
hallo minna! jangan lupa sebelum melanjutkan membaca mohon untuk like ya. kalau boleh vote juga, apalagi kalau mau nambahin koin seiklasnya juga gak papa kok😊
bantu share ya biar authornya rajin up😅😅
"Aku serius tau, dan kamu seperti bunga mawar. Cantik, tapi hanya beberapa orang yang bisa memilikinya, untuk mendapatkanmu aku harus berhati-hati agar tak tertusuk durimu,"
"Dasar pria bucin!"
"Ya gak papa kan? Aku begini cuma sama kamu, kamu itu spesial buat aku!" Seru Zidan.
"Sepertinya suasana hati Syila kembali lagi." Kata Zidan dalam hati.
"Zidan, kita semakin tinggi! Aku jadi takut, udah gitu bianglalanya malah macet di atas gini!" Ucap Syila saat wahana yang mereka naiki tak juga bergerak.
"Aku juga takut nih!"
"Cowok tuh harusnya berani, bukannya takut." Cibir Syila.
"Maksud aku tuh takut kehilangan kamu!" Goda Zidan lagi.
"Gombalin aja terus sampai aku terbang biar jatuh sekalian! Aku mah udah kebal sama gombalan kamu," ujar Syila masih menatap ke bawah.
"Kalau kamu jatuh bilangin ya, biar kamu jatuh di hati aku aja!" Sahut Zidan dengan senyum jahilnya.
Lagi dan lagi Zidan berhasil membuat Syila blushing.
Mereka semua akhirnya menghembuskan nafas lega saat bianglala sudah kembali normal dan setelah bianglala berhenti, mereka pun turun dan mencari permainan lain.
"Eh pokoknya kita jangan sampai kehilangan jejak Fadric dan Tiara ya, awasi terus mereka." Seru Syila yang hendak turun dan disambut tangan Zidan.
Disisi lain.
"Ini aku belikan es serut untuk kamu, Ra! Diminum ya siapa tau kamu haus setelah menunggu bianglala yang mogok di atas tadi!" Ucap Fadric sambil menyodorkan segelas es serut kepada Tiara.
Tiara menerimanya dan langsung mencicipinya.
"Makasih ya, Ric. Kamu sudah mau selalu temani aku," lirih Tiara sambil meneguk es yang ada di tangannya. Fadric hanya menyunggingkan senyum kepada Tiara.
"Aku akan selalu ada di sisimu walau kamu tak memintanya, Ra." Ucap Fadric dalam benaknya.
"Dingin!"
"Tapi enakkan!" Seru Fadric ikut menikmati es serut yang ia beli.
Sedangkan Syila dan Zidan hanya memandangi mereka dari kejauhan.
"Ternyata Fadric perhatian ya, syukur deh kalau begitu! Aku jadi bisa mempercayakan Tiara kepadanya." Tutur Syila ikut senang saat melihat mereka yang sedang bercanda gurau.
"Mereka enak, lah kita jadi gak bebas! Harus ngikutin mereka terus!" cetus Zidan kesal.
"Sabar ya, Zidan. Kalau kamu turuti permintaan aku malam ini, besok aku bakal turuti permintaan kamu deh," ucap Syila membujuk agar Zidan tak kesal.
"Janji?"
"Iya, janji!"
Oke, kembali ke cerita Fadric dan Tiara yak.
"Ra?"
"Apa?"
"Kamu mau gak berlatih ilmu bela diri bersamaku?"
"Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku berlatih ilmu bela diri?"
"Aku ingin kamu bisa menjaga dirimu sendiri, aku gak mau kamu terluka. Aku juga ingin kamu mengeluarkan semua kekuatan yang kamu simpan dalam dirimu, dan sadarlah bahwa kamu sangat berharga dan spesial tentu juga bisa diandalkan." Ujar Fadric memberi harapan yang besar kepada Tiara.
__ADS_1
"Sebenarnya dulu aku udah pernah ikut beladiri, tapi udah lama berhenti," sahut Tiara.
"Kenapa berhenti? Kan sayang harus berhenti ditengah jalan!"
