
"Pasti dia senyum lagi.. untung wajahku tertunduk. Jadi aku tidak melihat senyuman yang bisa bikin aku meleleh itu"
Gumam Syila dalam lubuk hati.
"Ah ini kita sudah sampai" Kata Zidan menunjuk tempat dimana tertulis "ruang guru" di atas pintunya.
"Akhirnya... Terimakasih ya sudah bantu bawain buku" Kata Syila dengan senyum lebarnya.
"Ehh sama-sama. Ya udah aku ke perpus dulu mumpung belum bel masuk" ucap Zidan
Mereka pun berpisah Zidan pergi ke perpus dan Syila pergi ke belakang sekolah untuk baca novel kesukaannya.
"Ah akhirnya aku bisa duduk dengan tenang dan membaca untuk memenuhi hasrat penasaranku" gumam Syila pelan.
Selang 15 menit bel berbunyi pertanda bahwa jam istirahat telah habis dan menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai. Syila pun segera bergegas untuk kembali ke kelas
Syila berjalan dengan pelan dengan kepala menunduk kebawah sehingga ia tak begitu memperhatikan jalan sehingga membuat ia menabrak dada bidang seseorang sehingga mengenai batang hidungnya.
"Aduh" gumamnya lalu mengangkat kepalanya untuk melihat seseorang yang ia tabrak
"Eh Syila kamu lagi. Lain kali kalau jalan itu hati-hati" jelas Zidan menasehati
"Hehe iya-iya maaf. Udah 2 kali nabrak untung aku gak papa ya" ucap Syila dengan sedikit tertawa
"Heh aneh, harusnya aku yang ditanya kenapa-kenapa karena aku yang kamu tabrak. Ini malah menanyakan diri sendiri" canda Zidan membuat Syila sedikit malu
"Kan kamu berdiri di sini berarti kamu baik-baik saja. Ya udah aku masuk dulu ah nanti takutkan sudah ada guru" balasnya lagi
"Syila gak mau bareng. Kita ini satu kelas loh, dan kamu sebagai ketua kelas harusnya nyuruh atau ngajakin masuk bareng lah" gerutu Zidan menatap Syila pergi mendahuluinya
"Ya udah kalau mau bareng, cepatlah"
Mereka pun pergi ke kelas bersama-sama, seperti ditakdirkan untuk saling menegur sapa.
Setelah sampai di depan kelas mereka masuk dan yang terjadi adalah kehebohan yang sangat langka bahwa Syila mau bareng sama cowok walau hanya berjalan bersama. Selama ini Syila mana mau dekat sama cowok apa lagi jalan berdua gitu. Ini sungguh kejadian yang sangat langka
"Weh sepasang sejoli terlambat masuk berdua nih" teriak teman sekelas mereka
"Iya nih. Tadi istirahat juga antarkan buku berdua loh" ucap lagi salah satunya.
Syila yang benar-benar merasa malu ia sama sekali tak menggubris apa yang mereka katakan dan malah duduk dengan tenang tanpa ucapan apapun yang keluar dari mulutnya. Saat ini ia sangat malu banget.
"Ya ampun Syil kamu beneran jalan sama Zidan pengeranku itu" tanya Tiara saat sudah sampai ia untuk duduk
"Cuma kebetulan doang kok tadi, lagian dia yang mau bareng" jawab Syila
"Tapi kalau kamu beneran ada apa-apa sama Zidan aku gak papa loh. Aku mah gak sebanding sama kamu makanya dia ngejar kamu. Padahal baru hari pertama ia masuk, tapi udah melelehkan hati seorang Syila" jelas Tiara lagi
"Apaan sih Ra, orang aku beneran gak ada apa-apa kok, udah ah aku mau membaca" timpal Syila dan melanjutkan membaca novel yang ia bawa sedari dari tadi mumpung belum ada guru ia gunakan kesempatan ini untuk membaca.
"Aduh ini seumur hidupku aku batu pernah merasa malu. Huh tau gini mah gak mau bareng aku" gumam Syila dalam lubuk hatinya.
