
"Kamu kenapa hujan-hujanan begini"
Syila memecahkan keheningan diantara mereka.
"Harusnya kamu tanyakan itu juga kepada diri kamu sendiri"
Pria itu balik bertanya.
"Ah ya haha.. entahlah bagaimana mengatakan nya. Aku menyukai hujan" Kata Syila dengan tertawa kecil sampai memperlihatkan gigi nya yang rapi. Seakan tidak terjadi apa-apa padanya.
"Ehmmm mungkin itu jawaban ku juga" ucap Zidan balik
"Karena aku seorang Pluviophile"
Jawab gadis itu sambil tersenyum.
"Manis" Gumam Zidan saat melihat senyum gadis itu.
"Apa itu Pluviophile?" Tanya Zidan.
"Pluviophile adalah sebutan bagi kaum atau orang-orang yang menyukai hujan. Orang yang akan merasa senang bila melihat awan mendung, orang yang ketika hujan ia berlari dan ingin melihatnya, orang yang akan merasa nyaman ketika air hujan mengenai tubuhnya, dan orang yang akan merasa tenang dengan aroma nya"
Jelas gadis itu sambil mengayunkan kaki nya dan mengenai genangan air di bawahnya. Kaki Syila sudah tidak gemetaran lagi dan ia menyikapi dengan yang seperti biasanya.
"Kalau begitu, aku juga seorang Pluviophile"
Kata Zidan tersenyum sambil menarik dalam dalam nafas nya dan membiarkan aroma tanah tercium menyentuh hidungnya.
"Welcome to the club"
Kata gadis itu santai sambil tersenyum
"Hahhh"
"Aroma tanah ini" ucap Zidan di sampingnya itu.
"Kalau itu namanya petrichor"
"Aroma yang keluar dari tanah saat hujan mengenai nya"
Jelas gadis itu lagi.
"Pengetahuan baru untuk ku. Kamu tahu semua yang berbau hujan ya" tanya Zidan dengan memberikan senyum khas nya kembali di depan gadis itu.
Gadis itu tertegun melihat senyum khas dari pria yang duduk di sebelahnya.
"Aku suka baca novel yang dan baca cerita-cerita gitu dan gak sengaja kebaca peran utamanya sama kayak aku yang mencintai hujan" jelas Syila dengan lengkung di bibir yang menandakan ia senang.
"Oh. Pantas saja pengetahuanmu begitu banyak" ucap Zidan
Kedua Insan yang dipertemukan dibawah hujan itu kini sedang menikmati keheningan di sore itu.
"Ah sudah jam setengah 5"
"Aku harus pulang" Kata gadis itu melihat jam tangan nya. Dengan membawa kecap yang sedari tadi di pegangnya.
"Oh sial.. aku juga harus pulang"
Kata Zidan yang juga melihat jam tangan gadis itu.
"Aku duluan ya.. dahhh" gadis itu pun berlari menembus hujan
"Oh iya, aku lupa menanyakan nama nya"
"Tapi tidak apa-apa lah, sepertinya dia juga tak jauh tinggal jauh dari sini" gumam Zidan sambil melangkah untuk kembali ke rumahnya yang ia tinggalkan beberapa jam ini.
#POV SYILA#
Sesampainya dirumah Syila langsung menuju dapur untuk memberikan kecap kepada ibunya.
"Assalamualaikum" Syila membuka pintu rumahnya.
"Waalaikumsalam" Jawab dua orang yang dikenalnya dari dalam. Yaitu Syala adiknya dan Linda ibunya.
Tak selang beberapa menit ada handuk yang melayang ke arahnya, yang di lempar Syala kepada kakaknya.
"Dasar! Padahal waktu itu kakak sendiri yang melarang aku berpacaran tapi ternyata kakak malah mulai duluan"
Kata Syala yang tadi melemparkan handuk padanya.
"Hah apa maksud kamu?"
Kata Syila heran sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
__ADS_1
"Tadi pas Syala mau pergi ke tukang bakso gak sengaja lihat kalo kakak tadi pacaran di simpang pertigaan depan komplek kan?"
Goda Syala.
"Ceritain dong. Cowoknya kaya apa?" Goda Mama kepada anaknya
"Ganteng kayaknya ma engg.." Sebuah handuk basah melayang tepat di wajah Syala sebelum dia sempat menyelesaikan perkataan nya.
