Dianggap Wanita Murahan

Dianggap Wanita Murahan
Apa ada kesempatan untukku?


__ADS_3

Diar, sudah lama tak ku tahu kabarnya. Aku memang satu angkatan dengannya, tapi untung berbeda jurusan jadi kami memang jarang bertemu, atau lebih tepatnya aku yang berusaha menhindarinya. Setelah terakhir kali membuat namaku buruk, aku tak pernah ingin melihat wajahnya. Lalu, sekarang dia tepat dihadapanku. Memandangku, sambil tersenyum. Aku muak, itu bukan senyum yang tulus, itu senyuman yang merendahkan.


"Maaf, aku mau lewat". Kataku, karena dia benar-benar menghalangi jalanku.


"Cium lagi dong". Diar mengatakan sambil menepuk pipinya.


"An****g lu!". Ku dorong tubuhnya, sambil berlalu. Ingin sekali aku memukul wajahnya yang lumayan tampan, tapi aku masih bisa mengontrol emosiku.


"Dasar p*r*k". Aku tak bisa lagi menahan emosi, aku dekati dia kutarik kerah bajunya, kutatap kedua matanya penglihatanku sedikit buram oleh air mata. Diar hanya tersenyum, dan membuat emosiku semakin menggebu.


"Aku ada salah apa sama kamu hah?! aku udah coba diem sama semua kelakuan kamu. Aku bisa aja laporin kelakuan bejat kamu ke kepala sekolah, tapi aku diem Di. Aku diem, karena mungkin waktu itu kamu lagi kesurupan! sampe gak sadar sama apa yang kamu lakuin. Tapi apa?", aku berhenti bicara. Air mataku sudah tak dapat kutahan. Aku sudah berusaha lupain semuanya, tapi kenapa manusia laknat ini malah kembali menggangguku. Aku terduduk, menangis terisak sambil menutup muka.


"Tapi kenapa kamu malah nyebarin berita memalukan itu. Sebenci itu kamu sama aku Di? aku salah apa sama kamu?"


"Gue yang salah", ucapnya sambil berlalu.


Dan aku masih menangis ditengah jalan, di lorong sekolah.


"Dasar cowok gila lu! An***g emang lu!". Aku berteriak pada Diar yang dengan santainya pergi. Aaaaaargh hari ini mood ku benar-benar hancur dibuatnya. Aku berdiri, membersihkan rok sekolahku yang kotor dan pergi menuju kelas. Ku hapus air mata yang masih tersisa.


Sampai dikelas, sahabatku Bunga menatapku sambil mengerutkan kening.


"Kamu kenapa Nia? kaya abis nangis",


"Gapapa, cuman kelilipan papan tulis", jawabku acuh. Aku malas menceritakan kejadian tadi pada siapapun termasuk sahabatku, Bunga.


"Lawak elu mah", Bunga tertawa. Begitupun beberapa teman yang memang sedang berkumpul.


Bagus lah, Bunga tak menanyai ku macam-macam.


Guru Biologiku datang, kami belajar seperti biasa. Tapi, hari ini aku sedang dalam kondisi hati yang buruk, beberapa temanku yang bertanya kenapa hanya kujawab "lagi pms" agar mereka mengerti dan tak banyak bertanya.


Ditengah mood ku yang rusak karena Diar. Dari awal masuk kelas, aku merasa Kamal memperhatikanku. Tak apa bila aku dianggap GR. Aku coba melihat kearahnya yg berada di samping kanan terhalang tiga meja dari tempatku duduk. Pandangan kami bertemu. Kamal menatapku tanpa ekspresi, yang sukses membuatku salah tingkah, berpaling dan pura-pura baca buku.

__ADS_1


Pulang sekolah, aku berpapasan dengan Kak Rian. Dia menyapaku, dan berbasa-basi sebentar. Lalu dia bertanya sesuatu,


"Eh, kamu beneran naksir Kamal dari kelas satu SMP? "


"Haha, udah jadi rahasia umum kan Kak"


"Terus kalo sama Diar?"


Aku yang tadinya sedang tertawa, berubah menatap Kak Rian dengan tajam. Dia langsung salting, dan mungkin merasa tidak enak.


