Dianggap Wanita Murahan

Dianggap Wanita Murahan
Diar bukan manusia!


__ADS_3

Hari itu, Diar semakin sering menggangguku. Kudengar kabar kalau dia putus dengan Fani pacarnya, aku digadang-gadang menjadi salah satu alasan mereka putus. Loh kok aku?


Fani pernah datang padaku, dia gadis baik yang mencintai laki-laki gila seperti Diar. Dia bertanya apa benar Diar dan aku ada hubungan, tentu aku bilang tidak dan menceritakan semuanya dengan detail. Tapi dia hanya tersenyum,


"Diar suka sama kamu kayanya"


"Haha gak mungkin Fan kamu liat kan apa yang dia lakuin ke aku? dia nyebarin aib yang dia sendiri pelakunya. Tapi seolah aku yang salah, semua orang mandang aku cewek rendahan Fan. Jadi, udah pasti dia bukan suka sama aku tapi..." Aku berhenti bicara karena memang bingung mau berkata apalagi. Aku mengusap air mata yang keluar sedikit.


"Ya udah Nia, makasih ya udah mau ngobrol kamu orang baik ternyata. Maaf selama ini aku mandang kamu buruk karena gosip itu"


Aku hanya tersenyum tak tau harus berekspresi apa. Merasa kasian pada Fani yang mau-maunya berhubungan sama orang sakit jiwa seperti Diar.


Dan lagi, hari ini Diar menggangguku merusak moodku entah apa sebenarnya yang dia mau. Tiba-tiba dia sudah ada ditengah jalan lorong sekolah.


"Heh, maafin aku ya". Ucapnya yang membuatku tersenyum sinis.


"Udah ada firasat mau mati ya? jadi minta maaf segala takut mati ninggalin dosa lu!"


"Gak tau kenapa, gue bisa sejahat itu sama lo", dia seperti menerawang. "Tapi elu juga emang penggoda"


"Heh, gue sama sekali gak pernah kenal sama lu Di. Kita ngobrol pun gak pernah, gue ngegoda dari mana? sinting emang lu!"


"Haha, muka lu kaya p*r*k yang pernah gue liat di hotel sama bokap gue"


Aku membelalakan mata "Cuman gara-gara mirip? Terus kenapa lu lampiasin semua benci lu ke gue yang gak tau apa-apa Di? sakit emang lu!". Aku pergi dengan rasa marah yang semakin meledak didalam dadaku.


Sampai dikelas aku bercanda dan ngobrol-ngobrol seru, sampai Bunga menarikku menjauh dari teman yang lain.

__ADS_1


"Apaan sih Nga? "


"Tadi kamu ngobrol sama Diar? pdkt kaga bilang-bilang ih jahat"


"Udah deh Nga jangan ngadi-ngadi gak sengaja papasan dilorong"


"Sebenernya gosip yang beredar itu bener gak sih Ya?" *Ya : Nia*


Aku memang tak pernah mengeluarkan sepatah katapun, dan pada siapapun tentang kejadian itu. Karena aku juga bingung bagaimana menjelaskan semuanya.


"Udah ah Nga males ngomongin hal yang gak penting!"


"Ini penting Ya, karena yang pengen tau bukan cuman aku tapi juga Kamal"


Aku menatap Bunga, tiba-tiba jantungku berdebar cepat mendengar perkataan Bunga.


"Haha, lebay lu! jadi gimana jawabannya?"


"Bingung jelasinnya, tapi itu emang bukan gosip Nga. Aku emang udah pernah Ciuman sama Diar. Dan kamu tau kenapa dia cium aku? karena rasa benci ke selingkuhan bapaknya yang katanya tu cewek mirip aku, makannya Diar sering bilang aku p*r*k Nga. Sakit kan tu cowok"


"Ih ngeri sih Ya, kamu yang jadi korban tapi kamu yang dipandang sebelah mata dan dianggap murahan"


"Aku gak ngerti Nga kenapa Diar tega nyebarin hal aib kaya gitu ke semua orang biar apa coba?"


"Tapi setau aku bukan Diar yang sengaja nyebarin Ya". Kalimat terakhir dari Bunga membuatku mengernyitkan dahi.


"Yang pernah aku denger, jadi ada yang gak sengaja dengerin Diar waktu ngobrol sama sahabatnya si Sadam. Nah katanya orang itu yang nyebarinnya"

__ADS_1


"Hah?". Hanya itu yang bisa aku katakan. Tapi kenapa Diar gak pernah bilang apa-apa ya malah dia kaya selalu senyum sinis yang membuat aku semakin yakin kalo dia sengaja nyebarin aibnya sendiri. Entahlah perasaanku jadi gak karuan.


