DIANTARA HUJAN

DIANTARA HUJAN
sedikit demi sedikit mengenali Tiara


__ADS_3

"Cie-cie kakak lagi seneng nih" goda Syala melihat kakaknya senyum-senyum sendiri padahal Zidan aja udah pulang ke rumahnya.


"Yey kau nih! Masuk sana" ujar Syila mendorong agar Syala masuk.


Hari sudah menunjukan pukul 19.00 malam. Kini Syila tengah duduk di depan tv dengan pakaian sudah rapi, tinggal menunggu Tiara datang. 


Rumah nya telah hangat lagi penuh dengan candaan dalam keluarga kecilnya itu, mamanya sudah pulang dari rumah sakit tadi sore dan sekarang tinggal masa pemulihan saja. 


"Assalamu'alaikum tante" ucap Tiara nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu rumah Syila terlebih dahulu. 


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak. Syila menatap tajam Tiara karena ia sudah membuat Syila menunggu sangat lama.


"Kamu dari mana aja sih kok lama banget baru datang" cetus Syila pada Tiara.


"Maaf" ucap Tiara sambil nyengir bagai tak punya salah pada Syila.


"Apa kabar tante? Sudah baikan apa belum" sapa Tiara menyalami Linda.


"Alhamdulillah sudah mulai baikan nih, Ra! Kalau kalian mau pergi keluar lebih baik cepat pergi sekarang, biar gak kemalaman pulangnya" jelas Linda menatap mereka berdua. 


Bagi Linda, Tiara sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, karena sudah dari kecil ia mengenal Tiara dengan kisahnya yang saat memilukan hati, jika diceritakan.


"Oke deh mah! Kalau gitu kami berangkat duluan ya" pamit Syila pada Linda. 


"Hati-hati di jalan" ujar Linda.


"Kita pesan taxi aja ya Ra, soalnya malam-malam gini gak baik kalau pakai motor takutkan ada orang yang berniat jahat nantinya" ujar Syila mencari alasan. Padahal ia ingin nantinya agar Tiara diantar oleh Fadric pulangnya, sekalian mau bikin mereka dekat.


"Yaudah terserah kamu aja" ucap Tiara dengan wajah yang biasa-biasa. 


Syila sudah memesan taxi dan tinggal menunggu saja, sebelum itu pun ia sudah mengirim alamat ke Zidan agar ia dan Fadric bisa pergi ke sana, seolah-olah tak sengaja bertemu. Akting yang bagus bukan!


Syila membayangkan tentang kejadian hari ini. Hari yang dimulai dengan dirinya yang melihat Zidan berdiri dengan motornya di depan rumah.


Dilanjut dengan gombalan-gombalan receh Zidan pada Syila, namun membuatnya bahagia.


Dan terakhir, dimana pria itu berhasil mengungkapkan perasaannya pada Syila, bahwa Zidan menyukai dirinya.


"Dasar pria bodoh! Egois!" Syila berteriak dalam hatinya.


"Dan kejam!" Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Kamu kejam Dan.. gara-gara kita bertemu waktu itu, aku malah suka padamu, dan karena sikap kamu padaku membuatku semakin ingin selalu disisimu dan setiap aku memejamkan mataku, aku malah selalu melihat sosok kamu yang hadir dalam hidupku" ucapnya masih dalam hati dengan senyum-senyum tanpa kepastian.


"Beraninya kamu mengatakan bahwa kamu menyukaiku tanpa mau mendengar jawaban nya dariku.Kamu bodoh! Kamu tidak tahu bahwa Aku juga menyukaimu" Kata Syila masih sama tersenyum.


"Woy Syil! Kamu ngapain senyum-senyum sendiri gitu. Awas loh ntar kesambet baru tahu rasa" senggol Tiara karena perkataaannya tak dihiraukan oleh Syila.


"Eh siapa yang senyum-senyum gak ada tuh" ucap Syila menyangkal.


"Kamu kira aku gak lihat apa! Yang lagi falling in love nih sama Zidan" ujar Tiara menaikan sebelah alisnya.


"Ih gak ada kok" timpalnya lagi.


"Ayo turun! Kita udah sampai nih di resto dan aku gak sabar makan, lapar banget" ajak Tiara memandang Syila.


"Oke-oke sabar napa! Nih bang ongkosnya" Syila memberi secukup uang pada pak sopir yang mengantarkan mereka.


"Makasih neng" ucap Pak sopir tersenyum dan di balas senyum juga oleh Syila.


