
"Dan, cepetan makannya! Habis ini kita harus pura-pura menghilang dan kita buntuti mereka, bantu lah agar misi ini berjalan lancar," bisik Syila pelan sedikit mendekat ke wajah Zidan.
"Kamu jauh lebih cantik kalau di pandang dari dekat." ucap Zidan membuat Syila mematung tak berkata apa apa lagi.
"Bukannya cepetan makannya malah gombalin aku terus." protes Syila mencibirkan bibirnya.
"Cie salting lagi!" ujar Zidan mencolek dagu Syila.
"Ih apaan sih kamu colek-colek," Syila mengusap dagunya yang habis disentuh oleh Zidan.
Zidan dan Syila sudah menghabiskan makanannya, mereka menoleh ke meja Tiara dan Fadric yang tampak serius melahap makanannya. Dengan menggunakan kesempatan itu, Syila menarik tangan Zidan pergi dari meja makannya sesuai yang ia katakan tadi. Namun, tak lupa mereka untuk membayar terlebih dahulu.
Mereka mengendap-ngendap pergi ke dapur resto ini dan mengamati dari kejauhan, mengikuti kemanapun Fadric akan mengajak Tiara jalan, ya khusus untuk malam ini sih.
"Loh! Loh! Mereka kemana kok gak ada sih di meja tempat mereka makan tadi!" ucap Tiara melihat ke sekeliling resto dan tidak menemukan mereka.
Tak lama hp milik Tiara berbunyi menampakan foto sahabatnya itu yang sedang menelponnya.
"Halo! Syila, kamu kemana kok tiba-tiba gak ada." ucap Tiara yang sudah mengangkat panggilan dari Syila.
"Maaf ya, Ra! Aku pulang duluan soalnya aku lupa bayar obat mama aku di rumah sakit," kata Syila yang masih berbicara lewat handphone dengan sedikit kebohongan.
"Oh ya udah deh kalau gitu gak papa kok! Biar nanti aku pesan taxi pulangnya." ucap Tiara mematikan hpnya seperti sedia kala.
Sebuah Piano berbunyi dengan seorang anak kecil memainkannya, dengan jari jemari yang lentiknya, ia menghayati permainan pianonya dengan bait-bait yang sangat memukau bagi yang melihat penampilannya.
"Wah bagus banget ya permainannya? Sungguh berbakat!" Ujar Fadric melihat anak itu.
"Iya bagus banget! Untung aja Syila udah pulang." ucap Tiara keceplosan dan ikut mendengarkan.
"Hah! Emang kenapa dengan Syila?" Tanya Fadric heran.
"Nggak kok, gak ada apa-apa," jawab Tiara kikuk.
"Kalau kamu memang gak mau cerita ke aku juga gak papa kok, aku tau aku hanya sebatas teman saja. Jadi, gak perlu mengetahui apapun tentang kehidupanmu!" ujar Fadric memandang anak itu tanpa melihat Tiara. Entah ia bakal marah atau enggak setelah Fadric menyindirnya.
"Baik aku akan cerita ke kamu, karena juga aku percaya sama kamu, sebenarnya dulu Syila sangat menyukai piano, ia sudah beberapa kali memenangkan kejuaraan olimpiade! sudah dari bangku SD sampai kelas 2 SMP. Hingga suatu tragedi ia alami dan di situ lah ia sudah tidak bisa memainkan piano seperti biasanya, mungkin awalnya ia memang bisa memainkan piano dengan sangat bagusnya. Tapi, di pertengahan permainannya, ia sudah tak bisa mendengar partitur lagu yang ia mainkan! Semua yang ia dengar seketika hilang." jelas Tiara sendu. Ia bahkan bisa merasakan bagaimana kesedihan yang dialami sahabatnya.
"Tragedi apa hingga Syila sampai tak bisa memainkan piano, bukannya tadi kamu bilang ia sangat menyukai piano!" sahut Fadric menatap Tiara kasihan.
__ADS_1
"Ayahnya meninggal saat ingin memberikan kado kepada Syila karena ayahnya yakin bahwa Syila akan memenangkan kompetisi itu."
"Maksud kamu Syila menyalahkan dirinya sendiri karena menyuruh ayahnya datang di kompetisinya." ucap Fadric tak percaya, namun dibalas anggukan oleh Tiara.
"Kalau gitu mulai saat ini kita harus bantu dia menemukan partiturnya yang hilang dan menyemangatinya bahwa ayahnya akan sangat bahagia kalau ia bisa membawa lagunya kembali bersama lantunan pianonya," sahut Fadric menyemangati Tiara.
"Bagaimana caranya?" Tanya Tiara.