Pulang sekolah aku melihat Diar ada disana didepan kelasnya. Dia melihatku sekilas lalu mendekat. Duh apaan lagi sih ni orang.


"Maaf". Dia berkata sambil menatapku, aku benar-benar sudah tak mau berurusan dengannya.


"Kemana aja baru bilang sekarang?" Jawabku sambil berlalu.


"Kalo aku mau jelasin semuanya, apa kamu mau dengerin?"


"Engga!". Aku benar-benar sudah tak mau lagi berurusan dengan Diar. Aku berjalan melewatinya, untungnya dia tak mengejarku.


Pov. Diar


Malam itu, entah kenapa melihatnya aku begitu tergoda padahala dia memakai pakaian yang sopan tidak seksi. Wajahnya mirip dengan selingkuhan papa yang aku temui dihotel, aku benci wanita itu ingin rasanya membalas dendam karena telah membuat keluargaku rusak, saat bertemu gadis itu aku kaget karena wajahnya sangat mirip dengan p*r*k simpanan papaku. Aku tak tau kenapa yang terlintas di fikiranku itu saat melihat sip*r*k yang tak memakai apa-apa dan buru-buru menutup badannya dengan handuk, ah kotornya fikiranku aku memang lelaki brengsek, siapa yang tak kenal denganku. Berkali-kali berganti pacar sampai ketika kulihat mama menangis karena berkali-kali dikhianati aku sadar aku harus berubah aku tak mau menyakiti wanita lagi, hingga aku bertemu Fanny gadis lembut dan baik. Jujur aku tak mencintainya aku hanya ingin berubah menjadi lebih baik dengan memilih orang yang baik. Tapi saat melihat Nia, aku menjadi gila! gadis itu.. ah kenapa wajahnya sangat mirip dengan Luna selingkuhan papaku yang pernah aku lihat secara telanjang, yang membuat aku menjadi penggila **** pada waktu itu.


Malam itu aku lihat Nia sedanh sendiri duduk di dalam rumah salah satu kawanku. Awalnya aku hanya berniat berkenalan dengannya, tapi entah setan apa yang membuatku berani mencium Nia. Dia hanya diam, aku yakin itu pasti ciuman pertamanya karena aku adalah pemain aku tau mana yang handal dan pemula.


Setelah itu hatiku tak karuan, fikiranku terus tertuju padanya, anehnya setiap kali melihatnya yang aku fikirkan hanya Luna yang membuat hanya kebencian yang ada untuk Nia. Aku bodoh, seharusnya aku sadar itu bukan salah Nia tapi bagaimana caraku meminta maaf bahkan melihatnyapun hanya benci dan nafsuku yang menguasai. Aku seperti tak bisa mengontrol diriku sendiri.


Hingga saat itu aku beranikan diri menceritakan aibku pada Sadam sahabatku, tanpa sepengetahuan kami ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan kami. Dia Rian, kakak kelasku. Dan aku yakin dialah yang menyebarkan berita itu pada banyak orang. Awalnya aku tak menanggapi karena aku yakin lambat laun gosip itu akan hilang. Beberapa kali kulihat Nia seperti bersedih, dia juga sering terlihat sendirian. Ingin sekali aku meminta maaf atas semuanya, tapi sepertinya dia selalu berusaha menghindariku. Sampai suatu hari aku melihatnya ngobrol dengan Rian, apa yang Rian mau dari Nia? Aku memiliki firasat ada hal yang Rian incar dari Nia dapat aku lihat pandangan Rian kala mengobrol dengan Nia. Dasar brengsek apa bedanya dia denganku! Aku sudah sangat yakin kalo memang dia yang mencuri dengar saat aku mengobrol dengan Sadam. Aku tak bisa tinggal diam, aku harus mencegah Rian berbuat macam-macam pada Nia. Hah? Ada apa ini? Kenapa aku jadi khawatir pada Nia?


Entah apa yang membuat Diar lagi-lagi muncul dihidupku. Bahkan sekarang parah banget! dia benar-benar membuat darahku naik, air mataku bocor. Aaaaaaargh, aku bener-bener benci Diar, Tuhan tolong jauhkan aku dari makhluk aneh, gila, sakit seperti Diar. Aku mohon tuhan, semoga dia pindah sekolah darisini dan pergo jauh-jauh dari hidupku. Aamiin.


Bandung, 2011.


Aku sangat ingat setelah menulis itu di buku diary, aku menangis sambil membenamkan wajah dibantal saat itu aku sangat membenci Diar bahkan bila sekarang aku disuruh kembali ke masa itu aku tetap akan membencinya.

__ADS_1


__ADS_2