DIANTARA HUJAN

DIANTARA HUJAN
perasaan Zidan


__ADS_3

15 menit kemudian setelah Syila selesai rapat Osis.


Menikmati sapuan lembut angin yang berhembus, gadis dengan surai hitam kelam dengan khas pony yang hampir menutupi matanya. Gadis itu memejamkan matanya, merasakan sentuhan alam seolah-olah menyatu dengan alam, dia membiarkan dirinya terbenam dalam hembusan angin yang menyapu ke arah barat. Cuaca siang ini tidak panas dan juga tidak mendung. Cuaca yang cocok seperti cuaca musim semi.


Syila kini berdiri diatas atap sekolah yang hanya dibatasi oleh pagar besi sebagai batasan antara dirinya dan jurang setinggi 4 lantai di bawahnya. Dia memandang ke arah bawah tepat menuju lapangan upacara. Hari ini sekolah dipulangkan lebih awal karena para guru akan mengadakan rapat.


Parkiran sekolah itu kini dipenuhi oleh para siswa dan siswi yang berlalu lalang keluar dari koridor untuk menuju parkiran dan untuk segera pulang ke rumahnya masing-masing. Syila memandangi setiap gerak-gerik manusia yang ada dibawahnya.


"Seperti Lautan manusia.. dengan kisahnya masing-masing." Ucap Syila pelan.


Dia memandang jam pada tangannya yang menunjukan pukul 11 lebih 5 menit. Sebelum itu Syila sudah menghubungi Zidan agar menemuinya di atap sekolah dan meminta Zidan mengambilkan tas miliknya, meskipun sudah selesai rapat osis namun Syila tidak kembali ke kelasnya lagi. Zidan yang menjanjikannya untuk pulang bersama. Maka dari itu Syila menunggu kedatangan Zidan.


Maka disinilah Syila, berdiri menunggu Zidan di atap sekolah sendirian. Syila sudah tentu memberitahukan jalan nya pada murid baru itu yang tak lain adalah Zidan.


Atap sekolah ini mungkin hanya beberapa murid saja yang mengetahui jalan masuknya. Syila saja baru mengetahuinya ketika dia menjadi anggota osis. Kalau tidak menjadi anggota osis mungkin selamanya ia tak mengetahui keberadaan atap sekolah ini.


Sejak saat itu, tempat inilah yang menjadi tempat favoritnya Syila jika ingin mengasingkan diri. Terkadang dia juga lebih memilih tempat ini untuk memakan bekalnya daripada duduk di kantin atau di kelasnya.


"Tempat yang indah" Ucap seseorang yang tiba-tiba berdiri disamping Syila dengan senyum yang sangat memukau para wanita.


Syila hampir saja tersentak karena kaget. Dia begitu menikmati suasana sampai-sampai dia tidak menyadari kehadiran Zidan.


"Kamu ngagetin aku aja! Untung aku gak jantungan" ujar Syila memegangi pagar di depannya.


"Aku tidak menyangka orang seperti kamu bisa tau tempat seperti ini disekolah" ucap Zidan melihat ke bawah atap.


"Keberuntungan aja bisa tau tempat yang indah ini" Balasnya santai dengan tatapan masih mengarah kebawah.


Kini lautan manusia di bawahnya sudah menghilang. Sekolah kini telah sepi sepenuhnya dari murid-murid yang berlalu lalang. Menyisakan satu sampai dua orang yang masih berada di parkiran.


"Apa aku membuatmu menunggu sangat lama?" Tanya Zidan.


"Sangat lama! Kamu kemana aja sih gak datang-datang?" Timpal Syila kesal.


"Kamu nungguin aku ya! Kamu mau aku terus disampingmu" sahut Zidan sedikit menggoda Syila.


"Apaan sih Dan! Aku malah menikmati suasana ini" jawab Syila santai, namun dengan wajah yang merona.


"Dan, apa kita akan seperti ini terus?"


"Maksud aku, pergi dan pulang sekolah bersama?" Tanya Syila kini wajahnya tertuju pada Zidan.


"Tentu saja. Aku ingin terus bersama kamu" jawab Zidan mengalihkan pandangannya pada wajah Syila.

__ADS_1


" Karena ini juga salahmu" Kata Zidan melanjutkan. 


"Hah? Kenapa ini jadi salahku?" Seru Syila heran.


"Salahmu kenapa hari itu disaat hujan kamu malah duduk di bangku dan membuatku menyapamu lebih dulu. Dan mulai saat aku tau kalau aku sekelas denganmu, aku bukan hanya ingin pergi dan pulang sekolah denganmu. Aku ingin terus bersamamu. Karena sejak saat itu juga aku sudah mulai menyukaimu" Jawab Zidan dengan pandangan lurus pada Syila.


*Deg


Wajah Syila kini memerah luar biasa. Dan jantungnya berdetak kencang tidak karuan. Entah kenapa saat Zidan mengatakan itu tubuhnya terasa lemas bagai tak ada tulang. Mungkin jika saja dia tidak menguatkan tubuhnya agar tetap berdiri mungkin ia sudah terjatuh duduk di lantai atap sekolah.


