
Zain dan zeze bersiap siap untuk chek out. Tidak lupa mereka pun menelepon rental mobil yang membawa mereka semalam.
Zain dan zeze pun sudah tiba dipelabuhan, zain dan zze malamnya disumur tiga tidak lupa jalan jalan dikota kecil tersebut. Zain dan Zeze pun banyak membeli oleh oleh khas daerah tersebut, ada main kunci dari khas laut, ada baju disablon dengan tulisan sabang banyak sekali hingga Zain dan zeze pun bingung memilihnya san satu hal lagi harga terjangkau. dan tidak kalah menariknya Zain dan Zeze bisa naik mobil ferari di kota kecil ini. Mobil ferari atau mobil mobil sport sangat banyak kita jumpai karena disini langsung dibawa dari luar negeri melalui jalur kapal.
1 jam ditengah laut menuju pelabuhan Zain dan zeze hanya bisa tertidur di kapal fery.
kapal fery pun bersandar dan mereka pun telah tiba dibanda.
Zain dan Zeze menyewa betor ( becak motor) menuju musieum tsunami.
Zain dan zeze pun membeli tiket untuk masuk ke musium tsunami.
tour guide pun mengarahkan mereka.
Untuk kembali mengenang tragedi tersebut, dibangunlah sebuah museum bernama Museum Tsunami Aceh, yang diresmikan pada 27 Februari 2009 oleh Susilo Bambang Yudhoyono.
__ADS_1
Dibangun di atas lahan seluas 2.500 meter persegi, museum ini dirancang oleh Ridwan Kamil selaku mantan walikota Bandung yang memenangkan sayembara. Sayembara tersebut diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007.
Pembangunan museum ini memakan dana Rp140 miliar dengan hasil yang sangat mengagumkan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil bangunan yang memiliki dua makna.
Jika dilihat dari bagian atas, museum tersebut merefleksikan gelombang Tsunami. Namun jika dilihat dari bawah atau tampak depan, bangunan ini seperti sebuah kapal penyelamat dengan geladak luas
Untuk menuju Museum Tsunami Aceh cukup mudah. Sesuai namanya, museum ini terletak di pusat kota Banda Aceh tepatnya di Jalan Sultan Iskandar Muda, berdekatan dengan Lapangan Blang Padang dan sekitar 400 meter dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Isi bangunan Museum Tsunami Aceh terdiri dari empat lantai dan memiliki beberapa koleksi yang membahas kejadian tsunami, yaitu dengan total koleksi mencapai 55 unit yang terdiri dari 22 alat peraga, 26 foto, dan 7 maket.
Pada lantai dasar museum terdapat ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik. Saat memasuki museum ini, ruang pertama yang akan disinggahi pengunjung adalah ruang renungan.
Dalam ruangan tersebut terdapat sebuah lorong sempit dengan penerangan yang remang. Terdapat suara air yang mengalir di sisi kanan dan kiri lorong yang diibaratkan sebagai gemuruh tsunami saat masa silam.
Setelah melewati ruang renungan, pengunjung akan memasuki ruang kaca yang disebut “Memorial hill” dengan dilengkapi oleh monitor yang bisa digunakan untuk mengakses informasi mengenai peristiwa tsunami.
__ADS_1
Setelah melewati ruang memorial hill, pengunjung akan memasuki ruang “The Light of God”, yaitu sebuah ruangan berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya. Pada puncak ruangan terlihat kaligrafi arab bertuliskan ALLAH.
Tak hanya itu, pada dinding-dinding ruangan tersebut juga dipenuhi oleh nama-nama korban tsunami yang tewas dalam peristiwa bencana tersebut.
Beralih pada lantai dua museum, yaitu akses untuk menuju ke ruang multimedia, seperti ruang audio, ruang 4 dimensi “Tsunami Exhibition Room”, pre-tsunami, while tsunami, dan post-tsunami.
Kemudian di lantai 3 museum ini tersedia beberapa fasilitas-fasilitas, seperti ruang geologi, perpustakaan, musala, dan souvenir.
Di lantai paling atas, difungsikan sebagai tempat penyelamatan darurat atau escape building apabila terjadi tsunami kembali di masa datang. Pada lantai ini tidak dibuka untuk umum karena mengingat konsep keselamatan dan keamanan pengunjung, dan hanya akan dibuka saat keadaan darurat atau dibutuhkan saja.
Pada 2018, Museum Tsunami Aceh terpilih sebagai museum terpopuler dari 400 museum di Indonesia dalam ajang Indonesia Museum Award 2018.
sekilas tour guide menjelaskan tentang musieum tsunami .
Zain dan Zeze tampak puas dan kini mereka kembali ke rumah bibinya Zeze dengan menyewa betor yang banyak ditemui didepan musieum tsunami.
__ADS_1