"Kita minta bantuan Zidan aja, aku yakin dia gak akan keberatan," ucap Fadric yakin. Ia kini memegang tangan Tiara. Memberinya sebuah harapan. Tiara hanya mengangguk dan membalas senyum Fadric.
"Indahnya permainannya, kayaknya dia berbakat deh main piano!" Ucap Zidan menikmati alunan piano tersebut.
"Bakat yang bagus bukan! Lebih baik kita tunggu di luar aja sampai mereka keluar dari resto," Kata Syila sambil menarik tangan Zidan ke luar resto.
"Kenapa? Padahal tadi aku sangat menikmatinya." Tanya Zidan ketika mereka sampai di luar.
"Iya aku tahu kok kamu menikmati permainan dari anak yang mempunyai bakat seperti dia. Tapi kita di sini cuman mau mendekatkan Fadric dan Tiara jadi jangan sampai terlena nanti malah kehilangan mereka," seru Syila yang kini suasana hatinya berubah sendu.
Zidan diam dan tak berkata, ia merasa ada keanehan dalam diri Syila, bayangkan aja tiba-tiba jadi sendu kayak gini. Padahal Syila kan orangnya ceria, dia menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Syila dan juga piano.
Kini Zidan dan Syila sedang menunggu Tiara dengan suasana diam. Sesekali Zidan melihat wajah Syila yang berubah menjadi murung.
"Ra, jalan yuk mumpung lagi ada di luar gini!" Ajak Fadric karena tak mau melepas Tiara di sisinya.
"Emang mau jalan kemana? Nanti kalau aku pulang kemalaman gak ada taxi gimana!"
"Tenang aja, kan ada aku yang nganterin kamu pulang! Kita ke Festival aja ya."
Zidan dan Syila masih setia mengikuti Fadric, hingga ke Festival pun akan Zidan ikuti asal bersama Syila.
Fadric dan Tiara sudah sampai setengah jam yang lalu di tempat festival, terdapat banyak orang di sini. Ada yang bermain musik, naik wahana dan mencoba beberapa kuliner.
"Ric, aku mau naik itu!" Tunjuk Tiara menatap wahana bermain dengan girangnya.
"Bianglala?"
"Iya,"
"Ya udah ayo kita naik!" Ucap Fadric menggenggam tangan Tiara.
__ADS_1
Mereka pergi ke tempat tiket dan membeli 2 tiket untuk mereka.
"Suka?" Tanya Fadric menatap Tiara yang sudah mengembang senyum di bibirnya.
"Banget," Tiara mengangguk semangat.
Fadric turut ikut senyum melihat Tiara senyum. Dia mengeluarkan ponselnya secara diam-diam dan memotret Tiara yang sangat menikmati.
"Fadric," panggil Tiara melihat Fadric.
"Eh," Fadric tersentak lalu menyimpan ponselnya.
"Kamu ngapain?"
"Enggak kok!"
"Kamu kelihatan cantik," ucap Fadric tanpa sadar. Tiara menunduk malu atas jawaban Fadric yang spontan itu.
Tiara melihat ke bawah karena tak berani menatap Fadric, ya masih malu lah!
"Ric, ini kok bianglalanya makin tinggi! Aku takut liat ke bawah," ucap Tiara melihat kebawah dan semakin jauh dirinya dari orang-orang yang di bawah sana. Tanpa sadar Tiara menggenggam tangan Fadric erat dan memejamkan matanya karena takut.
"Loh-loh kok bianglalanya berhenti di atas sih, Ric?" Tanya Tiara saat wahana yang ia naiki tiba-tiba mogok di atas.
"Gak tau! Ada kerusakan kali ya pada mesinnya." Ujar Fadric menerka-nerka alhasil Tiara semakin menjadi takutnya.
"Jangan rusak dong, nanti kita gak bisa turun gimana!" Gumamnya.
"Aku mah gak papa kalau terus di sini, asal sama kamu" ucap Fadric dalam hatinya.
Sementara di tempat lain, Zidan dan Syila pun ikut menaiki wahana yang sama dengan Tiara, namun jaraknya sangat jauh. Agar tak ketahuan bahwa mereka mengikutinya.
"Syila, lihat deh bulannya,"tunjuk Zidan ke atas.
"Kenapa sama bulannya?" Tanya Syila.
"Bulan itu sama kayak kamu, bersinar di hati aku ketika malam," ucap Zidan membawa tangan Syila di dadanya.
"Gombalin aja mas, biar aku meleleh kayak mentega diatas wajan,"
__ADS_1
Zidan tertawa melihat reaksi Syila yang malu-malu.