
Begitu memasuki kamar hotel nya,pria yang baru saja berstatus sebagai suami ini merasa takjub dengan pemandangan yang indah. Bagaimana tidak indah? Kamar hotel nya di dapatkan aroma mawar yang membuat semua orang merasa suka dengan harum yang dapat menyeruak masuk ke dalam rongga pernafasan siapa pun itu
Kedua mata nya tertuju dengan king size di atas nya yang di dapatkan banyak kelopak mawar bertaburan.
Tubuh kekar itu langsung di hempaskan begitu saja, memejamkan mata nya untuk mengurangi rasa lelah saat dia jadi pengantin
"Bilang apa ris? Sama gue" Ucap pria bertubuh kekar yang berdiri di ambang pintu hotel
"Maksud nya" Salah satu alis Faris terangkat ke atas. Tak mengerti dengan ucapan kakak nya yang bernama Denis
"Heh! Lo jangan jadi anak durhaka" Denis merasa geram dengan rahang yang mengeras dan bisa di lihat dengan jelas
"Maksud nya apa si bang? Gue enggak ngerti sama omongan lo" Ketika melihat amarah Denis akan keluar, Faris beranjak dan langsung menghampiri nya
"Aduh, ternyata adek gue lemot yak" Ejek Denis yang merasa puas
"Apa si! Lemot apa? Terus terang aja bang, langsung to the point" Faris berkacak pinggang, masalah nya pembicaraan Denis membuat Faris semakin tak paham
"Gue kasih tau yak, ini yang hias kamar ini gue sama bini gue. Lo sih enak yak habis resepsi langsung enak-enak, jangan lupa sebelum melakukan nya baca doa dulu"" Denis langsung keluar sebelum pria itu murka
"Kampret lo bang" Faris mendengus sebal, bisa-bisa nya waktu dia istirahat di ganggu begitu saja
Kedua mata Faris menatap langit-langit kamar hotel, tak menyangka jika diri nya bisa meminang Aulia dan menjadikan nya sebagai teman hidup yang akan siap menemani nya di saat suka dan duka
"Sayang belum selesai? " Karena merasa lama, akhir nya Faris memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi nya dan saat itu juga Aulia langsung keluar
"Maaf yak lama" Aulia masih berdiri di ambang pintu dengan kimono putih membalut tubuh nya, dan handuk yang melilit di kepala
Faris tersenyum tipis, lalu dirinya segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket
Berbeda dengan Aulia yang sudah rapi memakai piyama tidur nya. Sambil menunggu Faris selesai, dia memilih memainkan smartphone nya tanpa di sangka Aulia langsung mendapatkan banyak notif
Best friend forever
[Cie yang mau first night🤭]
[Sebelum ehem ehem jangan lupa harus siapkan energi nya dulu😁]
\[Apa si kalian\]
[Aulia nya malu malu😂]
[Di chatting malu malu kalo udah sama laki nya aja langsung gercep🤣]
[Iya yak
Gue yakin Aulia pasti bakal ketagihan😋]
\[Ketagihan apa?\]
[Ketagihan main🤣]
\[Apa si kalian
Jangan gitu dong]
[Udah sana jangan main handphone terus ehem ehem sama suami lo]
[Iya di sini malu malu
Enggak tau nya pas main sama laki nya langsung 😍]
[Iya bener kata lo]
__ADS_1
[Nyimak aja deh
Bingung mau ngetik apa]
[Bener kan Aul? Perkataan gue tadi
Enak kan?]
\[Enak banget\]
[Nah kan lo merasakan nya juga]
[Guy's gue tinggal dulu ya
Anak gue nangis]
[Untung anak gue udah tidur
Jadi aman deh]
"Ehem" Suara itu? Aulia sangat mengenali deheman itu. Mata nya tertuju ke depan di dapatkan Faris yang baru saja mandi sehingga memperlihatkan bulir-bulir air tersisa di dada bidang nya
"Mau makan di sini atau bareng sama yang lain? " Aulia beranjak dan menghadiri Faris yang sibuk mencari kaos
"Nanti aja, bareng sama yang lain"ucap Faris yang masih sibuk mencari kaos oblong
" Nyari apa si? Baju nya udah aku siapin "mendengar ucapan Aulia. Faris hanya tersenyum dan memperlihatkan deratan gigi nya
" Kenapa enggak bilang"Faris merasa gemas dengan istrinya ini sehingga menciumi wajah Aulia dengan puas
"Kamu enggak nanya" Aulia kembali duduk di atas king size dan memainkan smartphone nya lagi
Faris ikut merebahkan tubuh nya di samping Aulia, memeluk tubuh perempuan ini yang sedang ber tengkurap dan memperhatikan setiap inci wajah nya, wajah yang cantik dan mulus tentu nya
"Kenapa ngelihat aku kayak gitu si" Aulia merasa risih dengan tatapan mata Faris yang sibuk memperhatikan nya
"Gombal, jadi kamu nikahin aku cuma itu doang" Kepala Aulia sedikit terdongkak dan melihat wajah pria ini
"Enggak, itu semua tidak menjamin sayang. " Tangan Faris merangkul pinggang Aulia dan mendekatkan nya dengan tubuh nya
"Terus apa dong? " Aulia membenarkan posisi tidur nya menjadi terlentang
"Dengerin aku, aku nikahin kamu itu karena kamu orang nya baik, sayang sama aku dan keluarga pokok nya itu deh yang aku suka sama kamu" Faris tertawa pelan saat menilai sikap Aulia. Rasa nya tak sanggup jika dia harus menilai permaisuri nya ini
"Kamu enggak tau aja sifat asli aku kayak gimana" Ucap Aulia pelan namun Faris tetap bisa mendengar nya
"Maksud nya? " Tangan Faris terulur lalu membingkai wajah cantik Aulia. Merasa tak paham dengan ucapan istri nya ini
"Siapa tau aja gitu, kalau aku udah nikah sama kamu, aku acuh sama keluarga kamu" Faris mendekatkan wajah nya dengan Aulia dan menatap wajah itu sangat dalam
"Enggak, aku tau kamu orang nya kayak gimana" Pungkas Faris dengan senyum merekah di permukaan bibir nya
Tak lama kemudian bibir Aulia ikut tersenyum, merasa beruntung diri nya di hormati oleh seorang suami. Namun Aulia juga harus bisa menggunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya
"Yuk kita makan" Ajak Faris dengan sigap akan merangkul nya
Kaki nya melangkah ke resto untuk mengambil makanan yang sudah di sediakan.