"Orang itu juga Syila gak tau tu orang, gak kenal juga kok" timpal Syila tak mau kalah dari adik dan mamanya.
"Masa. Gak kenal tapi kelihatan akrab banget tadi, udah gitu dari samping kelihatan ganteng banget lagi" ucap Syala gak mau kalah
"Udah-udah kalau mau di lanjutin gak akan selesai ceritanya. Lebih baik cepat ganti baju sana dan bantu mama masak " Ucap mama melerai kedua anaknya.
Syila pun pergi ke kamar untuk ganti baju, sedangkan Syala menemani mamanya masak di dapur. Kamar Syila sama seperti kamar para gadis biasa namun ini bercat putih tidak ada kesan yang menarik sama sekali, sama seperti kehidupannya yang tak sama sekali menariknya namun ia tetap selalu ceria dan bahagia.
Tidak jauh dari meja belajar yang selalu digunakan Syila di samping itu terdapat rak buku khusus untuk novelnya yang ia gemari.
#Pov Zidan#
Zidan lalu berjalan menuju rumah nya kembali. Namun langkah nya sangat pelan. Dia tidak ingin cepat cepat melepas momen ini. Apalagi habis ketemu cewek yang membuatnya penasaran, ingin rasanya ia tanya ini itu kepadanya namun tak sempat diucapkan. Momen dimana dia bersenggama dengan hujan. Momen yang selalu membuatnya bahagia, dan momen ketika hujan mempertemukanku dengan dia.
Zidan mulai menghirup dalam-dalam aroma udara di sekitarnya. Sekali lagi, hanya dari aroma yang keluar dari tanah yang tersentuh hujan dia sudah menemukan ketenangan yang mendalam.
Zidan menatap langit lagi dan mulai tersenyum. Hujan memang selalu membuatnya tenang.
Tanpa ia sadari Zidan telah berdiri di depan rumahnya, ia pun masuk ke rumah. Sebelum itu ia melihat ke arah garasi ternyata Papanya sudah pulang dari Rumah Sakit karena kendaraan yang dipakai Papanya sudah terparkir rapi.
"Assalamualaikum" ucap Zidan sambil membuka pintu rumahnya. Saat pertama kali ia lihat di dalam rumahnya adalah Papanya yang sedang duduk santai didepan tv.
"Waalaikumsalam. Dari mana kamu Dan kok basah kuyup" tanya papanya
"Hehehe gak kok pa tadi kehujanan di jalan" ucapnya dengan senyumannya.
"Ya sudah cepat mandi sana" seru papanya
Zidan pun pergi ke kamar untuk mandi dan ganti baju
Kamar Zidan ini terbilang cukup luas. Di dalamnya ada kasur yang hanya bisa ditiduri satu orang. Di Sebelah kasur itu terdapat sebuah meja belajar dengan komputer di sampingnya. Adam juga memiliki kamar mandi sendiri di kamarnya. Satu satunya hal yang tidak dimiliki di kamar Syila sehingga membuat Syila selalu ingin merebut kamar itu dari Zidan. Di dindingnya terpampang poster-poster Anime kesukaannya. Zidan memang menggemari anime seperti One Piece, Naruto, Alchemist dan masih banyak lagi lainnya. Oleh karena itu di kamarnya banyak sekali pernak-pernik Anime seperti cosplay. Mulai dari stiker dinding, sprei dan juga kasur semuanya berbau dengan anime. Di salah satu sudutnya terdapat sebuah rak berukuran sedang dimana Adam menyimpan semua buku-buku nya termasuk buku pelajaran yang akan digunakan nanti di sekolah barunya dan juga beberapa komik kesukaan nya.
Zidan memang terlahir dalam sebuah keluarga yang terbilang berada. Meski sempat mengalami bangkrut papanya masih mempunyai keuangan yang terbilang menjamin dan di mana pun papanya kerja ia tak keberatan sama sekali karena selain untuk membantu orang yang sakit papanya juga ingin lebih mengejar apa yang dicita-citakan walau sudah terwujud. Oleh karena itu mereka berdua selalu merasa kebutuhan mereka tercukupi. Namun terlepas dari itu semua, di dalam hati Zidan ia selalu mengucapkan arti dari rasa bersyukur kepada Tuhan. Neneknya lah yang berjasa menanamkan itu semua di dalam hati Zidan sejak kecil. Tak lupa juga Ayahnya yang menanamkan benih serupa yang bernama rendah diri dan tidak sombong pada siapapun.
