
Mentari menyambut, matahari telah terbit menampakan sinarnya cuaca hari ini begitu cerah namun tak secerah suasana hati Syila.
Syila masih berbaring di atas ranjangnya ia merasakan pusing yang sangat mengganggu dirinya, Syila pun berdiri untuk mengambil segepok obat-obatan yang selama ini ia minum dengan teratur, nafasnya terengah-engah tak tahan akan sakit yang ada pada dirinya. Ia pun langsung meneguk obat itu dengan segelas air hingga masuk ke dalam tubuhnya, setelah menelan beberapa obat tadi Syila kembali untuk rebahan mencoba menetralkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini dan setelah itu baru ia akan turun untuk sarapan.
"Kakak kenapa bangunnya lama banget?" Tanya Syala yang tengah duduk di meja untuk sarapan bersama
"Kakak kesiangan bangunnya" ujar Syila yang baru datang
"Kesiangan karena semalam habis jalan sama pacarnya" sambung mamanya yang datang sambil membawa sup ayam.
"Apaan sih mah, semalam itu dia cuma ngantarin doang dan kami gak pacaran mah" sahut Syila menyangkal
"Wah belum pacaran berarti lagi PDKT ya" goda Syala yang ikut-ikutan.
"Ih gak kok, kami cuma teman sekelas aja" ujar Syila cuek karena lelah dipojokin oleh mama dan adiknya.
"Ya udah gak usah cemberut dong, lebih baik cepet sarapannya?" Timpal mama melihat tingkah anaknya yang kesal padanya.
"Lain kali kenalkan mama padanya biar bisa kasih restu"goda mama lagi pada Syila
"Apaan sih ma" ucap Syila cuek dan melanjutkan makannya lagi.
Mereka pun sarapan bersama dalam satu meja ya begitulah keluarga yang sesungguhnya harus banyak menghabiskan waktu bersama. Selesai sarapan Syila mengerjakan pekerjaannya sebagai seorang gadis, yakni membereskan rumah, sedangkan mamanya pergi untuk mengecek Restoran yang sudah ia buat cabangnya di berbagai tempat.
Sore telah datang menggantikan pagi, tadinya cuaca hari ini sangat cerah namun semakin sore cuacanya malah mendung seperti akan turun hujan, Syila memang suka dengan hujan namun untuk kali ini Syila tak menyentuhnya, ia enggan untuk keluar kamar. Hujan yang datang tak hanya rintikan air namun beserta angin kencang dan petir yang mengkilat membuat Syila takut. Hujan yang selama ini ia sukai tidak seperti ini rasanya. Syila memilih tidur di kamarnya hingga malam menjelang, Saat ia bangun hujan yang tadi ia lihat ternyata masih sama saja belum berhenti sama sekali, saat Syila melihat keluar jendela ia jadi teringat mamanya yang berada diluar sana dan belum kembali padahal sudah dari tadi pagi mamanya pergi.
Syila memilih duduk di depan tv namun tak menyalakannya, Syila menunggu kedatangan Mamanya hingga jam menunjukan pukul 10 malam. Kekhawatiran Syila semakin menjadi saat ia menelpon mamanya namun tak diangkat
"Semoga mama gak kenapa-kenapa" gumam Syila yang masih setia menunggu. Hingga sebuah telepon masuk di hpnya nomor yang tak ia kenal
"Halo" uacp Syila saat mengangkat panggilan di hpnya
__ADS_1
"Halo, apa benar ini Syila anak dari ibu Linda" tanya orang itu dari telepon yang ternyata adalah seorang suster.
"Iya benar" ujar Syila
"Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan anda bahwa ibu anda kecelakaan dan sekarang kritis di rumah sakit" ucap suster itu menjelaskan. Tubuh Syila bagai tersambar petir ia tak berdaya mendengar itu semua badannya lemah seperti tak ada tenaga. Padahal baru tadi pagi ia bercanda dengan mamanya.