Di sana sudah ada kedua orang tua masing-masing yang kebetulan mereka sedang mengobrol satu sama lain agar bisa menjalin silaturahmi dengan baik
"Ajak makan dulu Aulia nya ris, jangan langsung tempur" Ucap seseorang membuat Faris merasa jengkel. Karena hampir setiap detik Faris selalu berdebat dengan Denis
"Iya siap" Faris langsung duduk di meja dan menunggu makanan nya datang
__ADS_1
Begitu makanan di sajikan Faris langsung memakan nya dengan sangat lahap karena memang merasa lapar setelah sehari menjadi pengantin
"Duluan yak kak" Pamit Aulia saat berpapasan dengan kakak ipar nya yang bernama fitri
Dia hanya tersenyum tipis , dia sudah hapal betul kalo adik-adik nya itu akan melakukan 'pertempuran di kamar' secara dia kan sudah berpengalaman
Kedua mata fitri melotot tak percaya dengan pemandangan di depan nya
"Kamu lagi ngapain? " Tanya fitri memeluk bahu Denis yang berstatus sebagai suami nya
Mendengar suara istri nya Denis langsung membekam mulut fitri "jangan berisik"
"Emang nya lagi ngapain si" Karena merasa penasaran dengan lagat suami nya fitri pun menempelkan daun telinga nya tepat di permukaan pintu
Suara yang berasal dari dalam kamar membuat tubuh Fitri gemetar dengan lenguhan lenguhan dan erangan yang dia dengar di balik pintu itu
"Faris sakit, pelan-pelan dong" Suara itu, Fitri hapal betul itu adalah suara adik ipar nya
"Ini udah pelan sayang, kamu nya diam, jangan gerak-gerak" Kedua mata fitri membulat sempurna saat mendegar suara erangan itu
"Gimana enggak gerak-gerak, kamu nya enggak pelan-pelan" Pikiran Denis sudah tidak bisa di kontrol
"Yaudah, kamu nya jangan ngegerakin badan kamu dulu, nanti tambah sakit" Fitri begitu serius mendengar suara yang sangat jelas
"Kamu nya pelan-pelan, jangan di paksa" Denis yang mendengar di balik pintu pun dia terkekeh mendengar suara di dalam sana
"Ini udah pelan sayang, kamu nya jangan gerak-gerak terus, aku susah" Tubuh fitri benar-benar di buat merinding oleh suara tersebut
"Sakit tau, kamu si enak di atas "
Kedua orang itu tetap berdiam di depan pintu kamar hotel nya, setelah mendengar suara-suara yang sudah tak asing bagi pasangan suami istri
"Ah sakit yang ih, kamu mah di suruh pelan-pelan. Malah kasar" Ketika mereka hendak pergi dari tempat itu namun suara itu kembali terdengar
"Diam, jangan banyak gerak. Kalau nambah sakit aku enggak mau tanggung jawab" Denis di buat melongo atas ucapan di dalam sana
"Kamu yang bikin aku kayak gini, kok enggak mau tanggung jawab si" Fitri hanya bisa menggelengkan kepala nya mendengar suara Aulia
"Habis nya di suruh diam enggak mau" Bukan nya melanjutkan moment nya Aulia dan Faris tengah berdebat di dalam kamar nya
"Faris sakiiit"
Fitri kembali mencengang mendengar rintihan Aulia. Dia berpikir apakah Faris melakukan pertempuran nya dengan kasar
"Aaaah" Fitri semakin merinding saat mendengar suara itu
"Pelan-pelan Faris"
Denis ikut melongo tak percaya bisa-bisa nya Faris bermain kasar
"Aaaah Faris sakiit"
Di luar suami istri ini ikut berbicara
"Faris main nya kasar yak" Fitri sedikit berbisik agar suara nya tidak terdengar
"Kayak nya si gitu" Denis asik mendengar suara nya kembali
"Faris sakit, pelan-pelan" Suara nya kembali terngiang ngiang jika di bayangkan
"Diam dong yang, dari tadi gerak-gerak terus"terdengar Faris sedikit jengkel
" Kamu enak di atas, kalau aku di bawah. Siapa yang berat" Fitri semakin tak kuat jika dia harus mendengar suara nya kembali
__ADS_1
"Aduuuh sayang sakiit, pelan-pelan"
Denis dan fitri semakin melong tak percaya dengan suara yang berasal dari dalam kamar itu. Erangan atau bahkan ******* kecil yang keluar begitu saja dari mulut Aulia