
Pelajaran pertama Zidan berjalan biasa-biasa saja, sampai waktunya jam istirahat tiba, dimana ada sesuatu yang memisahkan antara Zidan dan Syila kini hadir kembali.
Zidan tidak bisa menemukan Syila yang kini entah kenapa dia selalu sibuk dengan kegiatan Osisnya itu. Terpaksa Zidan harus mengikuti Fadric dan temannya menuju kantin, dari pada di kelas sendiri yang nanti fans Zidan malah mengerumuninya.
Zidan yang baru saja selesai makan dari kantin iseng melewati jalan belakang sekolah, tempat dimana tidak ada siswa atau siswi yang lewat sini karena takut dengan suasana gudang yang sudah tidak terpakai dan usia gudang yang sudah tua.
Perlahan Zidan berjalan, namun, saat itu ia malah mendengar suara orang yang ngos-ngosan dan dentuman bola basket yang memantul ke lantai dengan kerasnya. Rasa penasaran yang ada pada diri Zidan menyuruhnya untuk melihat apa ada orang di tempat yang menyeramkan ini.
"Bukannya itu Tiara! Ngapain dia di tempat seperti ini?" Tanya Zidan dalam benaknya.
Zidan yang merasa kesal oleh sikap Tiara yang memainkan bola basket asal tanpa niat sedikit pun. Zidan lalu menghampiri Tiara yang hendak pergi dari tempat itu.
"Z-Zidan?" Kaget Tiara saat berbalik malah melihat sosok Zidan yang menatapnya heran dan penuh tanya.
"Ngapain kamu disini" Tanya Tiara dengan wajah yang masih penuh keringat.
"Aku gak sengaja lewat sini" Kata Zidan jujur.
"Ohh.." sahut Tiara ketus.
"Kamu kalau gak ada niat main basket kenapa harus tetap main basket" tanya Zidan membuka pembicaraan.
"Aku hanya mau latihan sebentar doang kok" gugup Tiara mencari alasan.
"Kalau kamu lagi ada masalah atau lagi kesal dan entah apa masalahnya yang menjanggal di hidupmu, jangan kau lampiaskan kemarahanmu pada basket" sindir Zidan menyadari bahwa Tiara memang lagi ada masalah. Dan seketika hening saat itu juga, tanpa ada pembicaraan dari Tiara.
"Dan! Aku boleh tanya satu hal ke kamu" Kini Tiara bertanya menatap mata Zidan.
"Tanya apa?" Ucap Zidan.
"Kenapa kenangan yang pahit tak bisa untuk dilupakan" tatapan Tiara beralih pada bola basket yang kini di depan kakinya.
__ADS_1
"Mau sesakit apa masa lalumu, yang namanya masa lalu ya masa lalu, semua sudah berlalu dan akan berganti masa depan. Dibalik rasa sakit itu ada sebuah masa yang mungkin hanya sedikit kebahagian, namun jangan pernah lupakan kenangan berharga dalam rasa sakitmu itu, karena dibalik kenangan itu pasti ada kenangan yang sangat berharga walau hanya sedikit" tegas Zidan yang masih menatap Tiara tertunduk.
"Aku ingin menghilangkan kenangan ini bersama sakit yang kurasakan" ujar Tiara memelas.
"Walaupun ada kenangan yang berharga di antara kenangan yang menyakitkan" sahut Zidan melanjutkan.
"Lebih baik kamu ke kelas, sebentar lagi masuk. Cuma satu yang bisa ku katakan padamu, simpanlah kenangan itu walau harus terus mengingat sakitnya" ucap Zidan melangkah pergi meninggalkan Tiara sendiri.
Sepi, hening, sunyi itulah yang dirasakan Tiara saat Zidan sudah benar-benar pergi meninggalkannya. Tiara pun mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Syila.
"Halo Syil, bisa kesini sebentar! tempat biasa ya" ucap Tiara pada Syila yang dia hubungi lewat Handphone miliknya.
Tak lama kemudian Syila pun datang dengan membawa sebotol air minum.
"Nih minum dulu" ucap Syila yang baru datang, Syila melemparkan botol yang ia bawa kepada Tiara.
"Kenapa menyuruhku kesini"tanya Syila duduk di samping Tiara.
Tiara berbaring di pangkuan sahabatnya yang selalu mendengarkan keluh kesahnya sejak beberapa tahun ini.
"Kamu masih mimpiin kejadian buruk yang kamu alami" ujar Syila yang langsung mengusap kepala Syila dengan lembutnya.
Syila memang sudah menganggap Tiara sebagai adiknya sendiri, karena Tiara tidak punya keluarga di kota ini, maka Syila yang akan menjadi keluarga untuk Tiara sampai kapanpun itu.
"Aku capek dan jijik kalau harus mengingat kejadian itu" ujar Tiara rapuh.
"Udah gak usah dipikirkan, lagian itu masa lalumu kok! Lebih baik nanti malam kita pergi jalan yuk. Kita makan di luar biar gak kepikiran" ajak Syila mencoba membuat Tiara kembali bersemangat.
"Maunya sih gak dipikirkan, tapi kejadiannya muncul terus sih" ucap Tiara kesal.
"Gimana keadaan tante Linda?" Tanya Tiara.
__ADS_1
"Udah baikan kok! nanti sore udah bisa pulang" jawab Syila.
"Ke kelas yuk, takutkan sudah ada guru yang masuk. Pokoknya nanti malam jemput aku ya, kita keluar sekali-kali" ujar Syila menyemangati.
Disisi lain Zidan yang tengah duduk sebangku dengan Fadric menceritakan apa yang ia lihat pada diri Tiara. Zidan yakin kalau ia menceritakan ini pasti Fadric akan segera berfikir untuk selalu melindungi Tiara. Wanita yang ia sukai sejak lama.
"Masa sih Tiara punya masalah yang berat banget" tanya Fadric tak percaya. Bukannya mendengarkan penjelasan guru mereka berdua malah ngobrol seenaknya.
"Iya beneran, kamu sebagai cowok harus bisa jagain cewek yang kamu suka" timpal Zidan menasehati.
Tak lama kemudian datanglah Syila diikuti Tiara yang mengekor di belakangnya.
"Assalamualaikum maaf pak kami terlambat" ucap Syila mengucap salam saat memasuki kelasnya yang ternyata sudah ada guru yang mengajar.
"Waalaikumsalam"
"Dari mana saja kalian, udah telat 10 menit loh baru datang" tegas pak Abu guru sejarah mereka.
"Tadi habis bantuin guru menyusun buku di perpus, pak. Maaf jadi telat masuk" ucap Syila terpaksa berbohong.
"Ya sudah cepat duduk" seru pak Abu.
Fadric memandang wajah Tiara yang muram dan sangat lemah. Bukan seperti Tiara yang biasanya selalu ceria.
"Kenapa Tiara muram gitu ya" tanya Fadric dalam hatinya.
Setelah mereka sudah duduk dan mendengarkan penjelasan guru. Datanglah ketua osis untuk mengumpulkan seluruh anggota osis.
"Permisi pak" ucap ketua osis
"Saya mau pinjam Syila sebentar untuk rapat osis, bisakan pak" jelasnya lagi
__ADS_1
"Oh ya sudah gitu, Syila pergi aja nanti bapak berikan kamu tugas hari ini" sahut pak Abu mengerti.
"Baru juga datang sudah pergi lagi" gumam Zidan kesal dengan keadaan ini.