Setelah berganti baju Zidan langsung menuju kasurnya. Karena tidak ada lagi pekerjaan yang harus dia lakukan akhirnya dia memutuskan untuk membaca komik The Alchemist yang kemarin dibeli di toko khusus buku, novel dan komik. Namun tanpa tersadar dia pun terlelap di kasurnya.
Setelah beberapa jam Adam terlelap dia dibangunkan oleh suara adzan magrib yang menggema dari luar kamarnya.
Gelap berubah terang, bintang berubah menjadi matahari. Pagi telah datang lagi dengan sinarnya yang sangat terik terlihat.
Zidan turun dari kamarnya dan menyapa Papanya yang sedari tadi sudah ada di meja makan.
"Pagi Dan" tanya Papa dahulu
"Ayo sarapan dulu"
Sambung nya lagi.
"Wah ini papa masak banyak banget" tanya Zidan.
Papanya Zidan memang terbiasa memasak sendiri karena sebelum menikah dengan mamanya Zidan ia tinggal sendiri dan mau gak mau ia harus belajar memasak.
"Iya, ini sekalian untuk nanti siang ya, soalnya papa pulang sore atau bisa juga malam" jelas papa
Mereka pun makan bersama hanya terdengar suara sendok yang berperang dengan nasi dan lauk. Tak lama selesai makan Zidan pun akan segera berangkat ke sekolah yakni di SMK JAYARAYA
Zidan melihat jam tangan nya yang menunjukan pukul 06.40 pagi.
"Kalo gitu Zidan berangkat dulu ya Pa."
Zidan menghampiri Papa dan mencium tangan nya.
"Eh Dan, itu kunci motor nya kenapa gak di bawa?"
Kata Papa menghentikan langkah Zidan yang hendak berjalan keluar pintu.
"Oh iya lupa pa " Jawab Zidan sambil menyunggingkan bibirnya hingga memperlihatkan grin khas nya dihadapan Papanya.
"Yaudah Zidan pergi ya.. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jawab Papa.
Zidan pun lalu menyalakan motor Beatnya untuk menuju ke sekolahan barunya. Ini adalah hari pertamanya masuk sekolah. Hanya butuh waktu 30 menit akhirnya Zidan sampai di depan sekolahannya yang baru.
__ADS_1
Pernah sekali ketika Zidan baru masuk kelas X SMK di sekolah lamanya, dimana dia terjerumus ke dalam sebuah pergaulan genk motor di sekolahnya. Zidan beberapa kali terlibat dengan perkelahian sampai pernah menghajar teman nya hingga masuk rumah sakit dan ada juga yang ia patahkan tulang-tulang lawannya. Hanya saja Zidan bisa keluar dari itu semua ketika dirinya memasuki bangku kelas XI. Di saat itu dia bertemu dengan seorang teman yang selalu mengingatkannya dan menasehatinya, sehingga ia menjadi Zidan yang sekarang ini. Namun sejak kejadian itu Zidan harus menerima selama 2 tahun menjadi orang yang ditakuti dan di segani di sekolah lama nya. Ia pun menjadi siswa yang sangat populer di sana, banyak yang ingin menjadikan pacarnya. Namun Zidan sama sekali tak melirik semua gadis yang ada di sekolah lamanya. Senakal-nakalnya Zidan ia tetap patuh dan hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
Namun tahun ketiganya kali ini, dia sudah benar benar meninggalkan masa lalunya itu. Dan dia juga berharap di sekolah baru nya ini kehidupan nya akan kembali normal.
Di lain sisi yakni Syila sedang menunggu angkot untuk pergi ke sekolah bersama Adiknya yaitu Syala, walau sekolah mereka berbeda, Syila SMK dan Syala SMP. Namun sekolahan Syila melewati sekolahan Syala jadi begitulah Syila bisa mengantarkan adiknya karna sekalian jalan.
Syila turun dari angkot sebentar untuk memastikan adiknya benar-benar masuk sekolah. Tak lupa Syala mencium tangan kakaknya itu
"kakak cepat buruan pergi dari sini" kata Syala yang sudah mulai risih dan tidak tahan melihat semua pandangan teman cowoknya itu yang menatap mereka.