Syila bukan kali ini saja mendengar perkataan seorang pria yang menyukainya. Bahkan mungkin sudah ada 7 orang yang sebelumnya ditolak karena menyatakan hal serupa padanya. Salah satunya adalah mantan kakak kelasnya dulu.


Namun kali ini entah mengapa rasanya jelas berbeda, perasaan yang Zidan katakan padanya sungguh jauh berbeda tapi entah apa yang membuat berbeda dengan pria yang sudah ia tolak.


"Aku gak bisa menjawabnya." Jawab Syila menunduk malu.


"Tidak perlu menjawabnya. Lagian aku juga tidak butuh jawaban kamu. Aku tau ini terlalu cepat. Bahkan kamu belum mengenal aku lebih dalam lagi" ucap Zidan tulus dengan menunjukan seringainya.


"Iya" ucapnya pelan.


Syila sadar kalau ia menerima Zidan, mungkin ia takkan bisa membahagiakan Zidan karena ia saja susah dengan keadaan dirinya sendiri. Syila hanya takut semasa nanti kalau ia akan meninggalkan Zidan dan hanya membuat Zidan lebih sakit lagi. Maka Syila ingin seperti ini aja dulu selalu bersama tanpa status yang jelas.


"Aku hanya ingin mengutarakan itu saja. Aku juga tidak peduli jika kamu menyukaiku atau tidak! Aku hanya ingin kamu mengetahui perasaanku" Jelas Zidan panjang lebar dengan tatapan serius menusuk mata Syila.


"Tidak akan pernah. Karena aku justru ingin selalu berada disisimu" ujar Zidan tersenyum lembut.


Syila yang melihatnya hanya membalasnya dengan senyuman yang menampakan gigi kelincinya.


"Baiklah ayo kita pulang" ajak Zidan.


"Dan, aku ingat kata kamu waktu itu Fadric sudah menyukai Tiara sejak lama" ujar Syila yang tak jadi beranjak dari tempat ini.


"Iya memang itu kenyataannya, terus kenapa dengan mereka?" Sahut Zidan.


"Nanti malam aku sama Tiara mau makan di luar, kamu mau bantuin aku supaya Tiara bisa lebih dekat sama Fadric!" Serunya lagi.


"Apa masalah Tiara tadi siang belum selesai juga" tanya Zidan penasaran.


"Kamu tau kalau Tiara ada masalah!" Ujar Syila.


"Tadi gak sengaja liat dia dengan wajah yang putus asa, aku cuma beri saran sedikit doang kok ke dia" ucap Zidan.


"Um iya sih, aku mau menghibur dia malam ini. Maka dari itu aku minta bantuanmu, suruh Fadric datang ya" jelasnya lagi.

__ADS_1


"Iya. Kami pasti datang kok" kata Zidan memastikan.


Entah kenapa Syila merasa bahagia setelah mendengar ucapan Zidan hari ini. Hati nya kini terasa hangat dan dia merasakan hatinya terasa diisi banyak kupu-kupu.


20 menit berlalu hingga kini mereka sampai di depan rumah Syila.


"Syil.." panggil Zidan saat Syila ingin memasuki rumahnya.


"Apa" ucap Syila menoleh.


"Helm nya.." Kata Zidan singkat.


Syila malu bukan main karena dia baru sadar kalau dia masih memakai helm milik Zidan.


"Oh ma-maaf, ini" Kata Syila terbata-bata sambil menyodorkan helm nya.


"Gak usah deh kamu balikin ke aku" ucap Zidan


"Simpen aja helm nya sama kamu" ucapnya lagi.


"Heh? Ini kan helm kamu?" Ujar Syila..


"Mulai sekarang kamu yang pegang helm itu. Jadi setiap kali kamu lihat aku dengan motorku di depan rumah ini, kamu harus sudah siap dengan helm itu" Kata Zidan dengan grin khas nya.


Syila yang mendengarnya hanya mengangguk dengan memberikan senyuman hangat pada Zidan.


"Assalamualaikum" ucap Syila di depan pintu rumahnya.


"Waalaikumsalam" Jawab Syala membuka pintu.


"Kakak udah pulang" seru Syala


"Bang Zidan juga disini! Masuk dulu bang mampir" ujar Syala lagi.


"Kapan-kapan aja ya, bang Zidan ada urusan" ucap Zidan.


"Beneran gak mau mampir dulu" sahut Syila menegaskan.


"Tuh kan kak Syila aja ngarepnya bang Zidan mampir" goda Syala terkekeh.


"Gak usah di dengerin ya Dan! Adikku memang gitu orangnya" ujar Syila tersenyum.


"Yaudah aku pulang duluan ya. Nanti malam kirim aja lokasinya di nomor aku" ucap Zidan dan segera pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2