
"Dan, kamu gak papa kalau harus pindah sekolah."
"Maaf papa cuma bisa masukin kamu ke sekolah yang biasa"
Papa memulai pembicaraan di meja makan dengan tatapan yang sangat serius kepada anaknya Zidan anak satu-satunya.
"Gak papa kok pa, Zidan gak masalah mau sekolah dimana saja asal bisa bersama papa. Zidan udah jenuh di rumah terus. Lagi pula sekolah di mana pun pasti sama kok yang terpenting Zidan bisa menuntut ilmu" jawab Zidan ramah sambil menyendok makanan yang ada di piringnya
Zidan baru saja pindah ke kota Pontianak bersama Ayahnya 2 hari yang lalu. Sebelumnya Zidan sekolah di luar kota dan tinggal bersama Neneknya. Zidan memang sangat dekat dengan Neneknya. Oleh sebab itu dia memilih tinggal bersamanya karena dia berpikir akan menjaganya di usia tua. Namun keadaan merubahnya ia harus ikut Ayahnya pindah dan meninggalkan Neneknya. Namun Zidan tak khawatir jika jauh dari Neneknya karena di sana sudah ada yang jaga Neneknya yaitu saudara jauh Zidan.
Memang, di usianya yang baru menginjak usia remaja, Zidan sudah memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian yang tinggi terhadap semua keluarganya. Dia tidak ingin membuat keluarganya kesusahan. Entah itu Ayah ataupun Neneknya.
Zidan tak memiliki Ibu dikarenakan Ibunya meninggal saat melahirkannya, begitu pula Kakeknya yang meninggalkannya karena memiliki penyakit. Hanya Ayah dan Neneknya yang ia punya. Sebab itu Zidan sangat menyayangi mereka dari merekalah Zidan mendapat kasih sayang.
Zidan tidak ingin melihat Ayah yang disayanginya kesepian. Dia bertekad untuk menjaganya, dengan ikut pindah ke Pontianak agar bisa selalu bersama orang yang ia sayang. Dan akhirnya disinilah dia tinggal bersama Ayahnya.
Dengan bertambahnya usia, membuat Zidan semakin lebih dewasa. Dia berjanji untuk tidak menyusahkan Ayahnya dengan selalu berada di sampingnya. Setiap liburan sekolah dia akan datang menemui Neneknya. Namun sekarang semakin jauh jarak ia dan Neneknya yang telah memberi kasih sayang seperti seorang Ibu, karena itu sejauh apapun Neneknya ia akan berusaha meluangkan waktu bersamanya.
Ayah Zidan yaitu Samsul menyuruhnya untuk pergi ke sekolahan barunya untuk melihat dan mengantarkan surat ke sana. Di SMK JAYARAYA ia akan bersekolah.
"Dan, cepat sana pergi antarkan surat ke kepala sekolahmu dan bisa sekalian kamu melihat-lihat seperti apa sekolah barumu." Kata Samsul kepada anaknya agar tidak bosan juga di rumah.
"Baiklah, karena Zidan juga gak ada kegiatan apa-apa Zidan akan pergi ke sana nanti setelah sarapan, lagian juga bosan di rumah terus sekalian melihat lingkungan di sekitar sini pa"Jawab Zidan.
"Baiklah cepat habiskan makananmu. Biar Papa aja yang cuci piringnya" Papa berbicara sambil bangkit dari kursinya.
"Kamu harus segera berangkat. Takutkan nanti hujan turun, soalnya ini sudah masuk pada musim hujan." Kata Papa menunjuk ke arah jendela dan melihat ke arah langit yang sudah ada segumpal awan hitam di sana.
Zidan pun mengambil kunci motornya dan pergi meninggalkan Ayahnya. Tapi tak lupa ia memberi salam.
"Assalamualaikum" Zidan berjalan keluar dari pintu menuju motor yang ia parkirkan di depan rumahnya itu.
"Waalaikumsalam" Jawab Samsul yang sedang asik mencuci piring.
