
Waktu berlalu begitu cepat, banyak sekali hal yang sudah aku lewati. Termasuk Diar yang berkali-kali hampir berantem bahkan sudah berantem dengan orang-orang yang menghina ku. Beberapa ucapan mereka memang menyakitkan sekali.
"Haha ternyata bener ya si Nia tu murahan buktinya udah di lecehin sama Diar masih aja mau"
"Awalnya so' iyeh merasa korban tuh si Nia taunya sama-sama suka, dasar munafik!"
"Untung deh si Kamal milih Rania"
"Diar mah emang gak bakal bisa berubah playboy manfaatin cewek-cewek lemah"
"Nia juga pemain ternyata" Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang kejam setelah hubunganku dengan Diar diketahui banyak orang. Diar awalnya tak pernah menggubris dan menyuruhku untuk tutup telinga saja, tapi mungkin kebanyakan komentar itu ditujukan padaku dan terjadilah beberapa kali Diar hampir berantem kalau tak dicegah oleh Sadam. Ada juga yang udah sampai berantem dan Diar dipanggil ke ruang guru, Diar jelasin kalau orang itu udah menghinaku yang akhirnya orang itulah yang harus minta maaf kepadaku karena kata-katanya memang menyakitkan hati, setelah itu Diar datang kepadaku dia menangis dan memegang pipiku mengelusnya dengan lembut sambil berkata "Maafin aku Nia, semua ini gara-gara aku, semuanya salahku, andai aja kamu gak kenal aku pasti kamu gak bakal di hina-hina sama orang Ya!"
"Andai kamu gak kenal aku kamu pasti gak menderita kaya sekarang, dan lebih gak tau malu lagi aku malah ngajak kamu pacaran yang bikin hidup kamu tambah susah. Maafin aku Nia, kayanya bakal lebih baik aku pergi dari hidup kamu Ya"
"Kamu bilang apa?" Ku tatap penuh matanya.
"Terus apa bedanya kamu sama Kamal? janji mau jagain aku janji ini janji itu akhirnya pergi juga apa bedanya kamu sama Kamal? Hah? Aku coba buat gak dengerin omongan orang yang sebenernya sangat nyakitin perasaan aku Di karena aku emang nyaman sama kamu. Aku milih kamu Di! Tapi kamu malah mau pergi? Brengsek emang!" Aku pergi meninggalkan Diar tapi ditahannya dia memelukku dari belakang.
"Maaf Nia, gak ada sedikitpun aku pengen pergi ninggalin kamu tapi liat kamu terus dihina kaya gini aku jadi merasa bersalah Ya"
Air mata ku sudah tak tertahan aku menangis, menangisi kisah cintaku yang selalu saja tragis.
"Ya udah pergi aja Di, pergi yang jauh jangan pernah lagi kamu muncul di depan aku!" Ku coba melepaskan pelukannya, tapi pelukan Diar terlalu kuat atau diriku yang terlalu lemah karena tak ingin kehilangan lagi.
__ADS_1
"Maaf Nia aku gak akan ninggalin kamu, lupain semua kata-kata yang tadi, aku bakal terus bareng kamu apapun masalah yang terjadi kita hadapi semuanya bareng-bareng" Diar membalikan tubuhku agar menghadap ke arahnya dia menatapku sambil tersenyum Diar juga menangis apa setulus itu rasa yang Diar punya untukku? Diar menghapus air mataku dan memelukku. Lama sekali kita berpelukan untungnya lorong perpustakaan ini sedang sepi. Diar mencium keningku berkali-kali dan membisikkan sesuatu dengan lembut "I LOVE YOU DESNIA"
Setelah melewati masa yang cukup berat untukku dan Diar semua mulai kembali normal karena mungkin saat ini semuanya akan sibuk menyiapkan diri untuk ujian kelulusan. Beruntungnya Bunga, Indah dan beberapa temanku tak pernah meninggalkanku disaat semua orang menghinaku. Bahkan Rania pernah dilabrak Bunga karena mendengar Rania menjelek-jelekan ku, Rania bilang Kamal beruntung putus dariku dan kembali padanya karena aku memang tak sepadan dengan Kamal. Heh emang Kamal siapa? Dewa?
