
Saat sarapan kedua saling diam, hanya ada suara sendok yang saling beradu. Bahkan tempat duduk nya pun berjauhan. Aulia duduk di sisi sudut sedangkan Faris duduk di tengah. Kedua nya saling bungkam dan memilih untuk menghabiskan makanan nya sendiri
Mendengar Faris tersedak, Aulia langsung menuangkan air itu ke dalam gelas lalu meletakan gelas nya di dekat lengan Faris
"Minum ris" Bukan nya menerima gelas di dekat nya. Faris lebih mengambil air nya sendiri
"Enggak usah repot-repot, aku bisa sendiri" Pungkas Faris langsung meneguk gelas di genggaman tangan nya. Aulia benar-benar merasa bersalah atas ucapan semalam
"Makan nya lagi enggak ris, semalam kan kamu enggak makan. Nanti kamu sakit" Aulia hendak mengambilkan nasi untuk Faris namun lagi-lagi Faris menolak nya. Merasa sakit hati akibat ucapan Aulia semalam
"Enggak usah so peduli sama aku lia, aku tau sifat asli kamu sekarang. Dan aku kecewa sama kamu" Faris langsung pergi meninggalkan tempat makan itu. Tanpa menghabiskan makanan nya sedikit pun
Ini memang salah Aulia sendiri, tidak seharus nya dia berbicara seperti itu. Lihatlah kemarahan Faris sekarang. Tidak bisa di bujuk oleh siapa pun
Setelah makanan Aulia habis, dia akan meminta maaf kepada suami nya. Aulia tidak bisa seperti ini terus
"Faris boleh aku masuk" Dengan sopan. Aulia mengetuk pintu ruangan Faris kerja. Faris sengaja meminta ruangan agar kerjaan kantor nya bisa dia kerjakan dengan leluasa
Tak ada jawaban dari Faris, akhir nya Aulia memutuskan untuk masuk ke ruangan kerja nya
Mata Aulia menangkap sosok suami nya yang tengah bekerja. Bukan kah ini hari Minggu sesibuk itu kah Faris. Sampai-sampai hari weekend pun di pakai hari kerja
"Kamu masih marah sama aku? Aku minta maaf ris, aku enggak ada maksud kayak gitu. Maafin aku ris" Aulia menenggelamkan wajah nya di balik punggung Faris. Mengingat rumah tangga nya yang tengah cekcok. Membuat Aulia menangis
"Lia, diam deh. Aku lagi banyak kerjaan" Merasa risih dengan sikap Aulia
"Maafin aku ris, aku enggak ada maksud nyinggung kamu. Aku tau aku salah. Maafin aku ris" Tangan Aulia semakin erat di pinggang Faris. Membuat Faris sedikit pengap
Faris sama sekali tidak menghiraukan permohonan istri nya ini, dia tetap fokus ke layar laptop dan membuat ketikan proposal itu rapi
__ADS_1
"Faris" Ucap Aulia pelan, tangan nya menghapus air mata yang sejak tadi tak dapat di bendung lagi. Saat ini Aulia benar-benar menyesal akan ucapan nya sendiri
"Hem" Faris hanya berdehem. Dia tetap mengerjakan sesuatu di layar laptop nya
"Kamu marah banget sama aku? Aku minta maaf atas kesalahan aku. " Memyesali ucapan nya yang tak pantas jika seorang istri mengucapkan kan nya
"Kamu keluar sana" Mendengar Faris mengusir Aulia semakin menangis. Tak merasa malu jika dia menangis di depan suami nya
"Aku tau, aku salah. Tapi aku ke sini mau minta maaf ris Aku enggak ada maksud ngomong kasar sama kamu. Tolong maafin sikap aku semalam" Air mata kembali terurai. Merasa sedih karena Faris tak memberi kan pintu maaf nya
"Iya udah aku maafin" Hanya ucapan yang dia lontarkan. Namun tidak dengan hati yang sinkron
"Kamu maafin aku ris, aku senang banget denger nya. Makasih yak ris. kamu udah maafin aku" Tanpa ada rasa gengsi Aulia langsung mencium pipi Faris sekilas. Faris sendiri hanya tersenyum saat merasakan ciuman itu
"Kamu mau aku buatkan teh enggak? Aku buatkan kamu teh yak, supaya enggak ngantuk kerja nya. " Faris mengangguk. Saat itu pula Aulia langsung membuatkan segelas teh
Jujur Aulia tidak tahu ukuran gula teh nya, tapi dengan sebisa mungkin dia membuatkan teh spesial untuk suami nya. Tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit
"Makasih" Ucap Faris singkat
"Ko makasih si? Aku kan istri kamu, jadi udah tugas aku melayani suami. " Ungkap Aulia merasa senang. Tahap demi tahap Aulia bisa menjadi seorang istri yang Faris harapkan
Jari-jari Faris sibuk bergerak di atas keyboard. Merevisi semua kerjaan karyawan yang salah itu sudah menjadi tanggung jawab nya.