"Heh bukannya ngucapin terimakasih malah ngusir gitu aja"
Syila membuka suara.
"Iya terimakasih kakak ku sayangggg. Cepet sekarang pergi"
Kata Syala sambil mendorong dorong kakaknya. Agar lekas masuk ke dalam angkot lagi.
"Cium tangan dulu"
Kata Syila dengan senyum jahil
*cup
Syala mencium tangan kakak nya.
"Awas saja mereka kalau menyukai kakak ku" kata Syala dalam hati
Karena sempat kejadi waktu Syila mengantar adiknya ke sekolah, hampir satu kelas teman cowoknya menanyakan kakaknya itu. Betapa kesalnya Syala saat itu karena selalu di ikuti kemanapun oleh teman-temannya. Maka dari itu Syala tak suka jika kakaknya mengantarkan ia ke sekolah.
Tak butuh waktu lama ia berada di dalam angkot. Karna SMK JAYARAYA sudah nampak di depan mata, ia pun berlari tergesa gesa turun dari angkot menuju gerbang sekolahnya.
"Aduhhh aku akan terlambat!"
Batin nya dalam hati.
Dilihatnya jam dari jam tangannya menunjukan pukul 06:50. Memang bunyi bel masuk sekolah biasanya berbunyi ketika jam menunjukan 07:40, tapi untuk gadis ini, jam 7 pagi adalah batas kedisiplinan nya tiba di sekolah.
Huh akhirnya sampai tepat waktu"
Kata perempuan itu ketika sampai di depan kelas nya.
Saat perempuan itu masuk untuk duduk di bangkunya terdengar beberapa perempuan lain sedang membicarakan sesuatu.
Diluar kelas Syila sedang heboh karena kedatangan Zidan.
Zidan akhirnya sampai di depan gerbang sekolah yang dia tuju. Perlahan ia memulai masuk ke dalam ia masih ingat ruangan kepala sekolah, jadi ia ke sana dulu biar nanti baru di anter ke kelasnya oleh kepala sekolah.
Pemandangan serupa seperti kemarin terjadi lagi ketika Zidan datang melewati gerbang sekolah menuju tempat parkiran motor. Semua mata memandang nya. Namun kali ini bukan hanya mata para gadis yang terpesona melihat kedatangan Zidan dengan setelan maskulin yang sangat menonjol pada dirinya yang gagah perkasa. melainkan juga tatapan-tatapan dari para pria yang penasaran dengan siapa sosok yang mereka tidak kenal itu.
Kali ini Zidan sadar dengan semua mata yang tertuju padanya. Hanya saja Zidan tidak menghiraukan nya karena dia tau kalau dia adalah sosok asing di sekolah ini.
Tatapan-tatapan para gadis semakin menjadi ketika melihat Zidan membuka helm yang tadi menutupi seluruh wajahnya.
"Hey liat, bukan nya orang itu yang kemarin ada di depan gerbang sekolah ya ?"
"Wah benar! Di tampan banget!"
"Apa mungkin dia murid baru di sekolah ini ya ?"
"Ah semoga dia ditempatkan di kelasku"
Bisik para gadis ketika melihat penampilan Zidan
"Eh tadi kamu liat cowok yang di depan sekolah kita gak ?"
"Iya aku lihat. Ganteng banget!!!"
"Btw, siapa ya dia?"
"Mungkin dia murid baru di sekolah ini"
"Wah beruntung banget deh yang sekelas dengan dia"
"Eh Syila tadi kamu liat juga kan ?"
Kata seorang perempuan yaitu temannya yang bertanya padanya. Syila yang baru saja duduk untuk mengistirahatkan jantungnya yang tadi dia pikir hampir copot.
"Eh entahlah"
Syila yang sedang ngos-ngosan pun menjawab seenaknya saja.
"Ah kamu ini gak asik"
__ADS_1
Kata perempuan itu yakni Tiara teman sebangkunya, lalu ia berbalik lagi menuju kerumunan gadis-gadis yang dari tadi masih membahas seorang pria.
"Huh baru murid pindahan aja udah heboh belum lagi presiden yang datang mungkin udah pada nyemplung ke kolam" gerutu Syila