Melihat ke arah Zidan yang tampak sudah melangkah jauh. Dalam batin Papa, dia bersyukur pada Tuhan karena memiliki anak seperti Zidan yang selalu menyayanginya.
Zidan masuk ke garasi yang cukup luas tempat di mana Ayahnya selalu menyimpan mobil miliknya. Di dalamnya juga ada 2 motor dengan jenis yang berbeda.
Yang pertama adalah motornya sendiri yaitu motor sport Honda warna hitam pemberian ayahnya saat dia masuk kelas 1 SMK. Motornya adalah versi lawas tahun keluaran 2008. Motor nya tiba di kota ini dua hari setelah Zidan pindah. Ternyata Neneknya mengirimkan motor ini dari kotanya yang dulu dengan jasa kurir ekspedisi katanya itu peninggalan dari suami Neneknya yaitu Kakeknya. Walaupun tahun pembuatan nya sudah sangat lama motor itu sangat terawat.
Dan motor kedua adalah motor pemberian Ayahnya yang selalu dipakai kemanapun ia pergi hadiah karena ulang tahunnya. Selera motor Ayahnya adalah motor Beat atau orang nyebutnya motor bebek.
Papanya Zidan dia seorang dokter umum di salah satu Rumah Sakit di kotanya. Namun, saat ini bangkrut karena tertipu oleh sahabatnya sendiri yang Samsul percaya untuk mengolah Rumah Sakit yang ia bangun selama ini, maka dari itu ia dan Zidan pindah ke Pontianak untuk memulai di Rumah Sakit yang baru walau jabatannya tak sebanding dengan Rumah Sakit yang lama namun tak apa lah asal ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan ia tak ingin mempercayai siapapun setelah kejadian itu. Walaupun Samsul bangkrut namun dia masih terbilang orang yang punya, contohnya mobil itu dibeli dengan tabungannya jadi ia tak perlu merasa resah akan kendaraan. Setiap hari Samsul akan bekerja sampai jam 5 sore. Tapi dalam seminggu mendapat libur 2 hari yaitu hari Senin dan Minggu.
Waktu liburnya digunakan Papa untuk membantu korban-korban bencana alam yang membutuhkan. Karena selain di Rumah Sakit, Papa juga menerima orang yang sakit untuk berobat di Rumah jika sedang membutuhkan pengobatan. Sebenarnya dulu Ayah membuatkan ruang praktik di rumah, tapi sekarang tidak bisa membuka praktek sendiri karena tidak ada waktu banyak untuk tetap berada di rumah.
Sedangkan Mama Zidan bernama Bunga, dulunya adalah seorang suster di Rumah Sakit yang sama dengan Samsul, oleh sebab itu mereka menjadi semakin dekat dan memutuskan untuk menuju ke pelaminan. Kalau saja Mama belum meninggal, mungkin sekarang dia selalu ada di samping Papa untuk membantunya dan menyemangati Papa dalam keadaan apapun.
Mama Zidan meninggal di rumah sakit saat melahirkan Zidan, tapi sayang nyawanya tak tertolong dan Papa sebagai seorang Dokter pun tak bisa menolong Istrinya sendiri. Zidan tak menyalahkan siapapun atas kepergian Mamanya tapi walau ia tak bisa merasakan keadaan itu karena waktu itu pun ia baru lahir dan tak tahu apa-apa. Zidan berjanji untuk tidak pernah datang ke rumah sakit walau Papanya seorang dokter namun ia sama sekali tak pernah menginjakan kakinya di sana.
Saat ini Zidan sedang menuju ke sekolahannya dengan menggunakan motor hitam yaitu motor bebek . Dia sudah siap dengan setelan kaos oblong polos berwarna putih dengan jaket semi kulit berwarna hitam dipadukan dengan celana chinos dan sepatu kets berwarna hitam selaras dengan jaketnya.
Gadis-gadis yang melihat penampilan Zidan itu hanya bisa ternganga tidak percaya ternyata orang itu sangat- sangat tampan. Kalau saja dia artis pasti banyak yang mengejarnya dan ingin menjadi pacarnya.
