
Tidak terasa hanya tinggal satu Minggu lagi Ujian Akhir Sekolah akan dilaksanakan, semua murid kelas tiga SMA sedang sibuk mempersiapkan segalanya untuk ujian, ibu berungkali menelpon ke asrama dan memberi tahuku agar tak telat makan dan minum vitamin karena ibu tau kalau anaknya sedang sangat sibuk menyiapkan ujian. Siang malam kami belajar untuk persiapan ujian, aku dan Diar pun larut dalam semua persiapan ini kita masih sering ngobrol dan bertemu karena satu kelas tapi yang dibicarakan bukan lagi tentang cinta tapi tentang rumus kimia, rumus fisika, nama-nama ilmiah dan lain-lainnya.
Ujian pun tiba, setelah kemarin menelpon ibu dan ayah untuk meminta doa dan juga meminta pada tuhan agar dilancarkan dalam segala halnya, aku mengerjakan ujian. Mencoba mengerjakan ujian dengan tenang karena kalau tegang bisa-bisa semua memory yang telah aku pelajari hilang. Aku dan teman-teman yang lainnya begitu fokus mengerjakan ujian hingga dua pelajaran ujian hari ini selesai.
"Susah banget ya tuhaaan" Ucap Indah.
"Iya yaa lumayan bikin kepala cenat cenut" Audrey menanggapi.
"Haduh semoga kita semua bisa menghadapi semua ujian ini sampai akhir deh" ucapku
"Dan semoga semuanya lulus. Amiiiiin" Sarah berdoa sambil mengangkat tangan.
"Amiiiiiin" serempak semua teman-temanku menjawab.
Dihari kedua sampai hari terakhir semuanya berjalan dengan lancar untukku dan semoga juga untuk semua teman-temanku. Di hari terakhir setelah ujian banyak murid yang merayakan kebebasan ujian ini dengan makan-makan diluar. Aku juga diajak oleh Bunga, aku mengiyakan dan juga mengajak Diar untuk ikut serta, diluar dugaan ku ternyata disana juga ada Kamal dan Rania awalnya aku malas ikut tapi bila terus menghindar aku tak mau Kamal GR kalau aku masih ada rasa sama dia, dan Rania semakin punya bahan untuk mengolok-olok ku. Kami makan disebuah warung Padang didekat sekolah terbayang kelezatan rendang dan ayam pop kesukaanku, Diar tertawa melihatku yang begitu bersemangat. Setelah makan kita ngobrol cukup lama di sana, membicarakan segalanya tentang ujian, rencana kedepannya, juga liburan akhir taun yang rencananya kita akan pergi ke Yogyakarta.
"Ada yang mau kuliah di luar kota gak sih!" Ucap Gofar.
Beberapa temanku menjawab akan kuliah diluar kota, ada yang di Yogya, Bali, Semarang, dan masih banyak lagi kebanyakan memang masih di pulau Jawa, kecuali Kadek Devi yang akan kuliah di Bali karena dia memang berasal dari sana dan akan kembali ke Bali.
"Kalau yang mau keluar negeri?" Itu Bunga yang bertanya.
Memang ada beberapa temanku yang di rekomendasikan sekolah untuk kuliah di luar negeri, itu adalah beberapa murid berprestasi di sekolah.
Tanpa diduga Diar mengacungkan tangannya, aku jelas kaget beberapa bulan sibuk dengan persiapan ujian lalu dilanjut dengan Ujian Akhir Sekolah membuat kami belum mengobrol soal kuliah, kita memang pernah membahasnya tapi Diar bilang akan sekolah di Bandung lalu kenapa sekarang dia malah mau kuliah di luar negeri? Apa dia hanya bercanda? Semua yang ada di sana menunggu jawaban dari Diar termasuk aku.
"Mama saya punya usaha di Jerman, setelah lulus SMA mama pengen kita balik lagi kesana biar mama bisa lebih konsentrasi lagi ngurus usahanya" Jelas Diar. Aku baru tau kalau mama Diar punya usaha di Jerman, memang beberapa kali aku mendengar mama bicara dengan bahasa yang asing di telingaku. Aku benar-benar terkejut mendengar rencana Diar, aku memandangnya Diar hanya tersenyum. Aku mendadak ingin segera mengakhiri acara kumpul-kumpul yang sebenarnya masih sangat seru, tapi aku butuh penjelasan dari Diar. Teman-temanku malah terus menanyainya membuat aku harus bersabar dulu.