"Emang Nia sama Kamal gak sepadan liat Nia dong dia cantik, Diar cakep kamu mah emang sepadan sama Kamal sama-sama BIASA AJA!" Ucap Bunga yang hanya dibalas senyuman sinis oleh Rania. Saat Bunga akan berlalu pergi Rania berkata
"Ya mana mau Kamal sama cewek murahan kaya dia" Dan rambut Rania ditarik keras sekali oleh Bunga, Rania mengaduh kesakitan aku mendekati mereka berdua dan melerai
"Udah lah Bunga, dari kelakuan dan omongannya aja kita tau siapa yang ada dikelas rendah" ucapku sambil menatap Rania dengan tajam. Tiba-tiba Kamal masuk dan menjadi pahlawan kesiangan.
"Ada apa sih ini? Ribut Mulu kerjaannya"
"Makannya punya pacar mulutnya ikutin les etika Mal, biar punya sopan santun" Ucap Bunga.
"Apa sih orang kamu dulu yang datang sambil marah-marah gak jelas kok jadi membalikkan fakta sih?" Kalimat yang diucapkan Rania sangat menyebalkan membuat aku jadi tersulut emosi. Aku bertepuk tangan sangat keras di ikuti tatapan tajam pada Rania.
"Ada apa Ya?"
"Abis nonton drama Di, judulnya 'Aku si paling manipulatif'" Diar hanya bengong tak mengerti. Sedangkan Kamal benar-benar diam tak berbicara sama sekali, dia sempat melirik ke arahku dan aku sengaja menatap penuh ke dalam matanya tapi tak lama Kamal menunduk dan duduk disamping Rania. Aku, Bunga dan Diar berjalan keluar kelas setelah ngobrolin kejadian tadi kita kembali ke kelas masing-masing.
Sejak saat Diar dan aku menangis bersama di lorong perpustakaan hubungan kami terasa bertambah saling sayang, sebagaimana Diar akan menjagaku aku juga akan menjaga Diar tak akan ku biarkan dia pergi apalagi direbut wanita lain seperti Kamal. Baru aku sadari bahwa sekarang ini aku sangat menyayanginya, Diar tau itu saat tak sengaja membuka buku Diary ku atau mungkin dia memang sengaja membukanya.
*Dear diary
__ADS_1
Diar. Tadi siang berlalu begitu mengharukan terimakasih karena membuatku merasa istimewa walau semua orang menganggapku wanita murahan, tak punya harga diri dan kalimat negatif lainnya kamu selalu ada buat aku. Di, awalnya aku masih ragu dengan perasaanku sama kamu aku kira ini hanya rasa yang ada karena kita sering bersama, tapi sekarang aku sadar aku sudah jatuh cinta pada Diar. I LOVE YOU DIAR.
Aku sengaja membiarkannya membaca buku diary ku terlihat dia tersenyum dengan raut muka sedikit malu. Diar menggenggam tanganku menatap dalam kemata ku, dia tak mengucapkan apapun hanya melihatku begitu saja sambil tersenyum.
"Ngobrol dong Di! Malu tau diliatin terus"
"Dieeeeem Ya! Aku lagi khusyuk nih"
"Hah? lagi apa sih?"
"Lagi berdoa biar kita bener-bener terus bareng sampai tua, pokonya aku mau nikah sama kamu Ya titik gak mau sama yang lain!"
"Aminin jangan?"
"Maunya?"
"Amiiiiiiiiin"
Kita berdua tersenyum itu semua keinginan kita, keinginan yang belum tentu jadi kenyataan. Saat itu aku dan Diar sama-sama yakin akan terus bersama, bahkan aku dan Diar juga membicarakan rencana kita di kemudian hari kuliah bersama, menikah, dan punya anak. Aku merasa sangat beruntung mempunyai Diar yang sangat menyayangiku bahkan sahabat-sahabat ku Yang sering melihat kebersamaan kami selalu terbawa perasaan
"Gila sih Ya! Diar tu sweet banget bukan Kamal yang beruntung putus dari kamu dan dapetin Rania tapi kamu Ya yang beruntung bisa dapetin Diar, dia sweet bangeeeet" Ucap Bunga saat melihatku membawa sebuket bunga dari Diar.
"Saya aja yang laki-laki bisa tersentuh loh Ya sama cara Diar memperlakukan kamu, yang aku aneh Diar mh gak keliatan lebay coba kalo saya begitu-begitu auto pada jijik dah yang liat haha.." Zidan bicara seperti itu saat kami sedang nongkrong di kantin ada Kamal juga disitu, aku tak melihat bagaimana responnya mungkin biasa aja mengingat aku sudah lumayan lama putus dengannya.
__ADS_1
"Udah cakep, romantis, humoris, masih ada gak sih yang kaya Diar Ya? mau satu doooong" Kata Indah yang ku tanggapi dengan tawa.
Sekali lagi, terimakasih Diar.