Zidan memang memiliki wajah tampan seperti Ayahnya dan mata indah yang di dapat dari Ibunya. Tubuhnya tinggi dan tegap, kulitnya bersih dan dia juga memiliki badan yang atletis. Dan tidak lupa bahwa dia sangat berwibawa kepribadiannya sangat baik dan sopan sama seperti watak ibunya.
Di Tengah jalan Zidan kehujanan dan terpaksa harus berteduh. Saat itu ia melihat sesosok wanita atau bisa dibilang peri tengah lari menembus air deras yang turun dari gumpalan awan hitam itu.
"Aduh, udah terlanjur basah bajuku. Jadi berujan deh, tanggung tapi bentar lagi nyampe depan gerbang" gerutu gadis ini
"Tu cewek bodoh atau **** sih udah tau hujan masih aja terobos udah pasti basahlah dasar." Timpal Zidan yang hanya melihat dari kejauhan.
Tak lama Zidan menunggu akhirnya hujan berhenti dan ia pun menyalakan motornya kembali dan melaju ke sekolahannya.
"Akhirnya sampai juga" gumamnya.
Zidan pun masuk ke sekolah namun ia tak tahu dimana ruangan kepala sekolah, ia pun berkeliling sebentar untuk mencari orang yang mau menunjukan ruangan yang ia tuju.
brakk
Seseorang menabrak Zidan dari belakang.
"Ma-maaf" katanya sambil terengah-engah karena kecapean.
Zidan yang kaget lalu berbalik.
Namun sebelum Zidan berkata sesuatu, gadis itu langsung berlari lagi masuk kedalam sekolah. Sehingga Zidan harus mengejarnya.
"Tunggu. Aku mau nanya" teriak Zidan setengah berlari
"Maaf ya aku buru buru, dan maaf juga sudah menabrakmu. Aku sungguh ngak sengaja" Kata perempuan itu lalu berhenti berlari dan membalikan badannya.
"Aku mau minta tolong bisa kamu antarkan aku ke ruangan kepala sekolah" jelas Zidan
"Ah-oh i-iya" jawabnya dengan gagap
__ADS_1
Zidan yang melihat tingkahnya hanya senyum sendiri.
"Terima kasih sudah mengantarkan ku aku masuk dulu ya, maaf sudah merepotkan" ucap Zidan di depan ruang kepala sekolah yang ia cari
"Iya sama-sama" balas perempuan itu yang bernama Tiara orang manggilnya Ara
*Di dalam kelas yang kosong, alias tidak ada gurunya*
"Ya ampun Syila aku barusan di samperin pangeran" cerocos Tiara kepada temannya yang bernama Syila. Mereka adalah teman sebangku bahkan sudah dari kecil mereka bersama.
"Ya ampun pangeran di mimpi itu ya" balasnya asal
"Gak lah, pangeran sungguhan"
"Iya terserah aja yang penting mah kamu bahagia" sahutnya cengengesan
Selang 30 menit, seorang Guru masuk ke kelas 12 untuk memberi sedikit info, dimana kelas ini kelas yang ditepati Syila.
"Anak-anak hari ini ada rapat guru dan kalian boleh pulang" jelas seorang guru bahasa Indonesia yang bernama Bu Desi
"Syil, pulang bareng yuk sama aku" ajak Tiara
"Gak usah lah Ra, aku mau jalan kaki aja kayaknya juga mau hujan sekalian melepas rindu" Timpalnya balik
"Ya udah. Tandanya aku udah tawarin tumbangan loh tadi. Aku duluan ya hati-hati di jalan, dang jangan lama-lama main hujan nanti sakit" ucap Tiara dengan menjalankan motornya yang di balas acungan jempol pertanda syila menjawab iya.