"Karena aku gak punya waktu untuk latihan, aku hanya bisa latihan dari pulang sekolah sampai jam 5 sore. Setelah itu aku harus kerja di salah satu resto mamanya Syila."Â
"Kenapa kamu bekerja?" Tanya Fadric heran.
"Gak papa kok! Cuma ingin mandiri!" Jelas Tiara dengan senyum di buat-buat.
"Kalau kamu mau ngajarin aku ilmu beladiri besok pulang sekolah ya!" Ucap Tiara lagi.
"Siap!" Balas Fadric.
"Oh iya, kamu tungguin aku di sini ya!"
"Kamu mau kemana?"
"Pokoknya tungguin aja sebentar, kalau bosan, kamu boleh cicipi kuliner yang ada di sini."
Fadric berencana untuk memberikan Tiara boneka, maka dari itu Fadric mencoba beberapa permainan yang berhadiah boneka panda yang menurutnya imut seperti Tiara.
"Mas, mau coba permainan?" Tanya penjaga itu.
"Iya pak! Saya mau coba dan mau hadiahnya boneka panda besar itu!" Tunjuk Fadric pada boneka yang berada tak jauh dari tempat permainan.
"Boleh aja mas, tapi harus bisa jatuhin kaleng itu ya," penjaga itu memberikan bola untuk melempar kaleng di depannya dengan jarak 2 meter.
Lemparan pertama tak mengenai kaleng-kaleng itu, Fadric terus mencoba hingga lemparan yang ketiga mengenainya.
"Beruntung!" Ucap Fadric senang.
"Mas kelihatan bersemangat sekali, kira-kira boneka ini untuk siapa?"
"Buat orang yang sangat penting dong pastinya, pak!" Serunya dengan tersenyum saat menerima boneka panda tersebut.
"Doain aja ya pak, semoga memang benar dia pacar saya nantinya." ucap Fadric lalu pergi ke tempat dimana Tiara menunggu.
Dari kejauhan sudah nampak Tiara, namun anehnya kenapa Tiara di kelilingi banyak orang.
"Bapak jangan gitu dong sama anak sendiri?"teriak Tiara melindungi anak kecil yang sudah nampak ketakutan dengan bapaknya.Â
Fadric bergegas menyusul Tiara, takut terjadi apa-apa sama dia.
"Anak kecil kayak kamu tau apa masalah orang dewasa! Paling cuma tau pacaran!" Seru bapak yang meninggikan suaranya emosi.
"Bapak kalau gak mau membelikan anak bapak makanan ya udah biar saya saja." Ujar Tiara merasa bahwa dirinya sudah benar dengan membela anak kecil ini.
"Dasar kamu gadis gak tau malu, beraninya ikut campur urusan saya,"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Tiara akibat melindungi anak kecil yang ia bela.
"Apa-apaan sih bapak! Berani-beraninya tampar Tiara."ucap Fadric yang sudah berada di tengah-tengah mereka dan mencoba melindungi Tiara di belakangnya.
"Nambah lagi kamu yang mau ikut campur urusan saya!" Teriak bapak itu geram.
"Bapak pergi dari sini, atau saya laporkan pada pihak yang berwajib atas tindak kekerasan bapak yang sudah menampar Tiara!" Seru Fadric mengancam. Bapak itu takut jika memang ia akan dilaporkan polisi karena sudah memainkan tangannya, akhirnya ia pun pergi dan tak memperdulikan mereka lagi.
"Kamu gak papa?" Tanya Fadric pada Tiara.
"Aku gak papa kok, makasih sudah mau membela aku."Â
"Aku akan selalu membela kamu kok jika ada orang yang mau menyakitimu!"
Tiara menunduk malu akan perkataan Fadric, selama ini ia tak pernah mendengar perkataan itu dari seorang pria.
__ADS_1
"Adik nama kamu siapa?" Tanya Tiara pada adik yang masih ia pegangi tangannya dengan wajah ketakutan.
"Nama aku Nisa kak." Jawab Nisa.
"Maaf ya kak, Karena belain aku kakak jadi kena tampar sama ayah!" Ujar Nisa dengan suara bergetar.
"Iya gak papa kok, dek!" Ucap Tiara tersenyum.
"Ya udah kamu mau main apa aja biar kakak temenin kamu." Ucap Tiara lagi.