Sementara itu Fadric gak percaya apa yang barusan terjadi ia pun langsung menghujani beberapa pertanyaan pada Zidan
"Dan kamu baru pertama masuk aja udah dapat Syila hebat bener dah teman aku" tanya Fadric
"Eh apaan. Dapat apaan, aku gak ada apa-apa kok tadi kebetulan aja ketemu dan aku ajak bareng. Tapi kalau nanti jadi bener doakan saja ya" bisik Zidan agar tak terdengar oleh Syila yang sekarang berada di depan mejanya
__ADS_1
"Kamu tuh enak mau deketin yang mana aja dapat. Lah aku mau dapetin satu itu aja susahnya minta ampun" jelasnya pelan sambil menunjuk sisi Tiara
"Kamu suka sama Tia…" ucapnya namun tak sempat melanjutkan karena mulutnya ditutup oleh Fadric
"Diam-diam dong nanti ketahuan kan malu aku" bisiknya lagi
"Oke kalau gitu aku bantuin kamu deh untuk dekat sama dia kalau untuk jadian masih belum yakin" jelasnya meremehkan Fadric
Jam menunjukan 13:30 yang berarti bahwa waktu untuk pulang sudah tiba. Semua berhamburan untuk keluar kelas.
Syila baru melangkah keluar sekolah bersama Tiara disaat parkiran sudah sepi. Syila memandang langit dengan menaruh tangan kanan nya diatas kedua matanya seperti posisi sedang menghormati bendera. Kali ini Syila pulang bersama Tiara karena ia ingin ke suatu tempat dulu baru ia pulang ke rumah dan ia meminta bantuan temannya untuk mengantarkannya.
"Sepertinya hari ini bakalan cerah" Gumam nya ketika merasakan hangatnya matahari yang mengenai tubuhnya.
Syila dan Tiara pun pergi mereka ingin ke tempat pemakaman ayahnya Syila. Perjalanan yang ditempuh untuk ke pemakaman umum tidaklah jauh hanya menempuh waktu 15 menit.
Syila kini berdiri di sebuah makam bernisan yang bertuliskan nama Ilham Atmaja. Ya, nama itu adalah nama Ayahnya. Ayah yang dulu waktu kecil ia banggakan yangs ering mengajaknya jalan kemanapun ia mau. Namun meskipun telah tiada ayahnya akan selalu ia banggakan
"Assalamualaikum Pa.." Kata Syila saat berdiri di depan makam Ayahnya bersama sahabatnya.
Selama dua minggu ini Syila sudah 2 kali berkunjung kesini. Namun selalu seperti biasanya, setelah mengucapkan salam dia tidak pernah bisa berkata apa-apa lagi. Jika ia berkata ia pasti selalu menangis maka dari itu ia memilih diam dan berdoa untuk ayahnya. Akhirnya Syila bisa memanjatkan Doa di depan makam Ayahnya. Ya, dia sadar bahwa hanya itulah yang bisa dia berikan pada Ayahnya. Do'a dari anak yang merindukan sesosok ayah.
"Mungkin ini hanya doa yang bisa kupanjatkan untukmu, dariku anak yang menyayangi Ayahnya" Batin Syila dalam hatinya.
Syila memandangi jam yang berada di tangan kanannya ia akan segera pergi untuk pulang karena adiknya pasti menunggunya sendiri dirumah. Ibu syila kerja dari pagi sampai jam 8 malam bahkan bisa juga sampai jam 10 malam.
"Aku pulang dulu pa.."
"Assalamualaikum" lirihnya dan pergi meninggalkan tempat pemakaman yang diikuti dengan langkah di belakangnya yang setia menemaninya dari tadi, yakni Tiara. Tiaralah teman yang berharga karena tiara yang selalu ada untuknya ketika ia membutuhkan seseorang.
Tiara mengantarkan Syila pulang ke rumahnya sambil berbincang-bincang kecil. Untuk memecahkan keheningan di antara mereka
"Sedikit sih. Kamu pasti lapar ya? Kalau gitu nanti mampir di rumahku dulu kita makan bareng" jawabnya
"Iya nih maklum perutku kan karet hehehe. Tapi kamu tukang masaknya aku yang makannya" jawabnya cengengesan
"Tenang aja kan ada chef Syila yang masakannya mengalahkan restoran bintang 5"
"Tentu itu chef" candanya lagi
Mereka pun sampai. Segeralah Tiara memarkirkan motornya di dalam garasi perumahan Syila.
"Assalamulaikum" ucap kedua perempuan yang dikenali oleh Syala
"Waalaikumsalam" Syala menjawab sambil menghampiri mereka
"Wah ada kak Tiara juga" lanjutnya
"Apa kabar kamu Syala lama gak ketemu pasti kangen sama kakak ya. Sengaja kakak kesini mau lihat perkembangan tubuhmu loh" tanya Tiara girang dengan sedikit candaannya
"Syala baik kak. Ih kak Ara mah gitu, gini-gini aku tuh cantik dan gemesin" jawab Syala
"Iya gemesin rasanya pengen cubit pipi kamu" timpalnya langsung mencubit pipi Syala yang chubby
kak sakit tau di cubit-cubit" gerutu Syala
"Kamu udah makan apa belum?" Tanya Syila pada adiknya.