Tiara dan Syila ingin berjalan untuk masuk ke resto yang sudah mereka pilih. Namun, tak di sengaja ia malah menabrak seseorang dan orang itu adalah Zidan, orang yang ia tunggu.


"Eh maaf" ucap Zidan bersama Fadric.


"Wah kebetulan banget nih kita ketemu di sini, aku mau makan di resto ini. Mumpung kamu di sini aku mau ngomong sesuatu yang sangat penting!" Ujar Zidan menatap Syila.


"Ya udah masuk yuk" ucap Syila.


Mereka berempat pun masuk bersama, namun di meja yang berbeda. Tiara dan Fadric di meja lain dan Syila sama Zidan pun begitu.


"Jangan bangunkan aku dari mimpi indah ini tuhan, bidadarinya cantik banget, siapa yang sudah mencuri selendangnya sih sampai kesasar ke sini" batin Zidan berbicara saat memandang wajah Syila yang begitu memikat hatinya.


Syila merasa risih karena ditatap terus oleh Zidan. "Kenapa natap terus" tanya Syila karena tak tahan ditatap terus oleh Zidan.


"Kamu cantik banget" puji Zidan tak mau berpaling.


"Gombal!" Syila memukul pelan tangan Zidan agar ia tak terus-terusan memperhatikannya.


"Serius kamu cantik banget" goda Zidan.


"Gombal aja terus, sampai hati ini tak bisa lupain kamu" cibir Syila dalam hati.


"Sampai kapan kita liatin menu makanan terus? Gak mau pesenin aku makanan?" Tanya Syila.

__ADS_1


"Ah iya, itu semua karena kamu sih" ucap Zidan menepuk jidatnya.


"Loh kok aku" heran Syila.


"Kamu membuat aku gak bisa berpaling sih, maunya mandangin kamu terus" 


Syila langsung blushing hanya karena kata-kata Zidan yang manis.


"Pipi kamu kok merah? Cie cie salting!"


"Apa Sih!" Syila menunduk dan segera memalingkan wajahnya karena sangat malunya dia.


"Kenapa kamu nutupin muka kayak gitu?" Tanya Zidan saat melihat Syila menutup wajahnya.


"Liat nih! Pipi aku merah karena kamu" Syila menunjukan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Pfft hahahaha, kamu lucu deh baru di gombalin dikit aja udah blushing" Zidan tertawa terbahak-bahak membuat Syila kesal.


"Kamu ini bikin aku sebel deh, cepat pesan makanan nih" Syila memukul kepala Zidan pelan menggunakan buku menu makanan untuk restoran.


"Kita disini cuma mau liat kemesraan mereka ya" sebal Tiara karena memandang Zidan dan Syila yang sudah kelihatan romantis banget.


"Makanya jangan diliatin, cepet pesan makanan saja" ucap Fadric terkekeh.


"Dari sejak kapan kamu temenan sama Syila" tanya Fadric pada Tiara.


"Sejak kecil" jawabnya dengan lesu.


"Berarti keluarga kamu sama keluarga dia dekat dong"  ujar Fadric memandang wajah Tiara yang seketika berubah murung.


"Apa aku salah bertanya" ucapnya lagi.


"Pertanyaan kamu gak penting untuk dijawab! Yang aku tau hanya Syila yang benar-benar keluarga aku gak ada yang lain" ucap Tiara serius dengan menampilkan wajah yang murung.


Fadric merasa bersalah karena sudah ikut campur urusan Tiara. Ia yang menyadari hal itu tidak meneruskan pertanyaan nya.


Fadric juga merasa ada sesuatu yang dirasakan Tiara dan tak mau siapa pun tau.


"Aku tau kamu gak akan mau cerita ke aku, mungkin dengan menyimpannya sendiri kamu bisa pura-pura baik-baik saja. Syila juga teman aku. Dan aku juga akan membantu kamu! Cobalah untuk meminta tolong, jangan semuanya kamu pendam sendiri" kata-kata Fadric barusan begitu membuat Tiara  perlahan mulai merasakan kehangatan dari ucapan-ucapannya.


Tiara yang dikira Fadric baik-baik saja, ternyata menyimpan sebuah rasa sakit yang dipendam dari dalam lubuk hatinya. Tapi Fadric salut pada wanita ini. Dari luar dia bisa tampak tegar walaupun di dalam hatinya dia hancur.

__ADS_1


__ADS_2