Mereka pun menghabiskan waktu bersama dan memenuhi apapun yang Nisa inginkan. Sementara Fadric tersenyum kagum melihat betapa Tiara sangat penuh dengan kasih sayang terhadap orang yang baru ia kenal.
"Menurut kamu apa aku salah membela anak itu?" Tanya Tiara pada pria yang sudah berjalan di sampingnya dengan mengikuti langkah Nisa di depannya.
"Sama sekali gak ada yang salah atas apa yang kamu lakukan kok Ra! Aku justru kagum sama kamu."Â
"Apa juga yang kamu kagumkan dari aku, Ric! Aku hanya gak mau aja anak sekecil dia mengalami kekerasan dan kurangnya kasih sayang dalam keluarganya, sama seperti aku," ucapnya tanpa sadar.
"Maksud kamu sama seperti kamu apa?" Heran Fadric akan perkataan Tiara.
"Eh, lupain aja!" Seru Tiara tersentak dan segera mengalihkan pembicaraan, segeralah ia menyusul Nisa.
Warna warni yang sudah terlihat di langit malam karena sudah banyak yang memasang kembang api, terlihat begitu indah bagaikan kembang api sedang menari kesana kesini. Tiara terpukau memandangi kembang api dan tak mau memalingkan mukanya dari semua ini.
Sedangkan Fadric hanya menatap wajah Tiara yang sudah kelihatan berbinar-binar senang.
"Pulang yuk! Ini udah malam," ajak Fadric sambil melihat jam di tangan kanannya yang menunjukan pukul 10 malam.
"Tapi anterin ke rumah Syila dulu ya, motor aku di taruh di sana." Ucap Tiara.
"Besok aja baru di ambil, takutkan mereka semua udah pada tidur, nanti malah ganggu lagi! Biar aku antar kamu aja pulangnya." Sahut Fadric lagi.
Mereka pun pulang bersama dalam keadaan hati yang sangat hangat dan nyaman satu sama lain.
Sedangkan Syila dan Zidan sudah pergi dan tak mengikuti Tiara lagi, mereka yakin jika Fadric bisa melindungi Tiara, buktinya kejadian tadi. Oleh sebab itu juga Syila memilih menikmati malam yang jarang ia nikmati.
"Kamu tahu tidak kalau hubungan kita seperti bumi dan matahari, bumi akan selalu membutuhkan matahari seperti aku membutuhkan kamu!" Goda Zidan saat melihat betapa seriusnya Syila menikmati kembang api yang sudah dinyalakan sedari tadi.
"Kamu dari tadi gombal mulu, ga capek apa? Mentang-mentang aku udah tau perasaan kamu." Cibir Syila tak mau berpaling dari indahnya kembang api.
"Aku gak akan pernah capek kalau gombalin kamu!"Â
"Gombal aja terus!"
"Pulang yuk, ini udah malam! Nanti kamu dicariin sama mama kamu."Â
Syila pun mengangguk dan menarik tangan Zidan untuk pergi dari tempat yang membuatnya senang, namun sebelum pulang Syila mengajak Zidan untuk makan terlebih dahulu.
"Aku ingin makan lagi, laper!" Rengek Syila.
"Tadi perasaan kamu sudah makan banyak." Seru Zidan.
"Itu kan tadi sekarang aku pengen makan lagi."sahut Syila.
"Iya iya, apa sih yang gak buat kamu." Goda Zidan lagi
Mereka pun berjalan menuju tempat makan yang masih buka, Syila memesan banyak makanan untuk dirinya dan juga Zidan.
Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang.
"Kamu yakin mau makan semuanya? Inikan banyak banget!" Tanya Zidan tak percaya melihat begitu banyak makanan di depannya.
"Bukan aku sendiri yang makan ini kok. Tapi, kita!" Serunya dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Aku gak mau ah, udah kenyang," cetus Zidan.
"Rasain dulu makanannya! Enak loh." Ucap Syila lalu masukan sedikit pakanan ke mulut Zidan dengan paksa.
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap hingga makanan yang banyak tadi seketika habis dengan singkatnya. Setelah itu mereka pun pulang dengan Zidan yang setia mengantarkan Syila.