Faris mengambil gelas yang tertata di piring kecil, dia meniup teh nya agar tidak terasa panas jika sudah ada di tenggorokan nya.
Saat meneguk air teh nya, Faris merasa ada yang aneh dengan rasa teh yang di buatkan istri nya
"Lia, ini teh nya ko agak beda yak rasa nya. " Ungkap Faris pelan. Takut menyinggung perasaan hati Aulia
__ADS_1
"Beda gimana? Aku udah masukin gula ke gelas nya" Aulia merasa heran. dia mengingat betul saat memberikan gula pada teh itu
"Rasa nya aneh" Merasa mual saat meminum teh nya
"Aneh gimana ris? Aku udah kasih gula ko sama teh nya. Aku rasa enggak terlalu banyak ngasih gula nya" Aulia ikut di bingungkan dengan teh yang dia cicipi
"Asin" Aulia memeletkan lidah nya. Saat merasa kan teh hasil buatan nya sendiri
"Benarkan, aku enggak bohong. Rasa nya aneh" Aulia mengedikkan bahu nya. Entah apa yang terjadi dengan teh nya. Rasa nya sedikit aneh. Asin itu lah yang Aulia rasakan sekarang
Faris menggandeng tangan istri nya untuk mengikuti langkah nya ke dapur
"Tunjuk kan sama aku, kamu pakai gula yang mana" Aulia menunjuk salah satu wadah dekat dengan mecin dapur. Membuat mata Faris membulat sempurna
"Lia, coba buka tutupnya. Terus rasain sama kamu" Aulia menurut. Dia mencelupkan jari telunjuk nya lalu dia jilat sendiri.
"Uwekk,asin rasa nya" Ungkap Aulia tanpa rasa dosa
"Jadi, aku buat teh nya pakai garam" Aulia baru paham. Mengapa bisa gula dan garam tertukar. Apakah karena jenis nya sama
"Masa kamu enggak bisa bedain lia, mana garam dan mana gula" Tak habis pikir dengan istri nya saat ini. Apakah dia harus di ajarkan dalam mengenal jenis bahan dapur
"Aku enggak tau, semua nya sama Faris. Aku pikir itu gula" Lagi dan lagi Aulia melakukan kesalahan.
"Maka nya kalau enggak bisa apa-apa jangan so buatkan teh" Faris pergi ke lantai atas
Aulia merasa tersayat akan pengucapan Faris saat ini. Apa salah nya Aulia belajar menjadi istri seperti layak nya istri orang lain. Bukan nya memberikan dukungan kepada Aulia justru perkataan Faris membuat semangat Aulia putus harapan
Apakah Aulia tidak bisa menjadi seorang istri? Aulia tidak meminta lebih mengapa dia tidak bisa membuatkan teh untuk suami nya. Ini alasan Faris jika di buatkan minuman oleh Aulia. Faris sudah hapal bahwa istri nya itu tidak bisa membuat minuman nya dengan mulus
__ADS_1
"Apa salah nya aku belajar jadi istri ris? Bukan kah kamu mau istri sempurna? Istri yang bisa masak? Istri yang mengerti dalam fashion? Dan istri pandai dalam agama. Aku enggak mau lebih. Aku cuma mau kamu dukung aku buat jadi istri yang kamu harapkan. Apakah tidak ada kesempatan untuk aku belajar menjadi seorang istri? "Aulia menangis. Merasa tak berguna di dalam rumah tangga nya. Istri macam apa dia. Mambuat teh saja dia tidak becus. Jika Faris akan menceraikan nya Aulia siap dengan keputusan yang Faris ambil. Dia tidak pantas menjadi istri CEO. Apakah Faris menyesal menikahi Aulia? Entah lah hanya Faris yang mempunyai jawaban nya sendiri