"Ih serius Di? waw keren sih kalau bisa kuliah di luar negeri"
"Atuh gimana sama Nia? LDR an? yang kuat ya kaliaaaan"
"Mau kuliah di Universitas mana Di?"
"Mau ambil jurusan apa?"
"Kamu udah sering kesana berarti ya?"
"Emang mama kamu usaha apa disana?"
"Eh Jerman th ada salju gak sih?"
Dan masih banyak pertanyaan dari yang serius sampai diluar nalar, aku terus mencoba sabar dan mendengarkan penjelasan Diar yang mamanya ternyata membuka restauran yang khusus menyediakan makanan Indonesia, untuk obat kangen buat orang-orang Indonesia katanya. Dari sekian banyak pertanyaan aku hanya fokus pada pertanyaan jika kita akan LDR bagaimana pendapatnya?
"Kalau saya mah pasti kuat mau LDR berapa taun juga gak tau kalau Nia" Dan kini semua orang menatapku. Aku hanya menaikkan bahu sambil nyengir tak tau harus menjawab apa, aku masih terlalu rumit memikirkan ini semua.
__ADS_1
"Kalau pengennya sih lulus SMA saya pengen nikahin Nia biar bisa nemenin saya disana, hehe" Bisa-bisanya Diar ngobrolin hal seserius itu didepan teman-temanku dan sambil tertawa. Aku hanya merespon dengan mata melotot. Beberapa temanku meletakkan tangan didepan mulut dan sama sambil melotot karena kaget.
"Mau nikah?" Ucap Bunga.
"Pengennya sih gitu tapi lagi-lagi saya harus tanya dulu Nia"
"Ya, Will you marry me?"
"Apaan sih Di ah teu lucu nyaho! Hayu ah kita ke asrama lagi!" (teu lucu nyaho! : gak lucu tau!)
Apa-apaan sih Diar, apa tadi dia ngelamar aku? Oh God aku harusnya senang dilamar oleh orang yang sangat aku cintai, tapi waktunya benar-benar tidak tepat. Apa kata orangtuaku kalau tiba-tiba anaknya ijin akan menikah di usia yang masih muda sementara banyak sekali yang ingin aku capai terlebih dahulu, sepanjang perjalanan ke asrama pikiranku begitu penuh dengan segala omongan Diar.
"Nia bisa ngobrol sebentar?" Pinta Diar, aku hanya mengangguk dan mengekor di belakangnya. Kita mengobrol di ruang kelas, Diar duduk tepat di depanku.
"Kenapa kamu gak ngasih tau aku lebih dulu Di?" Tanyaku tanpa basa-basi.
"Maaf Ya, berkali-kali aku mau ngobrol sama kamu tapi ya gitu kemaren-kemaren kita bener-bener sibuk sama ujian kita jadi aku belum sempet ngobrolin semuanya sama kamu"
"Sebenernya aku penting gak sih Di buat kamu?"
"Ya penting lah Ya kamu tuh segala-galanya buat aku"
"Gak usah gombal! perkataan sama perlakuan kamu gak sinkron!"
"Maaf Ya" ucapnya sambil menggenggam tanganku, ku tepis tangannya dan pergi keluar.
"Di, aku butuh waktu sendirian dulu tolong ngerti!" Akhirnya Diar membiarkanku pergi.
Setelah ujian kegiatanku dan teman-teman kembali sibuk mencari universitas yang kita ingin, mengisi persyaratan, dan lainnya. Aku memilih salah satu Universitas di Bandung saja karena tidak kepikiran kalau harus ke luar kota, dan memilih sastra inggris sebagai jurusannya. Ada beberapa teman memilih Universitas yang sama denganku. Aku dan Diar belum sempat mengobrol lagi karena kesibukkan masing-masing dan aku juga masih malas, hingga hari ini Diar menungguku di gerbang sekolah dan mengajakku ke minimarket.
"Yuk temenin" Pintanya. Belum menjawab tanganku sudah ditarik paksa olehnya. Di minimarket Diar mengambil beberapa keperluan dan Snack, juga beberapa batang coklat dan susu UHT, setelah membayar Diar menelpon seseorang dan menyuruhku duduk dulu didepan minimarket yang kebetulan tersedia meja dan kursi. Tak lama ada seorang lelaki memakai motor yang parkir di sana, lalu Diar menghampirinya dan berbincang sebentar setelah itu lelaki itu pergi meninggalkan Diar dan juga motornya.