"Kayaknya mau turun hujan lagi. Udah pergi sekolah kehujanan pulangnya pun kehujanan, tapi untung deh kalau pulang gini kan enak hujan-hujan dan gak terlalu ramai di jalanan" gumam syila saat berjalan ingin ke luar sekolah dengan senyum kebar di bibir indahnya
Di lain sisi Zidan yang sedang perjalanan pulang karena sudah selesai urusannya dengan kepala sekolah. Saat di perempatan jalan Zidan melihat Anak kecil yang ingin menyebrang dengan sangat hati-hati.
"Adek mau kemana kok nyebrang, emang gak di jemput apa pulangnya sama Ibu atau Ayah kamu" tanya Zidan kepada adik itu yang masih menduduki bangku SMP
"Ya allah, pangeran ada di depan mata, gantengnya gak ada yang ngalahin" batinnya
"Dek"
"Eh iya bang maaf saya ngelamun, tadi abang bilang apa" balasnya dengan cengiran khasnya
"Adek mau kemana kok nyebrang, emang gak di jemput apa pulangnya sama Ibu atau Ayah kamu" tanya lagi
"Gak. Saya pergi dan pulang jalan kaki bang, ini mau jalan pulang kerumah" jelasnya
"Umm, kasihan kalau gitu mau gak kalau abang yang nganterin adek pulang. Nama kamu siapa dan rumahmu di mana"
"Nih pakai helm nya" Zidan menyodorkan helm klasik satunya lagi kepada Syala. Helm ini sangat serasi dengan helm yang dipakai Zidan. Karena helm itu selalu dibawa kemana aja tapi gak ada yang masih memakainya karena belum ada yang ku bonceng pakai motor ini.
"Iya iya"
Syala memakaikan helm nya lalu duduk di belakang Zidan.
Ketika duduk di jok belakang Syala tertegun dengan wangi parfum Zidan.
"Harum" katanya nya dalam hati
Tak memakan waktu lama 15 menit sampailah mereka di depan rumah Syala
"Ya udah kakak pulang dulu ya, sini helm nya" ucap Zidan sambil mengambil helm yang ada di kepala Syala
"Iya terimakasih kak" jawabnya
Belum juga lama ia mengendarai motor nya ia lupa bahwa harus mengisi bensin dulu dan untungnya di pinggir jalan gini ada yang jual bensin. Ia pun berhenti sejenak mengisi bahan bakar motornya.
"Loh cewek itu bukannya yang tadi pagi kehujanan ya?" Tanyanya dalam hati. Dan membuat ia termenung sejenak sambil melihat cewek yang tengah berjalan sambil mendengarkan musik di headsetnya, yang tak sengaja menemukan sosok yang ia tahu.
"Mas jangan di liatin cewek itu, nanti nular loh penyakit dia ke masnya, emang mau" tanya penjual bensin itu kepada Zidan sehingga membuyarkan lamunannya.
"Eh gak kok pak, emang dia kenapa pak" tanyanya penasaran
"Dia itu aneh mas setiap ada hujan, dia selalu tertawa sendiri dan anehnya berlari kesana kemari. Seperti anak kecil aja" jawabnya lagi
"Mungkin dia suka aja kali mas. Yaudah nih uangnya" sahut Zidan sambil memberikan uang bensin dan langsung pergi.
Dari kejauhan sebelum sampai rumah Zidan mendapati sosok gagah di depan rumahnya yaitu Papanya yang sedang menghidupkan motor entah mau kemana.
"Assalamu'alaikum. Pa mau kemana kok keluarkan motor?" Tanya Zidan
"Waalaikumsalam. Papa mau ke rumah sakit katanya ada yang memerlukan bantuan papa"
"Ouh ya udah pakai aja motor Zidan, lagian Zidan gak kemana-mana lagi, palingan cuma dekat sini doang"
"Iya deh makasih ya Dan. Papa pergi dulu"
__ADS_1
"Iya pa hati-hati di jalan"
Hari semakin berjalan waktu menunjukan jam 15:30. Zidan yang terlelap dari tidurnya pun bangun dan segera mengerjakan shalat ashar tak lupa juga doa yang ia selipkan untuk orang-orang di dekatnya
"Ya Allah, ya robbi hamba memohon kepadamu lindungi lah orang yang aku sayangi dan dekatkan lah selalu hubungan kami sekeluarga. Aamiin" ucapnya dengan tangan yang menjulang ke depan
Zidan berencana untuk keliling komplek dia jenuh di rumah dan memutuskan untuk keluar sejenak.
