diar dan Bunga menatapku heran.
"Kalian tunggu disini ya aku mau ngobrol dulu sama mereka"
"Gue temenin ya" pinta Diar.
"Gak usah, gue sendiri aja aman kok"
Aku pergi kesana dan duduk ditengah Kamal dan Rania mereka terkejut apalagi Kamal dia langsung menjelaskan hal-hal yang sama sekali tidak masuk akal dan tak ingin ku dengar.
__ADS_1
"Maaf ya Mal, Rania kalau adanya aku malah bikin hubungan kalian yang belum berakhir jadi harus berakhir dan berujung kalian harus berkhianat kaya gini" ku ucapkan semua itu sambil menahan diri. Aku tak boleh menangis di depan mereka, walau aku ingin.
"Nia, maaf aku udah nyakitin kamu" dan akhirnya Kamal mau jujur.
"Aku sayang banget Ya sama kamu tapi pas Rania dateng lagi di depan aku, aku sadar kalau rasa sayangku sama Rania belum hilang. Tapi aku gak tega buat ninggalin kamu, karena aku tau berapa lama kamu nyimpen perasaan buat aku, maafin aku Nia"
Aku tersenyum mendengar semua penjelasan Kamal, dia benar aku begitu lama menyimpan perasaan untuknya dan saat bisa mendapatkannya hatinya ternyata masih milik orang lain, sial.
"Ya udah Mal makasih ya karena selama ini udah baik banget sama aku, sekali lagi maaf udah ganggu hidup kamu. Kita sampe sini aja ya" Aku berdiri dan pergi dari tempat itu rasanya duniaku runtuh, dadaku sesak menahan segala rasa sakit yang tak bisa aku luapkan.
"Nia, yang kuat yaa" Bunga memelukku erat sekali, sebenarnya aku sudah tak sanggup menahan semua rasa sakit yang ada di hatiku tapi aku harus tetap terlihat kuat. Di sana Kamal masih memperhatikanku aku tak mau dipandang lemah olehnya, itu menyakiti harga diriku selain hatiku memang sudah sakit aku tak mau harga diriku juga terlihat sakit didepan Kamal dan Rania.
"Yuk ah pulang Nga, makannya di rumah aku aja ya"
"Tapi aku dijemput sama Zidan dia nunggu aku di sebrang mall kamu balik sama Diar ya, dadaah" Bunga langsung pergi tanpa menunggu jawabanku.
"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?"
"Dih, apaan siapa juga yang mau pulang bareng elu"
Tapi lagi-lagi Diar menarik tanganku dan aku pasrah kali ini karena benar-benar tak bisa mengontrol diri yang sedang patah hati ini.
Diar membawa mobil dan mengajakku pergi ke sebuah tempat di Bandung. Tempat dengan hawa dingin yang menusuk, tempatnya para muda mudi berpacaran. Kenapa sih Diar ngajak aku kesini? Apa dia lagi ngejek aku yang baru putus cinta?
Mobil berhenti di depan sebuah rumah makan lesehan yang terlihat sangat asri dengan banyak tumbuhan dan saung-saung yang berjajar.
"Makan dulu, kamu belum makan kan? patah hati butuh banyak energi"
Aku hanya diam malas menanggapi, kami makan dalam diam Diar tak lagi menggodaku dengan candaannya mungkin karena aku tak menjawab dia kira aku butuh waktu untuk benar-benar menenangkan diri. Setelah makan Diar mengajakku ke suatu tempat, ini sudah malam harusnya aku mengajak Diar untuk pulang tapi aku malah mengiyakan saat Diar mengajakku.
Aku duduk bersama Diar, disinilah kita sekarang disebuah bukit di dataran tinggi, ditemani malam dan bintang-bintang yang terlihat jelas. Ada juga beberapa pengunjung yang sedang bersenda gurau cuaca malam ini cukup ramai mungkin karena ini malam Minggu. Lama aku terdiam mengingat semua kejadian hari ini, juga mengingat semua kisahku dengan Kamal aku tak bisa lagi menahan diri aku menangis sejadinya. Diar hanya diam ditempatnya, tak lama dia memelukku awalnya aku ragu tapi saat ini yang aku butuhkan memang pelukan. Entah berapa lama aku menangis di pelukan Diar, dia hanya diam tak mengeluarkan sedikitpun kata hanya memeluk dan mengelus kepalaku sampai aku lelah dan memintanya untuk mengantarkan ku pulang. Diperjalanan pun sama kita hanya saling diam sesekali Diar menggenggam tanganku menguatkan diriku yang benar-benar sedang rapuh. Sampai dirumah aku langsung naik ke kamar meninggalkan Diar yang ngobrol dengan ibuku, ayah sedang ada kerja diluar kota dan adikku sepertinya sudah tidur. Tak lama terdengar suara mobil yang pergi meninggalkan rumah, itu mobil Diar dia sudah pulang. Aku sudah tak ada kekuatan lagi untuk melakukan apapun bahkan untuk menulis buku diary pun aku tak sanggup membayangkan kalau aku harus menulis segala kesedihan dibuku diary yang biasa ku isi dengan rasa cintaku pada Kamal aku tak sanggup.
Mengingat segala rentetan kejadian itu membuat aku tersenyum, luka yang dulu hadir ternyata masih terasa sampai saat ini. Bahkan bila hal yang sama terjadi lagi aku mungkin masih akan serapuh dulu.
__ADS_1