"Pergi yuk! Sekalian refreshing lah sebentar" Aku masih tutup mulut tak menjawab langsung memakai helm dan naik tanpa bicara apapun. Diar menengok kearah ku dan tertawa, aku tetap menahan diri untuk diam.
"Kamu sariawan?" Aku mengabaikannya dengan membuang muka, dan Diar tambah terbahak. Ternyata kita pergi kerumahnya, saat masuk di rumah benar-benar sepi.
"Mama kemana?" Tanyaku.
"Loh kok udah bisa ngomong lagi?"
Aku reflek menutupi mulutku yang disusul gelak tawa Diar.
"Hahaha, mama udah di Jerman nanti aku nyusul bulan depan"
Aku menatap Diar, memastikan semua yang kudengar adalah benar. Kenapa Di? Disaat semua yang kita lalui begitu indah kamu harus pergi sejauh itu, batinku. Aku sedang berusaha sekuat tenaga agar dinding-dinding tipis di mataku tak keluar, tapi ketika Diar memelukku pertahananku runtuh aku menangis di pelukannya entah untuk ke berapa kalinya aku menangis hebat di pelukan Diar. Setelah beberapa saat Diar menuntunku ke ruang tamu kita duduk, Diar menggenggam tanganku.
__ADS_1
"Ya, maafin aku. Tapi aku gak bisa nolak permintaan mama, aku juga gak tega biarin mama disana tinggal sendiri"
"Aku gak ada niat sedikitpun buat ninggalin kamu Nia. Makannya aku mau..." Kalimatnya menggantung.
"Mau apa?" Tanyaku.
"Mau ngajak kamu nikah biar bisa ikut aku kesana" Aku menarik nafas dalam mencoba menenangkan diri.
"Di, bukan aku mau nolak niat baik kamu tapi liat umur kita sekarang? Kita baru mau lulus SMA, kita masih punya banyak cita-cita yang pengen dicapai khususnya aku"
"Tapi kamu tetep bisa bebas ngapain aja Nia walaupun setelah menikah"
"Diar, semuanya gak sesederhana itu. Udah ya Di, aku males berdebat intinya aku bakal terima lamaran kamu tapi bukan di waktu dekat"
"Jadi kamu mau LDR?" Ucap Diar.
"Emang kenapa? Kamu gak yakin bisa LDR? Apa karena disana banyak cewek bule yang lebih cantik dan juga bisa selalu ada buat kamu?"
"Haha, ngaco kamu! Aku yang takut kamu diambil orang Nia! Gak sanggup rasanya harus ninggalin kamu dalam waktu yang cukup lama"
"Terus mau kamu apa?" Diar diam cukup lama seolah sedang berpikir keras, apa kamu tau Di? Aku juga gak akan pernah siap jauh dari kamu, batinku.
"Yang jelas aku gak akan ninggalin kamu Nia, tapi aku juga tetep harus berangkat ke Jerman. LDR emang berat, tapi lebih berat lagi kalau aku harus kehilangan kamu"
"Sumpah lebay banget Di, geli tau!"
"Aku serius Desnia!"
"Diar, apa kamu bakal menetap di Jerman"
"Mungkin iya, nanti kalau lamaranku udah kamu terima aku bakal bawa kamu kesana. Kamu mau kan?"
"Kalau udah menikah nanti aku gak bisa nolak lagi kan?"
"Ya udah deh kita LDR an dulu aja, janji ya jangan macem-macem" Ucap Diar sambil menyentuh hidungku.
"Heiiii yang harusnya khawatir itu aku, kamu kan playboy"
"Aku udah pensiun Nia"
Kita pun tertawa bersama, mengobrol kesana kemari sampai malam. Di sana di sofa ruang tamu Diar, dia menatapku lembut aku beranikan diri untuk mengecup bibirnya sebagai salah satu tanda kalau aku sudah benar-benar jatuh ke pelukannya, sudah tak lagi memikirkan hal lain selain dirinya. Diar membalas kecupanku, dan malam ini menjadi saksi bisu kedua insan yang sebentar lagi akan terpisah jarak dan waktu.
Dear diary,
Menghitung hari, aku akan berjauhan dengan Diar dia akan pergi ke Jerman entah kapan kita akan bisa berjumpa lagi kelak, tapi semoga kita ditakdirkan untuk bersama sampai tua nanti.
__ADS_1
Bandung 2012.
Keinginanku sederhana waktu itu, terus bersama Diar sampai menikah dan terus berlanjut sampai tua bersama, tapi kita tak pernah tau jalan takdir apa yang ada didepan nanti.