__ADS_1
"Belum. Aku sengaja hari ini biar bisa makan siang bareng kakak"
"Kakak belum makan kan?" Tanya nya lagi.
Sebenarnya saat tadi selesai sholat dzuhur Syila sudah makan nasi bekal yang ia bawa. Namun karena Tiara belum makan ia pun ingin masak, tidak tega melihat Syala yang sudah rela menahan kelaparan demi makan siang bersamanya. Akhirnya dia berbohong bahwa dia belum makan.
Walau dengan perut tidak begitu lapar dia akhirnya terpaksa makan untuk kedua kalinya
"Lain kali, jangan khawatirkan kakak. Kalau kamu lapar makan saja tanpa harus nunggu kakak." Syila membuka pembicaraan
"Iya kak.."
Sementara mereka berdua yakni Syala dan Tiara sedang asik ngobrol Syila lah yang memasak semua makanan yang akan mereka lahab itu. Karena Syila sangat pandai memasak jadi mereka serahkan semua tugas memasak kepada Syila. Syila belajar memasak dari mama nya yang kini adalah pemilik restoran di salah satu kota pontianak dan mamanya Syila sangat pandai memasak apapun menu makanan di karena kan dulunya seorang chef, namun dengan berjalannya waktu ia bisa memiliki restoran sendiri, dari situlah keluarga nya tidak kekurangan uang karena restoran mama nya berada di mana-mana.
Tak lama kemudian Syila memanggil mereka berdua untuk makan.
"Ayo makan masakan sudah siap nih. Kita makan bareng" Ajak Syila pada yang datang dari belakang. Mereka pun makan dengan lahapnya di meja makan.
"Heh ngomong ngomong kamu ini kan perempuan. Kamu harus mulai belajar masak. Biar gak harus nungguin kakak terus kalo kakak gak ada" Syila membuka bicara di meja makan
"Iya-iya, kapan-kapan deh belajar masak" ujar Syala
"Bner tuh Syal kamu kan perempuan" sahut Tiara sambil mengunyah nasi
"Kamu juga Ra arus belajar masak biar gak ngarepin pembantu" timpal Syila balik
"Iya yang udah jago masak nih, lagian aku udah tau kok caranya memasak walau gak karuan rasanya. Jadi kamu tenang aja aku bisa lebih belajar lagi" jelas Tiara melanjutkan makannya.
Jam menunjukan pukul 15:15 yang menandakan waktu shalat ashar sudah masuk.
"Ah sebaiknya aku sholat dulu" Syila bergumam dan beranjak mengambil wudhu ketika melihat jam di smartphone nya. Setelah itu ia putuskan untuk keluar sebentar ingin pergi ke toko buku untuk membeli novel karena bahan bacaannya sudah habi. Syila meminta adiknya untuk menemaninya agr Syala jugantidak kesepian dirumah sendiri
"Syal, ikut kakak yuk" ajak Syila
"Kemana kak" tanya Syala
"Ke toko buku. Nanti baliknya kakak belikan es cream deh" bujuk Syila sekali lagi
Tanpa pikir panjang Syala pun mau untuk menemani kakaknya.
Syila menatap langit lagi dan mulai tersenyum. Hujan memang selalu membuatnya tenang.
"Syala kamu di rumah aja deh, hari mau hujan jadi tunggu kakak aja" timpal Syila
"Huh kakak nyuruh aku di rumah. Tapi kakak malah keluar saat hujan" seru Syala cemberut
"Kakak udah besar bisa jaga diri, kamu kan masih kecil. Nanti sebagai imbalannya kakak bawakan es cream banyak deh" bujuk Syila
"Aku ini udah besar kak udah SMP, huh kalau gak karena es cream aku pasti gak bakal izinkan kakak pergi" ucapnya cemberut
Kakaknya yang melihat itu hanya tertawa, adiknya ini mau semarah apa, kalau sudah dengar kata es cream langsung semangat.
Jam menunjukan pukul 4 sore dan langit mulai terlihat mendung.
Entah kenapa, Adam selalu merasa senang ketika melihat cuaca yang akan hujan.
"Kakak mau keluar dulu, mungkin pulangnya agak kesorean. Kamu jangan kemana-mana dan tunggu rumah"
__ADS_1
"Hmmmm" Balas Syala dan masuk ke dalam rumah dan langsung mengeluarkan hpnya yang berada di sakunya, agar tak bosan ia mengotak atik hpnya sehingga kelihatan sibuk