#Di lain sisi di rumah Syila#
"Syila keluar bentar belikan Mama kecap di warung perempatan jalan sana" perintah Mama kepada anaknya
"Iya Ma. Mana uangnya" jawab Syila
"Tuh ambil di lemari atas"
Syila pun keluar rumah untuk membeli apa yang mamanya suruh itu. Dan di saat itu Zidan pun ingin mencari angin di luar rumahnya dan mengelilingi komplek, rumah Syila dan Zidan tidak terlalu jauh hanya beberapa meter saja untuk bisa bertemu itu pun kalau sudah saling kenal.
Syila berjalan dengan sangat lambatnya karna ia sudah mendapatkan apa yang mamanya suruh belikan, Syila mampir di sebuah taman bermain yang berada di simpang tiga dekat rumahnya. Ia duduk dengan napas terengah-engah.
"Ku mohon jangan di sini, ayolah, jangan kambuh di sini" gumamnya karena merasakan kakinya yang gemetaran hebatnya. Ia tak dapat bangkit sedangkan awan hitam di langit sudah perlahan menurunkan air ke bumi. Kini wajahnya semakin basah, bukan hanya basah karena hujan, akan tetapi ada sesuatu yang hangat keluar dari mata nya. Dia mulai menangis di bawah hujan. Seakan hujan menutupi air matanya. Untuk saat ini, dia tidak peduli dengan dunia sekitarnya.
"Kamuflase yang bagus"
Syila terbangun dan membuka matanya. Dilihatnya seorang Pria yang sangat tampan seumuran dengan nya dengan rambut yang juga dibasahi oleh air hujan. Seluruh badan nya terlihat basah kuyup seperti Syila.
"Maaf, apa katamu?"
Tanya Syila pada pria yang masih berdiri di hadapan nya.
"Kamuflase yang bagus... kamu menyembunyikan air matamu dibawah hujan" katanya santai.
"A a-pa ? Aku tidak menangis"
Kata Syila sambil mengusap wajahnya.
Pria itu lalu menyentuhkan jari telunjuknya pada mata Syila yang tentu saja membuat Syila kaget.
Dia lalu memasukan telunjuknya itu pada mulutnya.
"Asin"
"Ini air mata"
Katanya dengan tersenyum menampilkan sunggingan manis di bibirnya.
"Kamu tidak perlu malu, aku juga sering melakukan nya."
"Tidak peduli pria atau wanita, tangisan adalah sebuah hal yang wajar selama itu keluar dari makhluk hidup"
Katanya lagi.
Lalu pria itu pun melangkah ingin meninggalkan Syila.
Namun entah apa yang mendorong diri Syila sampai dia menarik tangan pria itu. Syila menahan nya agar dia tidak pergi.
"Tunggu"
Kata Syila pada pria itu.
"Kau boleh duduk"
Kata Syila lagi.
"Tapi aku tidak meminta izin untuk duduk"
Kata pria itu memicingkan matanya.
"Kalau begitu, mau kah kamu duduk bersamaku?"
Syila berkata pelan sambil menyunggingkan senyuman khas nya.
Pria itu tertegun melihat senyuman Syila. Baru kali ini dia melihat senyuman manis dari seorang perempuan yang bahkan tidak dikenalnya.
Akhirnya pria itu pun duduk di sebelah Syila.
Hening sesaat..
"Kamu kenapa hujan-hujanan begini"
Syila memecahkan keheningan diantara mereka.
"Harusnya kamu tanyakan itu juga kepada diri kamu sendiri"
__ADS_1
Pria itu balik bertanya