"Maaf kalo kamu tersinggung saya pengen tau aja, apa semua berita yang beredar itu cuman gosip apa fakta"


"Emang beritanya apa? "


"Katanya kamu pernah ciuman sama Diar"


Aku menghembuskan nafas dengan kasar, perasaan benciku pada Diar semakin besar.


"Udah ah Kak, aku pulang dulu ya", tanpa menghiraukan responnya aku langsung berlalu.


Aku melewatinya dengan tetap menjaga agar tak kelihatan salah tingkah. Aku mendengar Rendi berkata pada Kamal "Jangan diliatin doang nanti diambil orang, gaskeun bro!"


Aku tak tau apa respon Kamal karena telah melewatinya. Tiba-tiba Rendi memanggilku


"Ya, Nia" Aku menoleh. "Nih, ada salam dari Kamal masih cinta kan sama dia?" semua yang sedang berkumpul tertawa dan menyoraki Kamal, aku lihat Kamal hanya tersenyum sambil menyandarkan punggungnya ditembok. Ya Tuhan sungguh indah sekali ciptaan-Mu, batinku.


Aku hanya tersenyum salah tingkah dan segera pergi karena benar-benar malu, sampai tak sadar tadi banyak yang memperhatikan kejadian itu termasuk Bunga yang ternyata ada di samping teman-teman Kamal saking salah tingkah aku sampai tak melihat Bunga yang sedang ngobrol dengan Zidan pacarnya.


"Aciee, cieeee sudah ada perkembangan nih kayanya" Ledek Bunga.


"Perkembang biakan?" candaku. Dan kita tertawa bersama.


"Eh Ya, tadi Kamal tanya-tanya tentang kamu loh"

__ADS_1


Mataku mengerjap "Jangan bikin seneng deh Nga ah"


"Dih males ah gak jadi cerita"


"Iiiiiiih Bungaaa". Tiba-tiba Bunga berlari dan aku reflek mengejarnya. Akhirnya kita malah kejar-kejaran kaya bocah.


Malamnya aku dan Bunga belajar bareng, kebetulan kami memang sekamar. Seperti yang aku jelasin di awal cerita kalau aku tinggal di sekolah yang ada asramanya.


Aku masih penasaran sama kata-kata Bunga yang bilang Kamal bertanya sesuatu tentangku.


"Nga, kasih tau doong Kamal tanya apa aja ke kamu". Tanyaku padanya sambil nyomot keripik kentang yang tadi dia tawarkan padaku.


"KEPO ah"


"Dih kan kamu yang duluan bikin penasaran, dosa loh bikin orang penasaran"


"Hahaha, nanti aja deh kayanya belum waktunya deh"


"Waktu apaan sih lebay bener"


"Udah ah belajar lagi, aku belum selesai nih"


"Please Nga! kisi-kisinya deh"


"Lu kira ujian kisi-kisi hahaha"


Dan pada akhirnya aku tetap tidak diberitahu. Itulah kenapa aku betah berteman dengan Bunga dia tak pernah membocorkan rahasia dan sangat bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia. Ya sudahlah aku bisa apa, semoga itu bukan hal-hal negatif yang malah membuat Kamal jauh dari ku.


BT banget deh sama Bunga masa main rahasia-rahasiaan sama aku. Apalagi ini tentang Kamal bener-bener bikin KEPO. Kira-kira apa ya yang diobrolin Kamal sama Bunga. Duh sumpah kepikiraaaaaan. Kamal apakah ada kesempatan untukku? Duh jadi lebay giniiiii. Aaah jadi maluuuuuu. Dan Diar seperti biasa selalu membuatku menangis dan marah hanya dua opsi itu yang ada bila aku bertemu dengannya, dasar pengganggu.


Bandung, 15 mei 20*11.


Aku membaca lagi diaryku yang dulu, warna bukunya sudah kusam termakan usia. Tapi kenangan didalamnya masih dapat aku rasakan. Kamal, benar-benar luar biasa pengaruh kamu buatku waktu itu. Sesekali aku tertawa mengingat semua yang terjadi kala itu walau sudah terlewat beberapa tahun, terasa kejadian itu baru ku alami tadi sore. Hahaha.

__ADS_1


Hujan, ditemani lagu kusut dari fortwenty sungguh benar-benar menarikku sekali lagi pada perasaan itu. Perasaan yang sangat indah, perasaan tulus seorang wanita pada laki-laki yang dipuja.


__ADS_2