"Sa...saya akan segera kesana" jawab Syila gemetar. Segeralah Syila pergi ke kamar Syala untuk memberitahunya apa yang terjadi
"Syal bangun" Ucap Syila menggoyang-goyangkan tubuh adiknya dengan suara parau
"Ada apa kak" tanya Syala yang akhirnya pun terbangun dari tidurnya
"Mama kecelakaan Syal dan sekarang berada di rumah sakit. Apa kamu berani di rumah sendiri malam ini, kakak akan pergi ke rumah sakit" jelas Syila
"Apa? Mama kecelakaan. Syala mau ikut ke rumah sakit kak" ucap Syala menangis mendengar bahwa mamanya kecelakaan
"Ini sudah malam dan diluar lagi hujan, kamu dirumah aja ya" bujuk Syila
"Besok kamu kakak jemput kita sama-sama ke rumah sakit, tapi sekarang biar kakak sendiri ya. Kamu doakan mama dari sini saja" ucap Syila meyakinkan
"Ya udah. Tapi Kalau ada apa-apa sama mama, kakak harus segera telpon Syala ya" sahut Syala menuruti perintah kakaknya untuk tetap di rumah
"Iya. Kakak pergi dulu kamu hati-hati di rumah" sahut Syila dengan suara bergetar. Syila tak tahu harus berbuat apa saat ini, ia sangat takut akan keadaan mamanya. Bahkan Ia rela menerobos hujan dengan berjalan kaki kesana karena jam segini pun sudah tak ada kendaraan yang lewat.
Syila berjalan dalam keadaan yang sangat lemah dengan air mata yang ditutupi oleh air hujan dan pandangannya tak menuju ke arah depannya, langkahnya begitu lemah ia bahkan tak bisa memperhatikan keadaan di sekitarnya dan hampir saja ia keserempet motor karena tak melihat ke arah depan, untungnya motor itu menghindar. Motor itu dikendarai oleh Zidan yang keluar karena suatu keperluan, Zidan pun berhenti menghampiri gadis yang hampir ia serempet itu.
"Mbak gak papa, kalau jalan lihat depan dong mbak biar gak membahayakan diri mbak dan orang lain juga" ucap Zidan dari belakang Syila namun tak dihiraukan Syila. Ia masih menunduk membuat Zidan semakin bingung, jangankan menjawab pertanyaannya menolehnya pun tidak. Zidan pun berdiri di depan Syila untuk memastikan keadaanya, namun Syila terlebih dahulu mendongakkan wajahnya. Betapa terkejutnya bahwa yang ada di depannya ini adalah Syila.
"Syila" teriak Zidan kaget rasa tak percaya yang ia lihat.
"Kamu kenapa malam-malam gini berujan" tanya Zidan namun sama sekali tak dihiraukan Syila. Zidan melihat mata Syila ia pun menyadari bahwa Syila sedang menangis bahkan hujan tak sanggup menghapus air matanya. Zidan mendekati Syila ia memeluk erat tubuhnya, tubuh mungil yang diterpa hujan malam ini begitu terlihat sangat rapuh.
__ADS_1
"Kamu kenapa, cerita aja ke aku. Aku gak bakal tau kalau kamu gak cerita" ujar Zidan sedikit menenangkan
"Bisa antarkan aku ke rumah sakit" ucap Syila dengan suara serak seraya melepaskan pelukan Zidan. Namun Syila masih belum bergerak sama sekali, ia malah menangis sejadi-jadinya di hadapan Zidan.
"Aku takut Dan, aku takut" jerit Syila di depan Zidan
"Iya aku tahu, aku ada di sini siap mendengar apa yang membuat kamu takut" ucap Zidan menenangkan Syila. Mereka berbicara dengan hujan menyaksikan dua insan yang saling menganal diri mereka.
"Dulu ayahku kecelakaan dan membuatnya pergi selama-lamanya meninggalkan aku dan sekarang ibuku kecelakaan. Aku takut dan aku sangat takut itu akan terulang" lirih Syila
"Ibuku meninggal saat melahirkanku. Benar benar hal yang menyakitkan"
"Aku sekarang mengerti kenapa kamu menangis"
Zidan berkata dengan nada yang sama datarnya dengan Syila.
"Kullu nafsin dzaiqotul maut"
Jawab Zidan.
"Yang artinya setiap yang bernyawa pasti akan mati"
"Kematian sudah ketetapan Allah, jadi kita tidak bisa menyesalinya. Toh kita pun sama sama calon mayat"
Jelas Zidan membuat Syila yang berdiri di hadapannya tertegun tak percaya.
"Kamu benar. Kita hanya bisa menangisinya tapi tidak untuk di sesali" Kata gadis itu mantap.
"Sekarang aku hanya ingin berada di samping mamaku dan berdoa semoga mama tidak apa-apa. Kamu mau kan antar aku ke sana" sahutnya lagi
"Tentu saja, tapi kamu harus ganti baju dulu biar gak masuk angin" ucap Zidan menatap tubuh Syila yang basah kuyup.
__ADS_1
Senyuman terlihat dari bibirnya yang membuat jantung Zidan berdetak kencang saat melihatnya.